Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
51. Nasi goreng kampung


__ADS_3

Dewa menahan tangan Diandra untuk membuat wanita itu menghentikan langkahnya yang pincang itu. Diandra yang baru saja menapaki anak tangga yang pertama terpaksa harus berhenti karena tangannya yang di cekal oleh Dewa.


Menurut Diandra dia sudah berusaha untuk berjalan secepat mungkin agar Dewa tidak bisa mengejarnya. Namun ternyata dia lupa kalau kakinya sedang tidak bisa di ajak berkompromi.


"Dee, jangan salah paham. Dengarkan aku dulu!!" Dewa tampak sangat ketakutan dengan diamnya Diandra itu.


Diandra tetap diam tanpa mau melihat Dewa uang berada disampingnya dengan terus menggenggam pergelangan tangannya.


"Dee, aku tidak tau kalau Manda tiba-tiba memelukku seperti itu" Dewa takut jika kehangatan yang baru saja mereka rasakan harus kembali pudar karena kesalahpahaman..


"Dee, kenapa kamu diam saja??" Dewa merasa frustasi karena Diandra bahkan tak mau memalingkan wajahnya.


"Tidak papa Mas, aku percaya sama kamu kok" Bibir Diandra memang mengatakan seperti itu, tapi dia menyadari jika hatinya tak sejalan. Ada rasa tak suka ketika melihat Manda memeluk Dewa seerat itu.


Padahal Diandra juga tau jika itu pasti hanya sandiwara yang Manda lakukan untum menarik perhatian Dewa.Tapi rasa tak suka itu terus memprovokasi hati Diandra.


"Kalau kamu percaya, kenapa kamu pergi begitu saja dari sana??" Diandra meraih dagu Diandra. Memaksa wanita cantik itu untuk melihat ke arahnya.


"Entahlah, aku juga tidak tau Mas, atau mungkin aku tidak ingin mengganggu kalian" Dewa mengernyit. Bagaimana bisa seseorang begitu tak paham dengan apa yang mereka rasakan.


"Kamu cemburu??" Dewa sengaja menatap mata Diandra dengan dalam untuk membaca perasaan wanita hami di depannya itu.


"Hah?? Ma-mana mungkin, kamu tau sendiri kan keadaan yang sebenarnya" Diandra mengusap rambut panjangnya beberapa kali karena tiba-tiba rasa gugup menyerangnya.


"Iya aku tau, mana mungkin Diandra cemburu dengan wanita lain hanya karena aku" Dewa menimpali Diandra dengan cengengesan.


Diandra masih berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Tapi kenapa kamu turun?? Kamu butuh sesuatu?? Kan aku udah bilang, sarapan di kamar aja"


"Tadinya cuma mau lihat kamu kok lama banget ambil sarapan doang. Taunya,.." Diandra berbisik di telinga Dewa "Lagi anget di peluk sama teman lama"


Dewa langsung menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Astaga Dee, sudah aku katakan kalau dia tiba-tiba saja memelukku" Dewa menjelaskannya dengan gemas karena Diandra yang seolah tak percaya dengan apa yang Dewa katakan.


"Ayo duduk saja, aku ambil sarapannya. Aku tidak mau membahas masalah ini lagi. Yang jelas itu sama sekali bukan keinginanku"


Dewa menuntun Diandra untuk di sofa yang berada di dekat tangga.


Tapi sesaat kemudian Manda sudah datang bersama pancake buatannya. Ternyata Manda sedari tadi mendengarkan semua yang Dewa dan Diandra bicarakan.


"Pagi, Diandra?? Mau sarapan kan?? Aku sudah membuat pancake untuk kita semua. Jadi cobalah dan berikan penilaian mu. Karena dulu Dewa begitu menyukai pancake buatan ku ini"


Manda bertanya dan memerintah dalam satu kalimat tanpa memberikan kesempatan bagi Diandra untuk menjawabnya.


Dewa memejamkan matanya karena berusaha menahan dirinya agar tidak menggeram karena Manda yang lagi-lagi memicu sebuah kesalahpahaman.


"Pancake??" Diandra mulai perannya dengan cukup baik. Dengan wajahnya yang polos dan alisnya yang berkerut.


"Iya, cobalah" Manda meletakkan nampannya di meja yang tepat di depan Diandra.


