Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
113. Andai waktu bisa di putar


__ADS_3

Hari-hari di lalui Tara dan Bryan seperti biasa, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tara yang sedang mengembangkan bisnisnya, dan Bryan yang harus tetap profesional di depan kamera meski suasana hatinya tidak baik-baik saja.


Memang mereka terlihat biasa saja, menunjukkan senyumnya pada semua orang, tapi berbeda dengan isi hati mereka. Rasanya ada ruang yang kosong di dalam sana, begitu sepi saat sendiri, hampa saat di keramaian. Tapi satu hal yang pasti, mereka sedang mencari kepastian untuk mengisi ruang yang kosong itu.


Bukan tak peduli sama sekali, meski keduanya tidak saling menghubungi, tapi sosial media mereka yang bekerja. Mereka sangat bersyukur hidup di era modern seperti ini, tanpa harus bertemu mereka bisa tau keadaan masing-masing.


Tara melihat kalender di meja kerjanya. Spidol merah sudah melingkari keduapuluh sembilan angka di di sana. Tinggal satu hari waktu yang Tara minta untuk memberikan jawabannya masing-masing.


Ada rasa takut di hati Tara jika akhirnya Bryan lebih memilih mundur karena telah sadar perasaannya itu bukanlah cinta. Tapi di dalan hatinya yang Tara sungguh berharap Bryan bisa membalas perasaannya.


Entah apa yang membuat Tara langsung berpaling pada Bryan padahal dari dulu hanyalah Dewa yang selalu ada di dalam hati dan pikirannya. Hanya karena pemuda satu itu, Tara langsung berbalik arah dan lupa begitu saja dengan perasannya pada Dewa.


Mungkin karena sikap Bryan yang hangat saat pertama kali mereka bertemu. Mungkin juga karena nasehat yang di berikan Bryan untuknya agar sadar tentang perasaanya pada Dewa. Atau bisa juga karena terpesona wajah Bryan yang tampan hampir menyaingi Dewa. Bisa jadi justru semuanya yang membuat Tara bisa jatuh dalam pesona Bryan.


Tara menyandarkan kepalanya ke belakang menatap langit-langit ruangannya.


"Tinggal besok. Apa dia akan datang?? Apa aku sanggup menerima penolakan untuk yang kedua kalinya dari orang yang sama??"


Dulu saat Dewa berkali-kali menolaknya Tara sama sekali tak pernah memasukannya ke dalam hati. Seakan masuk telinga kanan tembus telinga kiri.


Tapi jika dari Bryan, membayangkannya saja Tara sudah gelisah tak karuan.


-


-


Sementara si laki-laki yang sedang menjadi pusat pikiran Tara masih sibuk dengan pekerjaannya. Meski sudah selesai pemotretan, Bryan masih terus melihat jadwal yang di berikan oleh Kimmy.


"Bagaimana Bry, sudah semua?? Apa perlu aku mengosongkan jadwal mu di hari tertentu??"


"Tidak usah, aku rasa ini cukup. Usahakan terus mengatur jadwalku seperti ini Kim. Aku tidak mau seharian penuh bergaya di depan kamera. Aku juga butuh istirahat"


"Tentu saja kalau masalah itu"

__ADS_1


"Ayo kita pulang, badanku sakit semua rasanya" Bryan beranjak dari ruangan yang menjadi tempatnya untuk beristirahat itu.


"Baiklah, aku juga lelah harus mengurus model terkenal sepertimu" Kimmy mengikuti Bryan dari belakang.


"Besok mau berangkat sendiri atau aku jemput Bry?? Ingat, ini perusahaan yang besar, jadi jangan sampai telat!!"


Besok adalah jadwal Bryan melakukan pemotretan sebagai BA di salah satu perusahaan kosmetik tersohor di negeri ini. Dulu saat jadi model pemula, Bryan sempat berharap dilirik perusahaan itu untuk mempromosikan produknya. Tapi siapa sangka, kali ini Bryan benar-benar di pinang oleh perusahaan tersebut.


"Tenang saja. Aku tidak akan telat karena kau yang akan menjemput ku" Kimmy mendengus kesal. Walau begitu, Kimmy tetap akan menjemput Bryan dengan suka rela karena dia tau jika Bryan sudah minta di jemput, berarti Bryan memang sudah kelelahan.


"Sampai jumpa besok Bry, aku pergi dulu"


"Iya, hati-hati" Mereka berdua berpisah di parkiran karena jarak mobil mereka yang jauh.


Sesampainya di apartemennya Bryan langsung merebahkan tubuhnya secara asal di tempat tidur. Kakinya yang panjang itu di biarkan menggantung di tepi ranjang.


