
Pagi ini terasa berbeda bagi Diandra, karena dia kembali melihat Dewa berada di sisinya. Mungkin hanya beberapa hari Dewa tidak tidur di kamar mereka, tapi suasana pagi seperti ini membuat Diandra tersenyum lega.
"Pagi Dee??" Seperti biasa, Dewa ternyata sudah bangun tapi tetap memejamkan matanya. Membuat Diandra was-was jika ingin mengagumi wajah tampan itu ketika terlelap.
"Pagi Mas" Jawan Diandra.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Diandra pasti akan memilih kamar mandi sebagai tempat favoritnya setelah bangun tidur. Karena semala hamil ini kantung kemihnya selalu terisi penuh walau baru sebentar di kosongkan.
Dalam ritual mandi paginya Diandra berharap pagi ini mampu berjalan lancar tanpa ada masalah dan berbagai macam perdebatan.
"Kamu semakin hari semakin besar saja, semakin berat di perut Mama. Jadi tidak sabar ingin melihat wajahmu yang pasti akan tampan seperti Papa" Ucap Diandra sembari mengusap lembut perutnya yang semakin membesar.
"Kamu sangat beruntung punya Papa Dewa, dia punya segalanya, dia baik, dia pengertian, perhatian dan yang jelas dia sayang sama kamu" Tanpa sadar Diandra sudah terlalu banyak memuji Dewa.
"Papa juga bisa melukis loh. Besok kalau kamu sudah sekolah, nggak usah khawatir kalau ada tugas menggambar dari Bu Guru. Pasti kamu dapat nilai bagus karena Papa yang akan mengajarimu menggambar"
Diandra terus saja berceloteh dengan anaknya tanpa henti. Hingga Dewa merasa khawatir dengan Diandra yang hampir satu jam berada di kamar mandi.
"Dee??" Panggil Dewa dari luar.
"Dee, kamu nggak papa kan?? Kenapa lama sekali??"
"Dee??" Panggil Dewa lagi.
"Iya Mas, udah selesai kok"
Diandra muncul dengan rambut basahnya. Handuk yang melingkari tubuhnya itu memperlihatkan bahu yang mulus sedikit basah. Lagi-lagi itu membuat Dewa mengumpat di dalam hati.
"S*it!!"
"Kenapa nggak pakai baju di dalam??" Tanya Dewa.
"Lupa bawa baju ganti" Jawab Diandra dengan cengirannya.
Tanpa menjawab lagi Dewa buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Bukan karena ingin membuang hajatnya tapi karena sesuatu di bawah sana yang masih mengeras akibat bangun tidur justru semakin mengeras hanya karena melihat bahu Diandra yang menggoda itu.
Dewa tidak ingin Diandra melihat tonjolan di balik celananya itu. Pasti akan sangat malu jika itu sampai terjadi.
🌻🌻🌻
Diandra turun ke lantai bawah untuk mencari keberadaan Bryan. Tadi malam Diandra bahkan lupa menanyakan Bryan tidur di mana karena terlalu memikirkan Dewa.
"Bryan?? Sedang apa kamu??" Diandra melihat Bryan sedang sibuk di dapur.
"Oh, hay Didi?? Kamu sudah bangun?? Aku sedang membuat nasi goreng kesukaanmu" Jawab Bryan dengan tangannya yang masih mengaduk nasinya.
"Kenapa harus repot-repot Bryan. Lihatlah, sudah ada banyak makanan di sini. Jadi kamu tidak perlu memasak lagi" Diandra mendekati Bryan.
"Kamu sudah lama tidak makan nasi goreng buatan ku Didi. Apa kamu tidak merindukannya??" Diandra mencium bau nasi goreng yang sangat harum itu. Benar saja, memang nasi goreng buatan Bryan membuatnya menjadi lapar.
"Iya sudah lama sekali, dan baunya saja sudah membuatku lapar Bry"
"Baiklah, tunggu saja di meja makan, ini akan segera selesai" Perintah Bryan.
__ADS_1
"Siap bos!!" Jawab Diandra dengan tangannya yang memberi hormat dengan lucu membuat Bryan tertawa pecah.
Diandra menatap makanan yang begitu banyak di meja makan itu. Sebenarnya mubazir jika dia tidak membantu menghabiskan makanan yang sudah susah payah Ely memasaknya. Tapi kali ini nasi goreng buatan Bryan itu lebih menggodanya.
Dewa menghampiri Diandra di meja makan dengan tampilannya yang sudah segar dan tampan. Pria itu memang tidak pernah salah memilih baju yang membuatnya semakin mempesona. Ralat, sepertinya baju apapun akan tampak sedap di pandang mata jika Dewa yang memakainya.
"Kamu sudah lapar??" Tanya Dewa.
Belum sempat Diandra menjawab, dua wanita yang ikut menumpang di rumah itu sudah menyusul Dewa ke meja makan.
"Pagi Dewa??" Sapa Manda dengan kelembutan yang hakiki.
"Pagi" Jawab Dewa dengan senyum tipisnya.
Diandra tampak terkejut dengan reaksi Dewa itu. Diandra merasa sudah melewatkan sesuatu di antara mereka berdua.
Dewa yang kemarin jelas menunjukkan ketidaksukaannya kepada Manda, kini justru mereka bisa bersikap manis.
"Apa karena pelukan itu??" Batin Diandra yang mengingat pelukan mereka berdua di dapur.
