Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
52. Menemukan Alex


__ADS_3

Dewa melempar ponselnya ke sofa setelah menghubungi Niko untuk datang ke ruang kerjanya.


Tok.. Tok..Tok..


"Masuk!!" Dewa sudah tau betul siapa yang mengetuk pintu kamarnya itu.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan??" Niko sudah bisa membaca raut wajah Dewa yang tidak bersahabat itu.


"Sebenarnya kau masih niat bekerja denganku tidak hah?? Kenapa perintahku untuk mencari tau keberadaan Alex saja tidak ada hasilnya sekarang??" Dewa sudah seperti ingin menelan Niko.


Dewa merasa sudah waktunya dia mengambil tindakan untuk segera membuat Manda pergi dari rumahnya.


Dia tidak mau Manda terus mengganggunya dengan mengungkit masa lalu mereka. Belum lagi masalah tadi pagi yang hampir saja membuat Diandra salah paham.


Sebenarnya Dewa juga tau jika Diandra sengaja menolak makanan buatan Manda. Tapi Dewa tidak marah sama sekali. Dia justru senang melihat sikap Diandra yang manja kepadanya.


"Maaf Tuan, sebenarnya saya sudah mendapatkan informasi keberadaan Alex. Tapi saat saya ingin menyampaikannya pada Tuan, Nyonya Diandra terluka sehingga membuat saya mengurungkan niat saya sebelumnya"


Walau dengan sedikit takut, Niko menjelaskan semuanya. Dia sudah biasa menghadapi kemarahan Tuannya itu.


"Lalu dimana dia sekarang??" Dewa paham apa yang Niko lakukan hanya untuk memberikan waktu pada Dewa dan Diandra.


"Dia berada di kota Y Tuan. Dia di sana tidak bersembunyi. Tapi dia sengaja pulang ke kampung halamannya. Memang daerahnya jauh dari kota besar sehingga kita sempat sulit untuk menemukannya.


"Apa yang dilakukannya saat ini di sana??"


"Dia menjalankan bisnis pertaniannya Tuan. Mengolah perkebunan luas peninggalan kedua orang tuanya"


Niko memberikan ponselnya, di sana sudah banyak foto-foto Alex di perkebunan anggur milik keluarganya itu.


"Apa ada yang mencurigakan darinya?? Seperti anak buahnya yang sempat menyerang Manda??" Dewa ingin sekali membuktikan apa yang Manda katakan itu benar adanya.


"Maaf Tuan, dari laporan orang-orang kita yang yang mengawasi pergerakan Alex. Mereka sama sekali tidak menemukan hal-hal hang mencurigakan"


Dewa semakin ragu dengan pengakuan Manda waktu itu.


"Kapan kau bisa membawaku ke sana??"


Niko tampak terkejut karena Tuannya itu ingin turun tangan sendiri untuk menemui Alex.


"Kapanpun Tuan mau, saya akan selalu siap menemani Tuan" Dengan tegas Niko mengatakan itu.

__ADS_1


"Bawa aku ke sana besok pagi. Tapi aku mau sore hari aku sudah berada di rumah" Perintah Dewa itu sama sekali tidak bisa di bantah.


"Baik Tuan, saya akan siapkan semuanya agar besok pagi kita langsung bisa berangkat. Kalau begitu saya permisi Tuan" Niko selalu membungkukkan badannya dengan hormat sebelum meninggalkan Dewa.


🌻🌻🌻


"Dee??" Suara Dewa mengejutkan Diandra yang melamun menatap lautan luas yang sudah mulai gelap.


"Mas??"


"Kamu terkejut?? Kenapa melamun??" Diandra menunjukkan ponselnya pada Dewa.


Di sana Diandra sudah membuka akun media sosialnya dengan foto-foto estetik miliknya yang selalu mendapatkan like dari banyak penggemarnya.


"Aku hanya sedang merindukan semua ini Mas. Dulu semua ini adalah duniaku, tapi saat ini untuk menambahkan satu foto saja aku takut. Mereka pasti akan menyerang ku. Aku sudah menghilang selama 7 bulan, aku bahkan tidak berani membuka kolom komentarnya"


Diandra tampak begitu sedih, Dewa tau itu semua adalah sumber kebahagiaan Diandra. Pasti berat rasanya untuk meninggalkan semua itu dengan cara yang tiba-tiba.


"Kenapa kamu tidak berani membukanya?? Bukankah mereka penggemar mu?? Harusnya mereka tetap mencintaimu bukannya menghujatmu"


"Kamu seperti tidak tau saja netizen itu seperti apa. Pasti mereka sudah menebarkan banyak konspirasi. Entah mereka mengira ku di culik, hamil duluan, menikah atau yang lainnya. Dan aku memilih untuk tidak melihatnya sama sekali. Karena itu pasti akan membuatku terlalu banyak berpikir"


Diandra kembali menutup akun media sosialnya itu. Menurutnya lebih baik bertahan sebentar lagi untuk tidak menyentuhnya sama sekali. Karena sekarang yang dapat dia lakukan hanyalah fokus pada anak di dalam kandungannya yang semakin dia sayangi itu.


