
"Mama, Papa??" Gumam Dewa dengan wajahnya yang tampak pias karena tidak menyangka kedua orang tuanya akan tiba di sana.
"Apa yang terjadi padamu sayang?? Kenapa jadi seperti ini??" Mama Bella langsung menghambur memeluk Dewa.
Diandra berdiri sedikit menyingkir dari Dewa. Diandra juga bingung jika mereka bertanya, dia akan memperkenalkan diri sebagai siapa.
"Dewa nggak papa kok Ma, ini kan sudah biasa terjadi"
"Lihatlah anakmu ini Pa, dia tidak tau orang tuanya begitu khawatir. Tapi dia malah menganggap semuanya enteng seperti ini" Adu Mama Bella pada suaminya.
"Biarkan saja Ma, di laki-laki. Dia memang harus kuat, nggak boleh lembek" Dewa memberikan jempolnya pada Papanya.
Diandra hanya memperhatikan interaksi orang tua dan anak itu tanpa nimbrung sekalipun. Dia menangkap dari cara mereka memperlakukan Dewa sepertinya kedua orang tuanya sangat menyayangi Dewa.
"Dasar Ayah dan anak sama saja, tidak ada yang pernah mendukungku sama sekali" Mama Bella menggerutu lalu melirik Diandra.
Diandra yang sadar akan tatapan itu mulai menundukkan kepalanya. Ada rasa takut di dalam hatinya, menghadapi Nyonya besar itu.
Jantungnya sudah mulai tak karuan hanya dengan mendapatkan lirikan dari Mama Bella. Gugup sudah pasti, apalagi Diandra sadar jika Mama Bella mulai memperhatikan perutnya yang
membesar itu. Diandra hanya pasrah, mau berusaha bagaimanapun untuk menutupi perutnya, pasti Mama Bella akan melihatnya juga karena ukuran perutnya yang sudah besar.
"Kamu?? Siapa nama kamu??"
Sebenarnya ambigu sekali pertanyaan dari Mama Bella itu. Tidak jelas untuk siapa, tapi di ruangan itu hanya dirinyalah yang orang asing. Jadi Diandra menyimpulkan pertanyaan itu di tujukan untuknya.
Dewa tau saat ini Diandra pasti ketakutan. Tadi di dalam hatinya juga merasakan hal yang sama. Dewa takut kemarahan Mama dan Papanya akan meledak sekarang juga, jika tau Diandra adalah istrinya.
"Sa-saya Diandra tante" Jawab Diandra setelah memberanikan diri mengangkat kepalanya.
"Oh, Diandra. Jadi kamu mau berpihak sama mereka apa sama Mama??"
"Eh??" Diandra belum bisa menangkap apa yang di katakan wanita cantik di depannya itu.
Berbeda halnya dengan Dewa yang sudah bisa menebak jika kedua orang tuanya sudah mengetahui tentang pernikahannya.
"Jadi gimana?? Kamu di pihak yang mana?? Kamu mau dukung suami sama Papa mertua kamu??" Baru Diandra menyadari jika mereka sudah tau pernikahan mereka.
__ADS_1
"Tunggu Ma!! Jadi Mama tau kalau Dewa sudah menikahi Diandra??" Bahkan Dewa sampai terduduk dengan tegak saking terkejutnya.
"Menurut kamu??" Mama Bella mendelik pada putra semata wayangnya itu.
"Dewa, Papa sama Mama memang jauh dari kamu. Tapi mata dan telinga Papa ada di mana-mana. Papa juga tau betul bagaimana kamu bisa menikahi Diandra waktu itu" Dewa tertunduk lesu mendengar penuturan Papanya. Dewa lupa satu hal, jika dirinya berkuasa maka Papanya lebih berkuasa. Dan Dewa menganggap Papanya diam selama ini karena tidak tau. Tapi nyatanya mereka hanya menjadi penonton untuk drama yang di bintangi oleh anaknya.
"Mama sebenarnya kecewa karena kamu menikahi Diandra dengan cara seperti itu. Entah alasannya karena kamu terlalu mencintainya atau apapun itu. Tapi karena semuanya sudah terjadi, jadi Mama berhadap kalian bisa bahagia dalam pernikahan kalian"
Diandra sempat terpaku mendengar penuturan lembut dari Mama Bella. Wanita yang sudah berumur lebih dari separuh abad itu terlihat begitu anggun dan cantik. Sedari tadi Diandra juga mengagumi paras menawan dari kedua orang tua Dewa yang selama ini hanya bisa dia lihat melalui surat kabar saja.
Tampan dan cantik, entah bagaimana rupa masa muda mereka jika saat sudah berumur seperti ini masih terlihat begitu mempesona. Tak heran jika Dewa begitu tampan, ternyata pabriknya saja seperti itu. Kombinasi yang sangat pas dari keduanya menghasilkan produk yang sangat luar biasa.
