Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
91. Penyiksaan seumur hidup


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak Dewa mengirimkan surat gugatan itu, tapi Niko belum juga menerima pengembalian surat itu dari Diandra. Sebenarnya Dewa juga cemas, ingin tau bagaimana keadaan Diandra saat ini. Tapi dia tetap tidak mau mencari tau tentang Diandra, karena dia takut perasaannya akan goyah.


Tapi tanpa Diandra ketahui, setiap hari Dewa akan datang ke rumah sakit untuk melihat putranya. Rasa rindunya pada makhluk kecil itu tidak dapat tertahankan lagi, sehingga Dewa meminta kepada pihak rumah sakit untuk membantunya menemui putranya secara diam-diam.


Dewa akan datang ke rumah sakit saat Diandra sudah pulang dari sana, dan akan pulang sebelum Diandra kembali lagi. Intinya Dewa sebisa mungkin menghindari pertemuan dengan Diandra.


Tapi bohong jika Dewa tidak merindukan Ibu dari anaknya itu. Dia sangat rindu bahkan sampai memakai parfum Diandra agar bisa merasa dekat dengan wanita itu.


Seperti saat ini, sebelum Dewa turun dari mobilnya. Dewa sengaja menyemprotkan parfum soft itu di pergelangan tangan dan juga lehernya. Harum yang begitu menenangkan langsung menyeruak di dalam mobil.


"Apa anda akan langsung menemuinya Tuan??"


Niko sudah melepas seatbeltnya, bersiap untuk keluar terlebih dahulu.


"Iya" Jawab Dewa singkat sambil terus menikmati wangi khas Diandra.


Niko membukakan pintu mobil untuk Tuan tampannya itu. Seperti biasanya, karisma Dewa akan berkali-kali lipat lebih menawan saat turun dari mobilnya. Sepatu mahal, setelan jas dan rambutnya yang rapi, juga kaca mata hitamnya yang masih bertengger sempurna untuk menutupi lingkaran hitam di matanya.


Dengan langkah panjangnya yang gagah, Dewa memasuki bangunan tua miliknya yang menjadi tempat menyembunyikan orang-orang yang telah berani mengusiknya.


Dan saat ini tujuan Dewa ada di sana adalah untuk menemui seseorang yang baru saja di bawa Niko untuknya. Seseorang yang akan menjadi pelampiasan kemarahannya saat ini.


BYUURRR...


Dewa menyiramkan satu ember air tepat di wajah perempuan yang masih memejamkan matanya itu.


"Bangun Manda!!"


Suara berat dan dingin itu begitu menusuk di telinga Manda. Matanya yang tadi terasa berat karena obat yang sengaja disuntikkan kepadanya kini langsung terbuka dengan lebar.

__ADS_1


Hanya melihat pria yang berdiri di depannya saat ini saja Manda sudah gemetar. Tentu saja itu karena dia tau apa yang membuat Dewa mengikat dan mengurungnya di tempat itu.


"Ma-maafkan aku Dewa" Manda sudah menangis dengan tubuhnya yang berubah menjadi dingin karena rasa takutnya.


"Ternyata kau sudah sadar apa yang membuatmu berakhir di tempat seperti ini sehingga kau sudah minta maaf dengan sendirinya" Dewa semakin mendekati Dewa dengan senyuman yang menawan namun sangat mematikan.


"Dewa, maafkan aku. Aku benar-benar gelap mata saat itu. Aku sebenarnya hanya ingin memberi Diandra peringatan. Tidak sampai membahayakan nyawa siapapun. Itu semua salah dari sopir truk itu. Bukan aku" Ternyata salah, ucapan maafnya tadi hanyalah pembuka saja, nyatanya Manda masih saja berkelit.


"Aku tidak peduli Manda. Walau kau mengelak dengan berbagai alasan apapun. Bahkan Daniel sudah mengatakan kalau kau ikut terlibat dalam penculikan itu. Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini selama hidupmu!!"


Manda menjadi histeris mendengar kalimat menakutkan itu. Dia tidak menyangka jika Daniel mengingkari janjinya. Daniel berani menyebut nama Manda di depan Dewa.


"Dewa tolong jangan bebaskan itu. Aku melakukan semua ini juga karena mu. Jika saja kamu tidak terus-terusan menolak ku pasti aku tidak akan pernah senekat ini!! Yang ada di matamu hanyalah wanita itu saja, DAN SEMUA ITU MEMBUAT AKU MUAK!!" Teriak Manda.


Dewa mencengkeram dagu Manda dengan satu tangannya.


