Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
47. Wangi


__ADS_3

Dewa menyuapkan satu sendok makanan yang terakhir untuk Diandra. Mereka berdua sudah cukup kenyang dengan satu piring penuh makanan yang di ambil Dewa tadi.


"Mau lagi??" Tawar Dewa.


"Sudah cukup Mas, terimakasih karena terus merepotkan mu" Ucap Diandra dengan tulus.


"Terimakasih kembali karena kamu benar- benar menepati janjimu untuk membuat Bryan kembali ke kota" Dewa kembali meletakkan piringnya di atas nakas.


Diandra meneguk air putihnya terlebih dahulu sebelum mulai menyahuti perkataan Dewa..


"Sudah seharusnya dari awal aku memang begitu Mas. Termasuk menahan diriku untuk tidak menghubungi Bryan sedari awal. Aku sadar aku salah, aku masih menjadi istrimu tapi aku justru berhubungan dengan pria lain. Meski aku tidak mencintaimu tapi itu sama sekali tidak pantas untuk aku lakukan"


Lagi-lagi kalimat yang menegaskan jika Diandra tidak mencintainya membuat hati Dewa kembali teriris.


"Sudahlah jangan bahas itu lagi, penolakan cintamu itu membuat hatiku terasa perih" Dewa memang terkekeh saat mengatakan itu tapi Diandra dapat melihat sorot kepedihan di mata Dewa.


"Maaf Mas" Sesal Diandra.


"Tidak papa, aku sudah belajar untuk menguatkan hatiku sejak kita membuat perjanjian itu. Jadi jangan pikirkan lagi ya" Dewa mengusap lembut rambut Diandra.


Diandra memaksa senyumnya untuk Dewa. Bukan terpaksa karena tidak suka tapi terpaksa karena hatinya juga merasakan sakit saat melihat Dewa yang terlihat sok tegar seperti itu.


"Mas, bisa bantu aku berdiri??" Ucap Diandra.


"Kamu mau kemana??"


"Buang air Mas"


"Emang kamu bisa jalan??" Dewa tampak tak percaya.


"Mana aku tau, kan belum di coba" Diandra berusaha berdiri dengan satu tangannya yang berpegangan pada Dewa. Sementara tangan Dewa yang satunya dia gunakan untuk memegang botol infus.


Baru satu langkah Diandra menggerakkan kakinya ke depan, Diandra sudah meringis kesakitan.


"Awww shhhh"


"Sakit??" Tentu saja tapi kenapa Dewa harus menanyakannya lagi.


"Pegang ini!!" Dewa menyerahkan botol infusnya pada Diandra. Lalu dengan hanya hitungan detik Diandra sudah ada dalam gendongan Dewa.


"Masss!!" Teriak Diandra yang terkejut dengan tindakan Dewa yang tiba-tiba itu.


"Nggak ada waktu lagi, kamu udah kebelet kan??" Dewa mendudukkan Diandra di atas kloset.


"Mau aku bantu??" Dewa menawarkan diri untuk membantu Diandra.


Tak ada alasan untuk Diandra menolak karena memang saat ini dia benar-benar kesusahan. Untuk berdiri saja susah apalagi dengan memegang botol infus, bagaimana caranya dia membuka celananya.


"Bisa bantu aku pegang botol infusnya saja Mas??"


"Tentu, bantu yang lain juga bisa" Dewa memberikan senyuman jahilnya pada Diandra.

__ADS_1


"Udah deh Mas, nggak usah bercanda!!" Diandra mengerucutkan bibirnya.


Tapi Diandra kembali melirik Dewa yang justru terdiam menatapnya yang mulai menyibakkan dressnya.


"Kenapa??" Dewa justru bertanya dengan polosnya.


"Hadap sana dong Mas!!" Diandra memerintah dengan matanya yang juga mulai menajam.


"Astaga Dee, kenapa harus malu. Aku kan juga sudah melihat semuanya" Dewa menggerutu tapi di barengi dengan badannya yang mulai berbalik.


Diandra tak menanggapi Dewa, dia sedari tadi sudah menahan air seninya agar tak keluar begitu saja. Meski menahan rasa malunya karena Dewa mendengar suaranya saat membuang air kecil tapi Diandra mencoba untuk tidak peduli.


Butuh beberapa saat bagi Diandra untuk merapihkan lagi bajunya. Dan Dewa masih saja diam membelakangi Diandra tanpa protes sama sekali.


"Mas!!"


"Iya, sudah??" Dewa belum berani membalikkan badannya.


"Mas, bisa aku minta tolong panggilkan Ely??"


Dewa tampak mengernyit karena tidak tau apa maksud Diandra memanggil Ely.


"Memangnya mau apa?? Kalau butuh bantuan bilang aja sama aku"


Diandra terdiam sejenak. Dia merasa ragu untuk mengatakan niatnya itu.


"Aku mau mandi Mas, gerah sekali rasanya. Tapi aku butuh bantuan Ely untuk membantuku mandi" Pipi Diandra bersemu merah karena merasa malu mengatakan hal itu.


Diandra langsung menatap tajam kepada Dewa karen tawarannya itu.


"Mas jangan mulai deh!!" Diandra memberikan sinyal penolakannya.


"Kenapa Dee?? Nggak usah malu. Aku suamimu, katanya kamu mau jadi istri yang baik. Kayanya baru aja deh kamu bilang gitu. Sekarang udah lupa" Memang di dalam kalimat Dewa itu terdapat sindiran yang sangat jelas.


