
Diandra tak sanggup lagi untuk melihat keseluruhan dari kertas-kertas itu. Hingga Bryan mengambil alih dari tangan Diandra, dia ingin tau apa yang menyebabkan Diandra tiba-tiba menangis seperti itu.
"Bryan, Mas Dewa menceraikan ku. Dia sudah tidak peduli lagi dengan pernikahan ini"
Bryan heran kenapa Diandra saat ini menjadi tersedu-sedu. Bukankah seharusnya dia senang karena jalan untuk kembali kepada Bryan semakin mulus.
"Kenapa kamu menangis Didi?? Bukankah ini yang kita inginkan?? Perpisahan kalian adalah impian kita Didi??" Bryan terlihat kesal karena sepertinya dia mulai bisa membaca situasi saat ini.
Diandra hanya menatap Bryan, ingin mengatakan sesuatu kepada pria itu namun dia masih bisa menahan lidahnya agar tidak bergerak.
"Kesempatan ini sudah ada di depan mata untuk lepas dari pria itu Didi. Dia benar-benar menepati janjinya"
Diandra belum mau menanggapi apa yang Bryan katakan itu. Lebih tepatnya tidak mau menanggapi. Bahkan Diandra lebih menganggapnya seperti bisikan setan yang menghasut Diandra untuk segera berpisah dengan suaminya.
Masih ada ada lagi kertas di dalam map itu. Kemudian Diandra yang masih tertarik mengambil salah satunya.
Dalam lembaran itu terdapat tulisan yang di tulis dengan coretan tangan dan kemungkinan besar adalah hasil tulisan Dewa sendiri. Diandra mulai membaca untaian kalimat di sana yang membuat hati Diandra semakin remuk redam.
🍃🍃🍃
Teruntuk Diandra, wanita yang paling aku cintai.
,
,
Sebelumnya maafkan aku karena telah menjadi pria pengecut yang memaksamu masuk ke dalam pernikahan ini.
Pernikahan yang tidak pernah kamu inginkan dan begitu kamu benci.
Awalnya aku pikir setelah berhasil menikahi mu, jalanku untuk mendapatkan cinta darimu akan semakin mudah seiring dengan berjalannya waktu.
Tapi nyatanya salah!!
Dan karena dirimu, aku sadar bahwa kekuasan ku dan banyaknya harta yang aku miliki tak bisa membeli cintamu, meski ragamu sudah berhasil aku dapatkan.
Namun hidup delapan bulan bersamamu mampu membuat hidupku berubah.
Dari yang awalnya aku pria yang begitu keras, kejam dan tak peduli pada siapapun.
Bahkan kamu sendiri selalu menyebutku pria psycho.
Sampai akhirnya bisa berubah 360° hanya karena wanita seperti dirimu.
Aku seperti bukan diriku sendiri.
Aku menjadi pria lembut dan penyayang.
Aku menjadi pria yang pencemburu.
Aku juga mudah menangis hanya karena kamu berkali-kali menolak mentah-mentah pernyataan cintaku.
Di luar sana bahkan banyak wanita yang lebih segalanya darimu, tapi kenapa hanya kamu yang mampu mengobarak-abrik kehidupanku Dee.
Kamu tentunya ingat dengan perjanjian kita kan Dee??
Perjanjian yang aku buat untuk menukar nyawa mu dan anakku.
__ADS_1
Tentunya kamu tidak lupa kan??
Dan di saat itulah kamu memberikan senyuman pertama kalinya untukku.
Sampai saat ini, senyuman kamu waktu itu masih yang paling indah bagiku.
Itulah bukti dari cintaku Dee.
Bukti jika cintaku bukanlah obsesi belaka seperti yang kerap kamu tekankan.
Demi melihatmu bahagia, demi melihatmu tidak tertekan setiap harinya.
Aku rela melepas mu Dee.
Saat ini sudah waktunya aku menepati janjiku.
Tepat disaat kamu sudah melahirkan anakku, aku akan langsung menceraikan kamu.
Aku juga menyerahkan anakku kepadamu.
Sesuai permintaan mu kemarin.
Kamu tidak ingin berpisah dengannya bukan??
Maka rawatlah dia bersamamu.
Jangan menangis lagi karena aku pasti akan mengabulkan permintaanmu tanpa terkecuali.
Termasuk menyerahkan putra yang begitu aku dambakan sebagai hadiah darimu.
Namanya, ABISEKHA AKHTAR BAHUWIRYA.
Artinya, bintang paling terang di langit yang di angkat menjadi orang yang berkuasa karena kelembutan hatinya.
