Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
36. Mengertilah Bryan


__ADS_3

"Apa Manda yang menyuruhmu untuk datang kesini??" Diandra membawa Bryan duduk di taman samping rumah milik Dewa itu.


"Aku tidak tau itu siapa Dee yang jelas tadi malam seorang perempuan meneleponku untuk datang ke sini" Jelas Bryan.


Pria itu masih terus memandangi wajah Diandra dengan penuh kerinduan.


"Tapi kenapa kamu mengikuti kemauannya untuk datang kesini Bry??"


"Karena aku sangat merindukanmu Didi. Terlebih lagi dia mengatakan kalau kamu tersiksa disini. Aku khawatir Diandra. Tapi tunggu, kenapa kamu seperti tidak suka dengan keberadaan ku disini??" Tatap Bryan dengan kecewa.


Diandra mengubah posisi duduknya menjadi menyamping menghadap Bryan.


"Bukannya aku tak suka Bryan. Aku hanya tidak ingin ada keributan lagi. Mas Dewa sudah sangat baik padaku, aku tidak mau dia berubah menjadi kasar lagi"


Diandra jadi teringat saat tadi Dewa mengatakan jika dia sudah menyerah dengan perasannya. Ada rasa sedikit ngilu di hati Diandra.


Sekarang ini hatinya benar-benar merasa dilema. Dihadapannya kini sudah ada Bryan, pria yang katanya sangat Diandra cintai. Tapi nyatanya pikirannya terbang bersama Dewa entah pergi kemana.


"Sepertinya hubungan kalian sudah sangat dekat ya sampai kamu memanggilnya dengan sebutan itu" Ucap Bryan dengan senyum kecutnya.


"Kita dekat karena kita memang satu rumah Bryan, tapi tidak lebih dari itu. Mas Dewa sangat bisa menjaga batasannya kepadaku. Dia juga tidak pernah menyentuhku lagi. Dan aku memanggilnya begitu karena memang dia lebih tua dariku. Dan saat ini statusnya masih menjadi suamiku. Jelas Diandra berharap Bryan tidak akan salah paham.


"Bahkan kamu sangat membelanya Didi"


"Bryan!!" Sentak Diandra.


Bryan terkejut dengan suara Diandra yang meninggi itu. Baru kali ini Diandra mengeluarkan siara tinggi itu untuknya.


"Maaf Bryan aku tidak bermaksud membentak mu" Diandra merasa dirinya adalah Diandra yang lain. Bagaimana bisa dia lepas kendali seperti itu, bisa-bisanya dia membentak kekasihnya sendiri.


Bryan hanya tersenyum miris saja karena melihat perubahan Diandra itu.


"Bryan aku mohon, percayalah padaku. Tinggal tiga bulan lagi Bryan. Jadi aku mohon bersabarlah. Jangan sampai Mas Dewa merubah keputusannya lagi. Aku mohon bantu aku" Kini Diandra sudah kembali lembut seperti Diandra yang biasanya.


Bryan mengangguk pelan, meraih tangan Diandra yang baisa di genggamnya itu.


"Maafkan aku karena mengambil keputusan untuk datang kesini tanpa memberitahumu lebih sulu Didi. Aku sangat merindukanmu, aku ingin menyelamatkanmu jadi aku tidak bisa berpikir panjang saat wanita itu ingin membantuku untuk masuk ke dalam rumah ini" Ucap Bryan dengan rasa bersalahnya.

__ADS_1


"Tidak papa Bryan, aku senang juga senang melihatmu ada disini. Aku senang kamu baik-baik saja"


Entah benar atau tidak yang Diandra ucapkan itu yang jelas dia membenarkan jika memang lidah tak bertulang. Dia merasa saat mengatakan itu seakan hatinya tidak menyetujuinya.


"Aku juga senang sekali bisa melihatmu seperti ini, mendengar suaramu, menggenggam tanganmu. Aku bahkan sempat bermimpi jika kamu tidak akan pernah kembali kepadaku lagi Didi" Bryan menundukkan kepalanya, dia sangat ketakutan dengan mimpi itu, karena rasanya begitu nyata.


"Kamu udah makan??"


"Aku akan cari makan di luar"


Diandra tak mencegah keinginan Dewa itu, karena dia juga merasa sungkan kepada Dewa.


"Berapa hari kamu akan tinggal disini Bry?"


"Kenapa?? Kamu tidak suka melihatku lama-lama disini??"


"Aku mohon Bryan, mengertilah" Ucap Diandra dengan kesal.


Bryan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Satu minggu Diandra. Hanya satu minggu tidak lebih. Setelah itu aku akan kembali ke kota dan menunggumu kembali"


Bryan mengusap lembut rambut Diandra, saat mendengar Diandra di siksa oleh Dewa membuatnya tak berpikir panjang, dia begitu khawatir akan keselamatan Diandra. Tapi setelah melihat Diandra dalam keadaan sehat dengan mata kepalanya sendiri membuat Bryan bernafas lega.


Dewa yang sedari tadi memperhatikan mereka dari dalam rumah menyingkir begitu saja setelah melihat adegan romantis itu.


