
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu Nak??"
Ayah Diandra yang sudah tau semuanya tentang masalah rumah tangga anaknya tampak begitu khawatir kepada putrinya itu. Diandra yang baru saja keluar dari rumah sakit akan berjuang untuk rumah tangganya.
"Yakin Ayah, doakan ya Yah. Ini semua demi kebahagiaanku dan juga anakku"
"Pasti, sayang. Ayah pasti akan selalu mendoakan mu. Apalagi semua ini penyebabnya adalah Ayah. Jika saja dulu Ayah tidak menyanggupi permintaan Dewa. Pastilah semua ini tidak akan terjadi, maafkan Ayah Didi"
Diandra memeluk Ayah yang begitu menyalahkan dirinya sendiri. Diandra juga tidak berpikir semuanya akan menjadi serunyam ini jika menyangkut masalah hati.
"Sudah Ayah, jangan terus merasa bersalah. Diandra juga turut andil dalam dalam semua ini. Jika Diandra menerima dengan lapang dada semua takdir ini, Diandra tidak akan menyakiti banyak orang seperti sekarang. Maka dari itu, saat ini giliran Diandra yang ajan berjuang demi rumah tanggaku Yah"
Ayah dan anak itu saling memeluk dengan perasaan bersalah mereka masing-masing.
"Ayah akan selalu di sisimu Didi. Jangan pernah berpikir jika kamu sendirian di rumah ini, karena masih ada Ayah di sampingmu" Diandra mengangguk di pelukan Ayahnya.
🌻🌻🌻
Diandra sudah berada di depan pintu rumah mewah yang beberapa hari lalu sempat ia tinggali. Rumah yang memberikannya kehangatan walau hanya sekejap mata. Rumah yang berisi orang-orang baik hati didalamnya.
Sebenarnya Diandra ragu untuk mengetuk pintu itu. Mengingat Mama Bella juga sama menghilangnya bersamaan dengan Dewa. Kedua mertuanya itu tak datang lagi menjenguknya setelah permintaan Diandra setelah dia sadar waktu itu.
Diandra bingung harus memulai darimana, kata maaf dulu atau ungkapan penyesalannya. Dia begitu takut menghadapi Mama Bella yang sudah begitu baik kepadanya.
Tangannya yang sedikit bergetar itu mulai mengetuk pintu. Berharap besar jika yang membuka pintu bukanlah Nyonya rumahnya langsung.
Tapi sayangnya takdir tak berpihak pada Diandra. Nyatanya yang ada di hadapannya saat ini adalah Mama Mertuanya yang justru menyambut kedatangannya dengan senyuman yang masih sama. Senyuman yang biasanya Diandra lihat dari wajah Ayu itu. Bukan senyuman licik penuh kemarahan yang Diandra bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
"Mama" Diandra meraih tangan Mama Bella lalu menciumnya dengan sopan.
"Kamu datang Dee??"
Diandra semakin di buat bingung dengan Mama mertuanya itu. Seperti tak terjadi apa-apa dengan mereka. Mama mertuanya masih tetap ramah dan lembut. Bahkan Diandra ragu jika Mama Bella belum mengetahui masalahnya dengan Dewa karena bisa bersikap sebiasa itu.
"I-iya Ma" Gugup Diandra.
"Ayo masuk, Papa ada di belakang" Mama Bella meraih lengan Diandra dan di apitnya masuk ke dalam rumah.
"Duduk disini dulu, Mama ambilkan minum"
"Mama, tidak usah repot-repot. Diandra datang kemari hanya ingin menanyakan keberadaan Mas Dewa pada Mama. Apa sekarang Mas Dewa ada di rumah??"
Diandra ingin segera memutus rasa canggung itu. Karena jika menunggu Mama Bella membuatkan minuman untuknya. Pastilah keberadaannya di rumah itu akan semakin lama.
Mama Bella akhirnya duduk kembali di sofa yang berada di depan Diandra.