Dan kamu bisa memanggilnya Akhtar.
Jaga dia baik-baik, karena aku sudah mengalah dan meyerahkannya kepadamu seusai permintaanmu.
Diandra, maafkan aku karena sekali lagi menjadi pria pengecut.
Aku tidak berani menemui mu secara langsung untuk menyerahkan surat gugatan perceraian ini.
Karena aku pasti tidak akan sanggup dan akan berubah pikiran.
*Jadi hanya melalu**i surat ini, aku harap bisa mewakili semua yang ingin aku sampaikan kepadamu*.
Terimakasih sudah menjadi istriku di waktu yang singkat ini.
Terimakasih sudah membuatku merasakan kebahagiaan meski hanya sekejap saja.
Hiduplah bahagia bersama orang yang kamu cintai.
Karena aku bisa saja menarik mu kembali jika kamu tidak bahagia bersama dia.
,
,
__ADS_1
Yang selalu mencintaimu, Sadewa.
🍃🍃🍃
"Hiks...hiks..."
Diandra meremas surat yang begitu panjang itu. Segala ungkapan hati Dewa berada di dalam sana. Wanita yang belum pulih betul itu terus terisak, sampai tak mempedulikan rasa sakit pada perutnya yang jahitannya belum juga kering. Hatinya begitu tersayat-sayat membaca ungkapan hati Dewa itu.
Bryan belum tau apa isi surat itu sehingga membuat Diandra menangis tersedu-sedu seperti itu.
Bryan mencoba meraih kertas yang sudah di remas di genggaman Diandra itu. Namun Diandra justru semakin menyembunyikannya. Seperti tidak ingin jika Bryan melihat isi surat itu.
Meski tampak terkejut karena Diandra mencoba menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi Bryan tetap mencoba untuk tenang.
Melihat Diandra bereaksi seperti ini saat mendapatkan surat cerai dari Dewa. Dan sebuah surat yang Bryan sendiri belum tau isinya, membuatnya semakin yakin jika Diandra sudah mulai goyah.
"Aku akan keluar, aku akan memberimu kesempatan untuk menenangkan dirimu dulu"
"Tunggu Bryan!!"
🌻🌻🌻
Mama Bella melihat putranya yang tidur tengkurap dengan menyembunyikan wajahnya di dalam bantal.
Namu dengan jelas Mama Bella melihat punggung anaknya itu bergetar. Tentu saja rasa sedih juga di rasakan Mama Bella saat melihat Dewa seperti itu.
Mama Bella mendekati Dewa dengan duduk di tepi ranjang. Mengusap halus punggung Dewa tanpa mengeluarkan kata apapun. Hanya ingin menemani Dewa dalan kondisi terpuruk seperti ini.
"Mama??"
Panggil Dewa tapa menyingkirkan bantal yang di jadikannya sebagai penutup kepala. Suaranya pun sedikit teredam oleh bantal.
"Iya sayang??"
Terdengar suara tangisan dari balik bantal itu. Tapi Mama Bella tetap berusaha tenang karena Dewa sudah mau membuka suaranya.
"Kenapa rasanya sesakit ini Ma?? Dewa tidak sanggup menahannya"
Mata Mama Bella langsung memanas hanya mendengar kalimat pertanyaan itu.
"Lepaskan semuanya Dewa, menangislah!! Karena jika kamu semakin menahannya, maka rasanya akan semakin sesak dan sakit"
Dan benar saja, suara yang tadinya hanya isakan kecil kini Dewa mulai meraung. Berteriak dengan bantalnya yang terus digunakannya untuk meredam suaranya.
Hati ibu mana yang tak akan hancur melihat putranya seperti itu. Tapi Mama Bella bisa apa?? Dia tidak mungkin menyeret Diandra untuk datang kesini dan memaksanya untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Yang bisa Mama Bella lakukan saat ini hanyalah sebagai sandaran untuk putra semata wayangnya. Berada di sisinya, mendukung segala keputusan yang telah di ambilnya. Walau sakit, tapi Dewa sidah berusaha mengembalikan sesuatu yangs sedari awal bukanlah miliknya.
🌻🌻🌻
Diandra masih duduk terpaku dengan surat-surat yang ada di tangannya. Dia sudah memahami betul isi surat-surat itu. Bahkan sudah terbesit sebuah rencana di dalam otaknya. Sampai suara pintu yang di sorong dengan keras membuat Diandra tersadar dari lamunannya.
BRAAKKK....
"Diandra!!!"
Bersambung...
__ADS_1