
Pagi harinya Niko dan anak buah Dewa yang lain kembali ke tempat itu. Tempat dimana mereka meninggalkan Tuannya sendirian dalam keadaan gelap gulita.
Bukan tanpa resiko untuk Niko yang berani meninggalkan Dewa. Tapi mereka berdua sudah memiliki rencana, yaitu tetap membawa cincin Diandra sebagai petunjuk mereka membawa Dewa kemana.
Tapi rencana hanyalah rencana. Ketika Niko mecoba melacak kembali sinyal dari GPS itu sudah tidak di temukan lagi. Sepertinya sengaja di buang atau memasuki kawasan tanpa akses jaringan.
Sehingga Niko mencari jalan lain yaitu mencari jejak yang di tinggalkan oleh para penculik itu.
"Cari dengan teliti apapun yang menurut kalian bisa menjadi petunjuk. Coba lihat bekas ban mobil lain yang berbeda arah dengan kita. Lalu kita coba ikuti arahnya kemana. Pasti Tuan Dewa di bawa ke sana"
"Siap Asisten Niko!!" Jawab mereka serempak setelah di briefing Niko.
Mereka semua sibuk mencari petunjuk yang mengarah pada pelaku sebenarnya. Serapi-rapinya mereka pasti masih meninggalkan jejak walau sangatlah kecil kemungkinannya.
Niko memeriksa jejak ban mobil atas laporan anak buahnya. Melihat bekas ban itu tampak beda dengan ukuran ban mobil yang di bawa mereka. Yang sedang dia amati itu lebih lebar dan bertekstur. Kemungkinan mobil yang mereka gunakan adalah mobil khusus untuk medan yang berat seperti di hutan itu.
"Kita ikuti jejak mobil ini!!" Perintah Niko.
Semuanya sudah bersiap, menyusuri jalanan tanah yang basah. Namun itu sangat menguntungkan bagi Niko, karena dengan begitu, jejak mobilnya akan semakin jelas terlihat.
"Mereka sepertinya melakukan kebodohan kali ini" Gumam Niko karena begitu yakin jika mobil itu yang membawa Dewa.
Hingga hampir dua kilometer mereka menyusuri jalan itu, dari kejauhan tampak sebuah bangunan yang tak layak huni. Tak jauh berbeda dengan bangunan yang pertama tadi. Namun banyaknya penjaga di sana semakin memperkuat dugaan Niko jika Dewa dan Diandra berada di dalam sana.
Niko melihat ke sekeliling rumah itu dari kejauhan. Tampak sebuah jalan lain dari arah berlawanan dari tempatnya berdiri saat ini. Itu berarti ada jalan yang lebih cepat untuk sampai ke bangunan itu dari jalan utama.
Niko memerintahkan anak buahnya untuk mundur. Niko merasa perlu merancang sebuah rencana untuk menyergap ke rumah itu.
"Kita kembali ke tempat awal terlebih dahulu. Kita tidak mungkin menyerang mereka dengan jumlah mereka yang lebih besar. Aku perlu mengerahkan semua pengawal Tuan Dewa untuk ikut melakukan misi ini. Kita tidak boleh gegabah dan perlu perencanaan matang"
"Baik Asisten Niko" Jawab mereka semua dengan pelan.
__ADS_1
"Kalian bisa lihat jalan yang ada di sana?? Sepertinya jalan itu lebih mudah di lalui daripada jalan ini. Beberapa orang bergerak mencari tembusan jalan itu. Dan segera laporkan kepadaku. Jika memang jalan itu bisa di gunakan, kita bisa menyerang mereka dari ke dua sisi".
"Laksanakan Asisten Niko"
Sekitar 5 orang menerobos rindangnya hutan untuk mencari jalan tembusan itu sesuai perintah Niko. Sementara sisanya sekitar 10 orang kembali ke bangunan yang pertama bersama Niko.
Setelah itu mereka akan kembali ke rumah utama dulu untuk menyiapkan semuanya. Termasuk menambah jumlah pengawal dari Dewa.
🌻🌻🌻
Sementara itu Dewa masih terus berbaring di kaki Diandra dengan wajahnya yang mulai pucat. Sejak hari masih gelap tadi Dewa merasakan sakit pada ulu hatinya. Rintihan yang kadang-kadang keluar dari bibir Dewa membuat Diandra semakin cemas. Bahkan tak jarang air matanya keluar karena tidak tega melihat keadaan suaminya yang seperti itu.
Diandra tadi juga sudah berusaha meminta bantuan kepada pria-pria bertubuh besar itu untuk membantu Dewa. Namun mereka seolah tak peduli sama sekali.
