
Sudah lebih dari 15 menit kedua manusia berlawan jenis itu duduk berhadapan tanpa mengeluarkan suaranya masing-masing.
Sampai akhirnya si wanita berinisiatif untuk mengajak berbicara terlebih dulu pria yang di ajaknya bertemu itu.
"Hemm" wanita berambut kecoklatan itu berdehem utuk mengurangi kecanggungannya.
"Maaf aku mengajakmu bertemu di saat suasana hatimu sedang tidak baik-baik saja, Bryan"
Mereka berdua saling menatap, namun hanya tatapan datar yang wanita itu dapatkan dari Bryan.
"Tidak papa Tara, daripada aku terus menyendiri lama-lama mengikuti bisikan setan untuk mengakhiri hidupku" Bryan tersenyum kecut di akhir kalimatnya.
"Jangan bicara sembarangan Bryan!! Jangan konyol kamu!! Gara-gara putus cinta sampai ingin bunuh diri" Tara seperti tidak terima dengan apa yang Bryan katakan barusan.
Bryan justru terkekeh tanpa menyadari kekhawatiran dari Tara untuknya.
"Kamu bisa bilang begitu karena kamu belum pernah merasakannya sendiri Tara. Kamu belum pernah kan merasakan benar-benar jatuh cinta?? Bukan obsesi seperti cintamu pada Dewa"
Rasanya seperti ada tombak yang menghujam hati Tara. Dia memang belum pernah merasakan cinta yang sebesar itu. Tapi rasanya sakit sekali saat Bryan mengabaikan rasa kepedulian Tara dengan menyinggung hal itu.
Tara langsung diam terpaku karena tidak tau lagi harus menjawab apa. Karena tidak mungkin dia akan memberikan petuahnya kepada Bryan sedangkan dia sendiri tak berpengalaman tentang cinta.
Tapi Bryan melihat diamnya Tara, Bryan sadar kata-katanya telah menyinggung Tara.
"Maaf Tara, aku tidak bermaksud un..."
"Tidak papa Bryan, lagipula apa yang kamu katakan memang benar. Jadi aku tidak berhak untuk berkomentar apapun karena memang aku sendiri payah dalam hal itu" Tara menunduk dalam.
"Tara, jangan bicara seperti itu. Maaf karena aku masih terbawa emosi dalam maslah ku. Jadi aku seperti melampiaskan kekesalanku kepadamu"
"Justru itu yang aku inginkan Bryan" Tara mengangkat kepalanya kembali dan langsung mendapatkan tatapan kebingungan dari Bryan.
__ADS_1
"Apa yang kamu maksud Tara??"
"Aku sengaja mengajakmu bertemu untuk mendengar keluh kesah mu Bryan. Aku bisa jadi tempat berbagi rasa kesal mu saat ini"
Bryan tiba-tiba tertawa tapi dengan tatapannya yang masih kebingungan karena Tara begitu serius mengatakan pernyataannya itu.
"Mana ada orang yang mau menjadi tempat mengeluh Tara. Semua pasti kesal karena mendengarkan orang yang suka mengeluh" Bryan seperti meremehkan Tara.
"Ada Bryan, itu aku!! Aku akan ada untuk kamu di saat seperti ini. Jadi jangan merasa sendirian lagi" Tara semakin meyakinkan Bryan.
"Apa tujuanmu sebenarnya??"
Bryan mengubah raut wajahnya secepat kilat. Yang tadinya hampir terbahak-bahak kini berubah datar dengan menatap Tara tajam.
Tara menjadi gugup dan kehilangan suaranya melihat Bryan dalam mode seperti itu. Bahkan jantungnya yang sedari tadi di ajarkan untuk tetap tenang kini sudah mulai memberontak.
"A-aku sebenarnya...."
"Dari tatapan matamu, terlebih dari ucapan mu tadi aku sidah bisa menebak apa yang ingin kamu ucapkan Tara. Tapi sebaiknya kamu buang jauh-jauh semua itu sebelum aku benar-benar risih denganmu. Kamu tau sendiri kan apa yang sedang aku alami saat ini. Jadi tolong mengertilah, dan jangan membuatku semakin kesal"
"Tunggu Bryan!!"
Untung saja suasana cafe saat itu sedang sepi. Dan mereka memilih untuk duduk di luar ruangan sehingga tidak ada yang akan mendengar keributan yang mereka ciptakan.
