
Diandra masih heran kenapa Dewa melewatinya begitu saja. Bahkan seolah-olah tidak melihat Diandra di sana. Diandra masih terus memandangi bahu Dewa yang semakin menjauh di lorong yang panjang itu.
"Kenapa Mas Dewa seperti itu Bryan??"
Bryan kembali mendorong kursi roda Diandra semakin menjauh dari Dewa.
"Sudahlah Diandra, mungkin dia sedang banyak pekerjaan. Tidak usah dipikirkan, lebih baik kita lihat bayi kamu"
Meski Diandra hanya bisa menurut apa kata Bryan, tapi dalam hatinya sungguh masih banyak bertanya.
Hanya Diandra yang di ijinkan masuk ke dalam ruangan itu. Jadi terpaksa Bryan hanya menunggu di luar. Sementara Diandra masuk di bantu oleh seorang perawat.
Saat perawat itu menghentikan kursi roda Diandra di depan sebuah kotak kaca khusus untuk bayi. Kebahagiaan Diandra begitu membuncah sampai tak dapat menggambarkannya.
Rasa haru yang bisa Diandra rasakan saat melihat bayi mungil yang lahir dari rahimnya. Tangan Diandra masuk menyentuh jari-jari mungil itu. Bayinya tak terusik sekalipun meski Diandra juga menyentuh pipi halusnya.
Diandra ingin memanggil perawat untuk meminta ijin agar bisa menggendong bayinya, namun perhatian Diandra teralihkan dengan nama yang tertulis di depan inkubator milik anaknya.
"Abiseka Akhtar Bahuwirya" Gumam Diandra.
"Suster!!" Panggil Diandra dengan pelan.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya??" Suster jaga itu mendekati Diandra.
"Suster, siapa yang memberikan nama ini untuk anak saya??"
Suster itu sedikit mengerutkan keningnya. Ia kebingungan, bukannya Ayah dari bayi itu sendiri yang memberikan nama. Tapi kenapa ibu bayi itu malah bertanya kepadanya.
"Tadi Taun Dewa sendiri yang memberikan nama itu Nyonya. Jadi saya langsung menulisnya di sama"
"Jadi tadi Papanya datang kesini??"
"Iya Nyonya
"Berarti yang aku lihat tadi benar-benar Mas Dewa. Tapi kenapa seolah-olah Mas Dewa tidak mengenalku"
"Kalau gitu bantu saya untuk menggendong anak saya ya sus, boleh kan??"
Suster itu mengangguk lalu tersenyum hangat pada Diandra. Wanita yang sempat dia kagumi kecantikannya.
"Tapi hanya boleh sebentar ya Nyonya. Ini demi kebaikan adik bayi juga. Setelah benar-benar sehat Nyonya bisa puas menggendongnya kok" Ucap suster itu sembari mengambil bayi Diandra dari kotak kaca itu.
Dengan tangan yang sedikit gemetaran, Diandra menerima anaknya ke dalam gendongannya. Diandra mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh mengenai wajah bayinya.
__ADS_1
"Nyonya bisa sembari berlatih menyusui loh. Supaya melatih baby juga. Mau saya bantu??" Diandra mengangguk antusias.
Di bantu perawat itu, Diandra mulai menyusui anaknya. Bayi kecil itu juga terlihat bersemangat meng***ap sumber kehidupannya.
"Lihat Nyonya, dia pintar sekali"
"Benar suster" Diandra kali ini tetap tidak bisa menahan air matanya. Rasanya bahagia sekali, apalagi jika ada Dewa di sana. Pasti kebahagiaannya akan semakin lengkap.
"Kalau gitu saya tinggal dulu Nyonya" Diandra hanya mengangguk karena terlalu fokus dengan anaknya.
"Kamu lucu sekali sayang. Kamu mirip banget sama Papa. Mama sampai nggak kebagian loh"
Diandra mencium kening anaknya yang berbau harum khas bayi itu. Bayinya bahkan tenang dan anteng, tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menangis sama sekali. Padahal Diandra ingin sekali mendengar suara tangisannya yang pasti akan begitu menggemaskan baginya.
"Sayang, ternyata Papa sudah memberikan nama yang indah untuk kamu. Tapi Mama belum tau artinya. Nanti kalau Mama bertemu Papa, Mama janji akan menanyakan arti nama kamu. Pasti Papa memilihkan nama dengan arti yang mengandung doa untuk kamu, karena Papa sangat menyayangimu sayang" Sekali lagi Diandra mencium bayinya, namun kali ini di pipinya yang lembut itu.
"Mulai sekarang Mama akan panggil kamu Akhtar. Akhtar anak Papa dan Mama. Tumbuhlah jadi anak yang berbudi pekerti, pintar dan bertanggung jawab ya sayang. Doa Papa dan Mama akan selalu menyertai di setiap langkahmu"
Naluri keibuan Diandra saat ini benar-benar sudah muncul karena kehadiran Akhtar di dunianya. Diandra memberikan asinya sambil terus menimang-nimang buah hatinya. Rasa cinta kepadanya semkin besar kala melihatnya dalam dekapannya, menggeliat, dan mengerjabkan matanya dengan lucu.
