Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
101. Rencana


__ADS_3

Sejak pulang tadi, Dewa memperhatikan Diandra yang terus gelisah. Bahkan sebelah Dewa selesai mandi pun Diandra terus tak tenang dengan mengigit kuku jarinya.


"Sayang, kamu kenapa sih??"


Dewa berjongkok di depan Diandra yang duduk di ranjang.


"Kamu lihat berita terus seharian ini??" Dewa menarik tangan Diandra yang kukunya masih terus digigit.


"Mas kan sudah bilang, tidak usah dipikirkan" Dewa mengusap lembut tangan istrinya.


Diandra merasa kesal dengan Dewa yang terlihat setenang itu. Berbeda degan perasaan wanita, maslah sedikit saja pasti akan membuat pikiran kita terus dilanda kegelisahan.


"Aku cemas Mas!! Kenapa sih kamu bisa setenang ini?? Aku takut maslah ini akan berdampak buruk untuk perusahaan kamu. Terlebih melihat komentar orang-orang. Mereka menuduh kamu menghamili ku Mas!!" Kesal Diandra.


"Memang kenyataannya Mas menghamili kamu kan??" Candaan itu membuat Diandra menyorongkan duduknya tak mau menghadap Dewa.


"Maaasss!!" Dewa justru terkekeh karena kekesalan istrinya.


"Aku takut Mama dan Papa marah sama aku Mas" Dewa menghentikan tawanya, dia mengerti apa yang saat ini istrinya rasakan. Sebenarnya dari tadi Dewa terus menggoda seperti itu adalah untuk membuat Diandra tenang.


"Memangnya mereka marahin kamu??" Diandra menggeleng.


"Mereka nggak akan marah sama kamu sayang. Mas dari tadi bilang kamu nggak cemas itu karena Mas dan Papa sudah punya rencana sendiri untuk menanggapi berita itu??" Dewa menyelipkan rambut Diandra ke belakang telinga.


"Kamu mau adakan konferensi pers??" Dewa menggeleng.


"Lalu apa Mas?? Nggak mungkin kan kamu membiarkan masalah ini terus berlarut-larut?? Kita juga nggak mungkin kan terus sembunyi-sembunyi seperti ini??" Diandra merubah mimik wajahnya menjadi sendu.


"Tentu tidak, Mas tidak mau membuat istri Mas kepikiran terus"


"Kalau gitu, apa yang akan Mas lakukan?"


"Sayang, kita tidak melakukan konferensi pers. Itu justru akan membuat kita seperti seorang pencuri yang tertangkap basah. Jadi untuk membantah isu miring itu, kita harus buktikan kalau pernikahan kita itu sah, begitupun juga kehadiran Akhtar. Kita berikan mereka kejutan"


"Kejutan??" Diandra masih tidak tau apa rencana suaminya.


Dewa berdiri untuk berpindah duduk di samping istrinya.


"Kita buat pesta pernikahan kita" Kata Dewa dengan sangat jelas.

__ADS_1


"Hah??" Diandra melongo tak percaya.


"Sebenarnya Mas sudah sangat ingin mengenalkan kamu ke publik sebagai satu-satunya pemilik hati Mas. Tapi mengingat kondisi kamu yang belum pulih betul, Mas menunda niatan itu. Tapi setelah munculnya berita ini, Mas ingin meminta persetujuan kamu dulu sebelum Mas mengambil langkah selanjutnya"


Dewa menatap Diandra yang masih belum bersuara. Terlihat sekali jika Diandra begitu terkejut dengan rencana Dewa itu.


"Menurut kamu bagaimana??" Diandra masih terpaku menatap suaminya. Sudah sepersekian detik Diandra juga tidak membuka suaranya. Membuat Dewa mengambil kesimpulan sendiri tentang jawaban dari Diandra.


"Maaf sayang, kamu nggak mau ya?? Mas tidak memaksamu kok, kita bisa cari cara lain saja kalau kamu keberatan"Dewa susah panik takut Diandra akan marah dan tak setuju dengan rencananya.


" Aku mau, aku mau Mas. Sama sekali tidak keberatan kamu memperkenalkan aku sebagai milikmu" Jawaban yang sangat memuaskan bagi Dewa.


Rasa senang karena persetujuan Diandra membuat Dewa langsung menghambur ke pelukan istrinya hingga mereka berdua berguling di ranjang.


