
BUG...
Ternyata dari belakang Daniel sudah siap anak buah Niko yang lain. Memukul kepala Daniel lebih dulu sebelum pria berdarah negeri ginseng itu memukulkan tongkat besinya pada Niko.
Niko tak terkejut sama sekali melihat Daniel yang sudah ambruk di belakangnya. Di langsung mengambil kunci yang berada di tangan penjaga tadi.
Dengan tidak sabaran Niko membuka pintu itu. Seperti sudah mendapat firasat jika di dalam sana mereka berdua tidak baik-baik saja.
BRAKK...
Niko mendorong pintu besi itu dengan kuat, dan yang pertama dia lihat adalah Tuannya yang sudah tidak sadarkan diri di pangkuan istrinya.
"Tuan, Nyonya!!" Niko di ikuti anak buah yang tadi memukul Daniel langsung menghampiri Dewa.
"Niko, tolong Mas Dewa Nik. Dia tidak sadarkan diri. Tolong segera bawa dia Nik!!" Diandra panik sambil terus menangis memeluk suaminya.
Niko segera memeriksa Dewa, mulai denyut nadi dan juga luka-luka di tubuh Dewa.
"Panggil beberapa kesini dan minta yang lain siapkan Heli. Kita harus segera membawa Tuan ke rumah sakit!!" Perintah Niko pada anak buahnya.
"Baik Asisten Niko!!" Pria itu segera berlari keluar dengan cepat. Dia tau apa yang harus segera dilakukannya menurut perintah Niko.
"Nyonya tenang dulu ya, Tuan pasti kuat. Dia tidak selemah itu" Niko merasa perhatian melihat keadaan pasnagan suami istri itu.
Dewa yang penuh luka dan tak sadarkan diri, sedangkan Diandra dalam keadaan hamil yang lusuh dan pucat.
🌻🌻🌻
Setelah aksi perlawanan membebaskan Dewa dan Diandra yang dramatis itu, Niko berhasil membawa Dewa tiba di rumah sakit dengan secepat mungkin.
Keadaan Dewa yang sudah tidak sadarkan diri harus segera mendapatkan pertolongan secepatnya. Jadi Niko hanya mencari rumah terdekat dari lokasi. Walaupun rumah sakit kecil, yang penting Dewa bisa terselamatkan terlebih dahulu.
Niko yang baru saja selesai mengurus segala sesuatu tentang Dewa melihat Diandra yang duduk lemas di depan pintu UGD. Niko tau jika wanita hamil itu pasti sedang memikirkan suaminya yang sedang berjuang di dalam sana.
"Nyonya, minumlah dulu" Niko mengulurkan satu botol air mineral untuk Diandra.
__ADS_1
"Aku tidak haus Nik" Tolak Diandra dengan halus.
"Minumlah barang sedikit saja Nyonya. Tuan pasti sangat khawatir jika tau istri tercintanya kehabisan cairan. Nyonya juga harus memikirkan anak kalian berdua"
Niko memaksanya untuk minum karena melihat tubuh Diandra yang begitu lemah. Apalagi Diandra menolak untuk mendapatkan perawatan bersama Dewa. Diandra bersikeras untuk tetap di dekat Dewa meski saat ini Dewa belum juga di pindahkan ke ruang rawat.
Akhirnya setelah kalimat yang Niko ucapkan itu, Diandra meraih air mineral botol itu. Hanya meneguknya beberapa, bahkan seperempat botol saja tidak ada.
"Terimakasih Niko"
"Sama-sama Nyonya"
"Terimakasih juga karena kamu sudah menyelamatkan aku dan Mas Dewa. Semua ini memang salahku" Diandra menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Nyonya jangan menyalahkan diri Nyonya seperti ini. Memang sejak awal Daniel mengincar Tuan Dewa, dan hal seperti ini sudah biasa terjadi. Jadi sekarang ini Nyonya lebih baik tenang. Kita tunggu hasil pemeriksaan Dokter dulu"
"Sering terjadi?? Apa maksudmu Nik?? Sebenarnya apa pekerjaan Mas Dewa yang sebenarnya??"
Diandra sungguh tidak mengerti yang Niko maksud. Hal seperti apa yang sudah sering di alami Dewa hingga Niko menganggap kejadian ini biasa saja.
"Nyonya, sebenarnya saya tidak berhak untuk mengatakannya pada Nyonya. Tapi karena saya rasa Nyonya harus tau maka saya akan menggambarkan sedikit saja tentang apa yang saya maksud"
"Nyonya sudah tau kan posisi dan prestasi Tuan di dunia Bisnis??" Diandra menganggukkan kepalanya.
