Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
81. Kecelakaan gang di rencanakan


__ADS_3

Dewa duduk di belakang Niko yang mengendarai mobilnya dengan wajah pucat dan badannya yang gemetar tak tenang. Setelah Niko memberikan kabar jika terjadi sesuatu pada Diandra, Dewa langsung menghentikan meetingnya. Tak peduli jika itu termasuk meeting dengan klien pentingnya.


"Lebih cepat Nik!!"


"Baik Tuan"


Dewa sudah gusar berkali-kali meraup wajahnya dengan kasar. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi karena belum melihat keadaan Diandra dengan mata kepalanya sendiri. Dewa bahkan tidak bisa berpikir lagi selain istri dan anaknya.


Tadi di saat Dewa sedang memimpin jalannya meeting tiba-tiba saja Niko mendapatkan sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenalnya.


Niko sempat keluar untuk mengangkat telepon itu dan kembali masuk membawa kabar bahwa telah terjadi kecelakaan pada mobil yang di tumpangi Diandra.


Nyawa Dewa rasanya langsung tercabut melalui ubun-ubunnya begitu saja saat Niko membisikkan kabar itu pada Dewa. Rasa bersalah langsung menyeruak dalam hatinya. Rasanya ingin marah namun pada siapa Dewa juga tidak tau.


Dewa tiba di rumah sakit langsung di arahkan ke UGD oleh polisi yang masih berjaga di sana. Saat ini lututnya bahkan terasa lemas, melangkah menuju ruangan yang ada di depannya saja rasanya sudah tak mampu.


"Dimana istri saya suster??" Suster yang berjaga itu tampak bingung karena tidak tau siapa yang di maksud Dewa"


"Nyonya Diandra, korban kecelakaan di jalan Y"


Barulah suster itu paham setelah Niko menyebutkan Nama Diandra. Suster itu membawa Dewa masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Dewa terhuyung ke belakang saat melihat Diandra terbaring berlumuran darah.


"Tuan tidak papa??" Niko menhan bahu Dewa yang limbung itu.


Dewa mendekati Diandra dengan tangan gemetarnya. Rasanya tak sanggup melihat wanita yang menjadi tempat melabuhkan cintanya kini terbaring lemah dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.


"Dee, sayang" Dewa meraih tangan Diandra dan menciumnya dengan tangisnya yang mulai datang.


Wanita yang memejamkan matanya itu bahkan tak bereaksi sama sekali dengan sentuhan dari Dewa.


"Sayang, Mas datang. Kamu yang kuat sayang. Mas yakin kamu dan anak kita pasti kuat. Mas akan selalu berdoa di sisi kamu" Dewa mengusap perut Diandra dengan penuh sayang.


Tapi biar bagaimanapun, sekuat apapun Dewa menahan air matanya. Melihat istrinya meregang nyawa seperti itu membuat pertahanan Dewa runtuh juga. Dewa memeluk istrinya, membenamkan wajahnya pada bahu Diandra, menangis sesenggukan di sana.


"Permisi Tuan, apakah anda wali dari pasien??" Seorang Dokter bertuliskan SpOG di seragam dinasnya itu.

__ADS_1


"Saya suaminya Dokter" Dewa membersihkan air matanya dengan cepat.


"Tuan ada yang ingin saya sampaikan. Keadaan pasien saat ini sangat darurat dan harus segera kita lakukan tindakan. Kita akan segera mengeluarkan bayinya meski masih berusia 8 bulan Tuan "


"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya Dokter" Dewa sudah menyela Dokter yang belum menyelesaikan ucapannya itu.


"Tapi ada yang harus anda ketahui sebelum kami melakukan operasi Tuan"


"Apa itu?? Lakukan apapun, tidak perlu memikirkan biayanya. Saya akan bayar berapapun asal istri dan anak saya bisa di selamatkan" Dokter itu tampak tersenyum tipis.


"Tuan, saya tau ini berat untuk anda. Tapi sebelum operasi ini dilakukan, anda harus memutuskan untuk memilih salah satu dari mereka Tuan. Hanya itu jalan terbaik untuk mempertahankan salah satunya"


"Apa?? Pilihan macam apa itu dokter?? Saya tidak bisa memilih untuk salah satu dari mereka. Saya mohon selamatkan keduanya Dokter" Bak di sambar petir rasanya, Dewa harus merelakan salah satu dari bagian hidupnya itu pergi. Bahkan dia sendiri seolah menjadi eksekutornya.


"Jika Tuan memilih untuk mempertahankan keduanya, justru mereka berdua bisa tidak terselamatkan sama sekali"


Dewa hampir saja pingsan mendengar penjelasan Dokter itu. Dia membutuhkan seseorang untuk menopangnya saat ini.


