Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
59. Permintaan Tara


__ADS_3

Pagi ini adalah hari kepulangan Tara. Dewa dan Diandra sudah menunggu di ruang tamu untuk mengantar kepergian Tara. Meski masih kesal dengan Tara tapi karena Diandra yang memaksanya, akhirnya Dewa mau juga menuruti permintaan Diandra itu.


"Kamu sudah siap Tara??" Diandra yang terlebih dahulu melihat Tara keluar kamar dengan menyeret koper besarnya.


Tara hanya mengangguk dengan senyumnya yang canggung.


"Kak, aku pulang dulu ya. Makasih udah mau menampungku disini" Tara terus melihat Dewa yang tampak acuh duduk di sofa. Dewa bahkan hanya melihat ke ponselnya tanpa mau menatap Tara.


"Hemm, Niko sudah menunggumu di luar" Dewa mengucapkan itu juga tanpa melihat pada Tara.


Tapi Tara tau jika Dewa bersikap seperti itu karena rasa kecewanya kepada Tara. Jadi Tara tidak bisa berbuat banyak selain diam dan menerima kemarahan pria yang sejak dulu menjadi pusat dunianya itu.


Tara melangkahkan kakinya keluar, dan hanya Diandra yang berjalan mengikuti Tara dari belakang. Meski Tara berharap jika Dewa juga ikut mengantarnya keluar tapi itu hanya harapannya belaka. Karena dapat dilihat dari ekor matanya jika Dewa masih duduk diam tanpa bergerak sedikitpun.


"Diandra, bolehkah aku meminta satu hal darimu??" Ucap Tara sebelum menghampiri Niko yang sudah siap dengan mobilnya.


"Apa itu??"


"Aku tau kamu tidak mencintai Kak Dewa. Cinta mu hanya untuk Bryan semata. Tapi tak bisakah kamu belajar membuka hatimu untuk Kak Dewa?? Lihatlah Dee, dia begitu mencintaimu. Dia rela melakukan apapun demi kamu, bahkan aku sudah tidak melihat Kak Dewa jika sudah bersamamu, dia seperti orang lain"


"Tara aku.."


"Kamu juga harus memikirkan anak kalian Dee. Apa kamu tega membiarkannya hidup hanya berdua dengan Kak Dewa tanpa kasih sayang dari ibunya?? Kamu sudah menikah, masa depan kamu sudah jelas yaitu Kak Dewa dan anak kalian tapi Bryan?? Dia juga berhak bahagia Dee. Saat kalian nantinya benar-benar bersama apa kamu tidak berpikir jika Bryan akan terus mengingat statusmu yang telah menjadi ibu dari anakmu dengan pria lain?? Coba pikirkan dari sudut pandang mereka berdua Dee"


Diandra masih diam mendengarkan Tara tanpa menyanggah bahkan menyuruhnya berhenti. Diandra bahkan tidak mengingat Bryan sama sekali sejak Bryan kembali ke kota.


"Coba pikir Dee!! Kalau kamu memilih kembali kepada Bryan, berapa orang yang akan tersakiti Dee?? Kak Dewa, anak kalian, Ayahmu, kedua orang Tua Kak Dewa. Tapi jika kamu mempertahankan pernikahan Kalian, hanya Bryan yang akan merasakan sakit itu Dee. Tapi aku yakin dia pasti bisa bangkit lagi. Dia masih bisa mencari wanita yang benar-benar mencintainya. Dia masih punya masa depan yang panjang dan cerah. Jadi aku mohon padamu Dee, pikirkan baik-baik. Jangan sampai kamu menyesal nantinya"


Tara mengusap lembut perut Diandra.


"Aku pulang dulu. Maafkan aku karena terlalu banyak bicara. Aku tidak bermaksud untuk menghasut mu. Aku hanya mencoba melihat dari sisi mereka berdua. Jaga kesehatanmu, semoga lahiran mu lancar. Sampai bertemu lagi Diandra"


Tara meninggalkan Diandra yang masih membeku. Omongan Tara yang begitu panjang lebar itu seakan memukul keras hatinya.


Sekarang ini perasaannya di landa kegundahan yang begitu dalam. Dia memang mendengarkan semua yang Tara katakan, tapi saat ini dia belum bisa mencerna semuanya. Masih banyak keraguan yang ada dalam dirinya.

__ADS_1


Diandra bahkan tidak menyadari jika mobil yang membawa Tara sudah benar-benar hilang di balik pagar rumah yang tinggi itu. Pikirannya terus berputar-putar tentang nasib pernikahan dan anaknya nanti akan berakhir seperti apa.


Tapi Diandra tersentak saat merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


"Kenapa melamun hemm?? Apa yang sedang kamu pikirkan??"


