
Karena h*sratnya yang tak tersalurkan tadi, akhirnya pria yang sudah sangat siap bertempur itu memutuskan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Diandra bahkan menunggu Dewa dengan cemas karena selama satu jam suaminya itu baru keluar dari kamar mandi.
"Kamu marah Mas??"
Diandra memang selalu takut jika Dewa marah dan mendiamkannya.
Dewa yang sudah berganti pakaian rumahan itu berbalik menatap Diandra yang duduk di pinggiran ranjang.
"Mana ada aku marah sama kamu sayang"
"Tapi kenapa Mas lama sekali di kamar mandi??" Diandra masih tidak percaya dengan suaminya itu.
Dewa mendekat pada Diandra lalu duduk di sampingnya, membisikkan sesuatu yang membuat pipi Diandra langsung memerah.
"Karena Mas membutuhkan waktu yang lama untuk menidurkannya lagi"
"Maaass!!" Diandra ingin beranjak namun tangannya di tahan oleh Dewa.
"Mau kemana kamu?? Sini aja, Mas masih kangen sama kamu"
Dewa sudah melingkarkan tangannya pada pinggang Diandra, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Diandra yang harum memabukkan itu.
"Aku mau masak makan malam buat kamu Mas, kamu belum pernah makan masakan aku kan??" Dewa langsung melepaskan tangannya.
"Kamu bisa masak??" Heran Dewa.
"Bisa dong, makanya kamu tunggu sini aja ya. Aku masakin makan malam spesial buat kamu untuk pertama kalinya" Diandra menatap Dewa penuh dengan perasaannya.
"Aku tunggu" Dewa terus menatap Diandra yang berjalan keluar dari kamar. Sesekali istrinya itu bahkan menoleh ke belakang dengan senyumnya yang manis. Semua ini masih terasa seperti mimpi bagi Dewa.
🌻🌻🌻
Dewa sudah duduk di meja makan dengan berbagai menu makan malam hasil dari masakan sang istri.
Mama Bella bahkan sampai terkejut melihat banyaknya makanan yang di masak Diandra dalam waktu singkat.
Dewa pun sama, dia memang mengetahui semua tentang Diandra. Namun tidak untuk yang satu ini.
"Ini beneran kamu yang masak Dee??" Tanya Mama Bella.
"Di bantu Bi Siti Ma"
"Enggak Nyonya, Bibi dan Nining cuma bantu potong sayurnya saja" Bi Siti datang dari belakang membawa beberapa gelas di tangannya.
"Benar Nyonya, semua yang masak Non Diandra kok" Nining menambahi. Nining adalah keponakan Bi Siti yang ikut bekerja di sana sejak 3 tahun yang lalu.
"Sudah Ma, semua ini memang istri Dewa yang masak. Lebih baik kita makan sekarang, Dewa udah kelaparan melihat semua ini. Kalau Papa masih kama kita tinggal aja" Ucap Dewa sampai ingin mengeluarkan air liurnya.
"Enak saja mau ditinggal-tinggal. Papa juga mau merasakan masakan mantu Papa ini"
Papa Elang sudah menyusul duduk di singgah sananya.
"Salah sendiri lama" Cibir Dewa yang langsung mendapat delikan dari Diandra.
Makan malam itu kembali diliputi kehangatan. Tidak seperti saat Dewa terpuruk kemarin. Dewa yang sempat kehilangan nafsu makannya beberapa hari ini, kini kembali makan dengan lahap.
"Makan sewajarnya aja. Papa tau kalau masakan istri kamu ini enak. Tapi jangan kebanyakan, bisa-bisa perut kamu jadi buncit loh" Goda Papa Elang pada anaknya itu.
__ADS_1
"Biarkan saja Pa, mungkin Dewa kelaparan karena akhir-akhir ini kan dia jarang makan" Diandra merasa bersalah mendengar penuturan Mama Bella. Karena pasti Dewa terlalu memikirkan masalah perceraiannya hingga tidak makan dengan benar.
