
"G*la"
Cibir Tara karena Bryan menunjuk ke arahnya.
"Tidak ada waktu lagi. Kalau mau pemotretan ini cepat selesai pakai saja pemiliknya sebagai model. Itu juga akan menambah daya tarik pembeli kan?? Apalagi dia tidak begitu mengecewakan"
Perkataan Bryan yangs seakan meremehkan Tara membuat darah wanita itu mendidih.
"Tidak begitu mengecewakan katamu??" Tara mendelik pada Bryan.
"Desi!! Bantu aku ganti baju" Pandangan Tara tak lepas pada Bryan yang menampilkan seringai kecil di bibirnya.
Semua mata terpana melihat Tara yang sudah di poles sesuai tema dalam pemotretan itu. Meski sejak awal Tara memang sudah menawan, dengan wajah cantik dan badannya yang membentuk S line, tapi dengan make up dan bajunya saat ini membuat Tara semakin bersinar.
Baju yang Tara buat itu bukanlah baju mewah dan gaun-gaun megah untuk berpesta. Namun baju-baju kekinian yang di sukai anak-anak milenial, dengan sentuhan-sentuhan warna yang cerah namun tak terlihat gonjreng sama sekali.
Tara sudah berdiri bersama Bryan di depan lensa yang siap untuk menjepretnya. Dengan memasang wajah datarnya tak ada yang tau jika dadanya sedang bergemuruh saat ini. Kenapa?? Tentu saja karena pria di sampingnya itu.
"Ayo kita mulai, silahkan kalian bergaya bebas namun usahakan masih saling berdekatan" Perintah fotografer yang sudah sering bertemu dengan Tara itu.
Mulailah Tara menunjukkan aksinya di depan kamera. Dia memang tidak pernah melakukan seperti ini sebelumnya. Tapi kalau hanya untuk berfoto guna memenuhi reels instagramnya, itu hal yang sudah biasa. Dari sana pula Tara mulai memperkenalkan baju dan aksesorisnya.
Bryan tersenyum miring karena ternyata Tara dapat dengan mudah mengimbanginya. Banyak yang tidak Bryan tau tentang wanita itu ternyata.
"Sekarang cobalah melakukan skinship, berpegangan tangan atau berpose yang mesra. Tapi jangan terlalu kaku, lebih dekat dan relax saja"
Bayan mengambil alih berdiri belakang sisi kanan Tara, dengan mencondongkan badannya sedikit hingga wajahnya menempel di pundak Tara dan wajah mereka sejajar.
"Ya seperti itu, pertahankan sebentar" Perintah si fotografer.
"Kenapa kamu memainkan peran seperti ini?? Seolah kamu tak pernah mengenalku" Bryan mengatakannya dengan bergumam tanpa gerakan bibir. Begitu pelan dan hanya yang mendengar.
"Bukankah itu yang kau mau?? Kita tidak saling mengenal??" Tara melakukan hal yang sama, berbisik tanpa gerakan bibir.
Bryan menyeringai kecil, dia baru ingat kejadian di cafe waktu itu. Ternyata Tara benar-benar mendengarkan omongannya. Padahal waktu itu Bryan hanya terbawa emosi sesaat saja. Karena sesampainya di rumah dia amat menyesal karena telah berkata kasar kepada Tara.
"Kamu marah??" Mereka sudah merubah gaya mereka. Kini Tara yang duduk di atas pangkuan kaki sebelah Kanan Bryan.
"Tidak" Mereka terus bicara dengan cara yang sama.
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu harus melakukan apa yang pernah aku katakan. Aku hanya emosi sesaat waktu itu"
Tentu saja dada Tara sudah bergetar hebat karena Bryan dengan mudah mengatakan itu hanya emosi sesaat. Padahal itu adalah kalimat yang begitu menyakitkan bagi Tara. Bahkan sakitnya masih terasa sampai sekarang, apalagi saat melihat Bryan seperti ini. Rasa sakitnya akan bertambah berkali-kali lipat.
"Aku hanya tidak mau di remehkan. Apalagi di anggap murahan hanya karena menyatakan isi hatiku lebih dulu"
Jleb...
Rasanya benar-benar menusuk di hati Bryan. Tak menyangka sama sekali jika Tara akan benar-benar mengingat setiap detail kata menyakitkan yang pernah Bryan ucapkan.
Baru saka Bryan ingin mengeluarkan kalimatnya untuk Tara, tapi jepretan terakhir membuat fotografer itu menyudahi sesi foto mereka.
