
"Sudah"
Diandra menggelengkan kepalanya dengan cepat setelah suara Dewa itu menyadarkan dari lamunannya.
"Makasih ya Mas??" Diandra melihat tangannya yang di perban rapi itu.
"Iya" Jawab Dewa singkat sambil membereskan kotak obat yang telah selesai dipakainya.
"Mikir apa sih aku sebenarnya, kenapa bisa berkhayal mencium pria tampan ini" Diandra merutuk dirinya dalam hati.
"Kembalilah ke kamar, aku harus kembali bekerja" Dewa kembali bersikap dingin lagi. Padahal saat tangan Diandra tersiram air panas tadi, dia begitu perhatian dan terlihat jelas kekhawatiran dari sorot matanya.
"Iya" Dengan sedikit kecewa, Diandra berdiri dengan pelan. Menjadikan tangannya sebagai tumpuan.
"Aduh, Mas!! Perutku sakit Mas" Diandra memekik memegang perutnya.
"Mana, mana yang sakit??" Dewa tampak begitu khawatir.
"Awww, aduh Mas sakit sekali" Tangan diandra mencengkeram lengan Dewa dengan kuat menahan rasa sakit pada perutnya.
"Sebentar, aku telepon Dokter dulu ya" Dewa melepaskan tangan Diandra untuk mencari ponselnya.
Diandra berusaha mengatur nafasnya untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Kita pindah ke kamar ya, Dokternya sebentar lagi datang" Ucap Dewa setelah berhasil menghubungi Dokter untuk Diandra.
"Aku tidak bisa berdiri, rasanya sakit sekali" Ucap Diandra dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Siapa yang menyuruhmu berdiri" Dengan sekali hentakan, Dewa berhasil menggendong Diandra.
Tanpa protes sedikitpun dari Diandra, Dewa membawanya keluar dari ruang kerjanya. Kedua tangan Diandra justru melingkar pada leher Dewa.
Dengan berlahan Dewa menurunkan Diandra di ranjang.
"Mana yang sakit??" Tanya Dewa yang bersimpuh di damping Diandra. Tangannya mulai menyentuh perut Diandra yang sekarang semakin besar itu.
"Ini, di bawah ini rasanya kenceng banget" Diandra membawa tangan Dewa pada posisi yang benar yaitu di bawah pusarnya.
"Sabar sebentar ya, Dokternya pasti segera datang" Ucap Dewa dengan mengusap lembut perut Diandra.
Diandra mengangguk kemudian memejamkan matanya. Menikmati usapan lembut tangan Dewa pada perutnya.
"Hey jagoan Papa. Kamu mau apa?? Kenapa membuat Mama kesakitan?? Jangan nakal di dalam ya?? Kasihan Mama kesakitan seperti ini"
Diandra membuka matanya kembali terbuka karena mendengar Dewa berbicara dengan anaknya.
Hanya mendengar ucapan seperti itu dari Dewa saja membuat Diandra menitikkan air matanya. Rasanya yang begitu hangat menyergap hatinya.
Dug..
Satu tendangan tepat mengenai tangan Dewa. Dewa tampak terkejut karena baru ke dua kalinya ini Dewa merasakan pergerakan dari anaknya itu.
Tapi sedetik kemudian mata Dewa berubah berbinar dan menatap Diandra.
"Lihatlah Mas, sepertinya dia mendengarkan ucapan mu" Kata Diandra dengan senyum harunya.
"Apa ini membuat mu sakit??" Dewa justru berubah khawatir karena melihat Diandra menangis. Dewa mengusap air mata Diandra dengan tangannya.
"Lalu kenapa ada air mata ini disini??"
"Aku tidak tau, karena tiba-tiba aku merasakan bahagia saat ini" Diandra menggenggam tangan Dewa yang masih berada di pipinya.
"Bahagia?? Kenapa??" Tanya Dewa lagi.
"Aku juga tidak tau"
__ADS_1
"Apa perutnya masih sakit??"
"Sudah berkurang karena usapan tanganmu, atau mungkin karena dia mendengarkan apa yang Papanya katakan" Ucapan Diandra membuat Dewa kembali mengusap lembut perut buncit milik istrinya.