"Jadi di dunia Tuan saat ini tidak semuanya bersih. Persaingan demi persaingan terus saja di lakukan para penguasa kerajaan bisnis. Saling menghancurkan dalam kedok kerjasama juga sudah terlalu biasa di kalangan atas. Tapi karena kecerdikan Tuan, mereka yang akan menyerang malah justru terkena batu lemparannya sendiri. Oleh karena itu, mereka yang murka dan tak mau menerima kekalahannya sering menggunakan kelicikannya untuk menghancurkan Tuan. Seperti yang di lakukan Daniel saat ini. Daniel tau jika Nyonya adalah kelemahan Tuan. Maka dari itu dia sengaja menggunakan Nyonya sebagai umpan untuk memancing Tuan"
"Itulah alasannya kenapa Tuan sangat mewanti-wanti Nyonya agar tidak keluar rumah tanpa pengawalan"
Diandra diam termenung. Kehidupannya yang dulu biasa saja dan berjalan lancar, kini terlibat dengan seorang manusia berwajah Dewa tapi mempunyai segudang masalah di dalam dunianya.
"Dokter, bagaimana keadaan Tuan Dewa??"
Lamunan Diandra buyar karena Niko yang langsung menyambut keluarnya seorang Dokter dari UGD.
"Pasien saat ini sudah sadarkan diri. Bisa di temui kalau sudah di pindahkan ke kamar rawat inap" Jawab Dokter itu tanpa menjelaskan apa yang terjadi pada Dewa.
__ADS_1
"Dokter, apa ada luka yang berarti pada suami saya?? Kenapa ulu hatinya bengkak, dan terus kesakitan??" Tanya Diandra yang gemas pad dokter itu.
"Itu terjadi karena cidera otot dinding dada, retak pada tukang rusuk dan luka pada lambung. Tapi juga disertai asam lambung yang naik. Apa pasien tidak mengkonsumsi apapun selama 24 jam terakhir?? Mengingat pasien juga mengalami dehidrasi"
Niko ingat jika Dewa belum makan sama sekali sejak kemarin.
"Seingat saya, Dia hanya makan kemarin pagi Dokter"
Diandra langsung menoleh pada Niko. Jika kemari pagi, berarti saat mereka sarapan bersama kemarin sebelum Dewa berangkat bekerja.
"Nah itulah yang membuat Pasien begitu lemah saat ini. Tapi tidak perlu khawatir, kami sudah menanganinya dengan baik. Hanya berikan waktu untuk pasien beristirahat, semuanya akan baik-baik saja"
Diandra masih mencerna semua yang Dokter itu katakan, hingga dia tak sadar jika hanya Niko hang berada di sampingnya.
"Mari saya antar ke ruangan Tuan, Nyonya. Anda bisa istirahat di sana"
Diandra hanya patuh mengikuti Niko saja. Rasanya sudah tidak ada tenaga lagi untuk mengeluarkan suara. Badannya terasa lemah, kepalanya pusing, dan pandangannya mulai kabur. Tapi sebisa mungkin Diandra tetap bertahan demi melihat Dewa yang kini sudah menunggunya.
Niko terus berjalan hingga sampai di deretan kamar VIP rumah sakit kecil itu. Sebelum membuka pintu Niko melihat Diandra yang masih terdiam itu.
"Silahkan Nyonya masuk dulu. Saya akan membelikan makanan untuk Nyonya dan Tuan. Maaf kalau saya lancang, saya mohon pada Nyonya untuk tidak meninggalkan kamar ini sekalipun. Dan ini adalah Toni dan Veri, pengawal yang akan terus berjaga didepan ruangan ini. Jadi kalau Nyonya butuh apa-apa tinggal katakan padanya saja"
Niko menunjuk pada dua orang yang berdiri di kedua sisi pintu masuk ruangan Dewa itu.
"Baiklah, aku mengerti" Kali ini Diandra tidak akan mengulangi lagi tindakan bodohnya yang tidak mendengarkan perintah itu.
"Kalau begitu silahkan masuk" Niko membukakan pintu untuk Diandra.
Sepertinya Diandra juga perlu di periksa karena dia kuga merasakan perih pada ulu hatinya saat melihat kondisi Dewa yang berbaring lemah di dalam ruangan itu.
Pengelihatan Diandra mulai kabur karena air matanya yang menggenang. Diandra terus berjalan mendekati Dewa yang memejamkan matanya. Tangan kanan Dewa yang terpasang jarum infus berada di atas perutnya.
Diandra belum bersuara sama sekali. Hanya bibirnya saja yang mulai bergetar tak kuasa menahan tangisnya. Bahkan sesekali Diandra menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya. Dia hanya berdiri di sisi Dewa, tak berani menyentuh Dewa meski Diandra sangat menginginkannya. Diandra menahannya agar tidak mengganggu istirahat Dewa.
"Dee!!" Diandra mendengar Dewa memanggilnya dengan lirih.
__ADS_1
"Jangan menangis"
Bersambung..