Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
83. Menagih janji


__ADS_3

Permintaan dari Diandra tadi membuat Dewa berakhir menyendiri di atap rumah sakit. Memikirkan apa yang harus dilakukan untuk Diandra dan dirinya sendiri.


Harusnya saat ini Dewa sudah membawa anak mereka jauh dari Diandra. Mengembalikan hidup Diandra seperti semula. Mengembalikan Diandra pada Bryan, kekasihnya.


Tapi Dewa justru memikirkan permintaan Diandra tadi. Wanita yang sebentar lagi akan segera menjadi mantan istrinya itu justru menginginkan anak mereka. Anak yang bahkan belum Dewa berinya nama.


Melihat Diandra menangis memohon agar tidak dipisahkan dari anak mereka membuat Dewa lagi-lagi ingin mengalah.


"Mas, aku mohon. Aku menyayanginya Mas. Mana ada seorang ibu yang rela berpisah dengan anak yang dilahirkannya. Dia juga masih butuh aku Mas" Kalimat itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya.


Tapi haruskan Dewa merelakan anaknya di bawa Diandra setelah Dewa memilih menceraikan Diandra demi kebahagiaan wanita itu.


Ada rasa dalam dirinya untuk tetap egois, tak peduli dengan permintaan Diandra itu. Karena memang sudah sejak awal perjanjian mereka seperti itu. Tapi Dewa merasa tersiksa melihat air mata Diandra.


Tepukan keras di bahu Dewa di barengi seseorang yang duduk di sebelahnya menyadarkan Dewa dari kegundahannya.


"Papa??"


Papa Elang datang membawa wajahnya yang terlihat begitu tenang. Seakan tidak tau apa yang sudah terjadi pada anaknya.


"Papa sudah tau semuanya. Jadi tidak perlu menyembunyikan apapun dari Papa"


"Maaf Pa" Dewa menunduk dengan kedua sikunya bertumpu pada kedua lututnya.


"Sekarang kamu tau kan Dewa, jika tidak semua yang kamu inginkan bisa di beli dengan uang" Dewa mulai tergugu di hadapan Papanya. Baru kali ini pria itu terlihat lemah di depan pria yang mendidiknya menjadi laki-laki pemberani.


"Apa kamu begitu mencintai Diandra??" Dewa hanya mengangguk karena dia sedang menahan suara tangisannya.


"Apa arti mereka berdua bagimu??" Hati Papa Elang sebagai orang tua Dewa juga merasa sakit melihat anaknya dalam keadaan seperti itu.


"Segalanya Pa" Suara Dewa sudah parau.


"Apa kamu sudah mengambil keputusan??" Dewa menggeleng. Karena memang saat ini dia belum bisa berpikir.


"Apa yang membuatmu ragu??"


"Rasanya aku ingin egois Pa. Aku ingin sekali mengingkari janjiku untuk tetap mempertahankan mereka Pa. Tapi aku tidak mau Diandra membenciku lagi karena aku yang ingkar janji. Tapi kalau aku memisahkan Diandra dan anaknya, aku tidak sanggup melihat air matanya Pa. Aku bingung Pa, aku bingung sekali saat ini. Aku bahkan tidak bisa berpikir" Dewa merasakan usapan lembut pada pundaknya. Tentu saja pelakunya adalah Papa Elang.


"Kenapa kamu tidak coba berjuang lagi??"


Dewa tersenyum kecut kemudian menggeleng lemah.


"Papa, selama perjanjian yang aku lakukan itu, aku tidak diam saja Pa. Tanpa Diandra sadari, aku terus mencoba menunjukkan cinta dan perhatianku. Tapi semua itu sia-sia Pa, kalau tidak ada timbal baliknya. Diandra memang tidak pernah memberikan Dewa celah Pa. Jadi untuk berjuang lagi itu sudah tidak mungkin"

__ADS_1


Papa Elang hanya bisa menjadi pendengar yang baik bagi anaknya kalau begitu. Saat ini Papa Elang bukanlah Ayah bagi Dewa. Namun dia sudah layaknya seorang teman yang menjadi tempat berbaginya kali ini.


"Papa mendukung apapun keputusanmu, selama itu tidak akan menyakiti orang lain"


Begitu bijaknya pria yang masih begitu tampan di usianya yang tak muda lagi itu. Dalam hati Dewa selalu berharap kelak jika tua nanti, dia akan menjadi pria seperti Papanya. Bijak, rendah hati, setia dan begitu mencintai keluarganya.


"Terimakasih Pa" Mata Dewa kembali berkaca-kaca menatap Papanya.


"Kamu boleh menangis boleh bersedih karena tak ada larangan bagi seorang pria untuk menangis tapi segera putuskan apa yang harus kamu lakukan. Jadilah pria sejati yang tidak mencoba lari dari masalah yang sedang kamu hadapi. Papa dan Mama selalu ada untukmu. Jangan pernah merasa sendiri dalam kondisi apapun. Papa pergi dulu"


Papa Elang mengusap air mata putranya itu dengan ibu jarinya sebelum meninggalkan Dewa sendirian lagi. Sebuah perlakuan manis dari seorang Ayah untuk putranya.


🌻🌻🌻


"Didi!!"