"Pagi Dee??" Sapa Manda yang tidak di tanggapi oleh Diandra.
Manda hanya tersenyum kecut karena di acuhkan oleh Diandra.
"Didi, nasi gorengnya sudah jadi" Bryan muncul dari dapur dengan satu piring nasi goreng dengan asapnya yang masih mengepul.
"Woww, enak ya pagi-pagi ada yang masakin, apalagi sama pacarnya" Tentu saja itu ucapan Tara yang memicu sebuah pertikaian.
Diandra yang tadinya berbinar menatap nasi goreng yang sudah tiba di depannya itu kini berubah sayu. Diandra melirik Dewa yang mencoba untuk tidak peduli dengan apa ya g terjadi.
"Biar aku saja ya??" Senyum Manda sungguh bisa meluluhkan kaum Adam.
"Iya" Jawab Dewa pasrah.
Kini Diandra semakin yakin jika hubungan keduanya sudah mulai membaik.
"Kamu nggak sarapan Bryan??" Tanya Tara pada Bryan yang duduk di samping Diandra.
"Aku belum lapar. Tapi melihat Diandra makan dengan lahap begini saja sudah membuat aku kenyang"
"Uhuk..uhuk.." Diandra tersedak nasi gorengnya karena jawaban Bryan itu.
"Didi kamu tidak papa??" Bryan menepuk pelan punggung Diandra.
Dan Dewa telah menyodorkan satu gelas air putih kepadanya. Meski tatapannya tajam kepada Bryan karena lagi-lagi dia lancang menyentuh Diandra di depannya.
Diandra meneguk beberapa kali air putihnya untuk meredakan rasa pedas di lehernya.
Diandra lagi-lagi melihat Dewa, pria yang baru saja memberikannya air minum itu kembali fokus pada isi piringnya. Tidak terlihat mempedulikan Diandra lagi.
Ternyata doanya tadi pagi tidak di kabulkan, keributan sudah di mulai sejak pagi di meja makan.
"Tampaknya kamu pandai memasak Bryan??" Tanya Manda.
__ADS_1
"Dari dulu aku suka memasak. Dan Diandra yang selalu memuji masakan ku itu" Bryan dengan senang hati menanggapi pertanyaan dari Manda itu.
"Please hentikan!!" Teriak Diandra dalam hatinya.
"Beruntung sekali kamu Diandra, punya kekasih tampan dan pandai memasak. Lidahmu pasti di manjakan dengan makanan enak setiap hari" Tambah Manda semakin membuat Diandra gerah.
Diandra meletakkan sendoknya dengan keras di piringnya.
"Aku sudah kenyang. Aku ke atas dulu Mas" Dengan tatapan aneh dari semua orang di meja makan, Diandra kembali ke kamarnya.
Dewa menatap nasi goreng yang di makan Diandra tadi. Baru berkurang sedikit, bahkan separuhnya saja belum ada.
"Ada apa dengan Diandra?? Apa aku salah bicara??" Batin Bryan.
🌻🌻🌻
"Minumlah"
Dewa memberikan segelas susu strawberry utuk Diandra yang melamun di balkon kamarnya
"Minum dulu!! Kamu baru makan sedikit, pasti masih lapar" Lanjut Dewa karena Diandra tak kunjung menerima susu hamilnya itu.
"Atau kamu mau nasi goreng buatan Bryan tadi?? Masih ada kok di bawah, belum di buang"
"Apaan sih Mas, aku sudah nggak mau makan itu. Ini aja" Diandra menerima gelas yang dari tadi berada di tangan Dewa.
Diandra meneguknya beberapa kali dengan berlahan hingga tersisa sedikit.
"Nggak habis Mas" Ucap Diandra dengan manja.
"Ya sudah, tidak udah di paksa"
"Makasih ya, kamu perhatian banget sama aku. Padahal aku nggak pernah peduli sama kamu. Aku juga tidak tau apapun tentan kamu, selain namamu" Ucap Diandra tampak sendu.
"Memangnya apa yang ingin kamu ketahui tentang aku??" Dewa mendudukkan dirinya di samping Diandra.
"Semuanya, tapi kamu terlaku misterius buat aku"
"Misterius??" Tanya Dewa.
"Iya, banyak sekali yang kamu sembunyikan sepertinya" Jawab Diandra.
Tapi justru Dewa terkekeh mendengar jawaban Diandra itu. Ternyata Diandra menilainya seperti itu selama ini.
"Tapi bolehkah aku tanya sesuatu??"
"Apa??" Jawab Dewa.
"Emmm, apa kamu dan Manda sudah memaafkan Manda??" Tanya Diandra dengan ragu.
"Aku pikir, memendam amarah selama ini membuatku lelah. Jadi lebih baik aku berdamai dengan hatiku sendiri. Sudah saatnya aku memaafkannya"
"Lalu apa kamu mau kembali bersamanya. Kamu mau membuka hatimu lagi untuknya??" Tanya Diandra menatap mata Dewa dari samping. Karena kini Dewa memandang lurus ke pantai yang terlihat dari balkon kamar mereka.
__ADS_1
"Mungkin saja. Karena kita tidak tau yang namanya takdir. Aku serahkan pada Sang pembolak balikkan hati " Jawaban Dewa yang seolah berlapang dada menerima Manda kembali itu membuat hati Diandra tiba-tiba terasa sesak.
Bersambung...