"Kamu sabar ya Mas, Niko pasti akan segera datang menyelamatkan kita" Diandra terus mengusap wajah Dewa yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
Dewa mengangguk lalu menggenggam erat tangan Diandra yang terus mengusap wajahnya itu. Lalu menarik tangan Diandra ke pelukannya.
Perhatian Diandra teralih pada suara pintu yang terbuka sedikit. Beberapa detik berlalu tapi tak kunjung ada seseorang yang masuk kedalam. Justru sebuah tangan yang melemparkan satu buah botol air mineral dan satu buah roti ke arah Diandra. Bahkan botol itu hampir saja mengenai kepala Dewa jika Diandra tak sigap menepisnya.
Bagai singa di dalam kadang yang di lempari makanan. Diandra benar-benar akan mengutuk orang yang sudah lancang itu jika saja dia tidak ingat sedang hamil.
Tapi biar bagaimanapun, Diandra sangat membutuhkan air minum itu. Rasa haus dan laparnya sudah ia tahan sejak semalam. Baru kali ini mereka memberinya makanan walau hanya sepotong roti.
"Mas, bangun Mas. Minum dulu ya??" Diandra membangunkan Dewa yang sangat lemah itu. Hatinya teriris mendapati suaminya yang selalu gagah dan kuat kini lemah tak berdaya.
Dewa mengikuti apa yang Diandra katakan, Dewa duduk bersandar di samping Diandra. Dengan telaten Diandra membantu Dewa untuk meneguk minuman langsung dari botol yang tadi di lempar itu.
"Mau lagi??" Diandra mengusap air minum yang menetes ke dagu Dewa.
"Sudah" Jawab Dewa dengan pelan. Suaranya sudah hampir hilang tak terdengar.
__ADS_1
"Mereka memberikan kita roti ini Mas, kita makan berdua ya?? Kamu juga lapar kan??" Diandra membuka bungkus plastik pada rotinya lalu menyodorkan ke depan bibir Dewa. Suapan yang pertama adalah untuk suaminya.
Dewa menggeleng lemah, justru dia menjauhkan roti itu.
"Aku tidak lapar. Kamu saja yang makan, anak kita juga pasti lapar" Tangan Dewa meraih perut Diandra.
"Kalau begitu, aku juga tidak akan memakannya. Aku akan makan kalau kamu juga makan!!" Diandra menunjukkan sisi keras kepalanya. Dia tau kalau Dewa berbohong jika dia tidak lapar.
"Baiklah kalau begitu, suapi aku" Akhirnya Dewa mengalah, tak dapat dipungkiri jika dia juga merasakan perih pada lambungnya mengingat dia hanya makan kemarin pagi bersama Diandra.
Tapi melihat sepotong roti yang tak terlalu besar, mana bisa membuat perut kenyang apalagi jika di bagi dua orang.
Diandra menarik rotinya setelah Dewa memakannya satu gigitan. Rasa roti paling enak yang pernah Diandra coba selama hidupnya karena memakannya dalam keadaan kelaparan.
Diandra kembali menyuapkan roti untuk Dewa, hingga makanan yang tak seberapa itu habis hanya tiga kali suapan. Tentu saja itu belum berdampak apa-apa bagi perut mereka. Tapi sedikit lebih baik karena bisa memberikan pekerjaan lambung mereka untuk mengolah makanan.
Satu botol air minum pun juga sudah habis oleh merkea berdua. Sungguh di dalam hati Dewa sudah menyiapkan semua balas dendamnya pada Daniel karena telah membuat anak dan istrinya terkurung di dalam tempat seperti itu, dengan keadaan kelaparan dan kehausan.
"Kamu mau berbaring lagi??" Diandra menyisir rambut Dewa kebelakang menggunakan jarinya.
"Tidak udah, nanti kaki kamu capek. Begini saja" Dewa masih terus memegangi perutnya dengan mata yang terpejam.
"Bolehkah aku melihat perutmu??" Dewa tak menjawab, tapi tidak menghalangi Diandra yang mulai menyingkirkan tangannya. Jemari lentik itu mulai membuka satu per satu kancing kemejanya.
Diandra ingin tau karena sejak kedatangan Dewa, dia terus merasa kesakitan pada perutnya. Tadi Diandra sempat ingin melihatnya namu di tolak oleh Dewa. Dan kali ini Diandra senang karena Dewa terlihat pasrah saat Diandra memaksa membuka bajunya.
Air mata Diandra kembali menyeruak melihat lebam di dada dan ulu hati milik Dewa. Bahkan terlihat bengkak pada ulu hatinya itu.
Diandra menghambur ke pelukan Dewa, kali ini langsung dengan isakan yang keras.
"Maafkan aku Mas, maafkan aku hiks..hiks.."
__ADS_1
Bersambung...