"Didi, kenapa jadi begini Nak??" Ayah Diandra datang dengan keadaan berantakan dan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Ayah, Diandra tidak papa"


"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu Nak?? Anak Ayah satu-satunya kenapa harus mengalami semua ini" Ayah Diandra memeluk putrinya yang masih terbaring lemah.


"Sudah Ayah, Diandra tidak papa. Jangan seperti ini, nanti Diandra jadi sedih" Akhirnya Ayah Diandra melepaskan pelukannya.


"Mas Dewa sedang keluar, ada sesuatu yang harus dia urus. Kalau Mama Bella baru saja pulang"


"Lalu bagaimana keadaan cucu Ayah??" Ada binar kebahagiaan di mata Ayahnya saat menanyakan cucunya.


"Kata Dokter dia baik Yah. Tapi karena lahir belum cukup bulan jadinya harus berada di ruangan khusus. Diandra juga belum melihatnya sama sekali Yah. Dokter mengijinkan Diandra ke sana kalau Diandra sudah bisa duduk" Jelas putrinya.


"Dia pasti menggemaskan seperti kamu saat masih bayi"


"Iya Yah, kata Mama Bella dia tampan sepeti Papanya" Diandra lagi-lagi memuji suaminya secara tidak langsung.


"Benarkah?? Cucu Ayah pasti menjadi anak paling beruntung di dunia ini. Mempunyai seorang Papa seperti Dewa dan Mama seperti kamu" Ayah Diandra sudah melupakan kekhawatirannya saat masuk ke dalam ruangan ini tadi.


"Benar Ayah" Diandra bahagia melihat Ayahnya yang tak muda lagi sebahagia itu.


🌻🌻🌻


Dewa meyakinkan dirinya jika benar kata Papanya, Dewa memang harus segera mengambil keputusan. Tapi ada yang harus Dewa pastikan sebelum Dewa benar-benar menepati janjinya itu.


Dengan langkahnya yang kembali tegas, Dewa turun dari atap rumah sakit yang sedang merawat istrinya itu.

__ADS_1


Tiba di depan ruangan Diandra, Dewa begitu di landa kegugupan, bahkan telapak tangannya sudah mulai memutih dan dingin.


"Tuan Dewa!!" Bryan menghentikan Dewa yang hendak membuka pintu itu.


"Bisa kita bicara sebentar??" Bryan duduk di kursi yang ada di depan kamar Diandra.


Dewa tetap berdiri di depan pintu, sama sekali tak berniat untuk duduk. Hanya badannya saja yang menghadap pada Bryan.


"Saya rasa Tuan Dewa bukan orang yang ingkar janji bukan??" Bryan melirik Dewa yang berada di sampingnya.


"Maksudmu??"


"Maksud saya?? Tuan Dewa tidak mungkin lupa dengan janji yang sudah anda buat sendiri kan??"


Kini Dewa tau arah pembicaraan Bryan itu kemana. Pastilah pada sesuatu yang sejak tadi membuat kepalanya ingin pecah.


"Tentu saya ingat"


"Tapi, bukankah sekarang Diandra sudah melahirkan?? Putra anda juga sudah bisa anda dapatkan. Lalu masih menunggu apa lagi??"


Bryan begitu sengit mengatakan itu semua kepada Dewa. Taka ada rasa takut lagi untuk melawan Dewa.


"Jadi secara tidak langsung kau mau menyuruhku untuk segera menjauh dari Diandra dengan membawa putraku begitu??" Dewa bersedekap mencoba untuk tak terpancing amarah karena berhadapan dengan orang yang amat sangat di bencinya.


"Tuan tau sendiri maksud saya. Tuan tentu masih mengingat dengan jelas, Tuan sendiri yang mengatakan jika begitu anak itu lahir, Tuan akan menceraikan Diandra saat itu juga. Jadi ada urusan apa lagi Tuan ada di sini?? Apa Tuan ingin mengantarkan surat cerai??" Bryan melihat ke tangan Dewa yang tak membawa apapun itu.


"Atau Tuan hanya akan menalak Diandra saja??"


Tangan Dewa mengepal di antara tangannya yang terlipat di depan dada itu. Jika biasanya seorang suami yang akan mengintimidasi pria lain yang mendekati istrinya. Tapi sekarang justru terbalik, suami sah yang terintimidasi oleh kekasih istrinya.


Dewa diam tak mau menjawab apapun dari pertanyaan Bryan yang begitu mendesaknya itu.


"Saya begitu mengenal Diandra, dia tidak suka dengan orang yang ingkar janji. Jadi saya tidak harus memperjelas semuanya kan Tuan?? Anda tau apa yang harus anda lalukan saat ini. Jadi buktikan apa yang pernah anada katakan. Janji-janji itu, silahkan ada buktikan dengan tindakan anda"


Bryan berdiri lalu berjalan hingga berdiri persis di samping Dewa.


"Segala sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk anda miliki maka sekeras apapun anda berusaha, anda tidak akan pernah memilikinya"


Bryan melewati Dewa begitu saja. Memasuki kamar Diandra tanpa peduli Dewa yang berdiri di sana.


Dewa hanya bisa melihat Diandra yang tampak senang dengan kedatangan Bryan dari celah pintu. Dan itu membuat Dewa membulatkan keputusannya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2