Dewa mengusap lengan Diandra dengan lembut, seolah memberikan ketenangan pada istrinya itu.


"Pekerjaanmu sudah selesai??" Diandra sudah kembali dengan senyuman manisnya.


Dewa mendudukkan dirinya di ranjang. Lalu mengulurkan tangannya pada Diandra. Memintanya untuk duduk di sebelahnya.


Dengan langkah tertatihnya, Diandra menggapai tangan Dewa lalu duduk di berdampingan.


"Ada yang ingin aku sampaikan" Dewa belum melepaskan tangan Diandra.


Diandra menatap Dewa tanpa menanyakan kembali apa yang akan Dewa katakan.


"Besok pagi-pagi sekali aku harus pergi. Ada urusan yang benar-benar harus aku selesaikan"


Dewa mengatakan dengan terus menatap Diandra di sampingnya. Wanita yang berhasil mengalihkan dunianya itu.


"Kemana dan urusan apa??"

__ADS_1


Jika dulu Diandra tidak peduli sama sekali dengan apapun yang menyangkut tantang Dewa. Maka berbeda dengan saat ini. Rasanya Diandra ingin sekali tau apa yang dikerjakan Dewa, kemana saja perginya, siapa orang-orang terdekatnya.


"Dengar Dee. Sudah saatnya aku mengambil tindakan tentang Manda. Aku tidak mau lagi keberadaannya di sini akan mengganggu kenyamanan mu. Meski kamu tidak pernah mengatakannya aku tau apa yang kamu mau. Termasuk yang tadi pagi, aku tau kamu tidak mau memakan pancake buatan Manda kan??"


Diandra tampak sedikit terkejut terlihat dari matanya yang membulat.


"Kamu tau??" Dewa mengangguk.


"Tapi jangan salah paham Mas. Kalau tentang nasi goreng itu aku benar-benar menginginkannya. Aku tidak main-main soal itu" Diandra takut Dewa akan marah kepadanya.


"Aku percaya soal itu. Buktinya kamu hampir menghabiskan nasi di piringku juga" Dewa teringat tadi pagi saat Diandra juga menyendok nasi dari piring Dewa ketika nasi goreng di piringnya sendiri sudah habis.


Dewa berhasil membuat Diandra tersipu malu.


"Jadi kamu mau pergi kemana??" Diandra kembali ke topik awal pembicaraan mereka.


"Aku sudah menemukan Alex. Besok pagi aku akan menemuinya ke kota Y. Aku harus bicara sendiri dengannya. Aku haris cari tau kebenaran dari omongan Manda. Kalau aku sudah mendapatkan jawaban dari keduanya, barulah aku bisa mengeluarkan Manda dari rumah ini dengan secepat mungkin"


"Tapi apa itu tidak terlalu berbahaya untuk mu Mas?? Mengingat cerita Manda tentang laki-laki itu, aku takut kamu kenapa-napa" Dewa senang sekali Diandra mengkhawatirkannya.


"Aku tidak sendiri ke sana Dee. Ada Niko dan anak buah ku yang lain. Jadi jangan khawatir ya??" Dewa mengusap pelan pipi Diandra.


"Berapa hari kamu di sana??" Diandra sebenarnya ingin mengatakan jika dia tidak mau di tinggal terlalu lama oleh Dewa. Tapi rasa gengsinya lebih mendominasi.


"Sore hari aku sudah kembali Dee, jadi kamu bisa melihat wajahku yang tampan ini" Diandra melengos karena sifat percaya diri Dewa kembali lagi.


"Tapi kan jauh Mas, apa bisa bolak balik secepat itu. Apa kamu tidak lelah??" Diandra memang sungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaan Dewa.


Sebenarnya Diandra ingin sekali mengajak Dewa untuk kembali tinggal di kota. Bukan untuk mencari kebebasannya lagi, melainkan Diandra kasihan kepada Dewa yang harus menempuh perjalanan jauh ketika mengurus pekerjaannya.


"Tentu tidak"


"Kenapa kamu tidak menginap saja, satu malam saja mungkin bisa untuk mengistirahatkan badanmu"


"Aku hanya takut kalau kamu merindukanku"


Diandra langsung berdiri dan berjalan menjauhi Dewa. Lama-lama Dewa bisa membuat pipinya berubah menjadi tomat karena mendengar semua godaannya.


"Mau kemana Dee?? Jangan malu gitu dong, kamu semakin terlihat gemas kalau seperti itu"


Ocehan Dewa itu sudah tidak di dengar lagi karena Diandra memilih pergi ke kamar mandi. Di buat malu oleh Dewa beberapa kali telah berhasil membuat perut Diandra meminta di kosongkan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2