Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
64. Pesan misterius


__ADS_3

Sementara itu di rumah yang sangat sepi karena kepergian beberapa penghuninya, membuat Diandra merasa jenuh. Diandra juga sudah bosan memainkan ponselnya, menjelajah media sosial juga sudah tidak berminat lagi.


Diandra melempar ponselnya ke ranjang, dia merasa kesal karena Dewa tak juga memberikan kabar kepadanya.Sementara dirinya sendiri merasa sungkan untuk sekedar mengirimkan pesan pada Dewa.


"Tadi kan udah bilang mau kasih kabar kalau udah sampai. Cih dasar pembohong!!"


"Atau mungkin terjadi sesuatu padanya?? Dia terlalu misterius, jadi aku tidak tau apa yang sebenarnya dia lakukan di luar sana"


Pikiran itu membuat Diandra ingin menghubungi Dewa terlebih dahulu. Tapi suara notifikasi pesan masuk langsung membuat Diandra menyambar ponselnya. Terlampau senang karena berpikir Dewa yang mengirimkannya pesan itu.


Diandra terdiam sejenak sebelum benar-benar membuka pesan itu. Dahinya berkerut dengan otaknya penuh tanya. Nomor asing yang baru kali ini Diandra mendapat pesan darinya.


Rasa penasaran pun membuat Diandra ingin membaca pesan itu.


Tangannya menggenggam erat ponselnya itu. Pori-porinya mulai mengeluarkan keringat dinginnya.


Dengan kegugupannya Diandra menuju ke balkon kamarnya, melihat ke sekitar rumah itu dari atas. Diandra mengawasi semua gerak-gerik dari anak buah Dewa yang selalu berjaga dengan ketat.


Entah dari siapa pesan itu dan isinya apa, yang jelas sekarang ini Diandra telah mengganti baju rumahannya dengan sebuah dress hamil yang sederhana namun tampak cantik di badannya yang berperut buncit itu.


Setelah melihat sekali lagi penampilannya di depan cermin. Diandra meninggalkan kamar tanpa membawa ponselnya yang sudah dia letakkan di dalam nakas samping tempat tidurnya.


Bak orang yang sangat mencurigakan, Diandra berjalan ke arah pintu keluar dengan terus melihat ke sekelilingnya. Mengamati sekitarnya seperti tidak ingin jika ada orang yang mengawasinya.


Diandra berhenti di balik pintu yang sudah terbuka sedikit itu. Melihat jauh ke luar kembali mengamati beberapa anak buah Dewa di sekitar pintu gerbang.


Tak lama dari itu Diandra mendengar sebuah suara yang cukup menarik perhatian semua orang di sekitar sana.


BRAAKK...


"APA ITU??" Teriak salah satu pengawal dari kejauhan.

__ADS_1


"Ada penyusup!!" Sahutan dari salah satunya.


"Ayo kita cari!!" Mereka semua tampak berlari mendekati asal suara mencurigakan itu.


Sedangkan Diandra yang juga mendengar suara itu tidak tampak terkejut sama sekali. Seolah dia sudah tau, Diandra berjalan dengan cepat menuju pintu gerbang.


Diandra mengambil kesempatan saat pintu itu tidak ada penjaga sama sekali. Jantungnya berdegup kencang seolah dia takut jika mereka menyadari Diandra yang mulai keluar dari rumah itu. Wanita yang sedang hamil tua itu mengambil arah berlawanan dengan perginya para pengawal yang mencari sumber suara tadi.


Tanpa menoleh ke belakang lagi, kaki Diandra berjalan semakin cepat. Mungkin jika memungkinkan untuk berlari Diandra akan berlari saat itu juga. Tapi karena dia membawa satu nyawa di dalam perutnya, Diandra juga sangat mencintainya, maka dia hanya bisa berjalan secepat mungkin. Bahkan sudah beberapa kali Diandra hampir tersungkur karena tersandung kakinya sendiri.


Setelah Diandra merasa jarak yang dia tempuh sudah lumayan jauh, dan sudah tidak terlihat lagi rumah yang menjadi tempatnya bernaung selama dia bersama Dewa, Diandra menghentikan langkahnya.