Bryan mengangkat ponselnya ke atas, melihat di dalam ponselnya itu fotonya dengan seseorang yang sangat di rindukannya saat ini.


🌻🌻🌻


"Masih kerja??" Diandra memasukan kakinya ke dalam selimut mengikuti suaminya.


"Iya, tapi sudah selesai kok" Dewa lalu mematikan laptopnya. Meletakkannya dinakas lalu meraih Diandra agar mendekat padanya. Menyandarkan kepala Diandra di dadanya.


"Kamu sudah ngantuk??"


"Belum" Diandra menjawab tapi kepalanya menggeleng di dada suaminya.


"Mas, seandainya kamu di beri kesempatan untuk mengulang waktu lagi sampai di saat kita belum menikah. Apa kamu akan tetap menikahi aku??"


Jari jemari Diandra memainkan tangan Dewa yang berjari panjang itu.


"Tidak!!" Jawab Dewa dengan cepat dan tegas.

__ADS_1


Jawaban yang membuat Diandra bertanya-tanya, apa Dewa tidak akan pernah mencintainya jika waktu bisa di putar kembali.


"Ke-kenapa?? Apa kamu tidak mau mencintaiku lagi??" Diandra ingin bangkit namun di tahan oleh Dewa tetap di pelukannya.


"Bukan itu, jika Mas di beri waktu untuk mengulang semuanya hingga sepuluh kali pun, Mas akan tetap mencintai satu wanita, yaitu kamu"


"Lalu??" Diandra masih belum mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


"Tapi bukan seperti itu caranya. Aku tidak akan memaksa Ayah lagi untuk menyerahkan putri cantiknya ini. Tapi Mas akan mencoba cara lain, entah itu mendekatimu, atau cara yang lain. Yang jelas jangan sampai Mas menyakiti kamu lagi. Sudah cukup Mas memberikan luka untukmu" Dewa meraih tangan Diandra gang terdapat bekas jahitan di pergelangan tangannya.


Dewa ingat betul jika luka itulah yang membuatnya berubah dan lebih mementingkan kebahagiaan Diandra.


"Tapi jika benar ada yang namanya penjelajah waktu. Rasanya Mas ingin ikut ke masa lalu. Mas ingin mencari mu lebih awal. Mengejar cintamu dengan cara yang benar. Mengganti semua kenangan buruk yang pernah aku torehkan dengan cerita cinta yang baru"


Mereka berdua terdiam, kilasan-kilasan awal pernikahan mereka berputar begitu saja. Penyiksaan, kata-kata kasar, makian, hinaan dan putus asa berputar satu per satu.


Hingga Diandra melingkarkan tangannya pada perut Dewa yang keras dan berotot itu.


"Tidak Mas, walau awal hubungan kita di mulai dengan paksaan dan pesakitan. Tapi di sanalah aku merasakan keajaiban dari yang namanya cinta. Awalnya aku sangat membencimu, meski aku akui aku mengagumi wajahmu. Karena sifat mu yang arogan dan kasar, belum lagi menggunakan yang namanya kekuasaan untuk menindas orang lebih lemah darimu. Aku benci itu, aku tidak suka!!"


"Tapi perubahan mu demi aku dan Akhtar, kelembutan dan perhatianmu. Bagaikan di sebuah kapal yang sudah tak bisa berlayar, hanya terombang-ambing di tengah lautan. Di apit oleh dua pilihan, ingin terjun dan berenang ke daratan mencari kebahagiaan atau bertahan di atas kapal yang sudah tidak bisa di selamatkan lagi"


"Dan kamu memilih terjun ke laut bukan??" Tanya Dewa.


"Benar, karena aku yakin. Saat aku mencoba berenang meski aku tak tau bisa selamat sampai darat atau tidak, yang aku yakini hanya satu, yaitu aku akan menemukan kehidupanku yang baru. Daripada bertahan di atas kapal yang sudah hampir karam, tanpa makanan dan minuman. Meski aku bisa bertahan beberapa saat, tapi pada akhirnya aku akan mati. Dan di saat itulah aku pasti menyesal karena tidak pernah mencoba keluar dari sana"


"Terimakasih karena kamu sudah memilih pilihan yang akhirnya membuat aku merasakan kebahagiaan ini sayang"


"Terimakasih juga buat kamu karena sudah menunjukkan arti cinta yang sesungguhnya Mas"


"Mas mencintaimu sayang"


"Aku juga mencintaimu Mas"

__ADS_1


Diandra semakin membenamkan kepalanya di pelukan Dewa. Menghirup aroma laki-laki itu yang begitu memabukkan baginya.


Bersambung....


__ADS_2