Dug..
"Dia menendang ku lagi Dee" Ucap Dewa dengan rasa bahagianya.
"Dia tau kalau Papanya sedang mengajaknya bermain" Jawaban hangat dari Diandra.
"Apa aku boleh memegang perutmu seperti ini Dee?? Apa boleh aku juga merasakan kehadirannya sebelum dia lahir??" Tanya Dewa dengan penuh harap.
Diandra tersenyum dengan begitu manis lalu mengangguk.
"Tentu saja boleh, kamu Papanya. Memang itu yang harus kamu lakukan Mas"
Dewa tampak begitu bahagia mendengar jawaban itu dari Diandra.
"Terimakasih Dee"
Dewa secara refleks mencium perut Diandra bertubi-tubi.
"Anak Papa sehat-sehat di dalam ya. Sebentar lagi kita akan bertemu"
Cup..
Kecupan terakhir setelah Dewa mengucapkan kalimat itu.
"Maaf Dee, aku terlalu bahagia. Aku tidak sengaja mencium perutmu. Tadi aku hanya meminta ijin untuk mengusap perutmu saja" Ucap Dewa setelah sadar dia telah melakukan sesuatu yang salah.
"Tidak papa, aku tidak marah" Diandra tersenyum begitu cantik menurut Dewa.
Tok.. Tok.. Tok..
Ketukan pintu itu memutus kekaguman Dewa pada senyuman cantik milik bidadarinya itu.
"Tuan, Dokter sudah datang" Ucap Niko.
"Bawa dia masuk!!"
Niko kemudian masuk di ikuti oleh Dokter kandungan yang wajahnya terlihat pucat. Dokter yang sama saat mereka melakukan USG untuk pertama kalinya.
Diandra terkejut melihatnya, karena Dokter itu membuka praktik di Kota. Itu berarti seharusnya perjalanan kesini harus butuh waktu yang lama. Dan sepertinya Diandra tau apa penyebab Dokter itu menjadi pucat seperti itu.
"Silahkan periksa istri saya" Ucap Dewa mencoba memberikan tempat untuk Dokter itu.
"Mau kemana?? Di sini saja temani aku" Pinta Diandra dengan manda. Dia menahan tangan Dewa agar tidak menjauh.
Dewa tersenyum tipis lalu duduk di samping Diandra.
Niko yang tau diri, memilih keluar dari kamar itu agar Dokter lebih leluasa memeriksa istri dai Bosnya.
"Permisi Nyonya" Dokter itu menyibak home dress milik Diandra. Meski Diandra sedikit malu karena ada Dewa di sisinya. Tapi dia berusaha tetap tenang.
Dokter mulai memeriksa perut Diandra. Menekan, meraba kemudian menempelkan alat yang Diandra tidak tau namanya, yang jelas Dewa dan Diandra bisa mendengar jelas suara detak jantung anak mereka.
"Tuan dan Nyonya bisa dengar kan?? Ini detak jantungnya, bukankah sangat merdu sekali??" Ucap Dokter wanita itu.
"Benar, ini suara yang sangat membahagiakan jika di dengar" Jawab Dewa.
Sekali lagi rasa penyesalan itu menyeruak di hati Diandra. Tapi dia masih bersyukur karena Dewa berhasil menggagalkan rencananya waktu itu.
"Lalu kenapa tadi istri saya merasa kesakitan Dokter??"
"Itu hanya kram kehamilan saja. Selama tidak terjadi pendarahan itu tidak berbahaya. Karena itu biasa terjadi akibat rahim yang semakin membesar" Penjelasan Dokter membuat Dewa bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Syukurlah" Ucap Dewa.
"Dokter, bukankah besok jadwal istri saya periksa kandungan. Bagaimana kalau sekarang saja?? Alatnya sudah saya siapkan" Ucap Dewa.
"Tentu saja bisa Tuan, sekalian mumpung saya disini"
"Kalau begitu biar asisten saya yang siapkan" Dewa menatap Diandra untuk mengijinkannya keluar mencari Niko. Anggukan Diandra membuat Dewa langsung berdiri dan berjalan keluar.
