Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
54. Oleh-oleh


__ADS_3

Sepertinya balkon kamar menjadi tempat favorit Diandra selama di rumah itu. Pemandangan laut dan juga bagian depan rumah beserta taman yang berada di samping rumah bisa di lihat dengan jelas dari sana.


Ditemani secangkir teh hangat dalam cangkirnya, Diandra menikmati udara sore dengan langit berwana jingga menandakan matahari yang siap tertidur kembali.


Tangannya yang halus itu mengusap perutnya dengan lembut. Menyalurkan kehangatan untuk calon anaknya yang sebentar lagi akan hadir ke dunia ini.


Semakin besar kandungannya semakin besar pula rasa cintanya pada buah hatinya itu. Rasa egois ingin memilikinya pun selalu menghantui Diandra.


Entah apa yang akan Dewa lakukan nanti jika Diandra benar-benar membawa pergi anak mereka. Pastilah pria psycho itu akan dengan mudah menemukan mereka. Mungkin saja Dewa akan bertindak gila lagi dengan mengurung Diandra atau bahkan menjerat Diandra dalam belenggu kesengsaraan.


Diandra tau betul jika anak yang sedang ia kandung berhasil membawa perubahan pada Dewa dengan begitu besar. Jadi jika sumber perubahannya itu di ambil secara paksa pastilah Dewa akan sangat murka.


Diandra menepis semua pikirannya yang terlau jauh itu. Lalu ia kembali menyeruput teh hangatnya, rasa hangat yang masih terasa bahkan saat teh itu mulai melewati lehernya.


Suara gerbang yang terbuka mampu mengalihkan perhatian Diandra dari tehnya itu. Diandra tau betul siapa yang berada di mobil itu. Dari atas balkon Diandra terus melihat mobil yang mulai masuk ke halaman rumah besar milik Dewa itu.


Pria yang masih terlihat rapi dengan baju yang sama walau sudah bepergian seharian penuh turun dari mobil hitam mengkilap itu.


Entah kebetulan atau memang Dewa melihat ke arah balkon kamarnya, tatapan Dewa langsung bertemu dengan Diandra yang masih berdiri di atas sana.


Seulas senyum Diandra berikan untuk menyambut kedatangan Dewa. Dalam jarak yang lumayan jauh itu Dewa masih bisa melihat jika Diandra tersenyum kepadanya.


Hanya senyuman pula yang Dewa balaskan untuk Diandra. Bukan kata-kata atau suara apapun karena menurutnya akan sia-sia saja, suara angin dari laut yang cukup besar membuat suara akan susah terdengar dari jarak yang lumayan jauh.


Dewa lebih memilih melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Segera menghampiri Diandra ke atas mungkin lebih baik menurutnya.


Jika Diandra yang menyambutnya hanya dari balkon kamarnya, maka berbeda dengan Manda dan Tara yang sudah berada di ruang tamu menantikan kedatangan Dewa.


"Kamu baru pulang?" Manda langsung mendekati Dewa. Mencoba meraih jas milik Dewa yang baru saja di lepas saat memasuki pintu rumahnya itu.


"Tidak perlu Manda, aku bisa sendiri" Dewa sedikit menjauhkan tangannya saat Manda ingin meraih jasnya itu.


Hati Manda sedikit mencelos karena penolakan itu.


"Kak Dewa darimana??" Kini Tara yang bersuara.


Bukan hanya Diandra yang merasakan adanya perubahan pada diri Tara. Namun kini Dewa juga mulai menyadarinya. Tara lebih pendiam dan cenderung tidak peduli dengan Dewa.


"Ada seseorang yang baru saja aku temui" Jawab Dewa melirik kepada Manda.


"Siapa itu?? Apa klien Kak Dewa??" Tara kembali bertanya meski masih duduk di sofa.


"Bukan, tapi dia seseorang yang ada hubungannya dengan masa lalu" Lagi-lagi Dewa kembali melirik Manda.

__ADS_1


Tapi perempuan itu belum sadar sama sekali jika apa yang Dewa katakan itu berhubungan dengannya.


"Oohh.." Hanya itu yang keluar dari bibir Tara. Di tidak bertanya lebih jauh lagi. Dia malah kembali fokus pada ponselnya.


"Mas!!" Diandra yang sejak tadi menunggu Dewa di kamarnya memutuskan untuk turun kebawah karena Dewa tak kunjung sampai ke kamarnya.


"Dee?? Kenapa kamu turun??" Dewa menghampiri Diandra yang masih terlihat kesusahan saat berjalan ke arahnya.


"Aku mau tau kenapa kamu lama sekali sampai si atas. Ternyata sudah ada yang menyambut mu di sini??" Diandra sengaja mengatakan itu untuk menyinggung Manda.


Sama sekali tak ada kemarahan pada Diandra karena dia juga tau kepergian Dewa seharian ini adalah untuk menemui mantan suami Manda. Dan itu berarti Dewa akan segera membuat wanita pengganggu itu dari rumah Dewa.


Meski Diandra belum tau yang Dewa dapat dari kepergiannya itu. Tapi firasatnya mengatakan jika memang ada yang Manda sembunyikan dari Dewa.


"Maaf Dee, seharusnya aku lebih memilih menemui mu terlebih dahulu"


"Kalau gitu apa sekarang kamu mau naik ke atas bersamaku atau masih mau di...."


