
Matahari sudah tenggelam di ufuk sana, dan Dewa belum juga mendapatkan kabar tentang keberadaan Diandra. Tentu saja pikiran Dewa hanya berpusat pada wanitanya itu. Sampai saat ini dia masih berada di rumahnya yang berada di kota, rumah utamanya, rumah tempatnya di besarkan oleh Mama Bella dan Papa Elang. Bukannya tidak langsung kembali ke rumahnya tapi Dewa masih menunggu Niko menyelidiki Manda.
Kenapa Dewa hanya mengutus Niko dan tidak menemui Manda sendiri seperti dia menemui Bryan. Itu karena Dewa sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Manda. Dewa tidak mau batas kesabarannya kepada seorang wanita akan hilang jika berhadapan dengan Manda. Tapi saat ini kecurigaannya dengan Manda memang lebih besar setelah mendengar cerita Bryan tadi.
Dewa langsung menyambut kedatangan Niko saat melihat pria yang sudah bertahun-tahun setia melayaninya itu.
"Bagaimana hasilnya Nik??" Rasa khawatir dan penuh harap Dewa tunjukkan pada Niko. Dewa jelas sekali berharap jika Niko datang membawa kabar bahagia untuknya.
"Ini semua catatan tentang Nyonya Manda beberapa hari ini Tuan. Saya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan Tuan.
Dewa merebut tablet yang di bawa Niko. Di sana sudah ada banyak foto dan video rekaman cctv di tempat-tempat yang Manda kunjungi.
" Kau sudah menyelidiki semua orang-orang yang dia temui??" Dewa terus memperhatikan satu per satu foto itu.
"Sudah Tuan, dan semuanya bersih. Tidak ada yang aneh. Tapi masih ada satu hal yang belum saya lakukan" Dewa langsung beralih pada Niko.
"Apa itu??"
"Saya belum menyadap ponsel Nyonya Manda Tuan. Saya masih menunggu persetujuan Tuan"
Dewa termangu sejenak, apa dia perlu untuk mengobrak abrik ponsel Manda untuk mencari kebenaran tentang keberadaan Diandra. Tapi jika tidak, dia tidak akan bisa tau di mana istrinya itu berada.
"Lakukan saja Nik. Rasanya itu memang perlu kita lakukan saat ini. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Aku takut terjadi sesuatu pada Diandra dan calon anakku"
Niko kembali melihat wajah nestapa itu. Niko yang sudah sangat lama berada di sisi Dewa itu bisa merasakan apa yang sedang pria menyeramkan itu rasakan
"Baik Tuan. Saya akan lalukan sekarang juga. Saya pasti akan terus berusaha sekeras mungkin untuk membantu Tuan menemukan Nyonya kembali"
__ADS_1
Niko menerima senyuman pilu yang di berikan Dewa untuknya.
Niko meraih laptop yang berada di ruangan itu. Segera mengetikkan angka dan huruf dengan begitu banyak yang tak mungkin orang awam pahami.
Dewa hanya mondar mandir menunggu hasil kerja asisten uang begitu diandalkannya itu. Meskipun begitu otaknya tidak pernah berhenti memikirkan keadaan Diandra.
"Kamu dimana Dee?? Kamu benar-benar pergi karena keinginanmu sendiri atau ada yang sengaja membawamu pergi?? Lalu bagaimana keadaanmu saat ini, apa kamu baik-baik saja??"
Dewa sangat berharap jika Diandra bisa merasakan betapa khawatirnya Dewa saat ini.
"Tuan"
"Kenapa?? Apa kau temukan sesuatu??" Dewa mendekati Niko.
Semuanya sama Tuan, tidak ada yang mencurigakan. Tapi ada satu nomor tanpa nama yang di hubungi Nyonya manda beberapa kali.
"Coba cari tau milik siapa nomor itu Nik. Kita tetap harus mencobanya meski kemungkinannya sangat kecil"
"Baik Tuan" Niko lekas mengotak-atik laptopnya, juga mencoba menelepon nomor yang telah dia catat di ponselnya.
Sepertinya Dewa bisa membaca dari mimik wajah Niko tentang nomor yang baru saja dihubunginya itu.
"Kenapa?? Tidak bisa??" Pertanyaan yang langsung di benarkan oleh Niko.
