
"Mirip banget sama kamu ya Mas, hidungnya mancung. Gemes banget pipinya"
"Masa mirip sama aku sih Dee?? Padahal aku pinginnya lebih mirip sama kamu"
Mereka berdua sudah kembali ke kamar, duduk berdua di sofa dengan foto hasil USG di tangan Diandra.
"Kan kamu Papanya, ya wajarlah mirip kamu. Ntar kalau mirip orang lain dikiranya bukan anak kamu loh" Canda Diandra.
"Kan dia hadiah dari kamu. Jadi aku bisa lihat kamu di wajah dia nantinya kalau seandainya mirip kamu" Dewa terlihat sendu.
"Jadi kamu ngga suka dia mirip sama kamu. Ntar dia kecewa loh kalau Papanya ngga suka"
"Siapa bilang nggak suka, ya aku seneng dia mirip aku karena dia pasti bakal mewarisi ketampanan Papanya ini"
"Ih narsis banget kamu Mas" Diandra tertawa geli karena ternyata Dewa bisa bercanda seperti itu.
Ternyata banyak sekali yang Diandra tidak tau dari Dewa. Hampir 7 bulan pernikahan mereka, Diandra hanya tau nama Dewa saja, bahkan tanggal lahirnya Dewa saja Diandra tidak tau.
BRAKK...
"Diandra!!"
Diandra yang masih memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa itu sempat terkejut karena suara bantingan pintu.
"Didi, kamu sakit??" Bryan langsung masuk menghampiri Diandra yang masih duduk di samping Dewa.
"A-aku tidak papa Bryan" Diandra melirik Dewa yang wajahnya berubah masam.
"Jangan marah lagi aku mohon, karena baru saja aku melihatmu hangat kembali" Batin Diandra.
"Tapi kenapa aku melihat Dokter di depan?? Kamu benar tidak papa kan??" Bryan seolah mengabaikan Dewa yang ada di sana.
"Aku memang mengijinkan mu tinggal disini, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya masuk ke dalam kamarku!! Kalau alasanmu hanya karena Diandra, seharusnya kau tau aku yang lebih berhak atas dirinya. Aku rela kau tetap bisa dekat dengannya hanya karena aku memikirkan kebahagiaannya. Jadi jangan lewati batasan mu!!"
Setelah mengatakan itu Dewa berdiri ingin meninggalkan Diandra dan Bryan di sana. Dia muak berada di antara sepasang kekasih itu.
"Tunggu Mas, kamu mau kemana??" Diandra menahan tangan Dewa.
"Aku muak berada di sini" Jawab Dewa dengan ketus.
Diandra memejamkan matanya, apa yang dia takutkan benar terjadi. Dewa kembali mengacuhkan dirinya.
"Bryan, keluarlah dari sini" Pinta Diandra dengan sehalus mungkin agar Bryan tidak tersinggung.
"Tapi..."
"Aku tidak papa Bryan, tadi Dokter hanya memeriksa kandunganku saja. Jadi aku mohon, keluarlah dari sini" Bryan tampak kecewa karena Diandra lebih memilih menahan Dewa daripada dirinya.
"Baiklah, aku keluar. Maaf karena saya lancang Tuan Dewa" Ucap Bryan tapi tatapannya masih menjuru pada Diandra.
Dewa tetap diam berdiri dengan tangannya yang di tahan oleh Diandra.
__ADS_1
Bryan mulai berbalik meninggalkan Diandra dengan rasa kecewanya. Dia juga marah pada dirinya sendiri karena membenarkan apa yang Dewa katakan tadi. Dewa memang lebih berhak atas segalanya di banding dirinya.
Dewa masih saja diam setelah pintu kamar mereka benar-benar tertutup kembali.
"Mas??" Panggil Diandra dengan lembut.
"Aku mau mandi dulu, gerah sekali rasanya" Tali lagi-lagi Diandra menahan Dewa.
"Kamu marah Mas??" Tanya Diandra dengan polosnya.
"Dee, lepaskan aku dulu. Sejujurnya sejak kemarin aku sudah memendam kemarahan ku. Aku terus menahan diri agar tidak lepas kendali demi kamu. Jadi biarkan aku sendiri dulu. Aku tidak mau menyakiti kamu lagi. Aku mohon mengertilah" Ucap Dewa dengan semua kelelahannya menghadapi nasib pernikahannya.
Berlahan Diandra melepaskan tangannya yang menahan Dewa. Ucapan Dewa itu sungguh mengenai tepat di dalam hatinya. Memang selama ini Dewa yang terus mengerti dirinya menuruti semua keinginannya, membebaskan Diandra untuk berhubungan dengan Bryan. Tapi dia tidak pernah bisa mengerti perasaan Dewa.
Hatinya pasti hancur karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Apalagi kedatangan Bryan pasti sangat menyakiti hati Dewa.
Tampaknya mulai sekarang Diandra sadar kalau cinta Dewa itu memang nyata bukan obsesi belaka.
🌻🌻🌻
"Kenapa??"
Tara mengulurkan satu kaleng minuman bersoda kepada Bryan.
Bryan menerima minuman itu, membuka tutup kalengnya dengan sadis. Lalu meneguk minuman itu seperti tenggorokannya tak di lewati air sejak pagi.