"Cukup. Sekarang hanya Nona Tara sendiri. Bryan silahkan keluar dari set"
Mau tak mau Bryan menyingkir dari sana. Dengan raut wajah penuh sesal Bryan menatap Tara yang masih bergaya degan luwes sesuai arahan si fotografer tadi.
"Hey kenapa??" Kimmy menepuk bahu Bryan yang terus melamun.
Bryan menggeleng mengikuti Kimmy masuk ke wardrobe untuk mengganti bajunya.
Kimmy sedari tadi heran karena Bryan tampak aneh. Bryan memang tak banyak bicara, tapi kali ini beda. Dia bukan hanya diam, tapi beberapa kali Kimmy melihatnya melamun.
"Ternyata Tara menjadi seperti itu karena aku pernah menyakitinya dengan kata-kata ku Kim" Akhirnya Bryan buka suara.
"Maksudmu??"
Bryan melihat sekitarnya takut ada yang mendengar ceritanya. Setelah tak ada siapapun, Bryan mulai menceritakan kejadian di cafe itu pada Kimmy.
"Sakit Bry, asli sakit banget. Kalau gue jadi Tara, gue bakalan melakukan hal yang sama. Udah di tolak, di rendahkan bahkan di remehkan. Lo kejam Bry" Kimmy sampai geleng-geleng melihtat Bryan.
"Terus apa yang harus aku lakukan Kim??"
"Yakin kamu masih tanya sama aku Bry?? Sebodoh itukah kamu??" Kimmy berdecak kesal.
"Maka dari itu aku tanya sama kamu" Wajah Bryan berubah kesal.
"Tentu saja minta maaf Bryan!!" Kimmy sampai meremas kedua tangannya di depan Bryan karena gemas dengan pria tampan tapi bodoh itu.
"Kalau itu aku sudah memikirkannya tapi aku tidak yakin dia akan memaafkan aku kalau melihat dari sikapnya. Makanya aku ingin pendapatmu yang lain" Bryan menyandarkan kepalanya pada sofa yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
"Aku tidak tau lagi selain itu. Setidaknya kata maaf akan mengurangi sedikit rasa bersalah di hatimu"
Bryan meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Sama sekali tak menyangka jika lidahnya begitu mudah mengatakan kata-kata kejam itu.
-
-
Lama Bryan menunggu Tara keluar dari tempat pemotretan itu. Bryan memang sengaja menunggu Tara di luar karena dia tidak mau mengganggu pekerjaan Tara.
Hanya Bryan sendiri yang menunggu dalam mobil di parkiran itu, karena Kimmy sudah pulang lebih dulu. Untung saja jadwal pemotretan setelah ini di undur besok, jadi Bryan bisa punya banyak waktu untuk menunggu Tara.
Bryan akan melakukan saran Kimmy, yang pertana adalah minta maaf terlebih dahulu. Nanti entah Tara mau memaafkan atau tidak urusan belakangan. Gang terpenting Tara sudah mendengar kata maaf Darinya.
Bryan ingat saat Tara menunggunya pemotretan hingga akhirnya terserempet motor waktu itu. Kini justru terbalik, Bryan yang menunggu Tara.
Bryan melihat Tara keluar bersama timnya yang tadi, tapi Bryan tak langsung keluar. Dia masih menunggu Tara mendekati mobilnya yang kebetulan parkir di sebelah mobil Bryan.
Benar saja, mereka berpisah sampai akhirnya Tara sendirian menuju mobilnya. Bryan mengambil mengambil kesempatannya, dia turun dari mobil langsung menarik pergelangan Tara.
"Yak!! Apa yang kau lakukan??!!" Pekik Tara karena tiba-tiba Bryan sudah menariknya ke belakang mobil.
"Lepas!!"
Bryan melepaskan tangannya karena Tara terus memberontak.
"Kau g*la??" Hardik Tara pada Bryan yang masih diam.
"Tara aku..."
Belum sempat Bryan mengucapkan kata maafnya Tara sudah meninggalkan Bryan masuk ke dalam mobilnya.
"Tara tunggu, biarkan aku bicara dulu!!"
"Tara!!"
Bryan mengetuk kaca mobil Tara. Tapi wanita itu sama sekali tak menggubris Bryan. Tara justru mulai menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gasnya meninggalkan Bryan dengan tidak peduli.
Bersambung...
__ADS_1