
Sudah tiga hari Diandra berbaring lemah di ranjangnya. Untuk mandi dan makan pun Diandra hanya mampu di bantu oleh Nining.
"Nyonya yakin nggak mau ke rumah sakit aja??" Nining sangat prihatin melihat kondisi majikannya itu.
"Tidak Ning, aku udah mendingan sekarang. Kepalaku sudah tidak pusing lagi"
Memang benar Diandra saat ini sudah bersandar di ranjang, tidak seperti kemarin yang bangun saja minta bantuan Nining.
"Tapi Nyonya sudah tiga hari lemes kaya gini kan??"
"Tidak papa Ning, kata Dokter juga cuma kecapean aja"
Diandra memang keras kepala. Mama Bella saja sampai menyerah membujuk Diandra untuk ke rumah sakit.
Alasannya hanya dua yaitu tidak mau jauh dari Akhtar dan tidak mau jika sewaktu-waktu Dewa pulang malah melihat Diandra terbaring di rumah sakit.
Walaupun selama Diandra sakit dia sama sekali tidak menyentuh Akhtar. Tapi cukup berada di dekatnya sudah membuat Diandra senang.
"Nining, tolong ambilkan ponselku" Tunjuk Diandra pada ponselnya yang dicampakkannya selama tiga hari ini.
"Ini Nyonya"
"Terimakasih, kamu boleh keluar dulu sekarang" Nining tersenyum lalu membetulkan selimut Diandra sebelum wanita yang belum menikah itu keluar.
Diandra membuka ponselnya, ingin segera menghubungi Dewa dan meminta maaf karena tidak menanyakan kabarnya sama sekali. Bukannya Diandra abai dengan suaminya itu, tapi kemarin Diandra benar-benar tidak mampu untuk sekedar menatap layar ponsel.
Tapi ada rasa kecewa ketika tidak ada satu pesan pun dari pria yang begitu dirindukannya itu. Bahkan catatan panggilannya saja tidak ada.
Tanpa berpikir panjang lagi, Diandra mencoba untuk menghubungi Dewa. Mungkin jika nanti suaminya itu meminta video call wajahnya sudah tak sepucat kemarin.
Diandra menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu mencoba menghubungi kembali.
"Kok nggak aktif sih?? Apa terjadi sesuatu sama Mas Dewa??"
Diandra beralih menghubungi Niko, pria satu itu selalu cepat tanggap jika Diandra menghubunginya.
Dan benar saja baru satu kali mencoba, panggilannya langsung tersambung pada Niko.
"Halo Nyonya??"
"Halo Nik, apa kamu sedang bersama Mas Dewa??"
__ADS_1
"Iya Nyonya"
"Tapi Nik, aku tidak bisa menghubungi Mas Dewa. Apa terjadi sesuatu dengannya??"
"Tidak Nyonya, Tuan baik-baik saja. Ponselnya habis baterai jadi tidak bisa di aktifkan"
"Hemmm, apa bisa aku bicara sebentar dengan Mas Dewa Nik??"
Diandra tampak menunggu beberapa detik karena Niko belum menjawabnya.
"Niko??" Panggil Diandra lagi.
"Maaf Nyonya, Tuan sedang memimpin meeting. Jadi tidak bisa di ganggu. Apa ada pesan?? Nanti akan saya sampaikan"
"Baiklah. Katakan saja kalau nanti aku menunggunya menghubungiku. Katakan juga untuk makan tepat waktu"
"Baik Nyonya. Ada lagi??"
"Tidak, terimakasih Nik"
"Sama-sama Nyonya"
Diandra menarik ponselnya menjauh dari telinga dengan lemas. Rasanya Diandra tidak percaya dengan Niko. Hatinya merasa semua yang Niko ucapkan itu hanyalah alasan belaka. Tapi Diandra tidak tau apa yang membuatnya berpikir begitu. Dia juga tidak merasa ada salah dengan suaminya.
"Ternyata seperti ini rasanya menahan rindu. Benar kata anak SMA itu jika rindu itu berat" Diandra membuang nafasnya dengan kasar.