"Buncit juga nggak papa kok Pa, Diandra tetap suka" Dewa hampir tersedak karena Diandra berani membuatnya melambung tinggi saat sedang mengunyah makanan.
"Tuh kan Papa dengar sendiri" Bangga Dewa yang hanya membuat Papa Elang mendengus.
-
-
"Makasih ya sayang, masakan kamu bisa bikin aku nggak berhenti makan. Ternyata kamu pinter masak ya" Puji Dewa yang sudah duduk bersandar di ranjang bersama Diandra.
"Makasih pujiannya Mas, tapi aku minta maaf karena baru bisa melayani kamu saat ini. Harusnya aku sudah melakukannya sejak dulu"
Tangan Dewa bergerak ke kepala Diandra, mengusapnya dengan lembut dan penuh cinta.
"Tidak papa sayang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali"
Hal seperti inilah yang bisa meluluhkan hati Diandra. Sentuhan dan kelembutan Dewa yang hanya untuk Diandra.
"Tapi mulai sekarang, aku benar-benar akan melakukan semua kewajiban ku sebagai istri Mas. Mengurus semua keperluan mu, melayani mu, dan selalu berada di sisimu" Mereka berdua terus mengagumi wajah masing-masing.
"Tidak perlu seperti itu sayang. Kamu istriku bukan pelayanan ku" Tolak Dewa dengan lembut. Dewa tidak akan membuat Diandra kelelahan untuk mengurusnya dan anak mereka nantinya.
"Tidak Mas, aku sama sekali tidak merasa menjadi pelayan. Aku hanya menjalankan kewajiban ku kepada suamiku"
Dewa tak henti-hentinya tersenyum hari ini. Diandra terus saja membuat hatinya berbunga-bunga.
"Baiklah, asal jangan pernah memaksakan diri. Jika lelah berhentilah, Mas tidak akan menuntut apapun darimu sayang. Yang terpenting kamu ada untuk Mas dan Akhtar"
Diandra menyandarkan kepalanya pada bahu Dewa.
"Mas, boleh aku tau dimana Daniel dan Manda saat ini??" Diandra masih bersandar pada bahu Dewa.
"Kamu tau tentang Manda??" Seingat Dewa dia belum cerita apapun tentang Manda pada Diandra.
"Hemm, Ayah yang memberitahuku. Katanya Papa Elang sudah menceritakan pada Ayah. Aku tidak menyangka jika Manda bisa berbuat sekeji itu. Aku kira keberaniannya hanya sebatas berbohong kepadamu. Tapi dia berani berbuat kriminal"
"Kamu tenang saja sayang, mereka tidak akan bisa menyakiti kamu lagi"
"Maksud Mas?? Kamu tidak berbuat yang aneh-aneh kan Mas??"
Diandra curiga dengan suaminya itu. Dia takut jika Dewa benar-benar menyingkirkan kedua manusia itu dari dunia ini.
"Sayang, aku memang di kenal kejam. Tapi aku tak sampai mencabut nyawa mereka mendahului Tuhan. Aku hanya memberikan pelajaran kepada mereka. Memberikan makan dan tempat tinggal seumur hidup mereka. Seperti yang sering aku lakukan pada orang-orang hang dengan berani mengusik ketenangan ku"
Sedikit banyak Diandra bisa tau apa yang di maksud Bryan.
"Mas mengurungnya di suatu tempat??" Selidik Diandra.
"Bukan mengurung sayang, tapi memberikan mereka tempat tinggal gratis" Bantah Dewa.
"Dimana mereka Mas, apa aku boleh tau??"
"Sudahlah sayang, kamu tidak perlu lagi melihat wajah-wajah menjijikkan mereka itu. Lebih baik kita tidur, besok kita jadi belanja kebutuhan Akhtar kan??"