"Terimakasih sayang. Akhirnya kuta akan menjadi pengantin yang sesungguhnya" Dewa membenamkan wajahnya di leher Diandra. Namun karena tubuh Dewa yang menindih bagian perut Diandra membuat Diandra secara refleks mendorong Dewa untuk menjauh.


"Kenapa sayang??" Dewa seperti menatap Diandra kecewa.


Belum sempat Diandra menjelaskan apa sebabnya dia mendorong Dewa, pintu kamar mereka sudah di ketuk seseorang.


"Yaa??" Teriak Diandra dari dalam.


"Sebentar ya Mas"


Dewa hanya menatap sendu Diandra yang berjalan keluar kamar meninggalkan Dewa.


🌻🌻🌻


Hari pemotretan tiba, Bryan masuk ke dalam wardrobe di ikuti Kimmy si manager di belakangnya. Di dalam sana sudah ada tim make up, berbagai macam baju yang akan di kenakan Bryan pemotretan serta beberapa orang yang tidak Bryan kenal kecuali satu orang, yaitu Tara. Pemilik brand yang akan membayar Bryan untuk memperagakan baju buatannya.


Saat masuk tadi Bryan sempat melihat Tara meliriknya sekilas tanpa Minat. Sampai saat ini Bryan masih bingung karena Tara terus-terusan seolah tidak mengenalnya.


"Permisi Nona Tara, Bryan sudah siap untuk di poles" Kimmy mendekati Tara dengan gaya kemayunya.


"Oke, nanti biar Desi yang atur semuanya. Kalau ada apa-apa tanya sama dia aja. Dia sudah tau semuanya" Tara menunjuk seorang karyawannya.


Dia memang ada di sana tapi tidak mau terlibat langsung dengan Bryan.


"Nanti maslahah honor, aku akan bayar sepenuhnya. Aku tidak akan menerapkan budaya KKN meski usahaku masih begitu kecil" Kimmy suka sekali dengan sikap tegas dari Tara itu.

__ADS_1


Bryan yang duduk agak jauh mendengar jelas apa yang di katakan oleh Tara barusan.


"Kimmy, katakan juga padanya kalau aku tidak mau di bayar sepeserpun. Aku menganggap saat ini aku bekerja dengan Ayahnya bukan dengannya" Bryan benar-benar mengikuti alur permainan yang Tara lakukan.


Tara tetap tak peduli dan memanggil satu karyawannya yang lain.


"Tetap transfer uangnya dengan jumlah yang genap, jangan sampai kurang sepeserpun" Ucapnya pada wanita yang masih terlihat begitu muda itu.


"Baik Kak"


Kimmy hanya menghela nafasnya saja karena dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi antara dua manusia yang terlibat perang dingin itu.


Sesi pemotretan di mulai, saat ini Bryan sudah berdiri di depan kamera dengan berbagai gaya. Arahan fotografer juga di perankan Bryan dengan baik.


Sudah tiga kali Bryan mengganti bajunya. Kini giliran Bryan berfoto couple, tapi Tara masih kebingungan dengan ponsel yang terus berada di telinganya.


"Tidak bisa di hubungi Kak" Ucap Desi


"Aishhh s*al memang. Kenapa dia tidak bertanggung jawab seperti ini" Gumam Tara dengan kesal.


"Kenapa??" Tanya Kimmy pada Desi.


"Model wanitanya belum datang juga. Dari tadi tidak bisa di hubungi"


Sudah lebih dari 30 menit Bryan hanya duduk melihat Tara dan timnya yang sibuk menelepon ke sana kemari. Sebenarnya Bryan sudah bosan tapi melihat wajah Tara yang terlihat begitu tegang membuatnya sedikit terhibur.


"Nona Tara, apa tak ada model pengganti yang lain?? Satu jam lagi ruangan ini akan di pakai orang lain" Fotografer itu kembali mengingatkan kepada Tara.


"Aduh gimana dong, kalau mau di undur besok, biaya operasionalnya juga pasti akan jadi dua kali lipat. Belum lagi model prianya juga kita hanya bisa bayar satu kali"


Keluhan Desi membuat Tara semakin bingung. Dalam hati Tara tentu saja sedang mengumpat model wanita itu dengan sumpah serapahnya.


"Tidak perlu di undur. Saat ini juga bisa melanjutkan pemotretan tanpa menunggu model wanita itu" Ucapan Bryan yang lantang itu mengheningkan ruangan seketika.


"Lalu siapa yang akan jadi pasanganmu kalau tidak ada model wanitanya??" Kimmy yang menjawab Bryan.


"Aku mau dia!!" Tunjuk Bryan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2