Bryan berhenti namun sama sekali tidak mau melihat wajah Tara lagi.
"Bukankah kamu yang bilang kalau kita benar-benar mencintai seseorang, kita pasti akan rela melakukan apapun demi kebahagiaannya?? Dan sekarang seharusnya kamu sedang dalam fase itu kan?? Fase dimana kamu melupakan Diandra, mencoba mengikhlaskannya"
Bryan masih diam memunggungi Tara yang suaranya mulai bergetar.
"Aku tidak akan mengatakannya lagi karena katanya kamu sudah tau apa yang ada di dalam pikiranku. Tapi tidakkah kamu memberiku kesempatan untuk menggantikan posisi Diandra?? Setidaknya jika kamu mencoba mengisi hatimu dengan yang lain, mungkin akan lebih cepat untuk melupakannya. Aku tidak akan menuntut mu untuk mencintaiku dalam waktu dekat ini. Tapi cobalah untuk memberiku ruang agar aku bisa lebih dekat denganmu. Aku yakin kalau kita terus bersama cinta itu lama-lama akan tumbuh dengan sendirinya di dalam hati kamu Bryan" Tara menarik nafasnya lagi.
__ADS_1
"Aku tau ini sangat tidak tepat untuk aku memintamu di saat kalian baru saja berpisah. Tapi.."
"CUKUP TARA!!"
Tara sampai terhuyung ke belakang karena bentakan dari Bryan. Pria itu akhirnya berbalik untuk melihat Tara yang berdiri agak jauh darinya.
"Apa selama hidupmu ini hanya kau habiskan untuk mengejar seorang pria?? Apa semurahan itu dirimu??"
Hinaan dari Bryan itu langsung menembus ke dalam hati Tara.
"Daripada melakukan hal-hal yang tidak berguna dan semakin merendahkan dirimu. Lebih baik hiduplah dengan benar dan lakukan sesuatu yang berarti agar bisa menaikkan kualitas dirimu"
Air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata Tara semakin membuat pandangannya menjadi kabur.
"Kamu tidak tau apapun tentangku Bryan!! Jadi kamu tidak berhak menilai ku seperti itu!!"
Tara mendesis merasakan perih yang amat sangat di dalam hatinya. Niatnya menyatakan perasaannya justru mendapatkan penolakan sekaligus penghinaan yang teramat sangat.
"Iya, memang benar aku tidak tau apapun tentang dirimu. Jadi lebih baik seterusnya begitu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal" Bryan kembali berbalik meninggalkan Tara dalam pesaktiannya. Bahkan saat di tolak berulang kali oleh Dewa saja rasanya tak sesakit itu.
"Baiklah Bryan, aku turuti keinginanmu itu. Aku terima semua penolakan dan penghinaan darimu. Akan ku buat kamu menyesal sampai tidak tau caranya meminta maaf padaku!!"
Walau Bryan sudah semakin menjauh namun dengan jelas dia bisa mendengarkan apa yang Tara katakan, karena wanita yang sudah mulai menangis itu mengatakannya dengan lantang.
Tara terjatuh bersimpuh di atas rumput cafe itu. Butiran-butiran bening mulai keluar dengan sendirinya. Teramat sakit rasa di dalam sana sampai tangannya berkali-kali memukul dadanya yang sesak itu.
Sementara pria yang sudah menyakiti hati wanita yang berani menyatakan perasaanya secara terang-terangan itu masih terdiam di dalam mobil.
Rasa marah dan kecewa ada di dalam hatinya untuk Tara. Wanita yang sudah di anggapnya sebagai teman justru semakin mengacaukan perasannya saat ini dengan pernyataan cintanya. Tapi di dalam bilik hati Bryan yang paling kecil, ada perasaan bersalah tak bisa mengendalikan lidahnya yang lepas kendali. Tapi karena saat ini masih ada Diandra dalam hatinya, jadi nama Diandra masih dalam bilik kecil itu.
Dengan tanpa perasaan, Bryan meninggalkan tempat itu tanpa menunggu Tara keluar dari sana. Tanpa peduli apa yang sedang terjadi pada Tara di dalam sana.
__ADS_1
Padahal di dalam cafe saat ini sedang terjadi kepanikan karena wanita yang terus menangis tadi tak sadarkan diri di atas rumput dengan air matanya yang masih membasahi seluruh wajahnya.
Bersambung...