Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
60. Apa iya aku cemburu??


__ADS_3

Dewa terus tersenyum melihat layar ponselnya. Sejak sore tadi setelah pemerikasaan bulanan Diandra selesai, Dewa terus saja melihat foto hasil usg anaknya yang berbentuk soft file itu.


Dia begitu mengagumi maha karya ciptaan Tuhan yang begitu menakjubkan itu. Apalagi buah hatinya itu akan lahir dari rahim wanita yang sangat amat dicintainya.


Dewa berjanji akan menyayangi calon putranya itu dengan sepenuh hati. Mendidiknya menjadi pria yang baik tidak seperti dirinya, walau tanpa Diandra di sampingnya.


Meski akhirnya kelak Diandra akan pergi dari sisinya. Tapi kehadiran seorang putra dari hasil penikahannya dengan Diandra mampu sedikit mengobati rasa sakit di dalam hati Dewa.


Memang sejak perjanjian yang di buatnya dengan Diandra itu, Dewa sudah mencoba untuk belajar mengikhlaskan Diandra. Mencoba melepaskan perasaannya secara berlahan meski rasanya begitu sakit.


Tapi hatinya tak bisa menyangkal jika perasaan cintanya justru semakin jauh berkembang. Apalagi dengan sikap Diandra yang lembut dan perhatian justru membuat Dewa semakin jatuh jauh ke dalam lubang cintanya sendiri.


Dan Disaat Dewa benar-benar bertekad untuk mencoba ikhlas tentang Diandra, justru perempuan itu yang menawarkan diri untuk menjadi istri sesungguhnya di sisa usia pernikahan mereka.


Jadi saat ini Dewa benar-benar pasrah. Dia tidak lagi menentang perasaannya yang semakin mencintai Diandra. Dia tidak akan membentengi hatinya lagi, dia hanya membiarkan semuanya mengalir mengikuti arus saja. Dewa sudah pasrah, jika kelak Diandra benar-benar ingin pergi maka Dewa akan melepaskan dan sebaliknya. Jika Diandra ingin bertahan maka selamanya Dewa akan egois karena tidak mau melepaskan.


"Mas, pipi kamu nggak pegel senyum terus dari tadi??"


Mereka berdua duduk bersandar di ranjang, dengan Diandra yang sejak tadi memperhatikan Dewa terus tersenyum memandangi foto anaknya itu.


"Habisnya dia lucu sekali Dee, aku udah nggak sabar ketemu sama dia" Dewa mengusap layar ponselnya dengan ibu jarinya. Bahkan Dewa sesekali menciumnya dengan gemas.


"Sabar Mas, tinggal sebentar lagi"


"Aku sudah membayangkan saat dia lahir Dee. Mendengar suara tangisannya, menggendongnya, mencium pipinya yang gembul"


Dewa langsung mendekatkan wajahnya pada perut Diandra. Menciumnya dan mengusapnya dengan lembut.


"Hay jagoan, Papa sudah tidak sabar ingi ketemu kamu" Diandra mengusap rambut Dewa.


Mereka berdua sudah tidak canggung sama sekali melakukan kontak fisik sepeti itu. Diandra bahkan tak pernah menolak jika Dewa mencium perut buncitnya itu.


"Pasti sangat membahagiakan saat itu. Tapi di dunia ini tidak ada kebahagiaan yang sempurna Dee" Dewa kembali ke posisinya dengan berubah sendu.


"Kok bilang begitu?"


"Karena di saat itu juga aku harus melepaskan kamu Dee. Seperti janjiku padamu"


Mereka berdua saling menatap dengan pikirannya masing-masing. Sampai dering ponsel Dewa membuyarkan pikiran mereka berdua.


"Aku angkat dulu ya??" Dewa beranjak dari tempat tidurnya. Diandra merasa aneh karena baru kali ini Dewa mengangkat telepon namun memilih menjauh darinya. Bahkan jika klien yang menelpon pun Dewa tetap berada di sekitar Diandra tanpa menjauh.


"Halo??" Ucap Dewa setelah ponselnya berada di sisi telinganya.


"Halo sayang??"


Diandra dengan jelas bisa mendengar suara seorang perempuan yang menelepon Dewa.

__ADS_1


"Sayang?? Siapa sebenarnya dia??" Diandra bertanya di dalam hatinya.


Ada rasa aneh di dalam hatinya saat ini. Seperti ada yang terbakar di dalam sana sehingga membuat dadanya panas dan terasa sesak.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku Mas?" Diandra bergumam dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Diandra sendiri juga tidak tau kenapa dia merasa kecewa ada perempuan yang memanggil Dewa dengan sebutan mesra itu.


Saat air mata Diandra mukai jatuh ke pipinya, saat itu juga Dewa kembali ke dalam kamar. Belum sempat Diandra menghapus air matanya, Dewa sudah lebih dulu melihatnya.


"Dee??" Dewa langsung mendekati Diandra. Namun Diandra segera memalingkan wajahnya.


"Hey kamu kenapa nangis??" Dewa duduk di sisi ranjang.


"Enggak, siapa yang nangis. Cuma klilipan aja kok" Diandra berusaha menghindari tatapan mata Dewa.


"Jangan mengelak, aku tau kamu bohong" Dewa meraih pipi Diandra untuk menghadap ke arahnya.


Diandra bingung kenapa dia menangis, padahal dia sendiri yang waktu itu berharap jika Dewa menemukan wanita yang bisa mencintainya dengan tulus.


