Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
82. Pilihan yang tepat


__ADS_3

Dewa menatap laki-laki jangkung di depannya. Pria itu berdiri tepat di depannya sehingga membuatnya harus mendongak untuk melihat wajahnya.


"Sedang di operasi" Jawab Dewa singkat.


Lagi-lagi dia harus di sadarkan jika oleh laki-laki yang baru daja datang dengan Tara. Dewa baru saja sadar jika waktunya sudah habis setelah ini. Bukankah Diandra saat ini sedang melahirkan bayi mereka??


Tara duduk di samping Mama Bella dan belum mengeluarkan sepatah katapun karena melihat wajah ibu dan anak yang begitu sendu.


Sementara Mama Bella tak kaget ataupun penasaran dengan pria yang baru saja datang bersama Tara. Karena memang Mama Bella sudah tau semuanya tentang Diandra.


"Kenapa semua ini bisa terjadi?? Kenapa Diandra selalu dalam bahaya saat bersamamu??"


Dewa hanya diam, sejatinya di dalam hatinya juga menyalahkan dirinya sendiri sejak penculikan yang di lakukan Daniel waktu itu.


"Saya tidak mengenalmu tapi saya tau siapa kamu. Jadi saya mohon tenang dulu dan tunggu operasi Diandra selesai baru kalian bahas masalah itu. Berdoa lebih baik daripada menyalahkan orang lain" Mama Bella kembali dalam mode dinginnya. Dia tidak terima putra kesayangannya di salahkan oleh pria yang berlebel kekasih menantunya itu.


Bryan akhirnya diam menuruti perintah Mama Bella. Pria itu beralih ke depan pintu ruang operasi, mondar-mandir di sana membuat siapa saja yang melihatnya justru pusing dibuatnya.


Perhatian mereka kini terpusat pada inkubator yang di dorong keluar dari ruang operasi itu. Dewa sangat yakin jika yang ada di dalam sana adalah putranya. Mereka semua mendekati kotak kaca itu


Bayi mungil yang tertidur dengan alat-alat medis terpasang pada tubuhnya. Bayi yang tampan dengan hidung mancungnya, sangat mirip dengan salah satu pria dewasa yang ada di sana.


"Suster, apa ini bayi Diandra??" Mama Bella hanya sekedar meyakinkan. Karena hanya melihat rupa bayi itu saja sudah sangat mirip dengan Dewa waktu bayi.


"Benar Nyonya"


Dewa menitikkan air matanya melihat kondisi bayinya itu. Bayi yang lahir di waktu yang belum seharusnya.


Tapi Dewa seakan di sadarkan oleh sesuatu. Jantungnya langsung berpacu lebih cepat. Dia ingat betul apa kata Dokter, jika hanya satu di antara keduanya yang selamat.


"Suster, lalu bagaimana keadaan istri saya?? Di-dia bisa di selamatkan kan??" Rasanya Dewa tidak akan mampu mendengar jawaban dari suster itu.


Tapi belum sempat suster itu menjawab, Dokter yang meminta persetujuan Dewa tadi sudah keluar dari ruang operasi.


"Dokter??"


Dokter itu sudah menyambut Dewa dengan sebuah senyuman yang membuat Dewa mengerti apa maksud Dokter itu.


"Terimakasih Dokter" Dewa menjabat tangan Dokter itu dengan erat.


"Selamat Pak, pilihan anda ternyata bisa menyelamatkan keduanya"


"Saya percaya kalau Dokter mampu menyelamatkan istri dan anak saya. Sekali lagi terimakasih Dokter" Dewa bahkan tak malu menitikkan air matanya di depan orang lain.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Silahkan temui istri anda jika sudah di pindahkan ke ruang inap" Dewa mengangguk dengan senang, sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ketakutan yang sedari tadi terus membayanginya kini lenyap sudah.

__ADS_1


Berkali-kali Dewa mengucap syukur kepada Sang Maha Kuasa, karena telah melindungi anak dan istrinya.


Kebahagiaan itu juga di rasakan Bryan. Pria itu bahkan tak merasa canggung menunjukkan kebahagiaannya di depan Mama Bella.


"Dewa, sebaiknya sekarang kamu susul anak kamu dulu. Kamu harus mengadzaninya bukan??" Ucap Mama Bella.


"Mama betul, aku pergi dulu Ma. Titip Diandra sebentar ya Ma" Mama Bella terharu melihat putranya yang baru saja menyandang status sebagai seorang Ayah.


Sementara itu Bryan tampak sangat kecewa, karena posisinya saat ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan anak Diandra. Padahal di dalam hatinya sangat ingin sekali menggantikan posisi Dewa.


Dia hanya bisa menunggu Diandra di pindahkan ke kamarnya. Mencoba untuk melihat kondisi wanita itu lebih dekat, dia ingin sekali berada di samping Diandra di saat dia membuka nantinya. Itupun jika Dewa mengijinkannya.


Di ruangan khusus yang tak sembarang orang boleh memasukinya, Dewa baru saja mengadzani putra kecilnya. Jari telunjuk nya yang dia selipkan di tangan anaknya yang mungil. Di genggam erat oleh bayi yang masih merah itu seakan tau jika Dewa adalah Ayahnya.


"Selamat datang di dunia sayang. Sehat-sehat ya , sama-sama berjuang dengan Mama. Maafkan Papa yang tidak bisa menjaga kalian berdua"


Air matanya tak mampu lagi berbohong jika Dewa saat ini di landa kesedihan dan kebahagiaan yang beradu menjadi satu.