"Diandra, kamu tidak perlu canggung begitu. Mama sudah tau sejak lama tentang kalian. Hanya saja Mama dan Papa diam dan lebih memilih pura-pura tidak tau. Karena kami yakin jika saat hari itu tiba, kalian akan mengubah keputusan yang sudah di sepakati itu. Tapi nyatanya salah, kamu tetap pada pemberianmu untuk bercerai dengan Dewa. Bahkan kamu juga meminta agar Dea tidak memisahkan kamu dan anak kamu"
Kali ini wajah ramah yang tersenyum hangat itu mulai berubah mendung.
"Maafkan Diandra Ma, Diandra memang salah"
"Tidak, dari awal Dewa yang salah karena sudah memaksamu. Jadi kami sebagai orang tua tidak berhak menentang keputusan kalian. Kalian sudah dewasa, pastilah kalian sudah memikirkan sebab dan akibat dari keputusan yang kalian ambil. Jadi Mama hanya bisa menguatkan hati anak Mama yang begitu mencintaimu"
Diandra sebenarnya malu jika harus menangis. Tapi jika mengingat maslaah Dewa yang begitu mencintainya, pastilah hatinya langsung bereaksi yang berlebihan sehingga memerintahkan air matanya untuk menyeruak keluar.
__ADS_1
"Aku tau Ma, aku tau kalau Mas Dewa begitu mencintaiku"
"Apa hati kamu sama sekali tak bergetar untuk anak Mama Dee?? Mama ingin tau, apa di dalam hati kamu saat ini sama sekali tidak adan mana Dewa. Apa perjuangannya selama ini untuk mendapatkan hatimu tak ada hasilnya sama sekali??"
Biar bagaimanapun Mama Bella ingin tau apa alasan Diandra tak mau mempertahankan rumah tangganya.
Diandra terisak namun mulai menggelengkan kepalanya. Mama Bella sudah menghembuskan nafas keputusasaannya. Disa sadar jika cinta memang tidak bisa di paksakan.
"Mama paham Dee, cinta memang tidak bisa di paksa. Kami tetap menerima apapun keputusanmu. Walau Dewa terpuruk beberpaa.hari ini, tapi Mam yakin dia akan kembali bangkit lagi. Dia pria yang kuat.
" Tidak Ma. Mama salah!! Mas Dewa sudah berhasil Ma"
Suara parau Diandra itu membuat Mama Bella terkejut. Jawaban yang sangat dia inginkan dari menantunya akhirnya dia dapatkan.
"Benarkah Diandra??"
Diandra mengangguk dengan senyumnya yang basah karena air mata.
"Jadi tentang surat perceraian itu??" Mama Bella hampir saja pingsan saat tau Dewa diam-diam mengirimkan surat perpisahan itu kepada Diandra yang masih lemah di rumah sakit.
"Aku akan menyelesaikannya sendiri Ma. Makanya itu aku datang kesini untuk bertemu langsung dengan Mas Dewa. Diandra harus bicara dengannya Ma. Maslaah ini tidka akan berakhir kalau Mas Dewa terus menghindar dan tidak mau menemui ku sama sekali"
Mama Bella menghapus air mata Diandra lalu memegang kedua bahunya seperti sedang menasehati anaknya saat kecil.
"Terimakasih Diandra. Akhirnya harapan Papa dan Mama selama ini berbuah manis. Mama mendukungmu Diandra. Temui Dewa, katakan apapun yang ingin kamu katakan. Mama yakin hati anak itu sedang rapuh. Dia begitu membutuhkanmu. Dari luarnya saja dia terlihat kuat dan menyeramkan. Padahal hatinya sedang remuk. Jadi Mama serahkan semuanya kepadamu. Hanya kamu dan dia yang bisa menyelesaikan semua ini karena kalianlah yang memulainya sendiri"
Diandra mengangguk mantap mendengar nasehat Mama Bella. Kali ini dia semakin yakin dengan keputusan yang dia ambil itu.
__ADS_1
Hanya mendapat dukungan dari orang terdekat Dewa saja sudah membuatnya semakin percaya diri. Kali ini hanya tinggal menemukan pria satu itu, yang tega meninggalkan istrinya yang sedang sakit di rumah sakit dengan mengirimkan surat paling laknat itu.
Bersambung...