"Aku mau sama kamu!!" Dewa memotong ucapan Diandra dengan tegas.


"Baiklah kalau begitu, berikan jasnya kepadaku" Manda yang melihat Dewa menyerahkan jasnya itu tanpa penolakan seperti dirinya tadi merasa sangat di permalukan.


"Maaf Tuan, ini oleh-olehnya tertinggal di mobil. Mau saya antar ke kamar atau..."


"Langsung saja berikan pada Manda Nik. Itu khusus untuk Manda"


Diandra tam percaya ketika Dewa lebih memilih memberikan oleh-oleh untuk Manda ketimbang dirinya.


Sementara mata Manda sudah berbinar ketika menerima paper bag yang di ulurkan Niko itu.


"A-apa ini Dewa?? Kenapa ini hanya untukku?? Bukan untuk istrimu atau Tara"


Tara juga sampai membuka mulutnya karena belum bisa mencerna maksud dari Dewa itu.


"Iya, itu memang untukmu. Bukalah, mungkin kamu akan tau apa maksudku memberikan itu hanya untukmu"


Dewa mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar. Dia melirik Diandra sebentar lalu mengedipkan matanya, memberikan tanda pada Diandra jika semuanya berjalan dengan lancar.


Manda mulai membuka paper bag itu. Sebuah kotak mika dengan isinya yang berhasil membuat Manda terkejut. Terlebih lagi logo dari stiker yang tertempel pada kotak mika itu menunjukkan bahwa tebakan Manda benar.


"Dewa, i-ini??"


"Iya Manda. Itu anggur oleh-oleh dari mantan suamimu, Alex. Dia tau kalau kamu tidak suka anggur jadi dia berpesan semoga kamu bisa menyukainya karena untuk menanamnya tidak mudah dan butuh kesabaran"

__ADS_1


"Apa kamu bertemu dengannya??" Wajah Diandra sudah pucat pasi saat ini.


Termasuk tara yang tangannya mulai bergetar, bola matanya tampak tak bisa berhenti bergerak karena rasa gugupnya.


"Iya, aku baru saja menemuinya. Ternyata sekarang dia mengelola perkebunan anggur milik keluarganya. Tak disangka usahanya kali ini berkembang pesat dan berpenghasilan cukup luar biasa. Dia bisa bangkit kembali setelah kebangkrutannya"


Dewa masih sangat tenang menghadapi kegugupan Manda. Belum tampak sama sekali kemarahan dalam dirinya.


Diandra menyentuh tangan Dewa, seakan meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena dia masih seperti orang bodoh di sana yang tidak tau apa-apa.


Dewa hanya meraih tangan Diandra lalu beralih menggenggamnya. Dewa belum juga membuka suaranya untuk Diandra.


"A-apa dia mengatakan sesuatu padamu??" Rasa ketakutan itu semakin menghujam Diandra.


"Iya, dia mengatakan semuanya. Dari kehidupan kalian, kebangkrutannya, hingga perceraian kalian. Masalah dan sebab masalah itu terjadi juga tak luput dari ceritanya kepadaku"


"Dewa, de-dengarkan aku dulu. I-itu semua bohong. Apa yang dia katakan itu tidak benar. Tolong jangan percaya padanya" Manda sangat ketakutan sampai keringat dingin keluar dari pori-porinya.


"Memangnya kamu tau apa yang dia katakan padaku Manda?? Kenapa kamu mengatakan kalau dia berbohong??"


Manda bungkam, dia tidak bisa menjawab apa yang Dewa tanyakan itu. Dia sudah salah langkah, apa yang dia ucapkan justru jadi bumerang untuknya.


"Manda, dari kegugupan mu itu justru aku sudah yakin jika kamu yang telah berbohong"


Dewa mulai memasang wajah dingin dan tatapan tajamnya pada Manda.


"Entah apa tujuanmu sebenarnya untuk datang kesini tapi aku sudah tidak peduli lagi denganmu. Cepat pergi dari rumah ini sekarang juga sebelum aku benar-benar murka. Kau tau sendiri apa yang bisa kulakukan jika aku sudah tidak terkendali" Dewa sudah menggeram menahan amarahnya.


Diandra mengeratkan tangannya yang di genggam Dewa. Diandra mencoba menahan amarah Dewa melalui sentuhannya itu.


Tara bergetar ketakutan melihat Dewa yang sudah seperti itu. Sepertinya dia harus jujur pada Dewa terlebih dahulu sebelum semuanya menjadi kacau. Tapi Tara belum mempunyai keberanian itu.


"Aku harap besok pagi aku sudah tidak melihatmu lagi di rumah ini!!" Dewa mengajak Diandra untuk kembali ke kamarnya. Tapi Diandra menahan tangan Dewa.


"Sebentar" Bisik Diandra.


Diandra berjalan mendekati Manda yang masih mematung dengan air matanya yang sudah membasahi pipinya.


Anggur yang berada di tangannya hanya di pegangnya dengan kuat.


"Buat aku aja ya?? Kamu nggak suka kan??" Diandra ternyata hanya ingin meminta anggur hang di bawakan Dewa itu.


Dari tadi dia menelan ludahnya ketika melihat anggur yang tampak segar dan berukuran besar itu.

__ADS_1


Dewa yang sudah cukup sabar menahan kemarahannya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan Diandra.


Bersambung..


__ADS_2