Setelah menunggu beberapa saat, Dewa kembali lagi ke dalam kamar. Mengatakan jika semua sudah siap di ruangan sebelah.
"Bisa jalan sendiri??" Tanya Dewa karena melihat Diandra sudah duduk di tepi ranjang.
"Bisa, ini sudah tidak sakit seperti tadi. Bantu aku berdiri saja" Tangan Diandra terulur pada Dewa. Dan dengan senang hati pria itu menyambut uluran tangan sang istri yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
"Pelan-pelan" Bisik Dewa pada Diandra yang sudah mulai berjalan.
"Iyaa" Diandra kembali menoleh pada Dewa dengan senyum cantiknya.
"Pria ini kalau sudah perhatian seperti ini bisa membuat jantungku seperti sedang berlari maraton" Batin Diandra.
Bukan hanya Diandra, tapi Dokter tadi juga terlihat sangat terkejut melihat ruangan yang telah di sulap menjadi ruangan periksa yang persis seperti di rumah sakit.
"Nyonya silahkan berbaring di sini. Kita mulai melihat dedek bayinya ya?"
Diandra terlihat antusias saat Dokter menyebutkan kata bayi.
Dewa juga sudah siap pada posisinya di samping Diandra. Saat Dokter mulai mengoleskan gel yang dingin itu Diandra melihat ke arah Dewabbb, kemudian meraih tangan pria itu, lalu menautkannya pada tangannya sendiri.
Dewa tersenyum melihat Diandra melakukan itu kepadanya. Sungguh mereka seperti pasangan yang terlihat sangat bahagia.
"Tuan, Nyonya, ini bayinya. Semuanya sudah terbentuk sempurna. Mata, hidung, tangan dan kaki, bahkan patu-parunya saja sudah terbentuk. Janinnya sehat, beratnya juga bagus, semuanya bagus, dan sehat ibu juga janinnya"
Tangan mereka yang saling bertautan itu semakin mengerat karena rasa bahagia yang mereka rasakan.
"Tapi yang paling terpenting jangan sampai stres, karena walaupun Nyonya rutin mengkonsumsi vitamin, makan makanan yang bergizi tapi kalau pikiran kita stres itu sangat berpengaruh pada perkembangan janinnya. Jadi usahakan jangan banyak pikiran, relaks dan juga sering digunakan untuk jalan-jalan di pagi atau sore hari. Agar aliran darah semakin lancar" Pesan Dokter itu di dengarkan dengan seksama oleh pasangan calon orang tua baru itu.
"Baik Dokter kami mengerti" Ucap Diandra.
"Baiklah kalau begitu sampai di sini dulu pemeriksaan untuk bulan ini. Kita bertemu lagi bulan depan Nyonya. Tapi kalau sudah menginjak 8 bulan akan lebih sering menjadi dua minggu sekali"
"Apapun itu demi anak dan istri saya Dokter" Jawab Dewa.
"Tentu saja Tuan, saya permisi Tuan, Nyonya"
"Terimakasih Dokter" Ucap Dewa.
Dokter itu keluar dari ruangan itu sudah di tunggu oleh Niko di luar.
"Pak, Kalau saya pulangnya naik mobil saja boleh?? Sejujurnya saya takut ketinggian" Ucap Dokter itu pada Niko.
"Tentu saja Dokter, maaf tadi membuat anda tidak nyaman"
"Tidak papa Pak, yang penting saat ini saya masih hidup" Jawab Dokter itu dengan asal.
🌻🌻🌻
Sementara itu, Bryan yang baru kembali bersama Tara dan Manda di belakangnya tampak terkejut karena melihat seorang dokter keluar dari rumah Dewa.
"Kenapa ada Dokter??" Tanya Bryan kepada Niko.
"Apa Diandra sakit??" Tanyanya lagi namun Niko enggan menjawab.
Dengan rasa khawatirnya Bryan tidak mempedulikan Niko yang hanya diam tak menjawab pertanyaannya. Dia justru berlari memasuki rumah untuk mencari keberadaan Diandra.
Bersambung..
__ADS_1