
Dewa kembali tersungkur karena di dorong begitu kuat oleh orang yang memapahnya tadi. Kepalanya langsung mendongak melihat sesuatu yang sedari pintu itu di buka menarik perhatiannya.
"Dee!!" Panggil Dewa pada perempuan yang duduk di lantai dengan tangan dan kakinya yang terikat.
Pintu itu sudah kembali tertutup meninggalkan Dewa yang masih berusaha bangun dengan kesusahan meski ikatan pada tangannya sudah di lepas.
"Mas!!"
"Dee!!" Dewa merangkak dengan kesusahan karena perutnya yang terasa begitu terluka.
"Mas Dewa" Diandra terkejut melihat Dewa dalam keadaan seperti itu. Wajahnya penuh lebam dan berdarah.
Diandra ingin sekali menghampiri Dewa namun tangan dan kakinya yang terikat membuatnya merasa tersiksa.
Tinggal tersisa sedikit lagi Dewa bisa meraih Diandra namun rasa sakit pada perutnya membuatnya kembali tersungkur.
"MAS!! Teriak Diandra melihat Dewa yang begitu lemah.
Mendengar teriakan Diandra itu membuat Dewa kembali berusaha untuk bangkit. Menahan rasa perih di seluruh wajahnya.
Berlahan tapi pasti akhirnya Dewa bisa menyentuh Diandra. Jarak yang hanya beberapa meter saja terasa begitu jauh karena luka yang Dewa alami.
"Mas, kamu tidak papa??" Diandra melihat wajah Dewa yang berada di hadapannya itu. Dewa tidak menjawabnya, hanya terus berusaha melepas tali pada kaki dan tangan Diandra.
"Kamu dan anak kita tidak papa kan Dee?? Kalian baik-baik saja kan??" Dewa melihat ke seluruh tubuh Diandra. Takut jika istrinya itu sudah di lukai oleh Daniel.
Dewa juga mengusap perut Diandra dan tak lupa mencium anaknya bertubi-tubi.
"Aku baik-baik saja Mas" Diandra ingin meraih wajah Dewa namun Dewa berusaha menghindarinya. Diandra tampak terkejut dengan reaksi Dewa itu.
Dewa justru duduk memunggungi Diandra, lalu membaringkan tubuhnya dengan kepalanya berada di pangkuan Diandra. Dewa melakukan itu hanya untuk menahan rasa sakitnya saat ini.
Sementara Diandra masih bingung dengan aksi Diam Dewa itu. Pria yang kini di pangkuannya itu justru memejamkan matanya seperti tak terjadi apa-apa saat ini. Diandra berpikir bukannya saat ini Dewa bertanya pada Diandra apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana Diandra bisa berakhir di tempat itu.
Tangan Diandra yang lembut itu mengusap rambut Dewa dengan pelan. Hatinya terasa begitu tersayat melihat Dewa seperti ini. Berlahan air mata Diandra lolos membasahi pipinya. Diandra sadar jika semua ini salahnya yang tak mau mendengarkan omongan Dewa.
Satu tetes air mata Diandra jatuh di kening Dewa, membuat pria itu kembali membuka matanya.
"Kenapa kamu menangis??" Dewa melihat Diandra sudah berlinang air mata. Tak menunggu lama, tangan Dewa pula yang menghapus air mata itu.
"Mas, apa ini alasan kamu menyembunyikan pernikahan kita?? Apa ini juga yang membuat kamu membawaku jauh dari kota dan selalu melarang ku kemana-mana?? Apa ini yang selalu kamu coba tutupi dari aku" Meski Dewa sudah menghapusnya, tapi air mata itu tak mau berhenti untuk keluar.
Dewa berusaha untuk duduk dengan satu tangannya yang memegang perut.
"Maafkan aku Dee, gara-gara aku menyeret mu masuk ke dalam hidupku, kamu harus menanggung semua ini. Kamu harus menjadi sasaran balas dendam mereka kepadaku maafkan aku" Diandra melihat mata yang sayu itu mengeluarkan cairan bening.
Diandra meraih wajah Dewa dengan kedua tangannya. Mencakupnya di sisi kedua pipinya tanpa rasa jijik dengan luka-luka itu.
"Mas, justru aku yang minta maaf. Karena aku yang tak mematuhi pesan mu, aku yang ceroboh, akhirnya kita bisa berakhir di tempat ini. Aku minta maaf Mas, ini semua salahku"
__ADS_1
Dewa menggeleng dengan pelan.
"Tidak Dee, aku yang salah. Seandainya saja kamu tidak terjerat benang merah dengan ku. Andai saja aku tak mencintaimu, semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku sayang" Dewa merah tangan Diandra yang masih di pipinya, lalu menciumi telapak tangan Diandra berulang kali.
"Mas" Lirih Diandra.
"Maafkan aku sayang"
GREPPP...
Diandra menghambur ke pelukan suaminya itu. Tidak ada kemarahan dari Diandra sama sekali stelah tau alasan Dewa selalu menyembunyikan pernikahan mereka. Diandra seakan lupa setelah melihat wajah Dewa yang terlihat sangat mencintainya itu.
"Mas Dewa, aku benar-benar minta maaf. Kamu terluka seperti ini karena aku. Kamu bisa datang ke tempat ini pasti karena aku kan?? Kamu pasti bertindak bodoh hanya ingin menyelamatkan aku kan Mas??" Diandra terus menangis menyalahkan dirinya di pelukan Dewa.
