
Dewa melirik Diandra yang terdiam begitu mendengar jawaban darinya tadi.
"Mau jalan-jalan nggak??"
"Kemana??" Tanya Diandra.
"Ke pantai, cuacanya bagus. Kita naik motor"
"Naik motor?? Tapi aku kan lagi hamil. Apa nggak bahaya??" Diandra memeluk perutnya. Dewa merasa senang karena Diandra sudah menerima anak dalam kandungannya.
"Nggak papa, kita pelan-pelan aja. Ayok!!" Tangan Dewa terulur ke depan Diandra.
"Ayok!!" Dengan semangat Diandra meraih tangan Dewa.
Mereka berdua keluar kamar dengan tangan Diandra yang masih digenggam oleh Dewa.
"Didi, kamu mau kemana??" Bryan bertemu mereka berdua tepat saat baru saja keluar dari rumah.
Diandra buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman Dewa. Raut kecewa tergambar jelas di wajah Dewa saat ini.
"Aku mau jalan-jalan ke pantai Bry"
"Ke pantai?? Bolehkah aku ikut??" Pertanyaan Bryan membuat Diandra menoleh ke arah Dewa, seakan meminta persetujuan dari Dewa.
Tapi yang Diandra dapat justru Dewa yang mengalihkan wajahnya ke arah lain. Dengan itu saja Diandra sudah tau jika Dewa pasti menolak jika Bryan mengikuti mereka.
"Tapi ak....."
"Manda!!" Panggil Dewa.
Manda yang terlihat di taman samping pun melambaikan tangannya lalu mendekat. Diandra tidak tau apa maksud Dewa memanggil Manda.
"Iya Dewa, kenapa?? Kalian kenapa berkumpul di sini??"
"Kamu mau kemana??" Dewa tak menjawab pertanyaan Manda tapi justru melemparkan pertanyaannya kembali.
"En-nggak kemana-mana. Emangnya kenapa??" Tanya Manda.
"Kita ke pantai yuk, sama mereka juga" Dewa melirik ke arah Diandra.
Diandra juga kecewa karena Dewa ternyata malah mengajak Manda. Padahal tadi niatnya ingin menolak Bryan untuk ikut dengan mereka.
"Waahh seru nih. Tapi Tara gimana??"
"Sudah tidak usah pikirkan dia. Kita pergi sekarang!!"
Dewa mendahului mereka bertiga. Menuju garasi untuk mengambil sepeda motornya.
"Ayo naik!!" Ucap Dewa yang ambigu.
Manda dan Diandra sama-sama mendekati Dewa. Keduanya saling berpandangan.
"Bukanya mengajakku??" Tanya Manda pada Diandra yang juga bingung, sebenarnya Dewa ingin mengajak siapa untuk naik ke atas sepeda motornya.
"Tapi tadi Mas Dewa...."
"Ayo naik Manda. Apa perintahku kurang jelas?? Diandra biarkan sama kekasihnya" Ujar Dewa degan matanya yang tajam ke arah Diandra.
__ADS_1
"Iy-iya ini aku naik. Awas!!" Manda memberikan isyarat agar Diandra sedikit mundur ke belakang.
Diandra tidak tau kenapa hatinya sakit sekali saat ini. Melihat Dewa lebih memilih Manda daripada dirinya. Dengan wajahnya yang menunduk karena berkaca-kaca. Diandra menarik kakinya mundur satu langkah ke belakang.
"Aku duluan, kau bisa ambil sepeda motor di garasi. Pelan-pelan saja saat membawa Diandra, ingat dia sedang hamil" Pesan Dewa pada Bryan sebelum dia melajukan motor bebeknya.
Manda tersenyum penuh kemenangan melihat Diandra di acuhkan oleh Dewa seperti itu.
"Didi?? Kamu kenapa?? Kalau kamu sakit kita nggak usah susul mereka ya??"
"Iya Bryan, aku sakit. Aku tidak tau kenapa hatiku ini begitu sakit saat ini" Diandra hanya mampu mengatakan itu di dalam hatinya.
"Tidak papa Bryan, cepat kamu ambil motornya. Nanti mereka keburu jauh" Diandra mengerjabkan matanya, menyembunyikan air mata itu dari Bryan.
Mereka berempat duduk di sebuah gazebo kecil di pinggir pantai. Menikmati kepala muda di temani angin sepoi-sepoi yang terus berhembus melewati mereka.
Matahari yang belum sampai di atas kepala membuat suasana di pagi yang cerah itu tak terlalu terik.
Tidak ada yang membuka suaranya satupun. Mereka masih terdiam menikmati segarnya air kelapa yang di pesan oleh Dewa.
Diandra yang tadinya sangat antusias pun kadi tak bersemangat. Semua rasa senangnya saat Dewa mengajaknya ke pantai hilang begitu saja saat tadi Dewa lebih memilih bersama Manda.
"Kita main air yuk??" Ajak Bryan lada Diandra.
Diandra ingin menyetujui ajakan Bryan itu, tapi dia teringat jiak Dewa mempunyai trauma dengan laut.
"Enggak Bryan, aku disini aja. Lagian aku sudah hamil besar jadi aku takut kenapa-napa" Tolak Diandra pada Bryan.
