
Dewa sempat mematung karena Diandra yang lebih dulu menautkan bibir mereka. Apa yang di lakukan Diandra itu bisa saja membuat Dewa lepas kendali.
Karena Diandra mulai menggerakkan bibirnya saat Dewa hanya terpaku tanpa membalas c*umannya. Tapi itu hanya beberapa detik sebelum Diandra menjauhkan bibirnya lagi. Mungkin Diandra sudah sadar tentang apa yang telah dilakukannya.
"Dee, jangan memancingku!!"
Tapi nyatanya salah. Diandra hanya mengambil nafas panjang lalu menarik kerah baju Dewa dan kembali menyatukan bibirnya lagi dengan Dewa.
Dewa yang sedari tadi berusaha menahan dirinya terpaksa harus menyerah karena Diandra sendiri yang melemparkan umpan kepadanya.
Dewa berbalik memimpin c*uman yang di mulai oleh Diandra itu. Tangannya sudah naik memegang tengkuk Diandra untuk memperdalam ciuman mereka.
Keduanya hanyut dalam suasana yang semakin lama semakin panas. Bahkan bibir Dewa sudah mulai menjalar ke rahang dan leher Diandra. Namun Dewa menghentikan aksinya itu karena sadar tindakannya sudah di luar kendalinya.
Dari mata Dewa saja Diandra sudah bisa melihat jika suaminya itu sidah di selimuti kabut gairah.
"Dee, bolehkan??"
"Lakukan Mas, malam ini aku milikmu"
Bibir Diandra langsung di sambar Dewa kembali setelah dia memberikan lampu hijau.
"Maafkan aku Bryan, biarlah malam ini aku serahkan diriku kepada suamiku sebelum kami benar-benar berpisah"
Malam ini menjadi malam yang penuh dengan peluh bagi mereka berdua setelah berbulan-bulan lamanya Dewa tak menyentuh Diandra.
Namun bedanya malam ini Diandra menyerahkan dirinya sendiri untuk Dewa. Beda dengan saat itu yang penuh paksaan Dari Dewa. Bahkan kali ini Dewa benar-benar melakukannya dengan penuh kelembutan hingga Diandra berkali-kali mengerang merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Malam yang begitu panjang itu mereka lalui hingga Diandra sudah tidak berdaya lagi mengimbangi Dewa yang seperti tak ada lelahnya.
"Maafkan Mas karena telah membuatmu kelelahan. Kalian tidak papa kan??" Dewa sebenarnya takut melukai anaknya. Tapi Diandra meyakinkan Dewa jika kandungannya akan baik-baik saja.
Diandra hanya menggeleng karena sudah tidak mampu lagi bersuara.
__ADS_1
"Terimakasih untuk malam ini sayang, sekarang tidurlah" Dewa mencium kening Diandra yang ada di dalam dekapannya itu.
🌻🌻🌻
Sementara itu di sebuah apartemen, seorang wanita sedang mondar mandir dengan ponsel yang terus berada di telinganya walau hari sudah menjelang subuh.
Dia menggeram kesal karena tak bisa menghubungi orang yang diandalkannya untuk mambantu menuntaskan ambisinya.
"Kemana dia?? Kenapa dia bodoh sekali, menangani seorang perempuan saja tidak bisa!!" Manda melemparkan ponselnya hingga hancur berkeping-keping.
Wanita itu adalah Manda, saat ini dia sedang kelimpungan mencari keberadaan Daniel. Saat mendengar dari informannya tentang kembalinya Diandra membuat Manda marah besar kepada Daniel.
"Kalau tau sejak awal rencana pria bodoh itu akan gagal, lebih baik aku bertindak sendiri" Manda berkacak pinggang menatap gemerlap lampu kota dari apartemennya.
FLASHBACK ON
"Dengar Bryan, dengan atau tanpa ada bantuan darimu, aku akan tetap menghancurkan mereka berdua. Kamu akan melihat kemalangan yang akan di terima Diandra dan anaknya sebentar lagi. Camkan itu!!"
Manda pergi dari ruangan itu membawa setumpuk kemarahan dai dalam hatinya.
"Tak apa rencana pertamaku gagal. Kini saatnya aku menjalankan rencana kedua ku" Manda mengepalkan tangannya kuat, dengan terus membayangkan Diandra ada di dalam genggamannya itu.
Manda duduk di balik kemudi mobilnya. Mengemudikannya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang sudah ditetapkannya sebagai tempat untuk bertemu dengan seseorang.
