
Tak ada rasa takut di dalam hati Dewa meski dia berdiri seorang diri di dalam gedung tanpa cahaya lampu sekalipun. Matanya yang mencerminkan kemarahan itu terus menatap pintu masuk yang tadi sudah tak berbentuk itu. Dewa ingin sekali melihat siapa yang di perintahkan untuk menjemputnya.
Kira-kira sudah sekitar 15 menit Niko dan anak buahnya yang lain meninggalkannya di tempat yang harapkan Dewa tempat Diandra di sembunyikan.
Dewa menajamkan pengelihatannya saat cahaya berwarna kuning mulai menerangi bangunan tua itu. Sudah bisa di tebak jika itu pasti cahaya yang berasal dari lampu mobil meski suaranya belum terdengar.
Pria yang hilang arah itu sudah bersiap apapun yang terjadi, demi Diandra dan anaknya, demi cintanya, Dewa rela meski harus bertaruh nyawa sekalipun.
Suara mobil itu semakin jelas terdengar hingga cahaya dari lampunya menyorot langsung kedalam gedung hingga menyilaukan mata milik Dewa.
Terdengar beberapa langkah semakin mendekat ke arahnya namun Dewa belum juga melihat siapa orang-orang itu karena lampu yang terlalu menusuk matanya.
"Siapa kalian sebenarnya??" Kalimat itu yang pertama Dewa ucapkan untuk menyambut kedatangan mereka.
"Anda tidak perlu tau, silahkan angkat tangan anda dan berjalan ke depan!" Perintah seorang laki-laki yang masih tersembunyi di balik lampu yang terus menyala.
Dewa mengikuti permainan mereka dengan patuh menuruti ucapan pria itu. Tak ada perlawanan apapun dari Dewa. Dengan tangannya yang terus terangkat, Dewa berjalan mendekati mobil yang terus meneranginya itu.
Tapi sebelum Dewa sampai di sisi mobil itu, sesuatu yang sangat keras menimpa punggungnya hingga membuat pandangannya gelap seketika.
"Cepat bawa dia sebelum dia sadarkan diri!!" Perintah seorang pria yang membawa balok di tangannya.
-
-
BRAAKK...
Dewa tersungkur di lantai yang dingin saat dia baru saja mendapatkan kesadarannya. Dia masih mengerjabkan matanya karena rasa pusing akibat pukulan yang di terimanya tadi. Belum sadar sepenuhnya dia berada di mana, di tempat apa dan siapa yang membawanya. Yang jelas Dewa masih berusaha untuk menguasai dirinya. Hingga sebuah suara memaksanya untuk melihat ke sekelilingnya.
"Selamat datang Tuan Dewa yang berkuasa" Dari nada suaranya saja Dewa bisa menebak bagaimana ekspresi wajah orang itu.
"Aku aku kau adalah pria yang pemberani. Karena kau benar-benar berani datang seorang diri" Dewa masih mencari suara itu karena kegelapan disekitar Dewa tak mampu membuta matanya menemukan sosok yang terus bersuara itu. Apalagi hanya ada satu lampu tepat di atas kepala Dewa yang membuat jarak pandangnya semakin terbatas.
"Siapa kau sebenarnya?? Apa mau mu??" Desis Dewa. Ikatan pada tangannya membuat Dewa tak bisa berkutik sama sekali.
"Hahahaha......" Tawa menggelegar menyambut pertanyaan Dewa.
__ADS_1
"Kau sungguh ingin tau siapa aku??" Orang itu belum juga menampakkan wajahnya.
"Tidak perlu, itu tidak penting sama sekali. Yang terpenting saat ini adalah dimana kau sembunyikan Diandra??" .
BUG...
Tiba-tiba Dewa merasakan sebuah pukulan dari belakang tubuhnya yang mengenai pelipisnya. Serangan yang sama sekali tidak pernah Dewa duga.
Dewa kembali tersungkur dengan merasakan sesuatu yang mengalir dari pelipisnya.
"Hilangkan sikap sombong mu itu Sadewa!!" Suara itu terdengar menggeram.
"Memangnya siapa kau hah?? Siapa kau berani mengaturku!!"
BUG..
Kini serangan dari depan, seseorang kembali muncul dari depannya. Namun apalah daya Dewa yang tak bisa melawan. Dia hanya bisa menerima sebuah tendangan tepat di perutnya.
Dewa meringis menahan rasa sakit akibat dua kali pukulan yang di terimanya tanpa sempat menghindar.
"Bagaimana Tuan Dewa yang terhormat?? Apa kau mau menurunkan sedikit saja kesombongan mu itu??"