Tapi dari penuturan Mama Mertuanya itu, Diandra sedikit banyak bisa menyimpulkan jika mereka tidak tau kalau Diandra dan Dewa akan segera berpisah setelah Diandra melahirkan anaknya.
"Kemarilah Diandra!!" Mama Bella mengulurkan tangannya pada Diandra yang berdiri agak jauh dari mereka.
Diandra sempat melirik Dewa sebentar karena merasa ragu pada dirinya sendiri, dan anggukan Dewa membuatnya meraih uluran tangan Mama Bella.
"Maafkan Diandra karena baru bisa menyapa Tante dan Om di saat yang seperti ini" Diandra mencium tangan yang di raihnya tadi.
"Kita orang tua kamu sekarang jadi panggillah dengan semestinya" Perintah Mama Bella dengan senyum tulusnya.
Dewa mendengus tak terima dengan perkataan Papanya itu.
"I-iya Pa Ma, maafkan Diandra karena masih canggung" Diandra tidak menyangka jika dirinya akan di terima semudah itu oleh mereka.
"Tidak papa, lama-lama kamu akan terbiasa" Kemudian Mama Bella beralih pada perut Diandra yang tampak menggemaskan itu.
"Lihatlah Pa, kita akan punya cucu. Mama sudah tidak sabar lagi. Berapa usianya Nak??" Diandra semakin merasa bersalah melihat kebahagiaan orang tua Dewa. Membayangkan bagaimana reaksinya saja Diandra sudah ketakutan.
"Hampir 8 bulan Ma" Diandra mengusap.
"Laki-laki atau perempuan kata Dokter??" Sekarang giliran Papa Elang hang ikut bertanya.
"Mama sih pinginnya anak perempuan" Celetuk Mama Dewa.
"Tapi dia laki-laki Ma. Dia sepertinya menuruti keinginan Papa yang ingin cucu laki-laki"
__ADS_1
Dewa memang tau betul jika dari dulu Mama Bella ingin sekali mempunyai anak perempuan. Tapi karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Papa Elang melarang Mama Bella untuk mempunyai anak lagi. Jadi Mama Bella hanya berharap kelak jika punya cucu, maka dia menginginkan bayi perempuan.
"Alhamdulillah, akhirnya Papa di beri cucu laki-laki" Papa Elang begitu bahagia sampai satu tangannya mengepal ke atas.
"Ya udah nggak papa, laki-laki perempuan sama saja, yang penting sehat. Lagi pula Mama juga sudah punya anak perempuan" Dewa dan Papa Elang menatap penuh selidik pada Mama Bella.
Tapi Mama Bella justru merangkul pundak Diandra yang berada di sampingnya.
"Kamu mau kan jadi anak perempuan Mama?? Bukan menantu, tapi anak perempuan Mama!!"
Diandra begitu terharu dengan kasih sayang yang di berikan Mama Bella walau hanya baru sekali bertemu, tapi wanita cantik itu langsung menunjukkan kepeduliannya pada Diandra. Hal itu membuatnya teringat Ibu kandungnya sendiri.
"Mau Ma, Diandra mau. Terimakasih Ma" Mata Diandra berkaca-kaca.
Dengan perasaan keibuan Mama Bella menarik Diandra ke dalam pelukannya.
"Kamu merindukan Ibumu ya?? Mulai saat ini anggaplah Mama Ibumu, jangan pernah sungkan mengatakan apa yang kamu rasakan sama Mama" Diandra merasakan tepukan halus pada punggungnya.
Betapa bahagianya Dewa saat ini, melihat orang-orang yang dia cintai berkumpul di ruangan itu. Kata bahagia mungkin tak cukup menggambarkan perasaannya saat ini.
Mama Bella mengurai pelukannya pada Diandra karena merasakan tubuh menantunya itu begitu panas.
"Kamu demam??" Mama Bella menyentuh kening dan pipi Diandra.
"Apa Ma?? Demam??" Dewa sudah terlihat panik.
"Enggak kok Ma, ini karena aku lelah saja" Diandra masih mengelak meski mulai merasakan gemetar pada tubuhnya.
"Bukan, ini bukan karena itu. Papa cepat lakukan sesuatu. Diandra butuh perawatan!!" Mama Bella sudah mulai tak tenang.
"Papa cari Dokter dulu" Papa Dewa langsung berlari keluar dari ruangan anaknya.
"Dee, kamu pucat sekali" Dewa begitu khawatir, ingin sekali rasanya memeluk Diandra saat ini. Tapi keadaannya sendiri sedang tidak memungkinkan.
"Aku tidak papa Mas" Tapi Diandra memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar.
"Dee!!"
__ADS_1
Bersambung...