
Pagi ini Diandra terbangun dengan keadaan yang lebih segar, tidak seperti kemarin yang masih lemas karena luka pada kakinya.
Saat melihat ke sisi kirinya, Diandra sudah tidak melihat Dewa berada di sana.
"Pantas saja ini sudah jam 8, kenapa aku bisa bangun kesiangan begini?? Mas Dewa juga tidak membangunkan aku" Diandra meletakkan ponselnya kembali setelah melihat jam di sana.
Diandra menegangkan ototnya, lalu berlahan mulai bangkit dan duduk beberapa saat di pinggiran ranjang.
Berusaha untuk memijakkan kakinya dengan berlahan. Meski masih terasa sakit tapi Diandra masih bisa menahannya. Dia bukan orang lumpuh yang setiap saat harus di gendong oleh Dewa. Hanya sobekan pada telapak kakinya saja tidak harus membuatnya bermanja-manja.
Meski tertatih akhirnya Diandra bisa sampai ke kamar mandi. Hanya menggosok gigi dan mencuci wajahnya saja. Karena Diandra ingat hari ini adalah kepulangan Bryan, ia ingin segera menemuinya sebelum pria itu kembali ke kota. Sedikit menenangkannya mungkin akan lebih baik dari pada Bryan pergi dengan kesalahpahaman.
Jarak dari kamar Diandra ke bawah tidaklah terlalu jauh seharusnya. Tapi keadaan kakinya yang seperti membuatnya begitu lama untuk sampai ke bawah. Bahkan Diandra harus berhenti beberapa kali saat menuruni anak tangga.
"Ely??" Diandra melihat Ely yang baru saja masuk dari pintu depan.
"Iya Nyonya" Ely yang selaku terlihat rapi dengan baju seragamnya mendekati Diandra yang terlihat jelas sangat kesusahan ketika berjalan itu.
"Apa kamu melihat Mas Dewa??"
"Tuan Dewa sudah pergi sejak masih gelap tadi Nyonya"
"Kemana??" Diandra begitu penasaran karena Dewa juga tidak menyinggung apapun semalam.
"Saya tidak tau Nyonya, tapi Tuan berpesan kalau beliau akan segera kembali sebelum makan siang tiba" Diandra manggut-manggut mendengar penjelasan Ely.
Tapi Diandra juga merasa penasaran karena semalam Dewa tak menyinggung apapun tentang kepergiannya pagi ini.
"Kalau Bryan??"
"Kalau Tuan Bryan baru saja pergi Nyonya"
"Apa?? Jadi Bryan sudah pergi??" Diandra sedikit kecewa karena Bryan tidak menemuinya terlebih dahulu sebelum pergi.
"Benar Nyonya, tadi Tuan Bryan sempat menunggu Nyonya. Tapi karena Nyonya tak kunjung keluar, Tuan Bryan akhirnya memutuskan untuk pergi"
Diandra hanya terdiam tak menyahut satu kata pun perkataan Ely. Pelayan yang masih terlihat muda itu pun pergi meninggalkan Diandra karena tak ada reaksi apapun dari Nyonya mudanya itu.
__ADS_1
"Diandra, Diandra. Apa aku harus ikut prihatin atas kemalangan yang menimpa dirimu??" Siapa lagi jika bukan si wanita pengganggu, yaitu Manda.
Sambil tangannya di lipat di depan dada. Manda begitu tegak mengangkat wajahnya saat berhadapan dengan Diandra.
"Kau hamil dengan orang yang tidak kau cintai. Dan sekarang Dewa justru mulai mempercayai ku lagi. Lalu Bryan yang pergi meninggalkan mu. Ditambah kakimu yang terluka saat ini. Sungguh malang nasibmu Diandra" Kata demi kata yang keluar dari mulut Manda itu seperti sudah tidak bisa disaring lagi.
"Tidak perlu Manda. Justru akulah yang harus prihatin dengan keadaanmu itu" Diandra menatap manik mata Manda dengan berani.
Di ruang tamu yang luas itu sudah terjadi ketegangan dia atara dua wanita itu.
"Kenapa kau harus prihatin denganku?? Kau sama sekali tidak tau tentang hidupku!!" Manda justru geram dengan balasan Diandra itu. Padahal dia sendiri yang memulai pertikaian.
"Bagaimana aku tak khawatir?? Kau sampai rela menjadi wanita bermuka dua seperti ini hanya untuk menarik perhatian Mas Dewa. Dimana Manda yang bertutur kata lembut, dengan senyumnya yang menawan saat mencoba meraih hati Mas Dewa itu?? Kenapa yang di hadapanku saat ini justru barang bekas yang sedang mengeluarkan aroma busuknya"
Manda tak menyangka jika Diandra akan mengeluarkan balasan sesadis itu kepadanya.
Tangan Manda sudah terangkat hendak melayangkan tamparan untuk Diandra tapi tangannya terasa berat karena seseorang datang untuk menahannya.
"Tara?? Apa yang kau lakukan!!" Manda terkejut karena Tara lah yang menahan tangannya.