"Ya enggak mandiin juga kali!!" Diandra merasa geram dengan Dewa, seakan menyesal karena terlanjur mengucapkan janjinya itu.


Dewa justru terkekeh geli karena niatnya menggoda Diandra itu ternyata berhasil.


"Kenapa malah tertawa seperti itu?? Ada yang lucu?? Aku bukan pelawak, tapi aku selebritis terkenal" Diandra mengatakannya dengan ketus membuat Dewa tambah tergelak.


"Iya, iya Dee, aku hanya bercanda. Ayo kembali ke kamar dulu. Aku akan panggilkan Dokter dulu untuk melepas infusnya. Baru Ely akan membantumu mandi. Yah meskipun sebenarnya aku bisa memandikan kamu sendiri"


Dewa yang sudah bersiap menggendong Diandra langsung mendapat upah pada dadanya yang bidang. Sebuah cubitan gemas pada kedua bagian yang juga di miliki wanita, namun jika punya wanita bisa tumbuh membesar itu.


"Awww, jangan menggodaku Dee!!" Dewa tak bisa berkutik karena Diandra sudah ada dalam gendongannya. Tidak mungkin dia menjatuhkan Diandra begitu saja karena tidak tahan dengan cubitan Diandra.


🌻🌻🌻


Ely telah keluar dari kamar mandi pertanda dia telah menyelesaikan tugasnya untuk membantu Diandra membersihkan badannya.


Ely mendekati Tuannya yang sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya.

__ADS_1


"Permisi Tuan, Nyonya sudah selesai mandinya" Dewa menganggukkan kepalanya karena tau maksud Ely adalah untuk menyuruh Dewa menggendong Diandra kembali ke kamar.


"Baiklah, terimakasih Ely. Nanti saat makan malam langsung antarkan ke sini jika sudah selesai karena saya tidak akan turun"


"Baik Tuan" Ely segera meninggalkan kamar mewah itu untuk segera melanjutkan perintah Tuannya.


Saat Dewa masuk ke dalam kamar mandi dia justru melihat Diandra yang sedang mencoba untuk berjalan sendiri. Meski kakinya yang di perban itu tidak bisa berpijak dengan sempurna, tapi Diandra mencobanya dengan berpegangan pada dinding.


"Kalau nggak bisa nggak usah di paksa. Lukanya juga masih basah. Nanti malah keluar darahnya lagi. Besok saja tunggu agak mengering, baru jalan sendiri" Dewa mendekati Diandra yang sudah harum semerbak itu.


Diandra segera mengalungkan tangannya pada leher Dewa saat pria itu mengambil posisi untuk menggendongnya. Diandra tak menolak sama sekali, karena dia pikir apa yang di katakan Dewa ada benarnya juga.


Dengan pelan Dewa menggendong Diandra keluar dari kamar mandi. Dengan posisi sedekat itu tentu saja Dewa bisa mencium aroma wangi dari kulit dan rambut diandra yang baru saja di cuci dengan sabun dan sampo.


"Kamu wangi sekali Dee" Bisik Dewa di telinga Diandra karena memang posisi telinga dan bibir Dewa yang berdekatan.


Suara Dewa yang sedekat itu membuat nafasnya menerpa telinga Diandra dan membuat pemiliknya merinding seketika.


"Namanya juga habis mandi, memangnya kamu. Masih bau asem" Diandra mencoba bercanda untuk menutupi kegugupannya itu.


Dewa menjatuhkan Diandra di ranjang dengan pelan. Takut akan melukai anak dalam kandungan Diandra.


"Benarkah?? Tadi katamu aku wangi, tapi sekarang kenapa jadi asem??" Dewa belum menjauhkan tubuhnya sama sekali setelah menurunkan Diandra. Posisi mereka masih sangat dekat karena Dewa yang berada di atas Diandra.


"I-itu kan tadi. Sekarang beda!!" Demi menjaga kesehatan jantungnya Diandra memilih untuk menatap ke samping. Mencoba menghindari mata tajam yang membuat jantung menjadi sedikit bermasalah.


"Benarkah?? Sepertinya hidungmu bermasalah??" Diandra memejamkan matanya karena tiba-tiba Dewa menabrakkan hidung mancungnya pada hidung milik Diandra. Lalu tetap mempertahankan posisinya itu dalam beberapa detik sebelum menjauhkannya kembali.


"Kenapa?? Kamu takut aku akan mencium mu??" Tentu saja tebakan Dewa itu benar. Siapa yang tidak akan salah sangka, kalau tiba-tiba saja seorang pria mendekatkan wajahnya sedekat itu jika tidak untuk menempelkan salah satu bagian wajahnya itu kepada lawannya.


Diandra yang sudah seperti mengeluarkan asap itu sudah tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi. Bibirnya seakan terkunci oleh Dewa yang sengaja mempermainkannya.


"Jangan tegang begitu. Aku tidak akan menyerang mu seperti dulu lagi" Berlahan Dewa bangkit dari kungkungannya pada Diandra.


"Aku tidak berpikir begitu" Diandra sedikit mengelak.


"Aku mandi dulu, setelah itu baru kita makan malam" Dewa justru tak mempedulikan bantahan Diandra itu.


"Iya"


"Ngomong-ngomong, apa ada masalah dengan jantungmu??" Dewa membalikan badannya lagi sebelum membuka pintu kamar mandi.


"Memangnya kenapa??" Kening Diandra tampak berkerut.


"Detak jantungmu begitu keras sampai bisa terdengar ke telingaku"


Blushh...


Dewa masuk ke dalam kamar mandi setelah membuat Diandra merasakan malu yang luar biasa.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2