
Setelah permintaan maafnya beberapa minggu yang lalu Tara benar-benar menjadi Tara yang berbeda. Lebih sering diam dan jarang keluar kamar. Bahkan Tara belum berani untuk berhadapan secara langsung dengan Dewa.
Tapi pikirannya sudah tidak lagi berpusat pada Dewa, dia benar-benar membuka pikirannya seperti kata Bryan waktu itu.
Dan anehnya Tara justru mengingat Bryan di setiap dia menghapus semua perasaanya pada Dewa. Tara juga tidak tau kenapa pikirannya justru di penuhi oleh kekasih Diandra itu. Bahkan di history media sosialnya hanya terisi nama Bryan. Untuk pertama kalinya ini Tara menjadi seorang stalker.
Tara bahkan sempat berpikiran untuk kembali ke kota. Mungkin jika dia kembali, dia bisa dengan mudah bertemu Bryan. Tapi Tara masih takut untuk meminta ijin pada Dewa untuk keluar dadi rumah itu.
Hingga Tara berpikir untuk menemui Diandra. Dia berpikir jika meminta bantuan pada Diandra pasti Dewa bisa memaafkannya. Mengingat betapa menurutnya Dewa pada Diandra.
Dan saat ini Tara sudah berdiri di depan kamar Diandra. Tara tau jika saat ini pasti Dewa sedang sibuk di ruang kerjanya. Maka dari itu, Tara memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Diandra.
"Tara??" Belum sempat Tara mengetuk pintu itu tapi Diandra sudah membukanya dari dalam.
" Diandra emmm, kebetulan sekali ada yang ingin aku bicarakan"
Tara terlihat sangat gugup di depan Diandra. Ini untuk pertama kalinya Tara berbicara dengan Diandra tanpa urat dan tanpa persaingan.
"Ada apa Tara??" Diandra juga terkejut karena di depan pintu kamarnya sudah ada Tara yang menunggunya.
"Diandra sebelumnya aku minta maaf untuk sikapku sejak pertama kali kita bertemu. Sekarang aku sadar jika aku salah. Aku tidak seharusnya menentang hubunganmu dengan Kak Dewa. Jadi aku berharap kamu mau memaafkan ku" Masih terlihat kecanggungan pada Tara saat berbicara sehalus itu pada Diandra.
"Aku sudah memaafkan mu Tara. Aku tidak pernah memasukkan semuanya ke dalam hati. Aku selalu menganggapnya hanya angin lalu belaka. Jadi kamu tenang saja. Jangan terlalu di pikirkan. Jika akau jadi kamu, aku juga pasti akan memperjuangkan cintaku tapi mungkin dengan cara yang benar"
Tara langsung merasa tersindir jika apa yang dilakukannya itu memanglah salah.
"Jadi benar kamu sudah memaafkan ku Dee??" Diandra mengangguk dengan pertanyaan Tara itu.
"Terimakasih Diandra. Kalau gitu, apa sekarang kita berteman??" Tara mengulurkan tangannya pada Diandra.
Tanpa ragu Diandra pun langsung menyambut uluran tangan Tara. Tak ada salahnya dia mencoba berteman dengan salah satu orang yang paling dekat dengan Dewa sejak kecil. Siapa tau dia bisa mengetahui hal-hal yang bersangkutan dengan Dewa melalui Tara.
"Tapi Dee, bolehkah aku minta bantuan darimu??"
Layaknya Tara meminta maaf hanya untuk memanfaatkan kebaikan Diandra saja. Tapi sungguh Tara benar-benar tulus meminta maaf pada Diandra.
"Bantuan??" Diandra mengerutkan keningnya.
"Diandra, bisakah kamu membantuku untuk mendapatkan maaf dari Kak Dewa?? Aku takut jika harus menghadapnya sendirian. Tapi pasti Kak Dewa akan menahan amarahnya jika ada kamu Dee. Aku tau kamu pasti berpikir jika aku memanfaatkan mu setalah kamu memaafkan aku. Tapi sungguh Dee aku tidak berniat seperti itu. Jadi aku mohon maafkan aku" Tara sampai mengatupkan tangannya di depan dada.
"Aku tidak berpikir seperti itu Tara. Baiklah, aku akan membantumu. Tapi nanti bicaralah sendiri dengan Mas Dewa. Aku hanya akan menjembatani kalian berdua saja"
"Terimakasih Diandra" Tara tampak begitu senang sampai menggenggam kedua tangan Diandra.
"Ayo kita temui Mas Dewa di ruang kerjanya"
Tara mengangguk mengikuti Diandra yang berjalan di depannya.
"Kakimu sudah sembuh??"
__ADS_1
"Setidaknya sudah lebih baik. Sudah bisa berjalan normal meski sedikit sakit" Diandra tersenyum tipis melihat Tara yang sebenarnya hangat itu.
Diandra menatap Tara sebelum mengetuk pintu ruang kerja Dewa itu, karena Tara tampak menghentikan langkahnya sedikit ragu untuk masuk ke dalam sana.
"Kenapa?? Tidak usah ragu, niatmu baik" Akhirnya Tara mengambil nafas dengan dalam. Menguatkan niatnya itu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk!!" Suara berat itu sudah terdengar dari dalam.
"Mas??" Dewa menghentikan pekerjaannya setelah mendengar suara Diandra.
"Dee, kenapa??" Dewa tersenyum melihat kedatangan Diandra. Namun raut wajah Dewa langsung berubah saat melihat Tara muncul dari belakang Diandra.
"Kak??" Dewa masih dim tak menjawab Tara.