Hatinya terasa panas dan mendidih. Dia menyesak karena telah berdiri di sana dari tadi. Membuang-buang waktu hanya untuk melihat kemesraan orang lain.


Dewa menuangkan air ke dalam gelas hingga penuh kemudian meneguknya hingga tandas. Rasa panas di dalam hatinya membuat tenggorokannya terasa kering.


"Dewa??" Suara lembut mendayu-ndayu itu menyapa telinga Dewa.


Dewa hany melirik Manda yang berdiri di sampingnya.


"Dewa, aku mau bilang makasih karena kamu udah kasih aku kesempatan lagi untuk tinggal di sini. Dan aku juga mau minta maaf karena aku jadi tau masalah rumah tangga kamu" Manda memandang Dewa dengan prihatin.


Pria yang dari dulu digilai banyak wanita itu kini justru di campakkan oleh wanita yang dicintainya.

__ADS_1


"Hemmm" Hanya suara itu yang Manda dengar.


"Aku tidak menyangka jika Diandra bisa menolak pria sepertimu. Kamu sempurna Dewa, kamu tampan, kamu kaya, kamu punya segalanya. Apa sebenarnya yang Diandra lihat dari pria itu sampai-sampai mengabaikan mu hanya demi model yang tak seberapa jika di bandingkan denganmu Dewa"


Suara Manda memang sangat lembut ketika mengucapkan itu semua, tapi begitu menusuk di setiap katanya.


"Cinta memang tidak pernah bisa di beli dengan uang. Setidaknya itu yang aku dapat dari pernikahan ini. Aku jadi malu karena orang lain mengetahui tentang rahasiaku"


Walau Dewa masih sangat dingin, tapi Manda senang karena Dewa mulai mau berbicara dengannya.


Memang inilah tujuannya membawa Bryan datang ke sana. Dengan hadirnya Bryan pasti akan memperburuk hubungan Diandra dan Dewa. Sehingga Manda bisa membuat celah sebagai jalan masuknya.


"Dewa, walaupun hubungan di antara kita sempat memburuk karena aku lebih memilih Alex dari pada dirimu, tapi apa kamu lupa kalau dulu kita berteman?? Kenapa kamu masih menganggap ku orang lain??" Manda tampak sedih karena ucapan Dewa tadi.


"Aku tau Dewa kalau aku salah sama kamu. Tapi kamu ingat dulu kan?? Aku sangat dekat denganmu, menghadapi sikap dingin mu, sikap acuh mu. Tidak pernah meninggalkanmu meski aku kesal dengan sikapmu itu. Aku juga butuh perhatian, aku ingin di manja, aku ingin sekali seperti wanita lain yang di beri kejutan oleh pasangannya. Dan saat itu Alex datang membawa segala yang aku inginkan itu. Tapi tanpa aku duga kamu juga menyatakan hal yang sama di saat yang sama"


Air Mata Manda mulai keluar dari tempatnya.


"Tapi keputusanku untuk bersama Alex ternyata salah. Setah empat tahun pernikahan kami, dia mulai berubah. Dia jadi pemarah, dia kasar, dia mengencani banyak wanita bahkan terang-terangan di depan mataku. Aku menyesal karena lebih memilihnya daripada kamu yang selalu ada untukku Dewa. Aku minta maaf hiks..hiks" Manda mulai terisak meluapkan semua isi hatinya.


Dewa memang diam tapi dia mendengarkan semua yang manca ucapakan.


"Sudahlah, jangan menangis. Aku sudah memaafkan mu" Ucap Dewa.


"Benarkah Dewa?? Kamu benar sudah memaafkan ku?? Lalu bisakah hubungan kita seperti dulu lagi, walau hanya sekedar berteman??" Manda mengusap air mata di kedua pipinya.


"Hemm" Walau berat tapi Dewa mengangguk menyetujui apa yang Manda minta.


"Makasih Dewa, aku tidak akan pernah mengecewakan kamu lagi sebagai teman. Aku akan menjadi teman yang baik untukmu" Dewa hanya mematung saat Manda tiba-tiba memeluknya lagi.


Saat Dewa ingin melepaskan Manda yang menempel pada tubuhnya itu. Dewa melihat Diandra berjalan dari kejauhan. Entah niat Dewa hanya ingin menunjukkan pada Diandra bahwa dia baik-baik saja atau sengaja ingin membuat Diandra cemburu.


Dewa justru membalas pelukan Manda kali ini. Tangan yang tadi hanya dibiarkan menggantung kini bertengger di pinggang Manda. Sementara Manda yang tidak tau apa-apa justru terlampau bahagia karena dia menganggap langkahnya untuk mendapatkan Dewa semakin maju.


Diandra yang menangkap pemandangan itu dengan jelas memilih untuk tetap berjalan meski harus memaksa matanya untuk tetap melihat ke bawah.


"Tenang Diandra. Jangan pernah bimbang. Keputusanmu untuk tetap berpisah dengannya adalah hal yang tepat" Sekiranya itulah yang ada di dalam hati Diandra.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2