Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
112. Menua bersama


__ADS_3

Setelah pergulatan panas mereka siang tadi hingga menjelang malam, kini Dewa duduk di sisi Diandra yang sedang memberi asi pada Akhtar. Pria satu anak itu terus tersenyum melihat istri dan anak tercintanya.


Dewa sempat ketakutan jika Diandra tadi benar-benar marah dan meninggalkannya. Tapi Dewa justru tak menyangka jika Diandra akan melakukan hal yang baru saja mereka lakukan.


"Kenapa senyum-senyum terus??"


Diandra bertanya pada suaminya namun tanpa melihat wajahnya yang tampan itu.


"Mas bahagia sekali punya kalian berdua" Jawab Dewa dengan memeluk pinggang Diandra dari samping.


"Ohh jadi sekarang udah ingat kalau punya anak istri??" Sindir Diandra pada Dewa.


"Kalau udah di kasih aja baru sadar" Tambahnya lagi.


Dewa menyembunyikan wajahnya di balik bahu Diandra karena malu.


"Bukan gitu sayang. Mas memang sempat kecewa karena Mas kira kamu menolak sentuhan Mas. Tapi Mas sadar tentang perasaan kamu bukan karena hal itu. Mas cinta sama kamu bukan hanya karena masalah ranjang belaka. Tapi semuanya" Jelas Dewa masih memeluk Diandra dari samping.


"Iya-iya Mas Dewa sayang. Manis banget mulutnya kalau lagi ngerayu"


"Iya memang manis, kamu kan baru aja ngerasain" Cibiran Diandra di balas telak oleh Dewa hingga mampu membuat Diandra tersipu malu.


"Apaan sih, nggak lucu deh!!" Diandra berlalih pada Akhtar lagi yang sudah melepaskan sumber kehidupannya.


"Sudah Nak?? Akhtar sudah kenyang ya?? Padahal penuh loh ini" Diandra memasangkan kancing bajunya lagi.


"Buat Papa aja ya Nak?? Papa belum kenyang soalnya" Tangan Dewa sudah bergerak ke depan dada Diandra.


"Mau apa?? Nggak usah aneh-aneh deh!!" Diandra sudah mendelikan matanya pada Dewa. Tatapan garang istrinya itu mampu membuat nyali Dewa menciut.


"Apa sih sayang, bercanda doang galak banget" Dewa menggerutu dengan bibirnya yang manyun seperti anak kecil.


Diandra hanya tersenyum dan beralih ke ranjang untuk merebahkan Akhtar di sana. Diandra juga ikut berbaring di sana meninggalkan Dewa yang masih berada di sofa.


"Sayang" Dewa tak mau jauh dari istrinya sepertinya, karena dia langsung menghampiri Diandra rebahan di ranjang dengan Akhtar di tengah-tengah mereka.


"Apa Mas??" Jawab Diandra dengan manja membuat Dewa gemas.


"Kita pindah rumah yuk??" Diandra langsung terduduk menatap suaminya.


"Kenapa harus pindah??"

__ADS_1


"Mas pingin kasih kamu dan Akhtar rumah. Yang dekat sini aja, nggak usah jauh-jauh. Ini kan rumah Papa dan Mama, takutnya kamu nggak nyaman tinggal disini" Jelas Dewa.


"Enggak Mas. Aku nyaman tinggal disini, aku nggak keberatan tinggal sama Papa dan Mama. Justru aku senang karena aku bisa merasakan punya Ibu lagi Mas"


Setelah beberapa bulan mengenal Mama Bella, kerinduan Diandra kepada ibunya sedikit terobati. Bukan melupakan Mamanya dan di gantikan dengan Mama Bella. Tapi Ada ruang tersendiri di hati Diandra untuk Ibu mertuanya itu.


"Kamu benar nyaman di sini kan sayang??" Diandra mengangguk dengan pasti.


"Jadi kita tetap tinggal disini??" Diandra mengangguk lagi.


"Iya Mas, yang penting sama kamu"


Dewa mengulurkan tangan tangannya untuk Diandra. Menggenggamnya dengan begitu hangat di kepalan tangannya yang besar itu.


"Makasih ya sayang, kamu sudah membuatku merasakan rasa bahagia ini. Istri seperti kamu, dan anak semenggemaskan Akhtar adalah anugrah terindah dalam hidupku. Mari menua bersama, dengan anak dan cucu kita nantinya. Jangan pernah bosan sama aku ya, maaf karena kadang tingkahku seperti anak kecil. Tapi jangan tanyakan sebesar apa cintaku padamu sayang. Karena aku pun tak bisa mengukurnya"


Diandra sampai tak bisa bersuara karena kata-kata manis dari suaminya itu. Yang jelas dia juga bahagia saat ini. Siapa yang menyangka, pernikahan yang di awali dengan penentangan dan sumpah serapah kini menjadi begitu membahagiakan seperti itu.


