
"Mbak Sari, lihat Akhtar dan Papanya nggak??"
"Di taman belakang Nyoya"
Diandra mengangguk, kemudian berjalan dengan pelan menuju taman yang di tunjukkan pengasuh Akhtar itu.
Dari kejauhan Diandra sudah melihat Ayah dan anak laki-lakinya yang sudah berumur 4 tahun itu sedang duduk berdua membelakangi Diandra.
"Kalian sedang apa??"
Akhtar menoleh kebelakang mendengar suara Mamanya.
"Papa lagi ajari Atal melukis Ma" Jawan putranya dengan sangat menggemaskan.
"Astaga Mas, apa yang kamu lakukan sama anak kamu?? Kenapa jadi begini??" Diandra ingin marah namun justru malah tertawa melihat wajah dan baju Akhtar terkena cat air yang berwarna-warni.
"Nggak papa sayang, biarkan dia belajar sendiri. Berani kotor itu baik" Jawab Dewa dengan tangannya yang terus memoles kanvasnya.
"Kaya iklan detergen aja" Gumam Diandra.
"Akhtar, melukis apa??" Diandra mengambil tempat duduk di sebelah Akhtar, jadilah anak tampan itu di apit kedua orang tuanya.
"Atal gambal kita Ma. Ini Mama, ini Papa dan ini Atal" Tunjuk bocah kecil itu pada gambarnya yang masih berantakan itu.
Diandra menahan tawanya karena gambar lucu dari Akhtar.
"Loh tapi kenapa perut Mama besar begini??"
"Kan pelut Mama memang besal. Adik Atal masih di dalam sini kan Mama??" Akhtar menyentuh perut Diandra yang membuncit itu.
Dewa hanya tersenyum pada Diandra. Anaknya kini sudah tumbuh semakin besar dan pintar. Bahkan tak lama lagi, mereka akan di karuniai seorang bayi perempuan yang sudah berusia delapan bulan dalam kandungan Diandra.
__ADS_1
"Kamu yang suruh dia menggambar ini Mas?"
"Tidak, Mas membiarkan dia berimajinasi sendiri. Tapi dia langsung menggambar kita bertiga. Gambarnya cukup bagus untuk seusia Akhtar"
Diandra setuju dengan ucapan Dewa, bahkan di belakang hambar mereka bertiga. Akhtar juga menambahkan rumah dan pepohonan. Meski pemilihan warnanya asal. Tapi detailnya sudah terlihat.
"Dia sepertinya pintar seperti kamu Mas"
"Jelas dong, anaknya Sadewa harus pintar dan tampan, karena Mas dulu memberikan kamu bibit paling unggul"
Diandra mencubit Dewa dari belakang Akhtar yang membuat Dewa meringis kesakitan
"Papa kenapa??" Tanya Akhtar degan polos.
"Nggak Papa sayang, Papa cuma di gigit semut" Dewa melirik Diandra yang masih menatapnya denhan tajam.
"Hati-hati kalau ngomong Mas. Tau sendiri kalau dia itu cepat tanggap dan cepat menyimpan apapun yang dia dengar. Pakai ngomong bibit unggul segala!!" Bisik Diandra pada Dewa.
Alhasil bocah kecil itu menirukan apa yang Dewa katakan waktu itu.
FLASH BACK ON
"Opa, Oma, memangnya minta jatah itu apa sih??"
Dewa dan Diandra tersedak sarapannya karena Akhtar menanyakan itu saat mereka semua sedang berada di meja makan.
"Minta jatah??" Tanpa Papa Elang pada cucu kesayangannya itu.
"Iya, soalnya tadi malam Papa minta jatah sama Mama. Tapi gililan Atal yang minta nggak di kasih sama Mama. Atal kan juga mau minta jatah. Opa punya nggak??" Papa Elang langsung menatap tajam pada kedua anaknya itu.
Diandra yang merasa malu terus menundukkan wajahnya, sementara wajah Dewa sudah memerah.
__ADS_1
"Opa punya kok. Nanti kalau sudah selesai sarapan opa kasih ya??" Hibur Papa Elang pada Akhtar.
"Yeeee, makasih Opa. Akhilnya Atal di kasih jatah" Sorak bocah itu dengan full senyumnya.
"Makanya kalau ngomong di depan anak itu hati-hati" Tegur Mama Bella menahan tawanya.
Asik sekali ternyata menggoda anak dan menantunya yang sedang menahan malu itu.
FLASHBACK OFF
"Nggak papa, itung-itung pendidikan dari sejak dini" Jawaban Dewa justru memancing amarah ibu hamil tua itu.
Tangan Diandra sudah bersiap ingin menjewer telinga Dewa namun pria itu sudah sigap menghindar sambil meriah akhtar dalam gendongannya.
"Akhtar melukisnya sudah dulu ya, sekarang kita berenang aja. Di sini udah nggak aman, banyak semutnya" Dewa menggendong Akhtar menjauh dari Diandra.
"Oke Papa" Anak itu semakin senang jika di ajak bermain air.
Diandra hanya mampu melihat mereka dari pinggir kolam saja. Duduk manis memandangi interaksi anak dan ayah yang begitu menghangatkan itu.
Selama empat tahun ini, Dewa benar-benar menjadi sosok pria yang sempurna bagi Diandra. Mejadi suami yang baik, perhatian dan menghujaninya dengan begitu banyak cinta dan kasih sayang. Dewa juga menjadi figur seorang Ayah yang sangat menyayangi anaknya. Menjadi contoh yang baik bagi Akhtar.
Ternyata keputusan Diandra untuk melompat dari kapal dan memilih mengarungi lautan adalah keputusan yang tepat saat itu. Siapa sangka jika yang akan Diandra dapatkan adalah kebahagiaan seperti ini.
Mungkin terlalu cepat bagi Diandra untuk menyimpulkan hal itu. Tapi Diandra selalu berharap jika keluarga kecilnya akan terus seperti ini.
Jangan lupa mampir karya otor yang baru ya readers..
sampai jumpa lagiππππππ
__ADS_1