-
-
"Puas??" Niko melirik Dewa dengan tajam.
"Kenapa melihatku seperti itu??"
"Tuan, anda sudah dengar sendiri kan kalau istri anda begitu mengkhawatirkan anda. Lalu apa lagi yang membuat anda meragukannya?? Tidak akan mungkin seorang wanita akan begitu khawatir kepada pria kalau tidak ada cinta di hatinya. Keraguanmu itu tidak berdasar Tuan" Kali ini Niko sedang berperan sebagai asistennya karena berbicara dengan formal namun berani menceramahi Dewa.
"Tapi baru sekarang dia menghubungiku Nik. Lalu kemana dia tiga hari ini?? Dai juga sama sekali tidak menghubungiku" Bantah Dewa. Sekarang Niko heran kepada Tuannya itu. Kenapa dia jadi seperti anak kecil yang haris di bujuk ketika merajuk.
"Bagaimana kalau tiga hari ini Nyonya juga menunggu anda yang menelepon duluan seperti apa yang anda lakukan saat ini Tuan??"
"Jangan sok tau kamu!!" Dewa memilih memutar kursinya untuk memunggungi Niko.
__ADS_1
"Benar Tuan, jangan sok tau. Karena apa yang Tuan ragukan juga belum tentu benar"
Dewa kalah telak dengan jawaban yang di balik oleh Niko.
"Apa Tuan akan melanjutkan drama kekanakan ini??"
Dewa memutar kursinya langsung menatap tajam pada Niko. Pria itu sudah benar-benar lancang, sudah menceramahinya kini ditambah mengatainya.
"Kekanakan katamu??"
"Benar, apalagi kalau tidak kekanakan Tuan. Anda kesal dengan pikiran anada sendiri, tapi anda ingin sekali di bujuk oleh istri anda yang tidak tau jika saat ini anda sedang mendiamkannya"
Dewa mendengus lalu berputar lagi membelakangi Niko.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Nik??"
Niko mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan huru-hara rumah tangga Dewa tapi kenapa dia yang harus di pusingkan.
"Hubungin dia Tuan. Katakan maaf karena sudah meragukan cintanya. Katakan sesuatu yang romantis seperti yang sering aku dengar"
"Tidak mungkin Niko, aku tidak akan bunuh diri dengan mengatakan jika aku meragukan cintanya. Bisa-bisa dia benar-benar meninggalkanku" Tolak Dewa dengan tegas.
"Takut di tinggalkan tapi kok berani mengabaikan" protes Niko dalam hatinya.
"Kalau begitu Tuan pulang saja, berikan Nyonya kejutan. Pasti Nyonya akan senang. Perlu saya pesankan tiket untuk hari ini juga"
"Tidak!!"
Niko melongo mendengar penolakan Dewa. Apalagi yang ada di dalam pikiran ayah satu anak itu.
"Jangan sekarang Nik. Kita masih ada pekerjaan untuk lima hari ke depan. Kita selesaikan secepatnya agar aku bisa cepat pulang" Dewa me
Narik jasnya yang terlampir di sandaran kursi putarnya itu. Memakainya serasa berjalan keluar dari ruangannya menuju tempat meeting selanjutnya.
Niko hanya mampu menuruti perintah Taun berkuasa itu. Dengan pekerjaan yang nyaris tak pernah berhenti, Niko juga dengan semangat mengikuti Dewa keluar dari ruangannya.
Perusahaan cabang itu memang saat ini dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Jadi Dewa sebagai pemimpin perusahaan harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan masalahnya.
Niko terus berjalan di belakang Dewa dengan langkahnya yang panjang mengikuti kaki jenjang Dewa. Tingginya yang tak mamou menyaingi Dewa hanya mampu membuat mata Niko sejajar dengan telinga Dewa. Pandangan Niko pun turun melihat punggung yang terlihat kokoh itu. Tak ada satu orang pun selain dirinya yang mengetahui betapa rapuhnya punggung itu hanya karena seorang wanita.
"Kelak jangan sampai rumah tanggaku rumit seperti ini" Batin Niko dengan mengusap dadanya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...