"Jangan gunakan kekerasan Kak, aku tidak pernah setuju dengan itu!!"
"Kak Manda dulu yang memulainya kan?? Sudahlah Kak, dapatkan hati Kak Dewa dengan cara yang benar. Jangan seperti ini!! Ingat, dia sedang mengandung anaknya Kak Dewa!!"
Manda benar-benar tidak tau apa yang terjadi dengan Tara saat ini. Kenapa wanita yang dari dulu katanya sangat mencintai Dewa itu justru sekarang mulai bersimpati pada Diandra.
"Apa kepalamu terbentur sesuatu Tara?? Kenapa kau membelanya?? Apa sekarang kau bersekutu dengannya??"
"Aku tidak membela siapapun. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Karena Kak Dewa pasti akan marah besar kalau sampai tau apa yang kamu lakukan pada istrinya"
Tara dan Manda yang awalnya bertujuan sama yaitu untuk mendapatkan Dewa kini mulai tak sejalan.
"Kamu aneh Tara, benar-benar aneh" Manda belum percaya dengan apa yang sejak tadi Tara katakan itu.
"Dari kemarin aku sempat bertanya-tanya. Guna-guna apa yang kau gunakan sampai Dewa bisa tergila-gila padamu. Dan sekarang lihatlah!! Apa Tara juga sudah mulai kau guna-guna??" Manda beralih pada Diandra yang sejak tadi hanya menyaksikan pertengkaran tak berfaedah antara dua sekutu itu.
"Kau penasaran kenapa Mas Dewa bisa mencintaiku sedalam itu?" Diandra bersiap akan melayangkan serangan ke dua.
__ADS_1
Manda memang diam tapi Diandra tau kalau wanita itu menunggu Diandra mengatakan jawabannya.
"Karena Mas Dewa suka wanita yang wangi, tidak berbau busuk sepertimu" Balasan telak dari Diandra mampu membuat Manda murka.
"Wanita tak tau diri!! Siapa yang mengijinkan mu menghinaku seperti ini?? Lihat saja!! Aku akan membuat Dewa mencampakkan mu secepatnya. Tidak akan ada lagi Dewa yang tergila-gila dengan mu. Yang ada hanya Dewa yang akan jijik hanya dengan melihat wajahmu saja" Kilatan kemarahan jelas terlihat di mata Manda.
"Benarkah?? Aku tunggu kau membuktikan omongan mu itu" Tanpa rasa takut sedikitpun. Diandra justru menantang Manda dengan berani.
"Dee??"
Diandra langsung mengalihkan tatapannya dari Manda ke arah suara itu.
"Mas??"
"Apa yang kalian lakukan disini?? Dan kamu kenapa berdiri seperti itu?? Kakimu masih sakit kan??"
Diandra tersenyum manis menyambut suaminya yang telah kembali itu. Perhatiannya pada Diandra memang tidak perlu di ragukan lagi. Baru saja masuk sudah jelas terlihat kekhawatiran dari Dewa.
"Kami hanya mengobrol saja Mas. Dan kakiku mulai bisa bergerak dengan leluasa, tidak seperti kemarin. Jadi kamu tidak perlu khawatir" Diandra melirik pada Manda yeng terlihat sangat masam melihat kemesraan suami istri itu.
"Kak Dewa dari mana??" Tara menanyakan itu karena melihat Dewa datang dengan pakaian yang serapi itu di pagi hari seperti ini.
"Ada kerjaan di luar" Dewa memang selalu menjawab dengan sesingkat itu pada siapapun.
"Kata Ely kamu akan kembali sebelum makan siang, tapi kok ini udah pulang??" Diandra benar-benar sengaja berkata dengan semanis mungkin di depan Manda.
"Aku khawatir sama kamu. Jadi pingin cepat-cepat pulang" Dewa sudah berasa di samping Diandra. Meraih tangan itu untuk membantunya berdiri dengan tegak.
"Kalau gitu, bantu aku ke kamar ya Mas??" Lagi-lagi Diandra melirik pada Manda ketika mengatakan itu pada Dewa. Melihat wajah masam dari Manda membuat Diandra semakin gencar melakukan aksinya.
"Boleh, mau gendong atau jalan sendiri??" Dewa bahkan tak mempedulikan dua wanita lain di sana.
"Sebenarnya bisa saja aku jalan sendiri. Tapi pasti butuh waktu yang lama. Jadi kalau kamu nggak keberatan, gendong boleh??" Diandra sedikit manja saat ini.
"Tentu saja boleh" Dewa langsung mengambil posisinya. Menggendong Diandra yang sama sekali tidak terasa berat sedikitpun di tangannya meski kandungan Diandra sudah membesar.
Dewa mulai melangkahkan kakinya menjauh. Tangan Diandra juga sudah bertengger cantik di leher Dewa.
__ADS_1
Tapi dengan senyuman kemenangannya, Diandra melambaikan tangan ke arah Manda yang sedari tadi diam membisu, menyaksikan kemesraan yang sengaja Diandra buat untuk membuatnya semakin terbakar.
Bersambung...