
Suara pintu terbuka menyadarkan Diandra dari lamunannya. Tentu saja si pemilik kamar yang satunya lagi yang bisa bebas masuk ke dalam sana. Diandra mengukir senyuman tipis untuk menyambutnya meski hanya di balas dengan sebuah lirikan saja.
"Mas Dewa mau mandi??" Tanya Diandra yang mengikuti Dewa ke walk in closetnya. Melihat Dewa membuka lemari membuat Diandra menyimpulkan seperti itu.
"Hemmm" Menurut Diandra itu bukan sebuah jawaban tapi sakit tenggorokan.
"Mau aku ambilkan baju gantinya??" Tanya Diandra saat Dewa masih terdiam menatap lemari bajunya yang sudah terbuka.
"Tidak usah, aku akan ambil sendiri. Kamu sudah makan??" Dewa sama sekali tidak menghilangkan perhatiannya pada Diandra. Meski terus bersikap dingin dan enggan menatap mata Diandra.
"Belum"
"Makanlah, kamu sedang hamil. Jangan sampai telat makan" Ucap Dewa yang telah berhasil memilih baju gantinya.
"Tapi Mas Dewa juga belum makan"
"Aku nanti saja, tidak usah pikirkan aku" Jawab Dewa sembari berjalan ke kamar mandi.
"Mas" Langkah Dewa berhenti.
"Mas, maafkan soal Bryan yang ting.."
"Tidak papa yang penting kamu bahagia. Dengan begitu anakku juga pasti akan bahagia di dalam sana" Dewa memotong kalimat Diandra dengan jawaban
"Hanya untuk beberapa hari Mas.Sekali lagi maafkan aku karena dengan lancangnya Bryan tinggal di rumahmu"
Dewa tersenyum kecut di balim punggungnya. Tanpa jawaban apapun ia menghilang di balik pintu kamar mandi.
Dewa berdiri di bawah guyuran air hangat yang terasa begitu menenangkan. Susah beberapa menit berlalu tapi Dewa belum berniat untuk mematikan showernya. Dia masih berdiri dengan tenang memikirkan masa depannya nanti.
Anaknya yang sebentar lagi akan lahir tanpa adanya seorang ibu untuknya. Hidup berdua dengan anaknya tanpa wanita yang dicintainya.
Dewa merasakan sakit yang teramat sangat saat membayangkan dia menceraikan Diandra tepat di hari putra mereka lahir. Hanya dengan begitu saja membuat air mata Dewa mampu turun dan tersamarkan dengan derasnya air yang membasahi tubuhnya.
"Apa saat itu aku akan sanggup melepaskan mu Dee. Maafkan aku yang terlalu mencintaimu hingga melakukan hal sebodoh ini. Jika aku tidak menuruti egoku untuk memilikimu, pasti rasanya tidak akan sesakit ini" Ucap Dewa yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
🌻🌻🌻
Dia kembali melihat ke arah tangga berharap Dewa muncul dari sana. Diandra belum menyentuh makanannya kembali bukan karena tak menemukan Bryan di sana. Melainkan karena menunggu datangnya Dewa ke meja makan.
Tiba-tiba Diandra rindu saat awal-awal kehamilannya. Dewa dengan sabar akan menyuapinya makan. Membuatkan susu hamil untuknya, menyiapkan vitamin yang harus rutin di minumnya.
"Kenapa belum di makan??" Suara Dewa membuyarkan lamunan Diandra.
__ADS_1
"Mas??" Diandra mendongak menatap wajah Dewa yang begitu tampan dengan rambut basahnya.
"Kenapa makanannya cuma dilihatin aja??" Dewa kini sidah duduk di samping Diandra.
"Aku nungguin kamu" Memang benar apa yang dikatakan Diandra.
"Kalau kamu lapar makanlah dulu jangan menungguku" Dewa ingi mengambil sarapannya namun di cegah oleh Diandra.
"Biar aku saja Mas" Dewa membiarkan piring yang sudah beralih ke tangan Diandra itu.
"Pacarmu ke mana??" Tanya Dewa sambil menyuap sarapannya.
Diandra sedikit tersentak karena Dewa menanyakan keberadaan Bryan.
"Dia sedang keluar Mas" Jawab Diandra tak berani menatap Dewa.
"Ohh"
"Mas, besok jadwalku periksa ke Dokter. Kamu ada waktu kan??" Diandra tak ingin ada kecanggungan diantara mereka. Maka dari itu Diandra mencoba mencari bahan pembicaraan yang mampu menarik perhatian Dewa.
"Aku selalu ada waktu untuk kamu dan anakku" Jawaban yang sangat menghangatkan bagi istri ketika suaminya menjawab seperti itu. Tapi bagi Diandra kenapa terasa begitu menyakitkan. Apalagi Dewa tidak pernah lagi mau menatap wajahnya.