Ternyata Dewa yang sudah memeluknya dari belakang.


"Tidak Mas, aku hanya melihat kepergian Tara saja"


"Benarkah?? Padahal Tara sudah pergi sejak 10 menit yang lalu"


Dewa belum melepaskan pelukannya itu. Tangannya justru semakin aktif mengusap perut Diandra yang berisi anaknya itu.


"Apa?? Mungkinkah aku mengantuk sampai aku tidak sadar seperti ini??" Dewa justru gemas dengan Diandra yang mengelak seperti itu.


"Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu?? Cobalah untuk berbicara denganku??"


Tentu saja Diandra tidak mungkin untuk mengatakan apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini, karena semua itu menyangkut Dewa dan anak mereka. Tapi Diandra juga merasa berat jika harus memikirkan itu sendirian.


"Kenapa anak kita?? Oh iya, apa aku lupa memberitahumu Dee??" Dewa melepaskan pelukannya, dan membuat Diandra menghadap ke arahnya.


"Memangnya apa Mas??"


"Nanti siang Dokter kandungan mu akan datang kesini. Hari ini jadwal periksa kandungan mu"


Kemarin Dewa memang sudah membuat janji dengan Dokter kandungan Diandra. Tapi Dewa lupa belum mengatakan apapun pada Diandra.


"Loh bukannya minggu depan Mas??"


"Memang harusnya begitu, tapi aku sudah sangat merindukan anak ku. Aku ingin sekali melihat perkembangannya di dalam sana. Sudah sebesar apa dia, pasti dia begitu sangat menggemaskan Dee" Dewa tampak antusias hanya dengan membayangkan seperti apa wajah anaknya itu.


Tapi binar bahagia itu langsung hilang setelah melihat Diandra yang menekuk wajahnya seperti tak suka dengan apa yang Dewa katakan.


"Ke-kenapa Dee?? Apa ada yang salah dengan ucapan ku??" Dewa langsung merasa ketakutan jika Diandra marah kepadanya.

__ADS_1


"Aku tidak suka ya Mas kalau kamu menyebutnya hanya anak mu. Dia anak kita!! Aku juga ibunya, dan aku yang mengandungnya!!" Ucap Diandra dengan kesal.


Setelah tau apa yang membuat Diandra seperti itu, Dewa justru tersenyum bahagia. Dia begitu bersyukur karena Diandra benar-benar sudah menerima anaknya itu.


Memang semuanya bisa berubah seiring berjalannya waktu, seperti Dewa yang berubah demi keselamatan Diandra dan anaknya. Diandra juga berubah menyayangi anaknya setelah sebelumnya berusaha untuk menggugurkannya.


Hanya satu yang tak pernah berubah dan Dewa hanya bisa pasrah akan hal itu. Yaitu perasaan Diandra. Bagi Dewa hal itu sangatlah mustahil mengingat Diandra yang rela memotong urat nadinya demi pergi dari kehidupan Dewa.


"Iya maaf, dia memang anak kita Dee. Anak aku dan kamu" Dewa mengusap lembut pipi Diandra yang berlahan mulai mengembang karena tersenyum itu.


"Kita masuk yuk?? Kalian pasti sudah lapar kan??" Dewa menggenggam tangan Diandra untuk mengajaknya masuk.


Tangan Diandra begitu pas di genggaman Dewa sehingga membuatnya tak pernah bosan untuk menggenggamnya.


"Tunggu Mas!!"


Dewa melirik Diandra yang menghentikan langkahnya.


"Kenapa lagi Dee??" Dewa jelas merasa kebingungan.


"Mas, kalau stelah anak kita lahir, dan aku benar-benar meninggalkan kalian. Bolehkah aku tau apa yang kamu rasakan ketika saat itu tiba??"


Diandra menatap mata Dewa dengan dalam, melihat perubahan mata Dewa yang tiba-tiba meredup.


"Aku tidak tau Dee, karena untuk membayangkannya saja aku tidak sanggup" Lirih Dewa dengan suaranya yang terdengar bergetar.


GREEPP....


Diandra menubruk dada bidang Dewa setelah menghentakkan tangannya yang di genggam Dewa. Memeluk tubuh pria itu dengan begitu erat.


"Ada apa Dee?? Kenapa kamu seperti ini?? Jangan membuatku takut!" Dewa memang membalas pelukan Diandra itu, tapi tentu saja banyak pertanyaan di dalam hatinya.


"Tidak papa Mas, aku hanya ingin memelukmu. Kamu wangi sekali, jadi aku suka"


Diandra berbohong untuk menyembunyikan air matanya yang sudah mengalir itu di dekapan Dewa yang begitu nyaman.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2