Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
77. Cemburu


__ADS_3

"Apa Diandra sudah di temukan??" Kalimat itu yang langsung di tanyakan oleh Bryan


Yah memang dia adalah Bryan, Dewa sengaja memberikan nomornya pada Bryan kemarin. Supaya salah satu memberikan kabar jika sudah menemukan Diandra.


"Sudah, saat ini sedang istirahat"


"Bagaimana keadaannya?? Apa dia baik-baik saja?? Bolehkah aku menemuinya??" Sama halnya dengan Dewa waktu itu, Bryan juga begitu khawatir dengan Diandra. Dewa bisa merasakan hal yang sama karena mereka berdua mencintai orang yang sama.


"Boleh, tapi aku mohon jangan sekarang. Kedua orang tuaku sedang berada disini. Aku tidak mau mereka semakin memperumit urusan kita"


"Baiklah kalau begitu, tapi ijinkan aku berbicara sebentar dengan Diandra. Aku mohon, aku sidah lama tidak mendengar suaranya. Tuan tau sendiri kan rasanya menahan rindu pada wanita yang kita cintai??"


Dewa menatap Diandra yang juga sedangg menatapnya. Rasanya berat sekali untuk mengijinkan istrinya berbicara dengan kekasihnya. Tapi karena Dewa sadar jika dialah yang bersalah di sana, dialah yang memisahkan kedua orang yang saling mencintai itu. Akhirnya Dewa mengulurkan ponselnya pada Diandra.


"Dia ingin bicara sama kamu"


"Siapa??"


"Kekasihmu" Ucap Dewa dengan senyumnya yang layu.


Diandra menerima ponsel Dewa, meski melihat kelas kekecewaan di wajah Dewa.


"Halo??" Dewa berusaha menghindari tatapan Diandra yang terus tertuju padanya meski sedang menjawab panggilan dari Bryan.


"Didi ini aku. Bagaimana keadaan mu?? Apa kamu baik-baik saja?? Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu??"


"Bryan, aku baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir"


"Bagaimana aku tak khawatir Didi. Kemarin Tuan Dewa datang ke apartemenku untuk mencari keberadaan mu. Kamu menghilang begitu saja setelah menerima pesan yang mengatasnamakan aku. Aku juga cemas Didi, tapi aku tidak bisa berbuat apapun" Diandra semakin menatap Dewa dengan dalam. Dia baru tau kalau Dewa sempat mencari Diandra jauh-jauh ke tempat Bryan. Rasa bersalahnya semakin dalam kepada Dewa.


"Ceritanya panjang Bry, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Tapi aku baik-baik saja sekarang"

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Aku bisa tenang sekarang. Tapi Didi, apa boleh aku bertemu denganmu sebentar saja ?? Apa kamu tidak merindukanku??"


Dewa jelas sekali mendengar apa yang Bryan ucapkan itu. Dia sengaja membesarkan volume teleponnya sebelum menyerahkan pada Diandra tadi


"Maaf Bryan, kedua mertuaku sedang berada di suni, aku tidak mau mereka salah paham. Jadi aku benar-benar minta maaf"


Kini Diandra tau apa sebabnya Dewa tadi menyebut orang tuanya saat mengangkat panggilan Bryan. Dan Diandra juga menggunakan alasan yang sama.


Dewa merasa sedikit di atas angin karena Diandra berusaha menjaga perasaannya.


"Baiklah kalau begitu.Jaga kesehatanmu Didi, sebentar lagi kita akan segera bersama lagi"


Rasanya Dewa langsung dihempaskan oleh kenyataan setelah sempat merasa melambung tinggi.


"Hemm tentu Bryan. Kalau begitu biarkan aku istirahat lagi. Aku tutup dulu teleponnya"


Tanpa menunggu suara Bryan lagi, Diandra sudah mematikan sambungan teleponnya. Tentu saja Diandra melakukan itu karena merasa takut jika Dewa akan marah kepadanya.


Diandra masih menggenggam ponsel Dewa karena pemiliknya juga memilih berbaring menutup matanya.


"Mas??" Panggil Diandra dengan lembut. Tapi tak ada sahutan sama sekali dari Dewa. Padahal Diandra tau kalau Dewa sama sekali tidak tidur.


"Mas Dewa??" Diandra meletakan ponsel Dewa di tangan pemiliknya.


