
"Maaf Ma, Diandra kesiangan. Jadi nggak sempat bantuin Mama"
Ucap Diandra pada Mama Bella yang sudah sibuk menata sarapan di meja makan.
"Nggak papa sayang. Mama tau kamu pasti lelah, hamil besar itu nggak mudah loh. Sekarang duduk dulu sambil nunggu Papa dan Dewa turun"
Diandra jadi tersipu karena Mama Bella yang menduga dia kesiangan karena kehamilannya yang semakin membesar. Tapi nyatanya karena Diandra baru bisa terlelap jam 3 pagi.
"Iya Ma"
"Dewa sudah bangun kan??"
"Sudah Ma, Mas Dewa sedang bersiap untuk ke kantor"
Mama Bella tampak terkejut saat tau Dewa akan ke kantor saat baru saja pulang dari rumah sakit.
"Dewa ke kantor?? Memang gila kerja anak satu itu. Dia kan belum sembuh!!"
"Dewa sudah sembuh kok Ma. Dewa juga cuma sebentar aja ke kantornya. Ada suatu hal yang tidak bisa Dewa tinggalkan"
Mama Dewa langsung mendapat jawaban dari anaknya langsung. Dewa turun sudah rapi dan tampan seperti biasanya.
"Kamu sama Papa sama aja"
"Emangnya Papa kenapa Ma??" Papa Elang juga datang menghampiri istri dan anak-anaknya.
"Tuh kan sayang, lihatlah mereka bukankah sama saja. Suka datang tanpa suara terus nyamber aja" Mama Bella meminta persetujuan pada menantunya.
"Benar Ma, Mas Dewa juga suka datang ngga ada suaranya" Diandra setuju dengan mertuanya kali ini.
"Tuh kan sudah ada yang membuktikan kalian berdua ini sama saja" Gerutu Mama Bella.
"Iya, iya Mama ku sayang. Sekarang kita sarapan dulu ya. Aku sudah telat" Dewa mengambil jalan tengahnya untuk membuat Mamanya itu berhenti menggerutu.
Mereka berempat menikmati sarapan bersama untuk pertama kalinya. Berkumpul bersama anak seperti itu membuat kebahagiaan tersendiri di hati masing-masing.
"Dewa berangkat dulu ya Pa, Ma. Sudah telat" Dewa melirik jam tangannya.
"Hati-hati ya sayang" Dewa menyalami Papanya dan memberikan kecupan di pipi Mamanya.
"Iya Ma"
"Diandra antar Mas Dewa ke depan dulu ya Pa Ma??" Kedua orang tua itu mengangguk pada Diandra.
"Papa yakin akan membiarkan pernikahan mereka berakhir begitu saja??" Mama Bella menatap nanar kepada kedua anaknya yang seolah bahagia itu.
"Itu sudah keputusan mereka Ma. Berdoa saja semoga Dewa bisa merubah hati Diandra. Siapa tau di akhir nanti, Diandra mengubah keputusannya" Ucap Papa Elang yang masih menikmati sarapannya.
"Tapi Mama capek kalau terus pura-pura nggak tau Pa. Diandra itu sebenarnya cinta kok sama Dewa. Mama bisa lihat dari tatapan matanya Pa"
"Sudahlah Ma, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Papa percaya sama Dewa"
Mama Bella akhirnya mengalah, mengikuti apa kata suaminya.
Sebenarnya mereka berdua tau semua tentang Diandra dan Dewa. Semuanya tanpa terkecuali, tentang usaha Diandra untuk lepas dari Dewa dengan memotong urat nadinya juga mereka tau. Tapi Papa Elang melarang Mama Bella untuk ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
Bukan berarti mereka tak menyayangi Dewa atau Diandra. Tapi mereka yakin, saat perpisahan itu tiba, pasti salah satu dari mereka akan berusaha mempertahankannya demi buah hati mereka.
__ADS_1
"Hati-hati ya Mas" Diandra meraih tangan Dewa lalu mencium punggung tangannya tanpa permisi.