"Apa terjadi sesuatu di antara kalian??" Kalian yang di maksud Tara adalah Bryan dan Diandra.
"Pertanyaan macam apa itu?? Apa aku terlihat seperti seorang dukun??" Kesal Tara.
Bryan justru terkekeh karena jawaban Tara itu.
"Sepertinya aku mulai menyadari sesuatu. Entah itu benar atau tidak" Bryan kembali meneguk minumannya lagi.
"Apa itu?" Tara menghadap ke arah Bryan yang duduk mendongak ke langit.
"Diandra, sepertinya perasaannya mulai berubah"
"Apa dia mengatakannya kepadamu??" Tanya Tara.
"Tidak, tapi melihatnya lebih membela Dewa daripada aku, membuatku meragukan perasaan Diandra"
"Lalu apa kau akan menyerah??"
"Aku memang menyadarinya tapi aku tidak mau mengerti tentang itu"
"Walau Diandra menolak mu??" Tanya Tara lagi.
"Lalu bagaimana denganmu?? Kau jelas tau Dewa mencintai Diandra, tapi kenapa kau tetap mengejarnya sampai sekarang?? Sampai rela bersekongkol dengan Manda hanya untuk menyingkirkan Diandra" Pertanyaan balik dari Bryan sukses membuat Tara gelagapan.
"A-aku juga tidak tau. Yang aku rasakan ini memang benar cinta atau obsesi. Aku dari dulu selalu bersamanya, tumbuh besar bersama. Dia selalu melindungi ku, selalu menuruti permintaanku. Aku tidak rela dia dekat dengan perempuan lain. Dan aku semakin marah saat tau Kak Dewa diam-diam telah menikah" Jelas Tara. Padahal dia juga baru saja bertemu Bryan. Tapi Tara sudah bisa mengungkapkan isi hatinya pada Bryan yang notabennya adalah orang yang tidak di kenalnya.
__ADS_1
"Sepertinya perasaanmu itu bukan cinta"
"Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu??" Delik Tara.
"Seperti yang kau bilang tadi. Kau dari dulu terbiasa bersamanya dan tidak rela dia dekat dengan perempuan lain. Itu hanya rasa takut kehilangan saja. Karena kalau sampai dia benar-benar menemukan cinta sejatinya. Dia pasti akan mengabaikan mu. Dia pasti akan lebih mementingkan perempuan yang dicintainya. Dan itu membuatmu ketakutan. Takut kehilangan perhatiannya. Takut dia tidak bisa melindungi mu lagi, takut tidak bisa menuruti keinginanmu lagi. Jadi kau menyimpulkan itu sebagai cinta"
Tara merasakan sakit saat Bryan mengatakan kebenaran tentang perasaannya itu.
"Benarkah seperti itu??" Tara terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
"Coba renungkan sendiri. Cobalah melihat keluar, selama ini duniamu hanya berpusat pada Dewa saja. Jadi kau tidak bisa merasakan apa yang dinamakan cinta yang sebenarnya"
Tara seperti baru mendapatkan cahaya ilahi di kehidupannya. Karena dia sama sekali tidak bisa membantah apa yang Bryan lontarkan kepadanya.
"Memangnya cinta yang kau maksud itu seperti apa?? Apa bedanya dengan yang aku rasakan??" Tara menatap kedua manik mata Bryan yang hitam pekat itu.
"Aku akan mengatakan cinta menurutku sendiri, dan coba bandingkan dengan cinta versi darimu" Tara mengangguk setuju.
"Cinta menurutku, rindu saat tidak bertemu"
"Aku juga" Jawab Tara.
"Selalu merasa bahagia jika di dekatnya"
"Aku juga"
"Ingin selalu di sampingnya" Bryan terus mengatakan apa yang dia rasakan.
"Aku juga begitu"
"Sedih jika melihatnya bersedih dan menangis"
"........" Tara terdiam. Dia tidak pernah tau saat Dewa bersedih karena Dewa selalu menutupi semuanya dengan wajahnya yang dingin.
"Bahagia saat melihatnya bahagia. Selalu membuatnya merasa bahagia dan nyaman jika berada di dekatmu"
"........" Tara kembali terdiam. Dia justru sering sekali membuat Dewa kesal dengan tingkahnya yang ingin selalu di perhatikan.
"Rela melakukan apapun asal dia bahagia"
"Cukup!!"
Tara menghentikan Bryan agar tidak melanjutkannya lagi. Karena semua itu Tara benar-benar tidak tau tentang semua hal itu selain ketiga jawaban yang sama di awal tadi.
"Apa kau masih meyakini jika perasaanmu itu cinta??" Tanya Bryan.
Tara masih terdiam. Dia memegangi dadanya yang semakin sesak itu. Rasanya dia benar-benar di tampar oleh kenyataan yang di jabarkan pria asing di sampingnya itu.
Karena tak ada satu katapun yang mampu keluar dari bibirnya. Tara memilih pergi dari sana, meninggalkan Dewa yang sejak tadi duduk sendirian di taman yang sudah tidak diterangi sinar matahari.
Bersambung..
__ADS_1