Diandra yang paham situasi itu langsung menghampiri Dewa yang mash terduduk di kursi kerjanya.
"Mas, Tara datang kesini untuk mendapatkan jawaban darimu atas permintaan maafnya beberapa hari yang lalu. Kamu tidak lupa kan kalau kamu belum menjawabnya??" Diandra mengusap bahu Dewa dengan lembut.
"Kak, aku benar-benar minta maaf. Aku janji mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku tidak akan ikut campur lagi tentang hubungan kalian. Aku mohon maafkan aku" Terlihat jelas dari mata Tara jika dia memang benar-benar menyesal.
Dewa mendongak menatap Diandra yang berdiri di sebelahnya. Diandra tersenyum dengan begitu cantiknya lalu menganggukkan kepalannya.
"Aku akan memaafkan mu kali ini. Tapi kalau setelah ini kamu bertindak di luar batas lagi, jangan salahkan aku kalau aku akan benar-benar menghukum mu Tara" Tatapan tajam dari Dewa belum berubah juga untuk Tara.
"Kalau begitu sekarang keluarlah, aku masih banyak pekerjaan"
"Tapi Kak, ada satu lagi yang ingin aku sampaikan"
Dewa yang tadi sempat kembali fokus ke pekerjaannya kini kembali menatap Tara.
"Ada apa lagi??"
"Aku rasa sudah saatnya aku kembali ke kota. Aku tidak akan mengganggu waktu kalian selama disini. Tapi Kak Dewa tenang saja, aku tidak akan mengatakan pada Tante Bella atau siapapun tentang hubungan kalian. Aku janji!"
Diandra sedikit terkejut karena tadi Tara hanya bilang ingin meminta maaf. Ternyata dia juga berpamitan ingin kembali ke kota.
"Aku pegang janjimu!!" Suara Dewa yang dingin itu biasanya terdengar biasa saja bagi Tara, namun kali ini sungguh menyeramkan di telinganya.
"Terimakasih Kak Dewa dan juga Diandra. Kalau gitu aku keluar dulu" Rasa lega kini sudah Tara rasakan. Sudah tidak ada beban lagi di hatinya saat ini.
"Segera berkemas, dan istirahatlah. Aku akan menyuruh Niko untuk mengantarmu pulang besok pagi"
Tara yang hampir saja keluar dari ruangan Dewa tersenyum lebar karena di balik sikap dinginnya itu, Dewa masih memberikan sedikit perhatian kepadanya.
Dewa masih melihat pintu yang sidah tertutup rapat itu. Tapu usapan lembut tangan Diandra di pundak Dewa membuat perhatian pria tampan itu teralihkan.
"Aku tau kamu sebenarnya orang baik Mas"
__ADS_1
Dewa menarik tangan Diandra, dan dengan sekali hentakan Diandra sudah mendarat mulus di pangkuan Dewa.
"Benarkah??" Dalam jarak sedekat ini rasanya jantung Diandra sudah lepas dari tempatnya.
"M-mas i-ini..."
"Kenapa?? Aku mau minta hadiah darimu karena aku sudah memaafkan Tara"
Rasanya Diandra ingin pergi ke ujung Dunia saat ini. Getaran di dalam dadanya saja belum bisa di kendalikan, sekarang Dewa justru meminta upah dari hasil memaafkan Tara.
"Ke-kenapa aku harus memberimu hadiah?? I-itu kan masalah kalian berdua"
Dewa terus menatap Diandra yang duduk di pangkuannya. Sementara Diandra terus berusaha menghindari tatapan Dewa yang begitu menggetarkan itu.
"Kenapa kamu segugup ini Dee?? Ada yang salah denganmu??" Harum nafas Dewa yang menerpa kulitnya justru membuat Diandra semakin tak bisa bergerak.
"Lihat aku Dee!!" Perintah Dewa tak bisa di bantah. Dewa kesal karena sejak tadi bola mata Diandra terus saja bergerak ke kiri dan ke kanan menghindari tatapan matanya.
Mau tak mau akhirnya Diandra memberanikan diri untuk menantang tatapan mata yang sangat dalam dan menghujam itu.
"Beri aku sesuatu sebagai hadiah Dee" Desak Dewa.
"A-apa itu Mas??" Diandra belum bisa menghilangkan rasa gugupnya.
Dewa menunjuk pipinya dengan telunjuknya.
"Satu kecupan saja tidak lebih" Permintaan tang sungguh membuat Diandra terkejut.
"Ta-tapi...."
"Ayo, aku masih banyak pekerjaan setelah ini" Dewa suah memalingkan wajahnya. Memposisikan pipinya tepat di depan bibir Diandra.
Akhirnya setelah berseteru dengan batinnya sediri, Diandra dengan cepat menabrakkan bibirnya ke depan. Tapi secepat kilat Dewa memalingkan wajahnya menghadap Diandra lagi.
Cup..
Jadi bibir Diandra tidak mendarat sempurna di pipi Dewa. Namun di bibir mereka yang saling bertemu.
Diandra langsung menjauhkan wajahnya kembali setelah sadar apa yang dia lakukan. Dengan gerakan cepat Diandra juga langsung berdiri dari pangkuan Dewa.
"Mas!! Kamu ngerjain aku!!" Bibir Diandra mengerucut karena merasa dipermainkan oleh Dewa.
Dewa justru cengengesan merasa tak bersalah sama sekali.
Diandra yang kesal bercampur malu langsung keluar dari ruangan Dewa itu.
"Kamu menggemaskan kalau ngambek kaya gitu Dee" Dewa masih saja terkekeh setah Diandra sudah tidak ada lagi di hadapannya.
Bersambung...
__ADS_1