
"Bryan, makasih ya kamu udah antar aku sampai rumah. Hari ini aku benar-benar merepotkan sepertinya" Tara terkekeh dengan sendirinya.
"Udah nggak usah sungkan. Ayo aku antar sampai dalam"
Tara sebenarnya ingin menolak, karena pasti Mamanya sudah menunggu kedatanganya dikarenakan dari kemarin Tara terus menghindari Mamanya itu.
Tapi akhirnya Tara hanya pasrah karena Bryan sudah menuntunnya sampai ke depan pintu rumahnya.
Dengan rasa takutnya pada Mama Mita, Tara membuka pintu itu dengan pelan. Berharap jika Mamanya tidak berada di ruang tamu atau tidak ada di rumah sekalian.
"Kamu kenapa Tara?? Kok tegang gitu?" Tanya Bryan yang melihat keanehan Tara
"Oh ini anak bandelnya udah pulang??"
Tara memejamkan matanya mendengar suara terindah di bumi itu. Belum juga dia menjawab apa yang Bryan tanyakan, tapi Mama Mita sudah menyambut dengan penuh gembira.
"Mama bikin aku malu aja" Tara menggerutu di dalam hati.
"Kenapa kaki kamu Tara??" Mama Mita yanng awalnya tampak garang itu berubah panik setelah melihat luka di kaki Tara.
"Selamat siang Tante, saya Bryan teman Tara. Tadi Tara sempat terserempet motor di depan tempat kerja saya"
"Apa?? Ayo, ayo duduk dulu!!"
Walau dalam keadaan marah tapi naluri keibuannya tetap saja muncul.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi??" Mama Mita kembali bertanya pada Bryan setalah mereka bertiga duduk di ruang tamu.
Bryan pun menjelaskan apa yang di alami Tara tadi sampai akhirnya kaki Tara terluka seperti ini.
"Kamu ya, makanya jangan suka kabur-kaburan. Ini namanya kualat, kemarin kamu baru saja pulang tapi tadi pagi udah kelayapan lagi" Mama Mita justru menjewer telinga putri cantiknya itu. Di mata Mita, Tara tetap saja anak kecil yang manja dan susah di atur.
"Aww sakit Ma ampun!!"
"Makanya kamu itu yang nurut apa kata orang tua, jangan bandel. Mama aduin ke Papa baru tau rasa kamu!!" Ancam Mama Mita dengan matanya yang sudah melotot tajam.
Bryan yang jadi penonton di sana hanya meringis membayangkan jika telinganya yang jadi korban Mamanya Tara itu pasti akan sangat menyakitkan.
"Aduh Mama, anak Mama ini baru pulang dengan keadaan begini, bukannya di tanya apa yang sakit malah di jewer kaya gini. Kan malu juga Ma ada temen Tara" Tara mengerucutkan bibirnya sambil mengusap telinganya yang memerah.
"Biar tau rasa kamu, ini namanya teguran dari Allah supaya kamu jadi anak yang baik. Biar sekalian temen kamu ini tau kelakuan kamu" Mama Mita masih saja memarahi Tara dengan kedua tangannya yang berada di pinggang.
"Maaf ya Bryan, kamu jadi lihat pertunjukkan wayang golek" Bisik Tara namun masih bisa didengar oleh Mama Mita.
"Apa?? Kamu bilang Mama apa barusan?? Wayang golek?? Dasar kamu memang anak kurang ajar!!" Mama Mita mencubit pipi Tara hingga memerah.
"Ampun Mama sakiiitttt" Tara hampir menangis merasakan sakit di pipinya.
Bryan menahan tawanya melihat kedekatan ibu dan anak ini. Meski sedari tadi Mama Mita marah-marah, tapi terlihat jelas jika Mama Mita sangat peduli dengan anaknya itu.
"Maafkan tante ya Nak Bryan. Kamu jadi melihat semua ini. Tara memang begitu anaknya susah di atur" Mama Mita mengatur nafasnya yang tersengal karena sedari tadi marah-marah.
__ADS_1
"Tidak papa tante. Kalian berdua justru terlihat sangat dekat jika seperti ini. Saya malah merasa iri" Bryan menjawabnya dengan jujur.
"Kamu kelihatannya anak yang baik, kok bisa-bisanya temenan sama Tara??"
"Mama!!" Tara heran kenapa Mamanya justru menjelekkan anaknya sendiri.
Bryan bahkan hampir saja tertawa lepas melihat kelakuan ibu dan anak ini.
"Kenapa?? Wajar dong Mama Tanya. Sekarang jawab jujur, sebenarnya kamu ikut Dewa kemana beberapa bulan ini?? Kenapa nggak pulang?? Kenapa nggak kasih tau Mama?? Untung saja Papa belum pulang dari luar negeri, kalau saja Papa tau, kamu pasti sudah di cincang!!" Bryan langsung merasa ngerti mendengar penuturan Mama Mita.