"Benar Tuan. Nomornya sudah tidak aktif lagi. Pemilik nomor juga tidak di ketahui. Sepertinya pemiliknya bukan orang biasa" Niko melaporkan apa yang di dapatkannya.
"Kalau begitu kita kembali ke rumah sekarang juga. Aku tidak mau berhenti mencari Diandra barang sedetik pun!!" Dewa sudah keluar mendahului Niko yang hanya pasrah menuruti keinginan Dewa.
__ADS_1
Niko paham betul apa yang Dewa lakukan saat ini adalah bentuk rasa cintanya pada Diandra. Jika dia yang berada di posisi Dewa pun pasti juga akan melakukan hal yang sama. Kelimpungan ke sana kemari.
"Tuan, apa sebaiknya saya minta Bi Siti untuk menyiapkan makan malam untuk Tuan dulu?? Karena setau saya Tuan belum makan apapun sejak pagi tadi" Usul Niko sebelum Heli yang akan mereka tumpangi mengudara.
Dewa memang hanya sarapan di rumah saja tadi pagi bersama Diandra. Kemudian siangnya Dewa menahan rasa laparnya agar lebih cepat sampai di rumah untuk makan siang bersama Diandra. Tapi justru kejutan menghilangnya Diandra membuat Dewa lupa segala hal termasuk perutnya yang tiba-tiba kenyang.
"Aku tidak lapar" Jawaban singkat yang membuat Niko langsung terdiam tak mampu menyanggahnya lagi.
Sepanjang perjalanan di udara, Dewa juga terus diam mengunci rapat bibirnya. Satu kata pun enggan dia keluarkan.
Aksi diam Dewa juga berlanjut hingga sampai di rumah. Rumah impian yang sengaja di bangun khusus untuk Diandra itu kini seperti tiada artinya lagi jika Diandra tidak ada didalamnya.
Dewa masuk ke dalam kamarnya yang tanpa kehidupan itu. Menghirup harumnya aroma parfum yang setiap hari Diandra gunakan. Menambah rasa kerinduannya pada sosok wanita yang sedang mengandung buah hatinya itu.
Terlihat berlebihan mungkin bagi orang lain, karena Diandra baru pergi siang tadi namum Dewa sudah kelimpungan dan menahan kerinduannya. Tapi memang itu yang dirasakan Dewa saat ini.
Dewa merebahkan dirinya di ranjang dengan asal. Meraih bantal yang biasanya digunakan Diandra. Menghirup aromanya dalam-dalam, meresapi wangi dari pemiliknya yang tertinggal di sana.
"Dee, baru sebentar saja aku tidak melihatmu aku sudah seperti ini. Bagaimana kalau aku benar-benar tidak bisa menemukanmu?? Aku tidak bisa membayangkannya Dee. Kamu bahkan hanya pergi bersama anak kita Dee. Tapi kamu benar-benar membawa semuanya. Anakku, cintaku, harapanku, masa depanku, kamu tak menyisakan satu pun Dee. Hanya aroma menenangkan dari parfum mu yang tertinggal ini yang membuatku merasakan kehadiranmu disini. Aku merindukanmu sayang" Dewa mengedipkan matanya satu kali dan berhasil membuat air matanya lolos seketika.
Dewa mengangkat tangannya ke atas. Telapak tangannya di gunakan untuk menutupi cahaya lampu yang begitu silau di matanya. Hingga Dewa kembali melihat cincin pernikahannya dengan Diandra.
Cincin yang pasangannya di pasangkan pada Diandra dengan paksaan. Dewa mengingat kembali pernikahan mereka yang di lakukan secara tertutup. Sebenarnya Dewa tau betul seperti apa pernikahan Diandra, tapi karena Diandra yang menentang pernikahan itu, dan juga Dewa yang memikirkan keselamatan Diandra, akhirnya Dewa memilih menyembunyikan pernikahan mereka.
Dewa memutar-mutar cincin itu dengan otaknya yang memutar kilasan-kilasan kebersamaan mereka berdua. Hingga tiba-tiba Dewa terduduk dengan cepat. Ada suatu hal yang baru dia ingat di kepalanya.
"NIKO!!!" Teriak Dewa sambil berlari keluar.
__ADS_1
Bersambung..