"Nyonya, waktunya sudah habis. Biarkan babynya istirahat lagi" Suster itu meraih Akhtar dalam gendongan Diandra.
Akhirnya yang di nanti-nanti Diandra dari tadi terdengar juga. Tangisan menggemaskan dari anaknya. Bayi kecil itu masih haus, tidak mau lepas dari ibunya.
"Mari saya antar keluar lagi Nyonya" Suster itu sudah mulai mendorong kursi Diandra lagi. Menjauh dari anaknya.
Pandangan Diandra tak lepas dari Akhtar yang sudah terlelap. Rasanya tak rela meninggalkan dia sendirian di sana. Tapi demi kesehatannya, Diandra harus kuat. Lagi pula kata Dokter, Akhtar hanya perlu 10 hari di dalam sana. Jadi Diandra hanya harus menahannya sebentar lagi untuk berkumpul bersama anak dan suaminya.
"Sudah??" Diandra tersenyum melihat Bryan yang masih menunggunya di luar ruangan bayi itu.
"Makasih ya suster"
Kursi roda Diandra kembali di ambil alih oleh Bryan. Dan mulai mendorongnya kembali ke kamar Diandra.
"Bagaimana keadaan anak kalian??" Kelu rasanya bibi Bryan saat menyebut anak itu sebagai anak dari Diandra dan Dewa.
"Dia sehat Bry, lucu sekali. Kamu harus melihatnya. Kamu pasti jatuh cinta kepadanya, sama sepertiku. Suara tangisannya, tangannya yang sudah bisa menggenggam jariku, semuanya sangat menggemaskan"
"Bagaimana aku bisa langsung jatuh cinta keada anakmu Didi?? Sedangkan anak itu adalah anak dari pria yang telah merebut mu dariku" Bryan hanya bisa menyahuti Diandra dari dalam hati karena takut membuat Diandra tersinggung dengan ucapannya.
Diandra terus bercerita tentang anaknya sampai Bryan sudah mendorong Diandra masuk ke dalam kamar mewahnya lagi.
Seperti tadi saat Bryan membantu Diandra turun dari tempat tidur. Saat ini Bryan juga membantu Diandra untuk naik ke tempat tidurnya. Meski dengan pelan dan masih kesusahan tapi Diandra tidak mau di gendong oleh Bryan. Dia tidak mau Dewa salah paham jika pria itu tiba-tiba datang.
__ADS_1
Bryan merapikan selimut Diandra, membuat wanita itu duduk senyaman mungkin.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk!!" Ucap Diandra yang masih membetulkan posisinya.
Seorang pria yang sangat Diandra kenal masuk dari pintu yang baru saja di ketuk.
"Selamat siang Nyonya"
"Selamat siang Niko" Diandra melihat ke belakang Niko, mencari keberadaan seseorang yang selalu bersama Niko.
"Niko, dimana Mas Dewa??"
Bryan langsung terlihat masam karena Diandra mencari suaminya itu.
"Maaf Nyonya, saya datang kesini sendiri karena di utus Tuan Dewa" Niko masih sangat sopan kepada Diandra.
"Maksud kamu, Mas Dewa tidak datang kesini??"
"Benar Nyonya"
"Tapi tadi aku melihat Mas Dewa di luar, apa dia sudah pergi lagi??"
"Saya tidak tau tentang itu Nyonya"
Diandra semakin tidak tau apa maksud Dewa yang sama sekali tidak mempedulikannya sejak dua hari yang lalu.
"Lalu kenapa Mas Dewa juga tidak bisa di hubungi??"
Niko mendekati Diandra lalu menyerahkan sebuah map yang sejak tadi di bawanya.
"Mungkin ini yang akan menjawab semua pertanyaan Nyonya. Saya akan meninggalkannya disini untuk Nyonya pahami isinya lebih dulu. Besok saya akan mengambilnya kembali setelah Nyonya menandatanganinya"
"Ap-apa ini??" Perasaan Diandra sudah tidak tenang lagi melihat map yang berada di tangannya walau ia belum melihat isinya sama sekali.
Niko hanya tersenyum lalu membungkukkan badannya sedikit sebelum pergi dari ruangan itu.
Diandra dan Bryan juga sama-sama penasaran dengan isi dari map itu.
Dengan tangannya yang mulai bergetar, Diandra mengeluarkan satu per satu kertas yang berada di dalam mapnya.
Diandra baru saja membaca beberapa kalimat dari salah satu lembaran kertas itu, namun dirinya sudah tidak mampu. Pertahanannya runtuh saat itu juga.
__ADS_1
Bersambung..