"Apalagi ini??" Batin Dewa karena hatinya di buat berbunga-bunga pagi ini. Yang semalam saja masih membuat Dewa terus tersenyum jika mengingatnya, malah Diandra menambahnya lagi dengan bersikap seperti itu.
"Iya sayang" Dewa mengusap perut Diandra dengan lembut.
"Oh ya, nanti siang kita ke Dokter ya?? Aku mau memastikan dia di dalam baik-baik saja. Nanti aku kirim supir untuk menjemputmu, aku akan menunggumu di kantor"
"Iya Mas"
"Aku berangkat" Diandra belum juga melepaskan tangan Diandra yang tadi di ciumnya. Mereka berpandangan saling melempar senyum, dan sedikit demi sedikit Diandra melepaskan tangan Dewa hingga benar-benar terlepas dari tangannya.
Dewa sempat melambaikan tangannya sebelum niko membawanya pergi menjauh dari Diandra.
"Nik, kau sudah pastikan kalau Daniel tidak akan kabur kan??" Tanya Dewa setelah mobilnya menjauh dari rumah.
"Sudah Tuan. Saya sudah memperketat penjagaan di tempat itu. Jadi kemungkinannya sangat kecil untuk bisa melarikan diri. Bahkan setiap pintu tidak hanya dia orang yang menjaganya, tapi lebih dari itu"
"Bagus, biarkan saja dia seperti itu dulu. Biarkan dia tersiksa di ruangan itu"
"Baik Tuan" Patuh Niko.
Jika ada yang bertanya kenapa Niko begitu setia dan patuh pada Dewa. Maka jawabannya adalah, Dewa adalah Dewa penolongnya. Dewa yang mengangkat derajat Niko dari anak laki-laki yang tidak berdaya menjadi satu-satunya orang yang di percayai Dewa. Sehingga semua orang juga tunduk pada perintah Niko.
Hanya kesetiaan yang bisa Niko berikan untuk membalas semua jasa Dewa dan kedua orang tuanya untuknya.
Tempat tinggal yang layak, sekolah yang setara, dan status sosial semuanya Niko dapat dari keluarga kaya raya itu. Tidak pernah sekalipun mereka mendiskriminasi Niko walaupun Niko hanyalah anak yang sengaja ditinggalkan orang tuanya di panti asuhan.
Apalagi Mama Bella, dia begitu menyayangi Niko. Karena Niko mengingatkan masa kecilnya dulu yang juga berada di panti asuhan sebelum bertemu malaikat penolongnya.
🌻🌻🌻
"Hay Bryan, udah lama??"
Bryan sudah berada di sebuah cafe untuk menunggu Tara. Wanita itu tiba-tiba menghubungi Bryan untuk mengajaknya bertemu.
"Hay Ra, baru aja kok" Bryan tidak bohong, bahkan dia belum memesan minuman.
"Apa yang ingin kamu sampaikan Ra?? Sampai kamu harus mengajakku ke tempat ini??"
"Sabar dong, buru-buru amat sih" Tara justru melihat-lihat buku menunya. Tak mempedulikan Bryan yang terlihat buru-buru.
"Habis ini aku ada pemotretan Ra, jadi bisa cepat dikit nggak??"
Akhirnya Tara menutup kembali buku menunya. Harapannya saat menelepon Bryan tadi bisa makan siang berdua dengan Bryan, tapi pria di depannya itu tampak tak sabaran.
"Aku dengar dari Mama kalau sekarang Diandra tinggal di rumah Om Elang dan Tante Bella" Tara mengabaikan niat awalnya tadi.
"Apa?? Berarti sekarang Diandra ada di sini??" Bryan tampak tak percaya.
"Apa dia sama sekali tidak menghubungimu?? Bahkan setelah penculikan itu??" Sekarang Tara jiga terkejut.
"Apa Diandra benar-benar mendengarkan omonganku waktu itu??" Pikir Tara.
"Sejak aku keluar dari rumah itu, hanya sekali aku mendengar suaranya. Saat kemarin aku menelepon suaminya, menanyakan keadaanya" Bryan tampak begitu sendu.