"Baiklah Mas, tapi besok jangan naik heli kaya kemarin lagi ya Mas. Aku takut, kepalaku pusing rasanya" Ucapan manja Diandra itu membuat Dewa gemas namun tak bernai untuk sekedar mencubit kecil pipinya yang berisi itu.
"Iya, besok dokternya yang akan datang sendiri ke sini. Kehamilan kamu sudah besar jadi tidak bagus untuk perjalanan jauh"
"Iya" Dewa masih fokus pada sarapannya yang hampir habis itu.
"Lalu alat-alatnya??"
"Sudah aku siapkan. Tidak usah pikirkan itu"
"Beruntungnya wanita yang kelak akan mendampingi mu Mas, kamu ternyata berbeda dari Dewa yang pertama aku lihat dulu. Kamu baik, perhatian, kamu sayang dengan anak dan istrimu. Meski aku akan berpisah darimu tapi aku semat merasakan perhatianmu itu" Puji Diandra dalam hatinya.
"Aku sudah selesai, aku kerja dulu" Dewa langsung pergi begitu saja, dia tidak melihat raut kekecewaan dari Diandra.
"Kenapa aneh sekali saat dia meninggalkan aku begitu saja. Apa sudah terlalu sering bersama jadi rasanya aneh kalau ditinggal begini??" Gumam Diandra.
Dia menatap ke seluruh penjuru ruangan, ruang makan yang terbuka langsung terhubung dengan ruang tamu itu jadi terlihat tampak luas dan lenggang. Suasananya sepi tanpa ada seorangpun berseliweran di sana. Termasuk kedua wanita pengganggu itu yang hanya tampak tadi saat kedatangan Bryan saja.
Tapi Diandra cukup bersyukur karena saat ini dia sedang malas berdebat dengan mereka berdua.
"Anak Papa, apa besok kamu yang akan meramaikan rumah ini?? Rumah ini begitu sepi, jadi ubah suasana ini menjadi hangat setelah kehadiranmu ya??" Ucap Diandra dengan mengusap lembut perutnya yang berusia 6 bulan itu.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Tok..tok..tok..
"Masuk!!"
Dewa melihat ke arah pintu. Mematikan siapa yang akan masuk dari sana.
"Mas, aku buatkan kopi untuk kamu" Ternyata Diandra yang muncul dengan kopi harumnya.
Diandra berjalan mendekat dengan secangkir kopi hitam untuk Dewa.
"Terimakasih, kamu tidak perlu repot seperti ini. Aku bisa meminta Ely untuk membuatkannya untukku"
"Aku tidak merasa seperti itu"
Berlahan Diandra meletakkan kopinya ke atas meja namun tak sengaja tangan kanan Diandra tergelincir hingga kopi itu tumpah mengenai tangan kirinya.
"Aakhhhh panas!!"
Diandra mengibaskan tangannya yang terasa terbakar itu.
"Dee, kenapa ceroboh sekali!!" Dewa menyambar beberapa lembar tisu untuk mengusap tangan Diandra yang basah.
"Aww panas sekali Mas" Diandra hampir menangis dengan tangannya yang memerah itu.
Dewa menarik Diandra ke kamar mandi. Meletakan tangan Diandra itu di atas wastafel lalu mengguyurnya dengan air yang mengalir.
"Biarkan seperti ini dulu sampai minimal 15 menit. Aku ambil obat dulu" Dewa pergi dari sana meninggalkan Diandra yang mematuhi perintah Dewa dengan tangannya yang tetap terguyur air dingin.
Setelah beberapa menit berlalu, Dewa kembali lagi ke dalam kamar mandi.
"Sudah, ayo keluar"
Dewa mengajak Diandra duduk di sofa. Di atas meja itu susah ada obat-obatan yang di siapkan Dewa tadi.
Dewa menarik tangan Diandra ke pangkuannya. Kemudian mengoleskan salep yang terasa dingin ke permukaan kulit Diandra yang memerah.
"Untung saja tidak melepuh Dee, ini hanya memerah saja. Makanya kalau hati-hati saat melakukan apapun itu. Kamu itu ceroboh sekali" Dewa meniup tangan Diandra dengan pelan.
Diandra terus memandangi wajah tampan itu dari samping. Tak salah memang jika dia mengakui ketampanan milik Dewa. Hidung mancungnya, alis tebalnya, rahang tegasnya. Semuanya begitu sempurna ketika di rangkai menjadi satu dalan bingkai wajah Dewa.
Diandra mendekatkan wajahnya pada wajah Dewa yang sedikit menunduk karena meniup tangan Diandra itu. Hingga..
__ADS_1
Cup..
Bersambung...