Dewa sudah membaringkan tubuhnya, menepuk pundaknya yang sudah direntangkan tangannya. Tentu saja Diandra tau apa maksud suaminya itu.
__ADS_1
Kepala Diandra langsung berbaring di sana. Tempat ternyaman yang baru saja Diandra temukan. Tidur di pelukan suaminya.
"Terimakasih ya Mas karena kamu dengan mudahnya memaafkan aku. Menerimaku dalam hidupmu lagi meski aku sudah banyak menyakitimu" Ucap Diandra dengan tangannya yang melingkar erat pada pinggang Dewa.
"Sama-sama sayang, terimakasih juga karena sudah membalas cintaku. Selamat tidur sayang"
"Selamat tidur suamiku"
🌻🌻🌻
Sudah lebih dari tiga jam Dewa menemani Diandra di dalam toko perlengkapan bayi. Dua keranjang besar juga sudah terisi penuh semua kebutuhan Akhtar mulai dari baju, topi, bahkan sepatu yang mungkin baru bisa di pakai 6 bulan lagi sudah di ambil Diandra saat ini.
Diandra seperti tak mengenal lelah, dia terus berjalan menyusuri seluruh penjuru toko. Mengambil semua barang yang menurutnya bagus untuk Akhtar.
"Mas ini bangus nggak??"
Selalu seperti itu sejak tadi, Diandra akan menunjukkan dua barang yang dia sukai pada Dewa.
"Bagus"
"Bagusan yang biru apa yang kuning??"
"Yang kuning aja"
Tapi pada akhirnya Diandra akan memilih yang biru, sepertinya dia menanyakan itu pada Dewa hanya percuma saja.
Dewa hanya geleng-geleng melihat istrinya yang begitu antusias itu.
"Sayang, kamu sudah ambil begitu banyak baju. Bukannya Mas nggak mampu membayarnya. Tapi semua ini akan sia-sia kalau tidak terpakai semuanya. Akhtar akan cepat besar, jadi beli seperlunya saja ya"
Maksud Dewa sebenarnya baik, tapi dia takut istrinya itu akan salah paham.
"Yaaahhh, tapi semuanya bagus Mas. Lucu-lucu, aku bingung kalau harus memilihnya lagi" Diandra mengerucutkan bibirnya lucu.
"Besok kalau Akhtar udah agak besar, kita beli lagi. Yang ini cukup dulu ya, sayang kalau nggak di pakai nantinya"
Diandra mengangguk, ada benarnya juga suaminya itu. Dia terlalu antusias sampai kalap melihat baju-baju yang kecil dan lucu itu.
"Ya udah deh, yang ini aja. Mas bayar ya??" Wajah Diandra berubah manis membuat Dewa tersenyum gemas.
"Tentu saja, mulai sekarang semua uangku adalah milik kalian berdua"
Dewa mengeluarkan kartu berwarna hitam miliknya, kemudian memberikannya kepada pelayan toko untuk membungkus semua yang telah di pilih istrinya.
"Terimakasih ya Mas, walau anak kita sudah lahir. Tapi aku tetap bisa merasakan bahagianya berbelanja perlengkapan bayi" Mereka berjalan keluar toko dengan, Diandra yang bergelayut Manja di lengan Dewa.
"Sama-sama sayang. Apapun yang membuat kamu bahagia, Mas akan lalukan. Asal jangan pernah meminta untuk berpisah lagi"
"Tidak akan, tidak akan pernah"
Mereka berjalan di tengah keramaian dalam mall tanpa peduli dengan orang-orang sekitar yang terus melihat ke arah mereka. Tidak peduli lagi dengan status mereka yang belum di ketahui publik. Yang paling penting adalah mereka begitu bahagia saat ini.
Hingga langkah mereka berdua berhenti saat melihat seseorang yang begitu mereka kenal berdiri tak jauh dari mereka dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
DEG....
Diandra di buat mematung karena tatapan itu terus tertuju kepadanya.
__ADS_1
Bersambung...