Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
110. Bom waktu


__ADS_3

"Sa-sayang, Mas bisa jelaskan"


Rasanya jantung Dewa berhenti saat itu juga saat mendengar suara istrinya dari belakang.


"Mas bisa jelaskan, jangan salah paham dulu ya??" Dewa berjalan mendekati Diandra yang masih berdiri di depan pintu dengan secangkir teh panas di tangannya.


"MBAK SARI!!" Baru kali ini Diandra berteriak memanggil pengasuh Akhtar itu.


"Iya Nyonya" Mbak sari yang sedang berada di kamar sebelah langsung mendekat karena teriakan tiba-tiba itu.


"Bawa Akhtar ke kamarnya dulu. Saya ada urusan sebentar"


Diandra berbicara dengan Sari namun matanya masih terus menatap Dewa yang sedang gugup di depannya.


"Baik Nyonya" Sari langsung meriah Akhtar yang di baringkan di ranjang kedua orang tuanya. Sari tidak tau apa yang terjadi dengan kedua majikannya itu, yang jelas dia cepat-cepat pergi keluar setelah menggendong Akhtar.


Diandra bergerak maju lalu mengunci pintunya rapat-rapat. Dengan lirikan dan tatapan Diandra yang tajam saat ini mampu membuat leher Dewa tercekat sampai rasanya tak bisa lagi mengeluarkan suara.


Niatnya kembali lagi ke kamar untuk menanyakan Dewa ingin minum apa, tapi justru Diandra mendengar kejutan dari suaminya.


"Bisakah aku dengar sekali lagi Mas?? Katakan seperti yang aku dengar tadi" Suara Diandra tertahan rasa sesak di dalam dadanya.


"Sayang" Dewa mencoba meraih tangan Diandra namun wanita itu menjauhkan tangannya denan cepat.


Pedih saat ini yang Diandra rasakan. Setelah dia benar-benar yakin dengan perasaannya pada Dewa. Kini justru Dewa sendiri yang tidak percaya dengan perasaan Diandra.


"Apa katamu tadi Mas?? Kamu meragukan cinta ku??" Diandra meringis masih tak percaya den apa yang didengarnya tadi.


"Bukan begitu maksud Mas sayang"

__ADS_1


"Lalu apa?? Telingaku sudah tidak berfungsi begitu?? Aku dengan sangat jelas mendengar dari mulutmu sendiri Mas"


Tes..


Setetes air mata yang jatuh di pipi Diandra membuat Dewa menguruk dirinya sendiri.


"Apa yang membuat kamu meragukan aku Mas?? Katakan dengan jujur!! Kamu sendiri kan yang mengatakan jika kita harus jujur dengan perasaan kita?? Tapi kenapa kamu seperti ini?? Kalau kamu memang tidak mencintaiku, jangan merubah alibi mu dengan meragukan perasaanku!!" Diandra mundur dua langkah ke belakang seolah enggan berada lebih dekat dengan Dewa.


"Maafkan Mas sayang. Sungguh Mas minta maaf karena sudah berpikir seperti itu. Tapi Mas masih tetap mencintaimu. Tak pernah berkurang sekalipun rasa cinta Mas untuk kamu"


Dewa menahan tangan Diandra, tidak peduli kalau Diandra mulai memberontak untuk melepaskan tangannya.


"Bulsh*t!! Kalau kamu masih mencintaiku, tidak mungkin kamu akan mengabaikan aku selama satu minggu ini!!"


Bom waktu yang di rakit oleh Dewa akhirnya meledak dengan sendirinya. Menyesal?? Pasti itu yang saat ini Dewa rasakan. Rasa takutnya kehilangan Diandra membuatnya sampai berpikir berlebihan seperti itu.


"Sekarang katakan Mas, katakan apa salahku?? Apa pengakuan cintaku dan perhatianku masih kurang?? Apa kamu masih butuh bukti lagi?? Setidaknya katakan Mas, apa harus kita bertengkar seperti ini saat baru saja kita merajut kembali pernikahan kita yang hampir di ambang kehancuran??"


"Maaf sayang, maafkan Mas. Mas sungguh laki-laki yang bodoh. Mas salah sayang, hukumlah suamimu ini, Mas memang pantas menerima kemarahan mu" Dewa menangis tergugu memegang kaki Diandra.


Tangis mereka berdua memenuhi kamar yang mewah dan luas itu. Untung saja kamar itu memang di rancang agar kedap suara. Kadi sekeras apapun mereka bertengkar dan menangis, tidak akan menimbulkan kegaduhan yang membuat orang tua mereka khawatir.