🌻🌻🌻


"Dewa, sayang!!" Mama Bella langsung memeluk anaknya yang sedang termenung sendirian di depan ruang operasi.


"Sabar sayang, teruslah berdoa. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk mereka" Mama Bella menepuk punggung brian dengan pelan, seperti saat Dewa kecil dulu.


"Tuan, saya sudah membawakan rekaman cctv ditempat kejadian" Dewa bahkan lupa tetang hal itu jika Niko tida berinisiatif menyelidiki tentang kecelakaan itu.


Dewa melepaskan pelukannya dari Mama Bella.


"Rasanya aku tidak sanggup untuk melihatnya Nik" Ternyata Dewa menolak untuk melihat rekaman itu.


"Tapi saya rasa Tuan memang harus melihatnya. Bantu saya agar semakin yakin jika kecelakaan ini memang di sengaja"


"Apa?? Ada yang mau mencelakai Diandra lagi??" Mama Bella tampak begitu terkejut.


Akhirnya Dewa menerima tablet yabg di ulurkan Niko. Mulai melihat video itu meski rasanya berat untuk melihat bagaimana saat Diandra di hantam mobil itu.


"Apa yang membuatmu curiga Nik??" Mata Dewa masih tertuju lada layar datar itu.

__ADS_1


"Coba Tuan perhatikan di saat mobil yang di tumpangi Nyonya itu akan melewati lampu merah ini. Mobil hitam di sebelah sana sudah berhenti lebih dulu, tidak mengalami rem blong sama sekali. Tapi terlihat jelas jika mobil hitam ini menunggu saat mobil Nyonya berjalan. Tapi kemudian mobil pengawal Nyonya menyadari jika mobil hitam itu siap untuk menabrak mobil Nyonya. Jadi mereka sengaja menabrak mobil mencurigakan itu terlebih dahulu. Mobil Nyonya selamat Tuan karena mobil anak buah Tuan sudah menghalangi lebih dulu dan mereka menjadi korban"


"Tapi, lihatlah dari sebelah sini Tuan" Dewa menggeser tabletnya untuk melihat posisi mobil dari arah yang berbeda. Mobil Diandra saat itu memang berada di perempatan yang bisa saja di tabrak dari kedua sisi.


Dewa melihat bagaimana sebuah truk menyambar mobil Diandra yang baru saja lolos dari mobil hitam yang ingin menabraknya tadi. Dewa sempat memejamkan matanya saat mobil Diandra mulai terdorong dengan keras oleh truk itu.


"Sementara Truk ini memang jelas sekali jika sudah tak terkendali dari kejauhan. Dan dugaan sementara adalah karena sopir mengantuk. Tapi sampai saat ini sopirnya belum juga di temukan"


Niko memperlihatkan rekaman lain kepada Dewa.


"Tapi dalam rekaman mencurigakan sekali. Mobil ini sedang berjalan pelan tiba-tiba berjalan tak terkendali setelah kecelakaan mobil Nyonya gagal terjadi"


Dewa menangkap semua penjelasan Niko tadi. Dia juga mulai menyimpulkannya sendiri.


"Jadi menurutmu, mereka mempunyai rencana cadangan?? Jika mobil pertema gagal mereka mengirimkan mobil kedua begitu??"


"Tepat sekali Tuan"


Dewa memutar sekali lagi video itu. Tangannya mulai mengepal kuat. Dalam hatinya dia tidak akan mengampuni siapapun yang dengan sengaja mencelakai istrinya.


"Selidiki semuanya Nik. Jangan biarkan orang itu lolos begitu saja!!"


"Baik Tuan"


"Lalu bagaimana keadaan Papak Mamat??" Dewa badu ingat sopirnya yang sudah lumayan berumur itu.


"Pak Mamat, dalam kondisi kritis Tuan" Hati Dewa semakin bertambah sedih, karena kecelakaan itu hampir saja merenggut nyawa tiga orang. Dewa tidak akan membiarkan jika benar kecelakaan itu di sengaja. Pasti seseorang akan habis di tangannya.


"Lakukan yang terbaik juga untuk menyelamatkannya. Berikan uang untuk anak dan istrinya sebagai tanda maaf untuk keluarganya"


"Baik Tuan" Niko pergi dari sana untuk melakukan pekerjaan selanjutnya.


Mama Bella yang paham suasana hati putranya hanya bisa menenangkan Dewa. Dia adalah orang yang paling dibutuhkan Dewa saat ini.


Baru saja Niko pergi dari sana, kini sudah ada dua orang mendekati Dewa yang salah satunya sangat Mama Bella kenal.


"Bagaimana keadaan Diandra??"

__ADS_1


Suara itu membuat Dewa mengangkat kepalanya hang sejak tadi tertunduk pilu.


Bersambung...


__ADS_2