Meraih sebuah pohon di sisi kanannya. Menyandarkan tubuhnya sejenak untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Bahkan Diandra juga merasakan haus yang sangat-sangat terasa di dalam lehernya yang kering itu.


Diandra menyeka keringat yang membasahi dahi dan leher putihnya. Dia terus memandang lautan yang luas di depan matanya. Sepintas bayangan Dewa yang mengingatkannya untuk tidak keluar rumah mulai menghantui dirinya.


Dia ingat benar pesan suaminya itu sebelum dia pergi pagi tadi. Diandra juga ingat jelas jika dia menyetujui larangan Dewa itu. Tapi kali ini Diandra tidak mengindahkan semua larangan itu. Dia justru sudah keluar dari rumah itu tanpa sepengetahuan Dewa.


Ternyata Diandra belum sampai ke tempat yang akan dia tuju saat ini. Dan hanya Diandra yang tau kemana tujuannya itu.


Langkahnya yang semakin pelan dengan kedua tangannya mencoba menopang perutnya yang besar itu, pertanda jika jarak yang dia tempuh sudah cukup jauh.


Diandra mengukir senyuman tipis setelah dia tiba di tempat yang membuatnya harus bersembunyi dari pengawal Dewa itu saat ingin pergi ke sana.


Karena kakinya yang sudah tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya. Bahkan lututnya saja terasa bergetar karena terlalu lama berjalan. Akhirnya Diandra memilih duduk di sebuah batang pohon kelapa bekas tebang yang tergeletak begitu saja di pinggir pantai.


Menahan rasa haus yang sejak tadi menyerangnya, Diandra hanya mempu menelan air liurnya saja untuk membasahi tenggorokannya.


Bahkan saat ini melihat buah kelapa yang masih menggantung di atas pohon membuat Diandra semakin merasa haus berkali-kali lipat.


Diandra mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat itu, seperti mencari seseorang yang mungkin saja dia kenal.

__ADS_1


Tapi nihil, tempat itu tampak sepi di saat siang hari begini. Tidak seperti saat Diandra datang ke sana bersama Dewa, Bryan dan Manda waktu itu yang terlihat ramai dengan pedagang dan beberapa wisatawan.


Kali ini berbeda, tidak ada satu pun pedagang di sana, apalagi wisatawan, hanya nampak seorang nelayan di kejauhan. Itupun dengan jarak yang cukup jauh mungkin tidak akan bisa mendengar jika Diandra meneriakinya.


Diandra kembali melihat ke sekelilingnya, bahkan berdiri dan memutar tubuhnya untuk mencari sesuatu yang dia cari.


Wajahnya tampak kecewa karena tak kunjung menemukan sesuatu yang membuatnya lari sejauh itu.


Bokongnya kembali ia dudukkan di tempat yang tadi. Tapi kali ini sedikit bergeser ke samping karena matahari yang mampu menembus bayangan daun kelapa yang memayunginya.


Hingga Diandra mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Dengan cepat pula Diandra menoleh untuk menyambut seseorang yang sejak tadi di tunggunya.


Tapi ternyata itu hanya ilusinya belaka, karena tidak ada siapapun di sana, pendengarannya mungkin sedikit bermasalah karena suara ombak yang kencang beserta angin yang terus berhembus.


Krek...


"Siapa itu??" Diandra merasa sedikit takut di dalam hatinya.


Sepeti bunyi ranting yang terinjak seseorang. Lagi-lagi Diandra mencari sumber suara itu. Diandra berdiri menghampiri sebuah pohon kelapa yang cukup besar. Dari baliknya Diandra bisa melihat seseorang yang sedang membelakanginya.


Dari postur tubuhnya jelas sekali jika dia seorang pria. Namun Diandra tak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karena posisinya saat ini membelakangi Diandra. Di tambah jaket hitam dan topi hitam yang dikenakannya semakin membuat Diandra tak bisa mengenali siapa pria itu.


"Bryan??" Panggil Diandra terus mendekat.


"Bryan, kamu kah itu??"


-


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2