Anggukan kecil dari diandra sudah membuat Dewa puas. Dalam hati Dewa yang paling dalam, dia bertekad untuk tidak lagi melakukan hal-hal bodoh lagi. Berpikir jernih dalam sebuah hubungan mungkin saja akan membuat rumah tangga harmonis nantinya.


🌻🌻🌻


Tara merasa risih karena Bryan terus mengikutinya sampai ke parkiran. Belum lagi dia yang tadi tiba-tiba datang ke kantornya membawa makanan untuk Tara. Perubahan Bryan itu membuat Tara merasa aneh meski di dalam hatinya dia merasa senang.


"Aku nau ajak kamu ke suatu tempat. Aku yakin kamu suka" Tanpa persetujuan Tara, Bryan langsung menarik tangan Tara begitu saja menuju mobilnya.


Kali ini Tara diam saja, dia juga tak memberontak ketika Bryan menyuruhnya masuk ke dalam mobil Bryan.


Selama di dalam mobil Tara lebih memilih diam menutup matanya. Sama sekali tidak menghiraukan Bryan yang terus mengajaknya bicara.


Meski kesal, Bryan tetap mencoba tenang. Tara akan semakin marah kepadanya kalau sampai Bryan menunjukkan kekesalannya.


Kurang lebih dua jam perjalanan dari kantor Tara yabg berada di pusat kota menuju tempat yang di tuju mereka berdua.


"Sudah sampai"


Bryan melepas seatbeltnya lalu turun lebih dulu. Suasana yang asri dengan suara memercik dedaunan yang tertiup angin menyambut kedatangan Bryan di tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya itu.


"Sudah sering ke tempat ini??" Tara sudah turun ikut menikmati udara sejuk dari atas bukit di pedesaan itu.


"Dulu, tapi sekarang jarang karena sibuk" Dewa duduk di bangku kayu yang tepat berada di bawah pohon besar di sana.

__ADS_1


"Sama Diandra??" Sepertinya Tara lupa membawa ketusnya di sana saat ini.


"Tidak, dia tidak suka gunung. Dia suka pantai"


"Lalu bagaimana kamu yakin kalau aku akan menyukai tempat ini??" Tanya Tara lagi.


"Hanya menebak saja" Bryan mengedikkan bahunya. Kembali menikmati udara sore di bukit itu.


"Tara, kenapa kami belum mau menerimaku?? Bukankah awalnya kamu yang memintaku memberikan kesempatan untuk kamu??"


Tara tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Bryan.


"Seandainya saja kamu benar-benar memberiku aku kesempatan, tanpa penolakan dan penghinaan itu, tidak mungkin seperti ini jadinya." Bryan langsung lemas mendengar jawaban dari Tara.


Bryan sadar jika dirinya salah dari awal. Kemudian saat bertemu Tara pertama kalinya sejak penolakan waktu itu, sikap Tara yang acuh kepadanya membuat Bryan penasaran. Sampai akhirnya, Bryan mulai sadar jika dirinya tertarik dengan Tara.


"Maafkan aku soal itu Tara. Tapi aku mohon sama kamu, berikan aku kesempatan. Aku akui aku mulai tertarik denganmu Tara. Jadi bantu aku untuk belajar mencintaimu" Pinta Bryan dengan yakin.


Tara menatap mata Bryan dan tak menemukan apapun di sana. Justru Tara ragu dengan dirinya sendiri.


"Jujur aku sebenarnya merasa aneh dengan perubahan sikap kamu ini Bry. Aku ragu kamu mendekatiku bukan karena kamu mencintaiku. Aku takut jika kaku hanya penasaran saja denganku Bry" Kali ini Bryan melihat wajah Tara yang mulai sendu. Seperti saat Bryan menolak Tara waktu itu.


"Lalu bagaimana caranya agar kamu percaya padaku Tara?? Katakan!! Aku akan lakukan apapun asal kamu membuang rasa ragu mu itu"


Tara tampak diam, dia tidak menyangka Bryan akan benar-benar serius menanggapi ucapannya itu.


"Jangan temui aku" Tara menatap lurus ke depan tanpa melihat Bryan yang begitu tak terima dengan permintaan Tara.


"Mana mungkin Tara!! Bagaimana bisa aku tidak menemui ka...."


"Hanya satu bulan" Sela Tara. Tara beralih menatap Bryan.


"Kita beri perasaan kita waktu satu bulan untuk meyakinkan hati masing-masing. Yakinkan dulu hatimu dan aku pun begitu, aku tidak mau kamu menyesal nantinya jika sudah salah memilihku. Setelah itu, kalau kamu sudah yakin dengan perasaanmu, kita bertemu lagi di sini tepat satu bulan di tanggal dan jam yang sama seperti hari ini. Bagaimana??"


"Kalau salah satu dari kita ternyata sudah mendapatkan jawaban yang berbeda bagaimana??" Bryan takut perpisahan satu bulan ini akan membuat hatinya yang sedang belajar mencintai Tara itu berubah.


"Maka tidak usah datang" Jawab Tara dengan mudahnya.


"Baiklah, aku setuju" Jawab Bryan setelah meyakinkan hatinya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2