"Tidurlah Dee, aku juga masih sedikit pusing" Ucap Dewa dengan aura dinginnya yang memancar kemana-mana.


Diandra seorang wanita, pastilah perasaannya sangat peka terhadap sikap yang di tunjukkan Dewa. Hatinya terluka saat Dewa kembali bersikap dingin seperti itu.


Diandra tak menyahut kalimat perintah itu. Dia langsung mengambil posisi tidur membelakangi Dewa. Tidak mau menunjukkan air matanya yang berlahan mulai turun. Dengan menggigit bibir bawahnya Diandra menahan supaya isak tangisnya tak keluar. Tapi apalah daya, mereka tidur di ranjang rumah sakit yang kecil kemudian di jadikan satu. Punggung Diandra yang bergetar membuat ranjang mereka bergerak.


Dewa lantas membuka matanya kembali. Hanya karena dibutakan rasa cemburunya Dewa kembali menyakiti istrinya itu.

__ADS_1


Sebuah tangan berlahan melingkar pada pinggang Diandra, menjulur ke depan hingga memeluk perut yang sudah membesar itu.


"Jangan menangis Dee, maafkan Mas" Pelukan dan bisikan di telinga Diandra itu justru semakin membuat Diandra menangis.


"Kenapa kamu marah sama aku Mas?? Bukan aku yang menghubunginya lebih dulu. Aku juga tidak menginginkan bicara dengan ya lebih dulu. Kamu yang menerima telponnya. Kamu juga yang mengijinkan dia untuk bicara denganku. Lantas apa salahku?? Aku juga tidak mengatakan apapun. Kalau kamu nggak suka, ya sudah. Kamu berhak melarang. Bukannya mendorongku namun masih menjerat leherku"


"Maafkan Mas sayang. Mas awalnya mengijinkan dia untuk bicara denganmu karena Mas tau bagaimana rasanya saat mengkhawatirkan kamu. Tapi nyatanya Mas tidak bisa menahan perasaan Mas saat mendengar Bryan mengatakan sebentar lagi kalian akan bersama lagi. Mas tidak marah sama kamu Dee. Tapi rasa di dalam hati ini sungguh susah di kendalikan. Maaf sayang" Dewa menciumi kepala Diandra dari belakang.


Diandra masih terisak meski Dewa terus memeluknya dengan erat.


Rasanya aneh sekali melihat mereka berdua. Tidur berdua, saling menyentuh dan berbagi kehangatan. Seperti suami istri yang saling mencintai, sama-sama takut jika salah satunya marah. Saling menjaga hati dan perasaan masing masing. Berbagi perhatian, kenyamanan dan kasih sayang. Namun masih belum ada kepastian dari hubungan mereka berdua.


Yang satu memilih mengikhlaskan demi yang satunya bahagia. Sementara satunya lagi perasaannya masih terpaku pada pria yang lebih dulu mengisi hatinya. Masih meyakini jika perasannya itu tak berubah sedikitpun meski pria lain sudah mulai menggoda hatinya.


"Tidak semudah itu" Ucap Diandra setelah puas dengan tangisannya.


"Lalu apa yang harus Mas lalukan supaya kamu mau memaafkan suamimu ini??"


Diandra sejak tadi mendengar Dewa memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Mas. Terdengar manis sekali bagi Diandra.


"Nggak usah peluk-peluk!!"


"Itu permintaan kamu agar kamu mau memaafkan Mas??" Diandra mengangguk mengiyakan pertanyaan Dewa meski permintaannya tidak masuk akal. Itu bukan permintaan namun larangan.


"Nggak, nggak bisa kalau itu. Mas udah terlanjur nyaman. Jadi ganti yang lain aja!!"


Dewa semakin mengeratkan pelukannya, wajahnya bahkan sudah tenggelam di leher Diandra.


"Kalau gitu ya kaya gini terus sampai pagi jangan pernah lepaskan sedikitpun!" Lagi-lagi itu perintah bukan permintaan. Tapi Dewa justru tampak girang dengan permintaan Didera kali ini.


"Dengan senang hati istriku!" Dewa sudah mesam mesem tak jelas di balik punggung Diandra.

__ADS_1


Biarlah Dewa menikmati saat-saat terindahnya dengan Diandra. Sebelum wanitanya itu benar-benar pergi dari kehidupannya.


Bersambung..


__ADS_2