"Tara kan sudah bilang Ma, Tara ikut Kak Dewa mengurus proyeknya di luar kota. Kalau nggak percaya Mama bisa tanya Bryan. Iya kan Bry??
Bryan langsung gelagapan karena Tara menyeretnya dalam masalahnya sendiri.
" Benar begitu Bryan?? Kamu kenal Dewa juga??"
"Be-benar tante. Saya kenal karena saya salah satu BA produknya Dewa" Demi menyelamatkan dirinya sendiri Bryan ikut berbohong.
Mama Mita justru menatap Bryan dan Tara secara bergantian, seperti mencurigai sesuatu di antara mereka berdua.
"Kalian beneran berteman?? Atau kamu pacarnya Tara??"
"HAH??" Kaget Tara Dan Bryan bersamaan.
-
-
Dewa terus menutup mata Diandra dengan kedua tangannya.
Malam ini Dewa terlihat aneh menurut Diandra. Sejak sore tadi Dewa sudah menyiapkan gaun yang indah untuk Diandra. Setelah itu meminta Diandra untuk berdandan secantik mungkin.
Setelah itu Dewa membawa Diandra keluar dari rumah mereka dengan meminta Diandra untuk menutup matanya.
"Sebentar lagi sampai"
Diandra bisa merasakan angin malam yang berhembus kencang, serta suara ombak yang menggulung terdengar agak jauh dari telinganya.
"Lama banget deh, udah pegel nih mata aku"
"Aku buka ya, satu, dua, tiga" Diandra langsung terpana pada suasana romantis di depannya.
Sebuah meja di tepi pantai yang di hias dengan sedemikian rupa, serta dua kursi di sisi yang berlawanan. Lampu-lampu yang mengelilingi meja itu, serta alunan musik hang mulai terdengar membuat Diandra begitu terpesona.
"Kamu yang siapin Mas?" Terlihat binar bahagia di mata Diandra.
"Dalam rangka apa??"
Dewa mendekati Diandra, menarik pinggangnya untuk mengikis jarak di antara mereka.
"Sebagai ucapan terimakasih ku" Lagi-lagi Dewa menyatukan keningnya dengan Diandra. Diandra sangat tidak menyukai posisi seperti ini karena bisa membuatnya merasakan tidak sehat pada jantungnya.
__ADS_1
"Untuk??"
"Untuk kamu yang sudah menjadi istriku, untuk kamu sebagai sumber kebahagiaanku, untuk kamu yang mau mengandung anakku, dan untuk kamu yang sudah memberiku kesempatan untuk sedekat ini"
Dewa mengatakannya dengan suara yang sangat rendah namun nafas Dewa yang segar seperti duan mint itu menerpa wajah Diandra hingga membuatnya merasa merinding di seluruh tubuhnya.
"Aku tidak sebaik itu sampai kamu harus berterimakasih untuk semuanya. Kamu juga turut andil saat aku mengambil keputusan itu Mas"
"Aku tau, tapi bagiku. Tapi tanpa kamu, aku tidak akan merasakan kebahagiaan ini Dee"
"Mas ak___"
"Kita duduk dulu, kita makan malam dulu"
Dewa memanggil seorang pelayan yang membawa makanan dan minuman untuk mereka berdua.
Keduanya menikmati makan malam romantis itu dengan penuh gembira. Terbukti dari bibir mereka berdua yang tak berhenti tersenyum.
"Kamu suka?" Tanya Dewa setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Suka, aku suka semuanya. Suasananya, musiknya, makanannya. Semuanya indah"
"Kalau aku?? Kamu suka nggak??" Tiba-tiba wajah Diandra berubah. Tapi Dewa langsung mengalihkan perhatian Diandra.
"Ayo temani aku berdansa" Dewa sudah menggenggam tangan Diandra untuk berdiri.
"Boleh"
Tangan Diandra langsung bertengger pada pundak Dewa dengan satu lagi tangannya di genggam Dewa.
Diandra mulai menggerakkan kakinya ke kiri dan ke kanan mengimbangi Dewa. Serta suara biola yang menuntun mereka untuk menggerakkan kaki mengikuti alunannya.
Diandra merubah posisinya, meletakkan kedua tangannya di leher Dewa. Lalu kepalanya yang bersandar di di dada bidang Dewa. Sementara tangan Dewa ia gunakan untuk memeluk pinggang istrinya itu.
"Makasih ya Mas, aku suka kejutannya" Diandra bersuara tanpa menjauhkan kepalanya.
"Sama-sama sayang" Bisik Dewa di telinga Diandra.
Panggilan asing yang pernah beberapa kali Dewa ucapkan kepadanya itu membuat Diandra refleks menjauhkan kepalanya dari dada Dewa.
"Maaf Dee, aku sa___"
"Panggil lagi!!" Perintah Diandra tak ingin di bantah.
Dewa tampak bingung dan juga takut jika Diandra akan marah kepadanya.
"Sayang" Lirih Dewa.
"Mulai sekarang panggil aku seperti itu!!"
Bersambung...
__ADS_1