Tapi Diandra merasa kesal karena Dewa harus menyembunyikan semua itu dari Diandra. Kenapa juga Dewa tidak jujur saja kepadanya.


"Mas, kamu ada yang disembunyikan dari aku??" Dewa mengernyit mendengar pertanyaan dadi Diandra itu.


"Disembunyikan??" Dewa mengulang pertanyaan Diandra.


Awalnya Diandra bukan ingin Dewa jujur tentang hal ini. Tapi Karena Dewa justru mengarah ke adah sana, Diandra menjadi sedikit tertarik.


"Terjadi sesuatu?? Maksudnya?? Apa kita sedang dalam bahaya??" Dewa tampak gelagapan harus bagaimana menjawab pertanyaan Diandra itu.


"Tentu saja tidak Dee, tapi aku hanya tidak ingin orang lain tau tentang pernikahan kita" Bola mata Dewa bergerak ke arah lain, seperti menghindari kontak mata dengan Diandra. Seolah takut jika Diandra bisa membaca kebohongan dari sana.


Diandra mengamati gerak gerik Dewa yang aneh itu, dan dia bisa menyimpulkan jika memang Dewa menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi Diandra hanya diam, dia tidak akan memaksa Dewa untuk bercerita. Diandra akan menunggu Dewa untuk bercerita dengan sendirinya.


"Emmm, padahal bukan itu yang ingin aku ketahui Mas" Dewa langsung menatap Diandra lagi.


"Lalu apa??"


Diandra masih penasaran siapa yang menelepon Dewa tadi. Mungkin dengan menanyakannya Dewa akan jujur kepadanya.


"Siapa yang baru saja menghubungimu?? Kenapa memanggilmu begitu mesra??"


"Mesra??" Tanya Dewa. Dia mengingat-ingat apa yang dia bicarakan di telepon tadi.


"Iya, bukankah tadi suara seorang wanita dan dia memanggilmu sa-sayang??" Diandra menggigit bibir bawahnya karena malu menanyakan itu kepada Dewa. Terlihat jelas sekali jika Diandra sangat ingin tau urusan Dewa.


"Astaga Dee, dia...." Belum sempat Dewa menjelaskan tapi Diandra buru-buru memotong kalimat Dewa dengan cepat.

__ADS_1


"Mas, aku tidak papa jika kamu sudah menemukan wanita yang bisa mencintai kamu. Kamu tidak perlu menyembunyikan semua itu hanya untuk menjaga perasaanku"


"Dee dengar du...."


"Sungguh aku tidak maslah dengan itu Mas. Aku justru senang, karena saat kita berpisah nanti kamu sudah menemukan tambatan hatimu. Aku...."


Diandra terpaksa menghentikan ucapannya karena Dewa berhasil membungkam Diandra dengan bibirnya.


Diandra bahkan sampai menahan nafasnya karena terlalu terkejut dengan tindakan Dewa itu. Dewa hanya menempelkan bibirnya saja tanpa menggerakkannya. Memang tujuannya hanya untuk membuat Diandra menghentikan bibirnya yang terus saja berbicara omong kosong.


Buktinya bibir Diandra terus mengatakan tidak papa, tidak masalah, tapi matanya tidak bisa bohong, mata itu tampak berkaca-kaca.


Dewa melepaskan bibirnya tanpa menjauhkan wajahnya. Dia menyatukan keningnya dengan kening Diandra.


"Sudah?? Sudah ngomongnya??" Diandra hanya bisa mengangguk pelan karena keningnya masih menyatu dengan Dewa.


"Kamu mau tau tadi siapa hang memanggilku sayang??" Dalam jarak sangat sangat dekat itu Diandra tidak bisa menghindar dari tatapan Dewa.


"Si-siapa memangnya??" Rasanya gugup dan panas dingin hanya dengan perlakukan Dewa yang seperti itu.


"Mama"


"Mama??" Bola mata Diandra bahkan hampir keluar terlalu terkejut. Ternyata dia sudah salah paham kepada Dewa, dan betapa malunya Diandra saat ini.


Dewa menjauhkan wajahnya dari Diandra dengan menahan senyumnya.


"Iya, Mama Bella. Kamu tau kan kalau Mama belum tau tentang kita. Jadi aku sengaja menjauh darimu karena Mama sering tiba-tiba melakukan panggilan Video" Dewa merasa gemas melihat Diandra yang wajahnya sudah merah padam seperti itu.


"Ma-maaf aku kira kamu..."


"Kamu kura aku punya perempuan lain begitu?? Sepertinya kamu memang belum bisa percaya jika kamu adalah wanita satu-satunya di hidupku Dee"


"Bukan begitu Mas"


"Lalu??" Dewa kembali mendekatkan wajahnya dengan tiba-tiba, membuat Diandra juga refleks memundurkan wajahnya.


Tapi Diandra tidak bisa berkutik saat kepalanya membentur sandaran pada ranjang.


Dewa memiringkan wajahnya hingga bibirnya tepat berada di sebelah telinga Diandra.


"Kalau cemburu bilang aja!!" Bisik Dewa di telinga Diandra.


Dan sebelum Diandra mengeluarkan protesnya Dewa sudah lebih dulu melesat ke dalam kamar mandi.


"Cemburu??" Diandra bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa iya aku cemburu?? Bahakan saat Bryan berpose mesra dengan rekan modelnya saja aku tidak merasa seperti ini. Tapi kenapa hanya dengan mendengar wanita lain memanggilnya sayang aku jadi merasakan perasaan aneh?? Apa ini yang dinamakan cemburu??"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2