"Aku dari awal sudah berusaha baik kepadamu, menjaga jarak denganmu agar kau paham kalau aku menolong mu hanya sebatas rasa kemanusiaan. Tapi ternyata kau salah mengartikan itu semua. Kau pikir di dalam hatiku masih ada namamu Manda??"


Manda menatap Dewa sengit dengan air matanya yang terus menggenang.


"Tentu, kau benar. Namamu memang masih ada di hatiku. Namun hanya untuk kebencian ku. Bukan lagi cinta yang sangat menjijikkan itu. Aku sekarang bahkan bersyukur karena kedatangan Alex dulu justru membantuku menyingkirkan wanita sepertimu dari hidupku"


Sakit rasanya Manda mendengar penghinaan demi penghinaan dari Dewa untuknya. Tapi Manda masih diam dengan tatapan kebenciannya kepada Dewa.


"Kenapa melihatku dengan tatapan seperti itu?? Masih mau menyalahkan ku?? Atau menyalahkan Diandra yang tidak tau apa-apa tapi kau berusaha menyingkirkannya?? Di mana hati nurani mu sebagai perempuan Manda?? Ada anak di dalam kandungan Diandra, kenapa kau tega mengirimkan dua mobil untuk menerjangnya?? Aku tidak habis pikir Manda, bahkan aku rasa di dalam tubuhmu itu bukan lagi jiwa manusia melainkan iblis!!"


Dewa begitu frustasi menghadapi wanita sekejam Manda. Baru kali ini dia menemui wanita dengan hati sekeji itu di dalam hidupnya.


"Seandainya kau seorang pria, pasti wajahmu sudah aku hancurkan dengan tanganku sendiri. Tapi aku tidak sekejam itu pada perempuan Manda"

__ADS_1


"Kenapa?? Lakukan saja semau mu!! Kenapa kau harus takut jika aku perempuan?? Siksa aku atau b*nuh aku sekalian jika itu bisa membuatmu puas!! Aku tidak peduli lagi!! Bukankah kau juga tidak akan mengeluarkan aku dari sini??" Dengan api yang menyala Manda menantang Dewa tanpa rasa takut. Bahkan tanpa ada rasa bersalah dan menyesal atas perbuatannya kepada Diandra.


"Ohh tidak semudah itu Manda. Terlalu mudah bagimu untuk pergi ke alam baka hanya dengan aku menyiksamu sampai nyawamu melayang. Aku akan memberikan yang lebih mudah tanpa rasa sakit bagimu. Berdiam dirilah disini, nikmati sisa umurmu di dalam sini, mungkin itu akan membuatku lebih puas daripada melihatmu berakhir saat ini"


Dewa mengisyaratkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan tangan dan kaki Manda. Sehingga wanita itu bisa bergerak bebas di ruangan kecil dan pengap itu.


"Selamat menikmati buah dari kekejaman mu sendiri Manda" Tawa sinis mengiringi Dewa yang meninggalkan ruangan itu.


"B****sek kau Dewa!! Keluarkan aku dari sini!! Akan aku balas semuanya, lihat saja nanti!!" Diandra terus berteriak meski pintu yang terbuat dari besi itu sidah tertutup rapat.


"Jaga dia jangan sampai lepas. Kalian akan tau akibatnya jika itu sampai terjadi!! Lakukan semau kalian kepadanya, aku serahkan dia kepada kalian" Semua anak buah Dewa tersenyum miring mendengar penuturan bosnya itu.


"Baik Tuan"


🌻🌻🌻


Diandra kembali melihat jam di ponselnya. Sudah seharian ini dia menunggu di halaman kantor milik Dewa. Bahkan dia melewatkan jam makan siangnya hanya karena takut tidak melihat Dewa kembali.


Sementara saat ini hari sudah berganti malam, Dewa belum juga kembali ke kantor. Tadi pagi saat dia datang ke sana, satpam mengatakan jika Dewa tadi pagi hanya datang sebentar lalu pergi lagi. Diandra bahkan tidak di ijinkan masuk ke dalam, mungkin karena mereka belum tau siapa Diandra sebenarnya.


Diandra sudah sangat lelah dan merasakan nyeri pada jahitan di perutnya, tapi dia tetap tidak menyerah untuk menunggu Dewa di kantor yang mulai sepi itu.


"Permisi Bu, sebaiknya anda pergi dari sini. Karena sebentar lagi gerbangnya akan saya tutup!!" Satpam berkumis tebal itu terlihat begitu kejam mengusir Diandra.


Diandra kali ini yakin jika Dewa tidak akan kembali lagi ke kantor. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Awas saja, besok aku pasti bisa menemui kamu. Lihat dan terima saja apa yang akan aku lakukan kepadamu!!" Gumam Diandra sambil menatap gedung pencakar langit milik suaminya dari kejauhan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2