"Maaf Tuan, waktunya sudah habis. Biarkan adik bayinya istirahat ya"Suster itu tentu saja menginginkan Dewa untuk segera meninggalkan ruangan bayi itu.


" Tolong jaga anak saya, jangan sampai terjadi sesuatu pada anak saya!!" Sisi menyeramkan Dewa terlihat untuk suster yang tak tau apa-apa itu.


Dewa segera menuju ruangan Diandra setelah mendapat kabar dari Mama Bella jika Diandra sudah dipindahkan ke kamar rawat inapnya.


Rasanya sudah tak sabar lagi untuk melihat keadaan istrinya. Bukan hanya Bryan, tapi Dewa juga berharap jika dia orang pertama yang Diandra lihat saat sadar nanti.


"Mama, bagaimana keadaan Diandra??"


Tanpa peduli dengan Bryan dan Tara yang duduk di sofa, Dewa mendekat pada Diandra.


"Belum bangun, kata Dokter ini cuma efek dari obat biusnya. Mungkin sebentar lagi" Mama Bella berdiri untuk memberikan Dewa kesempatan duduk di samping Diandra.


Dewa hanya duduk menggenggam tangan Diandra. Dalam ruangan itu tidak ada yang membuka suaranya. Semuanya diam hanga menunggu Diandra membuka matanya.


Tak ada rasa lelah atau pun kantuk dari Dewa. Matanya terus memandang wajah cantik yang terdapat beberapa goresan di pipi serta perban di kepalanya itu.


Dewa menajamkan pengelihatannya karena melihat mata Diandra mulai terbuka. Jari yang berada di dalam genggaman Dewa juga terasa bergerak.


"Dee?? Kamu sudah bangun?"


"Mas" Lirih Diandra.


Tanpa permisi Bryan langsung mendekati Diandra.


"Didi, aku disini. Apa yang kamu rasakan?? Mana yang sakit??" Bryan bahkan terang-terangan meraih tangan Diandra yang satunya lagi.

__ADS_1


Dewa sudah memasang wajah masamnya. Dia bahkan belum memikirkan jawaban apa yang akan dia katakan jiak Mamanya bertanya siapa Bryan. Tapi pria itu sudah terlalu lancang saat ini.


Dewa langsung melepaskan tangannya dari Diandra. Memandang keduanya dengan tatapan jengah tanpa minat.


"Mas, bagaimana keadaan anak kita??"Di luar dugaan, Diandra justru tidak merespon Bryan sama sekali. Diandra juga menahan tangan Dewa yang ingin menjauh darinya.


"Dia sehat, meski belum cukup bulan tapi keadaannya baik dan stabil" Dewa memasang wajah datarnya.


Bryan tampak kecewa dengan sikap Diandra yang tidak menganggapnya ada di sana.


"Mas Dewa, aku mau tanya sesuatu" Mata Diandra bahkan masih sesekali terpejam karena dirinya yang masih sangat lemas.


"Ada apa Dee??"


"Kenapa kamu lebih memilih menyelamatkanku, dari pada anak kita?? Bukankah kamu sangat menginginkannya??"


FLASHBACK ON


"Apa?? Pilihan macam apa itu dokter?? Saya tidak bisa memilih untuk salah satu dari mereka. Saya mohon selamatkan keduanya Dokter"


"Jika Tuan memilih untuk mempertahankan keduanya, justru mereka berdua bisa tidak terselamatkan sama sekali"


Dewa tampak sangat kebingungan, kehilangan salah satunya saja tidak sanggup. Apalagi harus kehilangan dua-duanya. Mungkin saja Dewa bisa gila setelah itu.


Dewa kembali menatap Diandra yang tak sadarkan diri itu.


Dengan menguatkan segenap hatinya, mencoba mengikhlaskan dengan ingat satu hal, bahwa semuanya yang ada di dunia ini hanyalah titipan belaka. Akhirnya Dewa mengambil keputusan yang sangat-sangat sulit dalam hidupnya.


"Dokter, tolong selamatkan istri saya!!" Bersamaan dengan itu air mata Diandra mengalir melewati sudut matanya yang terpejam.


FLASHBACK OFF


"Kamu mendengarnya??" Dewa tak menyangka jika Diandra yang saat tak sadarkan diri tapi bisa mendengar sudaranya.


"Tentu saja aku dengar karena aku memang tidak bisa membuka mataku, tapi telingaku masih mendengar dengan jelas. Jawab pertanyaan ku Mas!!"


"Karena aku mencintaimu" Dewa tak peduli dengan adanya Bryan di sana. Kalimat cinta itu begitu lancarnya keluar dari bibir Dewa.


"Maafkan aku Dee. Bukanya aku tak menyayangi anak kita lagi sampai rela mengorbankan dia demi kamu. Tapi aku masih ingin melihatmu di dunia ini Dee. Aku masih mau melihatmu hidup bahagia dan menebus semua kesalahanku padamu" Genggaman tangan Diandra semakin erat pada dewa.


"Lalu, bolehkah aku minta satu hal lagi padamu Mas??" Suara Diandra sudah bergetar karena tangisannya.


"Apa, katakanlah!!"


"Aku mohon sama kamu Mas, jangan pisahkan aku sama anak kita"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2