Sebelumnya Manda udah menghubungi orang itu beberapa hari yang lalu. Menjadikan dia sebagai cadangan jika rencananya di tolak oleh Bryan. Dan setelah Manda bertemu Bryan tadi, Manda mengirimkan pesan kepada orang itu untuk menunggunya di suatu tempat.
Manda tiba di sebuah taman dengan sungai besar di sisinya. Di sana juga sudah menunggu seorang pria dengan setelan jasnya yang rapi. Tampak tampan dengan kulitnya gang putih dan rambutnya di sisir dengan rapih.
"Hay, aku Manda" Manda mengulurkan tangannya. Walau mereka sudah berbicara beberapa lali di dalam telepon tapi ini pertama kalinya mereka bertemu.
"Hemm. Kau sudah tau namaku" Balasnya tanpa mau menyambut tangan Dewa.
"Baiklah Tuan Daniel, jadi bisakah mulai sekarang kita bekerja sama??" Manda membuat kesepakatan tanpa mau berjabat tangan lagi.
__ADS_1
"Memangnya apa yang akan aku dapat jika aku bekerjasama denganmu" Manda tersenyum kejut menanggapi kesombongan Tuan muda yang sebentar lagi akan bangkrut itu.
"Tentu saja kau tau tanpa harus aku jelaskan Tuan Daniel" Diandra bersandar pada kap mobil milik Daniel.
"Kepa kau sangat berambisi untuk menyingkirkan perempuan itu dari sisi Dewa?? Bukannya dia tidak ada hubungannya denganmu??"
"Tentu saja ada hubungannya denganku. Karena adanya dia aku tidak bisa lagi menarik Dewa dalam kehidupanku" Ucap Manda dengan memperlihatkan kebenciannya di depan Daniel.
"Itulah wanita. Selalu menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahannya sendiri" Sindir Daniel yang sudah tau tentang latar belakang Manda dan hubungannya dengan Dewa di masa lalu.
"Tidak usah menceramahi ku. Cukup lakukan apa yang harusnya kita lalukan. Dengan begitu kita bisa mendapat keuntungan kita masing-masing. Sudah untung aku mau memberitahumu apa kelemahan Dewa yang berusaha dia sembunyikan dari semua orang. Jadi saatnya kau tunjukan kontribusi mu atas informasi yang sudah aku berikan" Manda melirik pria di sampingnya itu.
"Baiklah, lihat dan tunggu saja apa yang akan aku lakukan!!" Daniel menyeringai pada Manda.
"Buktikan omongan mu itu dan jangan sampai gagal. Jangan menyeret ku juga saat kau tidak bisa melawan kekuasaan Dewa!!" Tantang Manda.
Daniel hanya mengedikkan bahunya lalu masuk ke dalam mobilnya. Pria itu membunyikan klaksonnya sekali untuk mengusir Manda yang masih bersandar pada mobilnya.
Setelah Manda menyingkir pria itu pergi tanpa satu katapun ditinggalkan untuk Manda.
Manda juga enggan melihat kepergian pria yang hanya dia anggap sebagai jembatan baginya untuk kembali dekat dengan Dewa.
Manda merasa beruntung saat itu tak sengaja mendengar pembicaraan Dewa dan Niko tentang seseorang yang membakar gudang milik Dewa. Mulai hari itu Manda mencari informasi tentang Daniel. Manda merasa jika sewaktu-waktu Daniel berguna untuknya.
Dan benar saja, Manda akhirnya memutuskan untuk menghubungi Daniel lebih dulu. Menanyakan motif dan tujuannya mengusik ketenangan seorang Dewa.
FLASHBACK OFF
"Aku tidak bisa diam begini. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau melihat Diandra lolos begitu saja. Walau Dewa selalu melindunginya, tapi pasti ada celah untuk menyingkirkannya. Aku tidak peduli lagi jika Daniel nantinya menyebut namaku di depan Dewa. Yang penting aku sudah membuat Diandra pergi dari kehidupan Dewa untuk selama-lamanya" Manda tersenyum dengan liciknya.
Dia mencari ponselnya hang satu lagi untuk menghubungi orang yamg selalu menjadi pesuruhnya.
Manda tersenyum saat orang yang dihubunginya itu langsung mengangkat panggilannya meski Manda menelponnya di waktu subuh begini.
__ADS_1
"Apa rencana yang pernah kau usulkan kepadaku waktu itu masih bisa kau lakukan??" Ucap Manda pada orang itu.
Bersambung..