
"Selamat datang kembali ke rumah ini sayang"
Mama Bella sudah menyambut kedatangan Diandra bersama Papa Elang.
Diandra langsung memeluk Mama mertua baik hati itu. Rasanya bahagia sekali karena masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu darinya.
"Terimakasih Mama, Papa karena sudah mau menerima Diandra kembali, mengingat Diandra yang sudah menyakiti Mas Dewa"
"Tidak udah dipikirkan lagi Dee, kita sudah melupakan semuanya. Sekarang cukup pikirkan masa depan kalian dan cucu Papa"
"Iya, Pa sekali lagi terimakasih" Ucap Diandra pada Papa mertuanya.
"Tunggu!! Jadi Mama dan Papa sudah tau kalau kita tidak jadi bercerai??" Dewa baru sadar kalau kedua krang tuanya sama sekali tidak terkejut dengan Diandra yang datang ke sana bersama Diandra. Mereka justru menyambut Diandra dengan baik.
"Jelas sudah dong Dewa. Kemarin Diandra datang kesini cari kamu. Dia juga sudah menjelaskan sama mama tentang perasannya sama kamu. Mama juga mendukungnya untuk mempertahankan rumah tangga kalian" Jelas Mama Bella.
"Tapi kenapa Mama nggak bilang sama Dewa tadi malam??" Dewa tak habis pikir dengan Mamanya. Jelas sekali jika anaknya patah hati tapi tak memberitahunya jika Diandra datang ingin memperjuangkan cintanya.
"Untuk apa?? Toh kalian sekarang juga susah baikan. Lagi pula itu juga urusan rumah tangga kalian. Mana mungkin Mama ikut campur" Jawaban acuh mama Bella membuat Dewa semakin frustasi dengan Mamanya.
"Ma, rumah tangga anak Mama ini hampir saja di ambang perceraian loh Ma. Kenapa Mama bisa sesantai itu"
"Wa, Mama nggak bilang itu karena Mama mau buat kejutan sama kamu. Jadi udah dong marah-marahnya, sekarang bawa Diandra istirahat. Ayo Ma" Papa Elang membawa Mama Bella masuk ke dalam. Tapi Mama Bella memberikan lirikan tajam pada Dewa sebelum mengikuti langkah Papa Elang.
Sementara Diandra menahan tawanya karena Dewa yang takut dengan lirikan Mamanya itu.
"Sayang, kamu ke kamar dulu ya. Aku ada urusan sebentar sama Bi Siti"
"Iya, aku mau mandi dulu" Dewa mengangguk dan meninggalkan Diandra yang juga berjalan menuju kamar mereka.
-
-
-
Diandra berdiri di balkon kamar Dewa, dengan rambut yang mulai mengering. Menikmati udara sore hari yang begitu berbeda dengan rumah tepi pantai yang di bangun Dewa untuknya.
Diandra mengulas senyumnya, dia tak menyangka bisa sampai ke titik ini. Memohon kepada pria yang sempat di bencinya untuk tidak menceraikannya. Kalau di pikir lagi, semua ini terdengar konyol. Awalnya benci dan tak ada rasa sama sekali, hati sudah penuh dengan satu nama. Tapi dengan mudahnya semuanya berbalik, nama itu terganti dengan seseorang yang tak pernah ada dalam bayangan Diandra sekalipun.
Menjadi seorang istri dan seorang Ibu juga tidak menjadi planning Diandra dalam waktu dekat ini. Namun nyatanya, pernikahan dadakannya langsung menghadirkan makhluk kecil yang tampan dan menggemaskan.
__ADS_1
Diandra tersentak karena tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutnya.
"Kamu sedang mikirin apa??" Dewa menghirup wangi sabun di pundak Diandra.
"Mas!! Kenapa sih kalau datang nggak pernah bersuara, ngagetin tau!!" Kesal Diandra.
"Kamu aja yang melamun makanya tidak mendengar ku membuka pintu"
Diandra ingin membantah namun hidung Dewa yang terus menghirup bahunya membuat Diandra merasa kegelian.
"Mas, udah ah" Diandra mencondongkan badannya ke depan untuk menjauhkan bahunya.
Dewa terkekeh dengan tingkah istrinya itu.
"Kenapa kamu lama banget sih Mas?? Memangnya apa yang kamu bicarakan sama Bi siti??"
"Kamu nungguin aku ya?? Maaf, tadi ada Niko juga. Mas suruh Bi siti membersihkan kamar di sebelah. Rencananya Mas mau buat kamar untuk Akhtar. Sebentar lagi kan dia boleh pulang"
Diandra langsung berbalik menatap Dewa dengan antusias.
"Benarkah Mas?? Bolehkah aku yang menghias ruangannya?? Memilih warna dan semua furniturnya??" Dewa mengangguk mengiyakan keinginan Diandra.
"Tentu saja sayang, kamu boleh menghiasnya sesukamu. Nanti Mas akan bicara dengan Niko untuk memberikan kamu beberapa contohnya" Dewa tak pernah bosan memandang wajah cantik yang terus menarik perhatiannya itu.