Dewa yang sejak tadi sebenarnya mendengarkan percakapan mereka itu sedikit lega karena Diandra menolaknya.
"Yahh nggak seru dong. Padahal kan kalau ke pantai ya paling asik main air" Manda menambahi.
Diandra semakin tak enak menolak Bryan yang terus memaksanya. Sementara Diandra sendiri takut jika Dewa akan marah.
"Mas??" Panggil Diandra pada pria yang seolah tal peduli itu.
Dewa menatap Diandra dengan lirikan matanya, karena mereka memang duduk tak saling berhadapan.
"Boleh aku..."
"Hemmm" Gumam Dewa memotong ucapan Diandra. Bahkan Dewa tak sudi menatap wajah Diandra itu.
"Tuan tenang saja, saya pasti akan menjaga Diandra" Bryan mengatakan itu dengan kesungguhannya.
Meski Dewa sama sekali tak menyahuti Bryan tapi Bryan kini sudah membawa Diandra ke pinggir pantai. Mereka berdua bermain air layaknya anak kecil yang tidak pernah bermain air.
Bryan dan Diandra saling melempar air hingga baju mereka berdua basah kuyup.
"Hahaha kamu nggak bisa lari dari aku Didi!!" Bryan menangkap Diandra yang mencoba lari darinya setelah membuat rambutnya basah.
"Ampun Bryan!!" Teriak Diandra.
Sementara Dewa dan Manda yang masih duduk di gazebo hanya diam melihat kedua manusia yang terlihat sangat bahagia itu.
"Mereka bahagia banget ya kayaknya??" Tanya Manda yang pasti tertuju pada Bryan.
Dewa hanya tersenyum tipis namun sangat masam rasanya.
__ADS_1
"Kamu nggak cemburu melihat mereka berdua??" Tanya Manda lagi.
"Menurutmu??" Bukan jawaban yang Manda dapatkan.
"Yah kalau aku jadi kamu juga pasti aku cemburu"
"Kalau tau jawabannya kenapa harus bertanya??" Ketus Dewa.
Sepasang mata Dewa itu tidak pernah lepas memperhatikan Diandra dari tadi. Sebenarnya dia sangat khawatir melihat Diandra bermain di tepi pantai seperti itu. Tapi melihat tawa lepas Diandra itu, membuat Dewa mengurungkan niatnya untuk mendekati Diandra.
Kini Dewa semakin sadar, jika yang bisa membuat Diandra lepas tanpa beban seperti itu hanyalah Bryan, buka dirinya.
-
-
"Sudah Bryan, aku lelah. Kita kembali saja ya, matahari juga semakin naik" Ucap Diandra dengan lesu.
"Baiklah, ayo kita kembali ke sana" Dewa meraih tangan Diandra. Menuntunnya berjalan pelan untuk keluar dari air.
"Awwww!!" Pekik Diandra.
"Kenapa Didi??" Tanya Bryan karena Diandra tampak kesakitan.
"Aww kakiku perih sekali. Sepertinya terkena sesuatu" Diandra berjalan tertatih kemudian menjatuhkan dirinya ke pasir yang putih itu.
Dewa yang Diandra terjatuh di pasir itu langsung berlari menghampiri Diandra. Dia merasa ada yang tidak beres dengan istrinya.
"Dewa!! Kamu mau kemana??" Teriak Manda yang di tinggalkan oleh Dewa.
"Dee!!" Teriak Dewa sambil berlari.
"Dee kamu kenapa??" Dewa langsung bersimpuh di samping Diandra.
"Kakiku Mas. Sakit sekali, perih" Diandra meringis menahan sakit.
"Kakinya terkena pecahan kaca" Jelas Bryan membuat Dewa terkejut langsung memeriksa telapak kaki Diandra.
"Kenapa bisa begini?? Tadi kau sudah berjanji akan menjaganya dengan baik. Kau sama sekali tak bisa di andalkan!!" Geram Dewa pada Bryan.
Bryan tidak bisa menjawab apa yang Dewa katakan itu. Karena memang nyatanya dia tidak bisa melindungi Diandra.
"Sudahlah Mas, lebih baik kita pulang sekarang!! ini sakit sekali" Ucap Diandra melerai keduanya.
"Baiklah, ayo kita pulang. Aku telepon Niko dulu memanggil Dokter sekarang juga" Diandra mengangguk setuju.
"Maafkan aku Dee, aku memang payah. Aku tidak bisa menjagamu"
"Ini bukan salahmu Bryan, akulah yang tidak hati-hati. Jadi jangan minta maaf" Ucap Diandra dengan kesungguhan.
"Diandra kenapa??" Tanya Manda yang baru sampai karena tidak bisa berlari kencang.
"Tertancap kaca" Jawab Bryan singkat.
"Sudah, ayo kita pulang sekarang!!" Dewa hanya mengatakan itu, tidak berniat membantu Diandra yang tampaknya tidak bisa berjalan.
Meski sebenarnya Dewa ingin menggendong Diandra tapi dia takut Diandra tidak nyaman karena keberadaan Bryan. Jadi Dewa tetap diam menunggu Bryan yang akan menggendong Diandra pergi dari sana.
__ADS_1
"Mas, gendong"
Bersambung...