Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
106. Memupuk kesalahpahaman


__ADS_3

"Bagaimana keadaan menantu saya Dokter??"


Teriakan Sari tadi yang membuat seisi rumah menjadi geger karena Diandra yang sudah tak sadarkan diri di lantai, membuat Mama Bella langsung memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Diandra.


"Nyonya Diandra hanya kelelahan dan terserang flu Nyonya, dan sekarang sudah sadarkan diri. Saya juga sudah mengingatkan untuk menjaga pola makannya. Karena tadi Nyonya Diandra sempat mengatakan jika Nyonya Diandra mual dari tadi malam. Itu di sebabkan karena asma lambungnya yang naik"


Mama Bella mengangguk mengerti penjelasan dari Dokter keluarganya itu.


"Baik Dokter terimakasih"


"Saya permisi Nyonya"


Mama Bella dan Papa Elang menghampiri Diandra di kamarnya. Keadaannya masih lemas dengan tangan yang terpasang selang infus.


"Dee, gimana keadaan kamu??" Mama Bella duduk di sisi Diandra.


"Sudah nggak mual Ma, tapi rasanya masih pusing sekali" Jawab Diandra dengan lemas.


"Kamu kelelahan karena mengurus Akhtar dan menyiapkan pernikahan kamu Dee. Jadi sekarang lebih baik kamu istirahat total, biar Sari yang mengurus Akhtar sepenuhnya selama kamu belum benar-benar sembuh" Ucap Papa Elang.


"Iya Pa. Maaf ya sudah merepotkan Papa dan Mama"


"Kamu juga anak kita, jadi tak ada kata merepotkan. Jangan sungkan begitu, Papa tidak suka!" Ketegasan penuh kasih sayang itu membuat hati Diandra semakin menghangat.


"Terimakasih Papa"


"Istirahatlah, biar Mama suruh Nining buatin kamu makanan yang berkuah dan segar"

__ADS_1


"Tunggu Ma, apa Mama sudah memberitahu Mas Dewa kalau aku sakit??" Diandra menghentikan Mama Bella yang sudah ingin beranjak.


"Astaga!! Mama lupa Dee. Biar Papa yang hubungi Dewa ya"


"Tidak usah Ma!!" Tolak Diandra dengan cepat.


"Kenapa??" Tanya Papa Elang.


"Pa, Mas Dewa pasti sedang sibuk di sana. Kemarin katanya ada sesuatu yang harus segera di selesaikan. Aku tidak mau membuatnya khawatir, aku yakin Mas Dewa akan langsung pulang kesini kalau sampai tau aku pingsan. Jadi biarkan pikiran Mas Dewa tenang saat bekerja di sama Pa" Pinta Diandra dengan wajahnya yang masih begitu pucat.


"Baiklah, asalkan kamu segera sembuh. Papa tidak mau kena omel anak itu kalau tau Papa dan Mama tidak memberitahunya ketika kamu sakit" Diandra tersenyum dan mengangguk.


Rasanya seperti mimpi baginya, mendapatkan suami yang begitu mencintainya dan juga kedua mertua yang amat menyayanginya.


"Papa dan Mama keluar dulu. Ayo Ma" Papa Elang mengulurkan tangan pada istri terciptanya.


Mama Bella yang masih terlihat begitu cantik itu menerimanya dengan suka cita. Diandra lihat kedua mertuanya itu begitu saling mencintai. Pantas saja Dewa sering cemburu melihat kemesraan mereka.


Tak lama kemudian Diandra akhirnya bisa terlelap, mungkin karena pengaruh obat yang di minumnya.


Sementara itu, Dewa yang melihat ponselnya begitu banyak panggilan dari Diandra tadi malam hanya menatap ponselnya tanpa minat.


"Ada apa Tuan?? Kenapa terlihat gelisah sekali??" Niko memberikan satu cup kopi kepada Tuannya.


"Bisakah kamu mengubah mode asisten mu menjadi temanku dulu??" Niko langsung duduk di samping Dewa.


"Nik, kenapa aku merasa, Diandra tidak benar-benar mencintaiku. Apa dia bertahan di sisiku hanya demi Akhtar saja?? Aku mulai ragu dengannya Nik" Dewa menyadarkan kepalanya pada sofa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Kenapa bisa menyimpulkan seperti itu?? Bukankah aku sudah bilang, jika tadi malam dia menghubungiku karena begitu mengkhawatirkan mu??"


"Tidak tau Nik, rasanya sakit sekali saat dia mencoba menghindar dariku. Apa aku yang terlalu tidak sabaran, atau aku berlebihan menunjukkan rasa cintaku kepadanya??"


"Sebaiknya kalian berdua membicarakan masalah ini terlebih dahulu. Jangan biarkan terus berlarut-larut. Saling menutupi perasaan masing-masing bukankah hanya akan menjadi bom waktu untuk hubungan kalian berdua?? Selesaikan dengan kepala dingin, dengarkan apa alasannya berbuat seperti itu. Jangan mengambil kesimpulan sendiri, bisa saja apa yang kamu pikirkan saat ini bukan yang ada di pikiran istrimu"


Dewa membuka tangan yang menutupi wajahnya, lalu menatap wajah Niko penuh arti.


"Kenapa menatapku seperti itu??" Sungut Niko tak terima.


"Kenapa kau bijak sekali?? Kau bijak sekali soal cinta, padahal belum punya pasangan. Apa jangan-jangan kau menjalin hubungan dengan seorang wanita secara diam-diam??"


"Mana ada!!" Niko langsung mengelak dengan tegas.


"Iya juga tidak papa. Tapi beri tau aku siapa wanita itu??" Desak Dewa.


"Maaf Tuan, saya sudah mengatakan yang sebenarnya. Saya sudah katakan kalau saya baru akan mencari pendamping hidup saya kalau anda sudah bahagia. Saya permisi" Niko meninggalkan Dewa sendiri di dalam ruangannya.


"Dia mengubah modenya lagi rupanya" Dewa terus menatap Niko yang keluar dari ruangannya.


Dewa mulai memikirkan apa yang Niko katakan tadi. Dia tak mengelak, memang benar seharusnya itu yang Dewa lakukan jika menuruti pikirannya tapi hatinya berkata lain. Hatinya masih ragu, dia lebih memilih menenangkan dirinya lebih dulu, juga meyakinkan dirinya jika kata cinta yang Diandra ucapkan itu benar adanya.


Pria yang semakin bertambah umur justru semakin tampan itu melihat pada ponselnya lagi. Sekarang sudah menjelang siang hari. Tapi ponselnya tidak menunjukkan adanya pesan atau panggilan dari wanita yang amat dicintainya itu lagi setelah tadi malam Dewa mengabaikannya. Buka ketiduran tapi memang Dewa sengaja tidak mengangkat panggilan dari Diandra sampai panggilan berkali-kali itu berhenti dengan sendirinya.


"Maafkan Mas sayang, bukannya Mas mencoba membuat jarak denganmu. Tapi Mas takut kata cintamu itu hanyalah di bibir saja"


Dewa kali ini melakukan hal yang bodoh, dia memilih menonaktifkan ponselnya tanpa tau apa yang sedang terjadi dengan istrinya saat ini.

__ADS_1


Bukannya menuruti apa yang Niko sarankan, Dewa justru memupuk kesalahpahamannya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2