"Benarkah kamu sesenang ini hanya karena ingin menghias kamar bayi??"
Diandra mengangguk dalam pelukan Dewa, itu memang salah satu keinginannya yang belum sempat di lakukan.
"Iya Mas aku senang sekali, aku juga masih punya keinginan yang belum sempat kita lakukan sampai akhirnya Akhtar malah sudah lahir lebih dulu"
"Apa itu??" Dewa menatap mata indah itu dengan lekat.
"Aku ingin seperti pasangan suami istri lainnya Mas. Saat mereka hamil besar, menantikan kehadiran buah hatinya, mereka akan berbelanja kebutuhan bayi. Memilih baju yang lucu-lucu, sepatu dan kebutuhan bayi lainnya. Tapi sayangnya, aku melewati momen itu" Diandra berubah menjadi sendu.
"Hey, kenapa kamu harus sedih??" Dewa mengangkat dagu Diandra untuk melihat wajah yang layu itu.
"Kita masih bisa melakukan itu. Besok kita belanja apapun yang kamu mau, baju bayi, sepatu, popok dan semua kebutuhan Akhtar. Anggap saja kepulangan Akhtar menjadi hari lahirnya yang ke dua. Tidak akan ada yang melarang kita untuk membeli baju di saat anaknya sudah lahir. Jadi kamu masih bisa merasakan momen itu"
Diandra langsung menubruk dada bidang yang masih wangi itu. Meski sudah pergi seharian, tak membuat Dewa seorang pria tampan dan kaya menjadi bau matahari.
"Makasih ya Mas, kamu memang selalu mengerti aku. Sungguh bodohnya aku kalau aku sampai melepaskan kamu" Gumam Diandra dalam pelukan Dewa.
__ADS_1
"Lalu boleh kah aku tau, sejak kapan kamu mulai mencintaiku??" Bisik Dewa pada wanita dalam pelukannya.
"Seperti gunung yang di tumbuhi ratusan bahkan jutaan pohon, seperti lautan yang terisi jutaan kubik air, mereka tidak terbentuk dalam satu hari" Jawaban yang cukup memuaskan bagi Dewa.
"Tapi bolehkah aku menyimpulkan kalau kamu menangis saat aku mengacuhkan mu itu sebagai tanda cinta darimu??"
Diandra mengangguk tapi tak mau memperlihatkan wajahnya pada Dewa.
"Lalu saat sebelum kamu kecelakaan, kita melakukannya malam itu. Kamu bahkan tanpa menolak sekalipun. Apa itu juga karena cinta??"
Dewa ingin melihat wajah Diandra tapi istrinya itu teramat malu. Dia justru semakin menyembunyikan wajahnya di pelukan Dewa.
"Katakan sesuatu sayang??" Dewa gemas dengan kelakuan Diandra.
"Saat itu aku memang mulai menyadari jika hatiku mulai tertarik pada pria yang memaksaku menjadi istrinya. Tapi aku selalu mencoba menepisnya karena takut jika aku hanya terbuai dengan perhatian kamu saja Mas. Tapi semakin aku menolak perasaan ini, justru aku semakin di buat jatuh cinta denganmu. Perlakuan mu padaku, kasih sayang mu, cintamu yang teramat besar, membuat aku tak kuasa menolaknya Mas" Akhirnya Diandra melepaskan pelukannya pada Dewa. Mengangkat wajahnya dan menatap wajah tampan yang menjadi duplikat putra kecilnya itu.
"Tapi kenapa kamu tidak mengakhiri hubunganmu dengan Bryan??"
"Aku tidak tau caranya Mas. Apalagi aku juga berpikir sepertimu. Aku tidak suka mengingkari janji, aku sudah terlanjur memberikan harapan padanya" Apa yang Diandra katakan memang jujur adanya. Dia tidak tau apa yang harus dia katakan pada Bryan. Apalagi mengenai janjinya itu.
"Tapi kenapa akhirnya kamu bisa??"
"Karena hatiku lebih memilihmu dari pada janjiku pada Bryan"
CUP..
Diandra mengecup bibir Dewa dengan sangat singkat. Membuat pemiliknya langsung menegang sampai ke bagian bawahnya.
"Karena aku mencintaimu"
Dewa sudah tak mampu lagi menahan gejolak dalam dirinya. Semua rasanya memberontak ingin keluar.
Dewa akhirnya menyambar bibir tipis berwarna merah menggoda itu. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi, terlebih kata cinta mudah keluar dari bibir yang saat ini sedang dinikmatinya itu.
Ciuman mereka bahkan semakin panas hingga Dewa sudah menjelajah sampai ke leher Diandra.
"Mmmaass" Panggil Diandra dengan suaranya yang merdu.
"Aku massssihhh nifas"
Rasanya Dewa ingin pingsan saat itu juga.
__ADS_1
Bersambung..