
"Apa yang harus saya lakukan Tuan??"
Dewa dan Niko berdiri di balik dinding kaca yang menjadi pembatas antara mereka dan bayi mungil Dewa. Dari sana Dewa bisa melihat perut bayinya yang kembang kempis pertanda bahwa pernafasannya berjalan dengan baik.
"Urus semuanya seperti yang seharusnya. Usahakan secepat mungkin dan segera serahkan kepadaku jika semuanya sudah selesai"
Ucap Dewa tanpa mau melihat ke arab Niko. Dewa melakukan itu karena tidak mau Niko melihat wajahnya. Pria itu terlalu pintar untuk membaca ekspresi Dewa.
"Apa Tuan yakin??"
"Sejak kapan aku ragu dengan keputusanku??"
"Baik Tuan, perintah Tuan akan segera saya laksanakan" Niko sudah takut mendengar pertanyaan Dewa itu. Jadi dia memutuskan undur diri dari sana. Suasana hati Tuannya sedang tidak baik. Sekali saja Niko menyenggol pasti dia yang akan terhempas.
Setelah kepergian Niko, Dewa kemudian masuk untuk mengunjungi putranya. Mungkin ini adalah kali terakhirnya melihat sang putra.
Yaa kalian benar, keputusan yang akhirnya Dewa ambil adalah menceraikan Diandra dan menyerahkan anaknya kepada ibunya. Dewa sekali lagi mengabulkan keinginan Diandra.
Lagi-lagi Dewa kalah dari wanita itu. Hatinya terlalu lemah hanya dengan air mata Diandra. Meskipun dia harus rela kehilangan harapan satu-satunya untuk memiliki satu saja bagian dari Diandra. Tapi dia rela, yang terpenting adalah kebahagiaan Diandra.
Dewa kembali menjulurkan jari telunjuknya untuk di genggam bayi mungil itu. Rasanya tak tega melihat bayi sekecil itu harus berada di dalam inkubator, sendirian, tanpa pelukan dari orang tuanya.
"Halo jagoan, ini Papa. Maafkan Papa yang tidak bisa memperjuangkan mu ya Nak. Tapi kamu tenang saja, Mama pasti akan menjaga dan menyayangimu dengan baik. Jangan susahkan Mama ya sayang. Jadilah anak yang baik, pintar, kuat, dan bisa membanggakan Papa dan Mama. Papa harus pergi, tapi Papa janji, kelak kalau Papa sudah siap bertemu kalian, Papa pasti akan datang kepadamu. Kita akan main bola bersama, Papa ajari kamu berenang, belajar melukis dan masih banyak lagi hal yang bisa kita lakukan saat kamu sudah besar nanti" Dewa mengusap air matanya yang sudah beberapa kali menetes itu.
Siapa yang akan tahan jika mengucapkan kalimat perpisahan kepada orang yang sangat kita sayangi.
"Tapi sebelum Papa pergi, ijinkan Papa memberimu nama. Mulai sekarang, nama kamu Abiseka Akhtar Bahuwirya. Artinya Bintang paling terang di langit yang di angkat sebagai orang yang berkuasa karena kelembutan hatinya. Semoga namamu menjadi doa terindah dari Papa untuk kamu sayang"
"Baik-baik disini ya Nak, Papa pulang dulu. Besok pasti Papa kesini lagi"
Seolah bayi laki-laki itu tau kalau Papanya akan meninggalkannya. Genggaman pada jari Dewa semakin mengerat saat Dewa mencoba melepaskannya.
"Kamu tidak ingin Papa pergi??" Dewa tersenyum melihat reaksi anaknya itu.
Tapi dengan hati yang sangat berat, akhirnya Dewa memaksa melepaskan tangan putranya itu. Air matanya kembali menetes saat bayi itu mulai merengek dan tiba-tiba menangis setelah Dewa menjauh darinya.
Ingin rasanya merengkuh anaknya ke dalam pelukannya. Namun kedatangan suster yang menenangkan bayinya membuat Dewa tak jadi mendekat. Mungkin memang sudah saatnya dia pergi dari sana. Dewa kembali melangkah menjauh dari ruangan itu di iringi dengan suara tangisan bayi yang terasa sangat menyayat hatinya.
__ADS_1
-
-
Sementara itu, Diandra di dalam ruangannya terus di landa cemas. Karena sudah dua hari ini Dewa dan kedua orang tuanya tidak ada yang muncul di sana sama sekali. Dewa bahkan tak sekalipun mengangkat panggilan darinya.
Diandra berpikir keras tentang Dewa dan keluarganya. Apa yang sebenarnya terjadi di kepada mereka.
Saat hati Diandra masih terus bertanya-tanya dengan sendirinya. Seseorang membuka pintu kamarnya yang membuat Diandra mengembangkan senyumnya. Berharap dengan begitu besar jika yang datang itu adalah Dewa. Tapi senyumnya redup begitu saja saat pria lain yang muncul dari sana.