"Tapi kamu nggak usah khawatir Bryan, keadaan Diandra baik-baik saja kok" Tata menepuk tangan Bryan yang berada di atas meja.
__ADS_1
"Maukah kamu membantu ku Tara?" Tara sudah memicingkan matanya, pertanda permintaan Bryan itu pasti tidaklah menguntungkan baginya.
"Apa??"
"Bisakah kamu membantuku untuk bertemu Diandra??" Ada rasa kecewa di hati Tara saat mendengar permintaan Dewa itu.
"Akan aku pikirkan"
🌻🌻🌻
Sejak Dewa berangkat ke kantor tadi Diandra hanya sibuk di kamar mencari baju yang cocok untuknya. Dia ingin berdandan secantik mungkin karena ini pertama kalinya Diandra akan ke kantor Dewa. Dia tidak mau terlihat jelek di mata karyawan Dewa meski tidak ada yang tau statusnya sebagai istri pemilik perusahaan itu.
"Diandra, makan siang dulu Nak!!" Suara Mama Bella menghentikan aksi Diandra membongkar lemari yang baru saja di rapikan kemarin oleh Bi Siti.
"Iya Ma sebentar" Ucap Diandra setelah membuka pintu kamarnya.
"Kamu sedang apa??" Sungguh suara halus itu membuat hati Diandra terenyuh.
"Itu Ma, sebenarnya Mas Dewa ingi memeriksakan kandunganku"
"Lalu??"
"Diandra nggak ada baju yang cocok Ma, Diandra kan harus mampir dulu ke kantornya Mas Dewa. Jadi Diandra pingin dandan yang cantik biar nggak malu-maluin" Cerita Diandra dengan memainkan jarinya. Persis seperti anak kecil yang merajuk.
Mama Bella hanya tersenyum melihat tingkah ibu hamil itu.
"Ikut Mama" Mama Bella menarik tangan Diandra untuk mengikutinya.
"Kemana Ma??" Mama Bella tak menjawab, dia terus membawa Diandra masuk ke dalam sebuah kamar.
Diandra bahkan sampai tak berkedip melihat semua baju-baju mahal yang berjejer rapi ruangan itu.
"Pilihlah sesukamu. Ini semua baju Mama sengaja siapkan untuk anak perempuan Mama. Sekarang kamu tau kan, betapa inginnya Mama punya anak perempuan"
"Ma, ini banyak sekali??" Diandra masih tak percaya Mama Bella bisa memindahkan toko baju ke rumahnya.
"Tentu saja, dan ini semua buat kamu. Kamu kan anak Mama" Mama Bella duduk di sofa kecil dalam ruangan itu.
"Tapi Ma, baju ini bahkan nggak akan habis walau dalam satu tahun aku memakai baju yang berbeda" Diandra menyentuh baju-baju yang masih baru itu.
"Makanya cepat kamu pakai sebelum Mama menambahnya lagi"
"Baiklah Ma, aku ingin tampil cantik untuk Mas Dewa Ma. Bantu aku memilih baju ya Ma??"
"Sweet banget sih kamu" Mama Bella akhirnya membantu Diandra memilih baju yang cocok untuknya. Yang cocok juga saat di kenakan oleh ibu hamil besar.
Setelah hampir satu jam, Mama Bella membantu Diandra ya g ruwet dengan penampilannya sendiri. Akhirnya saat ini Diandra sudah duduk manis di dalam mobil untuk menuju ke kantor Dewa.
Dewa mengutus Pak Mamat untuk menjemput Diandra. Beserta dua pengawal dengan mobil terpisah dari Diandra. Tak ada risih sekalipun bagi Diandra terus di ikuti pengawal suruhan Dewa. Karena dia tau semua itu dilakukan demi keselamatan Diandra.
Diandra terus menarik bibirnya membentuk senyuman. Mengusap perutnya yang sering menimbulkan gerakan dari dalam sana.
"AWAS PAK!!"
BRAAAKKK...
Bersambung..
__ADS_1