"Aku melalukan semua ini bukanlah bodoh atau sia-sia Dee. Ini untuk kalian yang sangat aku cintai" Dewa mendaratkan bibirnya pada kepala Diandra dengan begitu lembut. Di dalam hatinya sungguh mengucap syukur yang begitu besar karena istri dan anaknya masih selamat tanpa luka apapun.
Diandra hanya mampu membalas perkataan Dewa itu dengan pelukan yang semakin erat. Rasanya seperti tidak mau kehilangan pria yang sedang memeluknya itu.
"Dee?"
Dewa mengurai pelukannya pada istri yang sangat dirindukannya itu.
"Ceritakan kepadaku bagaimana kamu bisa di bawa oleh mereka"
Diandra kembali menangis mengingat kebodohannya itu.
"Bryan??" Panggil Diandra terus mendekat.
"Bryan, kamu kah itu??"
Diandra semakin mendekati pria yang memunggunginya itu.
Tapi belum sempat Diandra melihat wajah pria yang dia kira Bryan itu, seseorang sudah membekapnya dari belakang.
Hingga pandangannya mulai hilang secara berlahan dan tubuhnya yang mulai lemas mengantarkannya pada kegelapan.
Kemudian saat Diandra sadarkan diri, Diandra sudah berada di ruangan itu dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Selamat datang Nyonya Dewa, senang bertemu dengan anda. Namun sayang harus dalam keadaan seperti ini" Ucap seorang pria yang tak di ketahui Diandra.
"Siapa kau??" Diandra beringsut mundur seolah waspada pria di depannya akan bertindak macam-macam padanya.
"Siapa aku kau tidak perlu tau. Yang jelas aku adalah orang yang sangat membenci suamimu"
Diandra bisa membaca emosi apa yang terkandung dalam kalimat pria itu hingga membuat urat lehernya terlihat terlihat menonjol.
"Kenapa kau membenci suamiku?? Apa kesalahannya padamu??"
Pria yang ternyata adalah Daniel itu merasa di tantang dengan pertanyaan Diandra itu.
__ADS_1
"Kau tidak perlu tau alasannya!!"
"Itu karena kau tidak punya alasannya kan?? Kau hanya membenci Mas Dewa pasti karena kesalahanmu sendiri kan??"
"DIAM!!" Diandra melonjak karena teriakan itu.
"Lihatlah sebentar lagi apa yang akan aku lakukan pada Dewa, suamimu yang sombong itu. Aku yakin dia pasti akan berbuat bodoh hanya untuk menyelamatkan perempuan yang sangat dicintainya" Terlihat senyuman licik dari pria yang tak kalah tampan dari Dewa itu.
"Apa yang akan kau lakukan?? Jangan macam-macam!!" Diandra takut dengan ancaman Daniel. Dia sudah bisa menebak pasti Dewa akan melakukan apapun demi menyelamatkannya tapi Diandra takut menempatkan Dewa dalam bahaya.
"Lihatlah, kalian sungguh pasangan yang romantis. Tak mau saling melukai. Tapi sayangnya Dewa pasti sudah kelimpungan mencari mu di luar sana. Tapi tunggu sebentar lagi, pasti kalian akan segera bertemu" Ucap Daniel terlihat sangat sadis.
Yang bisa di lalukan Diandra saat ini hanyalah mengadu mulutnya, karena untuk memberontak pun tak bisa.
"Lepaskan aku!! Jangan lakukan apapun pada suamiku!!"
"Berhentilah berbicara Nyonya!! Simpan tenaga mu itu untuk bertemu suamimu. Persiapkan dirimu agar masih bisa melihatnya dalam keadaan masih bernyawa"
"Dasar b***bah!! Lepaskan aku dari sini!!" Teriak Diandra pada Daniel yang mulai meninggalkan ruangan itu.
Air mata Diandra jatuh juga setelah mati-matian menahannya di depan Daniel. Penyesalannya yang membuat Diandra seperti itu. Dia mengutuk dirinya sendiri karena telah pergi tanpa sepengetahuan Dewa. Dia menyepelekan peringatan Dewa.
"Maafkan aku Mas, aku tidak tau jadinya akan seperti ini" Diandra terus menangis di ruang gelap itu.
"Apa kamu sedang mencari ku di luar sana Mas?? Apa kamu baik-baik saja??"
Diandra lalu melihat ke arah perutnya. Masih sangat bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada kandungannya. Ingin sekali rasanya menyentuh perut buncitnya itu, tapi tangannya berada di belakang dengan seutas tali yang mengikatnya.
FLASHBACK OFF
"Sekali lagi maafkan aku Mas"
Dewa mengangkat wajah Diandra yang tertunduk. membersihkan sisa-sisa air mata yang ada di sana.
"Sudah Dee, jangan menyalahkan dirimu terus. Yang terpenting sekarang aku sudah menemukan kamu dan anak kita dalam keadaan selamat. Walau aku tidak tau bisa membawamu keluar dari sini atau tidak, yang jelas aku sangat bersyukur bisa melihatmu lagi. Asal kamu tau Dee, saat menyadari kamu menghilang rasanya duniaku runtuh. Aku hilang arah, aku bahkan tidak sanggup untuk mengingatnya lagi Dee"
Tatapan mata itu saling terkunci, menyampaikan cinta dan kerinduan walau belum ada 24 jam berpisah.
"Aku mencintaimu Diandra" Ucapan cinta paling tulus dari Dewa untuk Diandra.
"Aku..."
"Aakhhhh..."
Dewa memegang perutnya lagi. Rasa perih begitu menyiksanya di dalam sana.
"Mas, kamu kenapa??" Diandra panik melihat Dewa kesakitan seperti itu.
Bersambung..
__ADS_1