"Kamu sudah bisa duduk Didi??"
Diandra tersenyum tipis pada pria yang masih menjadi kekasihnya itu.
"Sudah Bryan" Jawabnya singkat.
"Aku bawakan makanan kesukaan kamu. Kamu harus makan yang banyak supaya cepat sembuh" Diandra malah melamun tak mendengarkan Bryan sama sekali.
"Didi??" Bryan menyentuh bahu Diandra.
"Eh, iya. Kenapa Bryan??" Bryan menghembuskan nafasnya.
Iya, makasih Bryan"
Bryan duduk di samping Diandra. Meraih tangan kekasihnya.
"Apa yang kamu pikirkan?? Kamu memikirkan Dewa??"
Diandra sempat gelagapan karena tebakan Bryan benar.
"Eng-engak kok, aku cuma kepikiran anakku. Aku belum melihatnya sama sekali. Bagaimana wajahnya, suara tangisannya. Aku ingin sekali melihatnya Bry" Diandra tampak begitu sedih membayangkan bayinya yang lahir dalam keadaan belum cukup bulan.
"Apa kamu mau mengantarku melihatnya Bry??" Diandra rasa menunggu kedatangan Dewa terlalu lama untuk membawanya melihat anaknya.
"Karena kamu sudah bisa duduk, aku akan mengantarmu. Aku ambil kursi roda dulu" Pria itu begitu tulus merawat Diandra.
Bryan mendorong Diandra menuju ruangan bayi. Rasa bahagia sudah membuncah di hati Diandra karena sebentar lagi dia akan melihat putranya untuk pertama kali.
__ADS_1
"Bryan??"
"Iya??" Bryan masih terus mendorong Diandra.
"Kamu tau tidak?? Keinginanku yang dulu sempat ingin menggugurkan kandunganku adalah penyesalan yang sangat besar dalam hidupku. Untung saja dulu Mas Dewa menghalangiku dengan berbagai cara. Kalau tidak, aku tidak akan merasakan kebahagiaan ini. Hanya membayangkan wajahnya dan tubuhnya yang mungil saja sudah menghangatkan hatiku Bryan"
Bryan masih terus mendengarkan ocehan Diandra selama perjalanannya ke ruangan bayi.
"Tapi ada satu momen yang aku lewatkan sebelum kelahirannya Bryan. Seperti calon ibu yang lain, mereka pasti akan berbelanja keperluan bayi menjelang melahirkan. Sepertinya itu sangat membahagiakan. Tapi aku belum sempat melakukan itu dengan Mas Dewa"
Hati Bryan terasa nyeri saat wanita yang dicintainya justru ingin melakukan sesuatu yang membuatnya bahagia bersama pria lain.
Sebenarnya Bryan tadi tidak percaya jika Diandra tidak memikirkan Dewa. Karena sejak Bryan menagih janjinya dua hari yang lalu. Dewa benar-benar tidak menemui Diandra sekalipun.
"Bryan kamu dengar aku kan??" Diandra mendongak karena tidak ada sahutan sama sekali dari Bryan.
"Tentu saja aku dengar, tapi aku tidak tau harus menanggapi seperti apa. Jadi aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik" Dusta Bryan. Padahal dia sama sekali tak tertarik dengan apa yang Diandra ceritakan, karena itu berhubungan dengan Dewa.
Di lorong rumah sakit yang panjang itu, dari kejauhan Diandra bisa melihat siapa sosok pria yang juga berjalan ke arahnya. Dari cara berjalan dan postur tubuhnya yang tinggi saja Diandra hafal betul siapa pria itu.
Setelan jasnya yang rapi, wajahnya yang tampan semakin meyakinkan Diandra jika yang dia lihat itu benar suaminya. Ya, itu adalah Dewa. Suaminya yang tidak bisa di hubungi selama dua hari.
Senyuman indah mulai Diandra tunjukkan pada pria tampan itu saat jarak mereka sudah semakin dekat.
"Mas Dewa!!" Panggil Diandra.
Tapi wajah Diandra berubah sangat pias tak kala Dewa melewatinya begitu saja. Bahkan meliriknya pun tidak.
"Berhenti Bryan!!"
Diandra menoleh ke belakang untuk memastikan jika pria itu adalah suaminya.
Dari harum parfumnya saja sudah jelas jika dia memang benar-benar suaminya tapi kenapa Dewa seakan tidak mengenalinya dengan wajah datarnya itu.
"Mas Dewa!!" Panggil Diandra dengan suara sedikit keras.
Tapi Diandra begitu kecewa karena Dewa sama sekali tak menggubris panggilannya.
__ADS_1
Bersambung...