Sepertinya itu adalah tak tik Dewa untuk memancing orang yang terus berbicara untuk keluar.
Tap...Tap.. Tap..
Dewa mendengar suara gesekan sepatu pantofel mendekat ke arahnya. Kali ini Dewa yakin jika pemilik suara itulah yang mendekat ke arahnya.
Hingga Dewa mendongak menatap seorang pria yang begitu tinggi dengan setalah jasnya yang mahal berada di depannya.
BUG..
BUG..
Dua kali pukulan sudah pria itu berikan pada Dewa sebelum Dewa sempat melihat wajah pria itu. Bau anyir dan rasa asin meyakinkan Dewa jika pukulan itu telah berhasil membuat mulutnya mengeluarkan darah.
"Lihat aku baik-baik supaya kau bisa mengenali aku Tuan Sadewa!!" Pria itu mencengkeram wajah Dewa yang sudah lebam-lebam.
__ADS_1
"Hahaha.. Ternyata anda Tuan Daniel" Dewa justru tertawa melihat pria yang dengan sengaja menculik Diandra dan menganiaya dirinya.
Daniel menghempaskan wajah Dewa namun berganti kepalan tangannya yang menyapa pipi Dewa hingga cairan merah keluar dari bibir Dewa.
"Kenapa kau tertawa hah?? Apa ini begitu menyenangkan bagimu?? Apa setelah melihat keadaan istrimu kau masih bisa tertawa seperti ini??" Dewa tampaknya berhasil membuat Daniel semakin tersulut amarah.
"Dimana istriku??!!" Kali ini Dewa menekankan kalimatnya.
"Rupanya kau begitu mencintainya sampai kau rela berkorban sejauh ini" Daniel kembali berdiri lalu berjalan mengitari Dewa yang masih tersungkur.
"Baiklah, karena aku tidak tega melihat kisah cinta kalian yang begitu dramatis ini. Aku akan memberikan kesempatan kepadamu untuk bertemu kembali dengan istri dan calon anakmu"
Daniel berhenti tepat di depan wajah Dewa.
"Tapi dengan syarat"
Dewa menatap Daniel dengan tatapan menusuknya. Dia sudah bisa menebak apa yang pria itu inginkan.
"Aku tidak mau perusahaan mu itu. Yang aku inginkan hanya kembalikan perusahaan ku seperti semula. Berikan semua proyek yang sudah kau ambil dan perbaiki surat kontrak kerja sama kita seperti yang aku inginkan. Bagaimana??"
Daniel mengernyit karena Dewa yang terlihat tersenyum meremehkan kepadanya.
"Cih.. Kau rela melakukan hal serendah ini hanya untuk itu?? Apa kah Ayahmu tau apa yang kau lakukan ini?? Bukankah semua ini justru memperlihatkan kualitas kerjamu yang sangat buruk sampai kau rela berbuat curang dengan mengancam pesaing mu???"
Kobaran api kemarahan di dalam hati Daniel belum juga padam tapi Dewa sudah berhasil menyiramkan bahah bakar sehingga membuat Daniel semakin membara.
"B****sek!!"
Pukulan bertubi-tubi Daniel layangkan pada wajah dan tubuh Dewa. Kini pria yang gagah dan kuat itu sudah lemah tak berdaya.
"Kalau kau ingin berhasil, tunjukkan kemampuanmu. Bukan dengan cara seperti ini. Jika saat ini aku sudah menurutimu, apa kelak jika kau kalah lagi kau akan melakukan hal yang sama?? Ayahmu pasti akan sangat kecewa melihat anak kebanggaannya bertidak sebodoh ini!!" Dengan suaranya yang masih jelas meski tubuhnya sudah tak mampu lagi bergerak Dewa memberikan sedikit petuahnya kepada anak muda yang baru saja menjajakan dirinya di dunia bisnis itu.
Daniel hanya bungkam tak dengan tatapan yang siap menerkam siapapun.
"Bawa dia!! Kurung mereka berdua dan jangan sampai mereka bisa pergi dari tempat itu!!" Perintah Daniel pada anak buahnya tanpa melepaskan pandangannya pada Dewa yang juga terus menatap Daniel dengan aura permusuhannya.
Dewa yang lemas tak berdaya di papah menuju sebuah ruangan yang berpintu besi. Dewa hanya pasrah karena sudah tak berdaya lagi. Hingga pintu di hadapannya itu terbuka dan memperlihatkan pemandangan di dalam sana yang membuat hatinya teriris.
__ADS_1
Bersambung..