"Bukan Mas, bukan itu yang aku ingin kan. Mudah saja jika aku ingin menghukum mu. Tapi semua itu akan sia-sia kalau aku tidak tau apa alasannya kamu menghindari aku dan Akhtar"


Diandra menyatukan kedua tangannya kemudian meremasnya dengan kuat untuk mengurangi rasa sesak di dalam dadanya. Dia butuh pelampiasan, jika tidak ingat Akhtar untuk mejadi sosok ibu yang baik untuknya pasti Diandra sudah mengamuk dengan memecahkan semua barang yang ada di kamar itu.


Malu rasanya Dewa mengatakan semuanya pada Diandra. Tapi istrinya itu terus saja mendesaknya, Dewa juga sadar jika masalah ini tidak akan segera berakhir jika Dewa tak lekas membuka mulutnya.


"Sebarnya Mas hanya takut sayang. Mas takut kehilangan kamu, Mas tidak mau kamu meninggalkan Mas. Malu rasanya mengatakan ini karena semuanya hanyalah rasa kesal dan marah yang berasal dari pikiran Mas sediri" Dewa menghentikan penjelasannya itu. Lalu mendongak menatap Diandra.

__ADS_1


"Mas berpikir kalau kamu mempertahankan pernikahan ini hanya karena kamu kasihan sama Mas dan tidak mau membiarkan Akhtar kehilangan sosok Ayahnya. Jadi Mas berasumsi kalau kamu bertahan semata-mata hanya karena anak kita, bukan karena cinta. Mas berpikir bodoh waktu itu, hanya karena kamu menolak sentuhan dari Mas, timbul pikiran seperti itu. Maaf sayang, maaf" Dewa lagi-lagi tak ada wibawanya lagi di hadapan Diandra. Pria itu menangis memohon di depan wanita yang sangat digilainya itu.


PLAKK...


Tangan Diandra benar-benar ringan sampai bisa mendarat di pipi Dewa. Tak ada rasa marah sekalipun, Dewa justru merasakan perih dalam hatinya bukan di bekas tamparan itu.


"Picik sekali kamu Mas!!"


Diandra menatap Dewa dengan penuh amarah. Matanya yang di penuhi air mata itu memicing tajam pada suaminya hang masih bersimpuh di bawahnya.


"Kamu mengukur rasa cintaku hanya karena kamu mengira aku tidak mau kamu sentuh?? Sedangkal itukah pikiran kamu Mas?? Apa yang membuatmu yakin dengan ku hanya dengan melayani mu di atas ranjang begitu?? Aku benar-benar tidak menyangka"


"Taukah kamu Mas, aku menunggu kabarmu di rumah. Aku merindukanmu setiap saat, bahkan saat aku sakit hanya kamu yang ada dalam pikiranku. Aku sengaja tidak memberitahumu karena aku takut kamu khawatir, aku nggak mau kamu kenapa-napa saat jauh di sana hanya karena memikirkan aku. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku aku berharap kamu tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku ingin kamu pulang. Tapi nyatanya??" Diandra menggeleng tak percaya.


"Suami yang aku rindukan memang sengaja tidak mempedulikan istrinya. Tadi saat pertama kali aku mendengar kamu berbicara dengan Niko, aku sempat berpikir Mas, apa ini karma karena dulu aku yang mengabaikan mu?? Atau kamu memang sengaja ingin balas dendam??"


"Tidak sayang, itu sama sekali tidak benar. Mas sangat mencintaimu, tidak ada niat sama sekali untuk membalas kamu. Mas mohon maafkan Mas sayang" Dewa menggenggam tangan Diandra dan menciumnya bertubi-tubi.


Diandra menghempaskan tangan Dewa dengan keras. Lalu wanita yang masih belum berhenti dari tangisannya itu berbalik ingin meninggalkan Dewa dengan rasa sakitnya.


Tapi belum sempat Diandra bisa meriah gagang pintu di depannya. Dewa sudah berhasil menahan Diandra dengan memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi sayang, jangan tinggalkan Mas. Sungguh karena rasa cinta yang begitu dalam padamu ini, Mas sampai berbuat bodoh seperti ini. Kalau sampai kamu benar-benar pergi Mas bisa m*ati tanpamu sayang. Maaf" Dewa kembali menangis terisak di bahu Diandra.


Diandra menghentakkan tangan Dewa yang berada di perutnya dengan kuat hingga pelukan itu terlepas. Lalu berbalik dengan tatapan tajamnya lagi.


"Benar, kamu memang benar-benar bodoh!!"


Ingin Dewa membenarkan pernyataan Diandra itu tapi terlambat, Diandra sudah membungkam Dewa dengan bibirnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2