"Padahal saat ini aku ingin sekali makan sesuatu yang dibuatkan langsung oleh Mas Dewa" Diandra menatap Dewa dengan sendu.


"Kita lihat Manda, berhasilkah kau menarik simpati Mas Dewa??" Diandra tersenyum sinis dengan sangat tipis saat melirik Manda yang mulai mengeluarkan tatapan tajamnya pada Diandra.


"Memangnya kamu mau makan apa Dee?? Kenapa kamu mau aku yang membuatkannya untukmu?? Apa ini mau anak kita??" Dewa mengusap perut Diandra.


"Sepertinya begitu, bahkan aku sudah sangat lapar hanya dengan membayangkan makanan yang di buat sendiri oleh tanganmu ini" Diandra mengusap tangan Dewa yang berada di perutnya.


Niat awalnya memang Diandra sengaja memberikan pelajaran untuk Manda dengan menolak makanan buatannya. Tapi tiba-tiba lidah Diandra terasa mengeluarkan banyak air liur ketika membayangkan Dewa yang memasarkan makanan untuknya. Dari bayangannya saja Diandra sudah bisa merasakan yang hasilnya pasti akan enak dan menggugah selera.


"Baiklah, aku akan membuatkannya spesial untukmu. Tapi katakan dulu kamu mau makan apa??"


Diandra tampak berpikir, menimbang-nimbang apa yang akan mengisi perutnya di pagi ini.


"Tapi Diandra, aku sudah membuatnya untukmu. Setidaknya cobalah dulu. Sayang sekali kalau tidak ada yang memakannya" Manda sudah sangat kesal dengan Diandra. Dia tau kalau Diandra pasti sengaja melakukan itu.

__ADS_1


"Tara!!"


Diandra memanggil Tara yang turun dari tangga dengan rambutnya yang masih basah.


Tara yang belakangan ini tidak mencampuri urusan Diandra itu hanya mendekat tanpa tau apa yang mereka bicarakan sebelumnya.


"Apa??"


"Kamu mau pancake?? Manda sudah membuatkan untuk mu juga" Diandra mengangkat piring yang ada di depannya untuk Tara.


Sebelumnya Tara melihat ketiga orang di depannya yang menatap dirinya dengan tatapan yang berbeda-beda itu. Tapi Tara yang tidak peduli langsung menerima piring berisi pancake dengan lelehan madu di atasnya itu.


"Kebetulan sekali, perutku sudah sangat lapar" Tara langsung duduk manis menikmati pancake buatan Manda.


"Sekarang sudah beres kan Manda?? Jadi tidak apa kan kalau aku dan Mas Dewa makan sarapan yang lain??" Diandra mengeluarkan wajah tanpa dosanya.


"Tentu" Bibir Manda memang tersenyum tapi sorot matanya tidak bisa bohong. Dia menyimpan kemarahan di dalamnya.


"Mas kalau gitu buatkan aku nasi goreng kampung ya??" Lagi-lagi Diandra memintanya dengan sangat manja.


"Hah??" Dewa terkejut karena dia sama sekali belum pernah melihat bagaimana bentuknya nasi goreng kampung yang di minta Diandra itu.


"Kamu nggak mau??" Diandra sudah berkaca-kaca bahkan saat Dewa belum mengeluarkan kalimat penolakan.


Entah bagaimana ceritanya, Diandra yang niatnya hanya menjahili Manda justru dia sekarang ingin sekali Dewa benar-benar membuatkannya sarapan.


"Mau, mau. Aku mau, jangan nangis ya?? Apapun yang kamu mau pasti aku mau" Dewa sudah sangat ketakutan melihat mata Diandra yang mulai basah itu.


Wajah yang baru saja sendu itu kini langsung berubah menjadi cerah secerah matahari yang baru saja terbit menyinari bumi.


Diantara ke empat orang yang ada di sana. Hanya satu orang yang memiliki tatapan jengah. Dia malas melihat kemesraan yang jelas sekali di buat oleh Diandra itu.


Sementara Tara tampak tak peduli dengan tetap menikmati pancakenya.

__ADS_1


"Maaf Mas, bukannya aku mempermainkan mu dengan sikapku yang berlebihan ini. Tapi aku tidak suka dengan Manda yang terus berusaha menarik perhatianmu"


Bersambung..


__ADS_2