
Akhirnya keras kepalanya Diandra bisa hancur juga karena Mama mertuanya. Mama Bella langsung memerintahkan Dokter untuk memberikan perawatan pada Diandra setelah tadi melihat Diandra mulai limbung.
Kini Diandra berbaring di ranjang yang bersebelahan dengan Dewa. Mama Bella sengaja meminta perawat untuk menyiapkan ranjang satu kamar dengan Dewa.
Dengan cairan infus dan obat yang sudah masuk ke dalam tubuhnya sejak 2 jam yang lalu. Kini Diandra berangsur membaik. Dewa dengan setia menggenggam tangannya tanpa malu sekalipun di depan orang tuanya.
Kedua orang tua yang masih terlihat begitu romantis di usia pernikahan yang sudah terbilang lama itu hanya memandang anak dan menantunya dari sofa.
"Dewa?"
Dewa beralih pada Mamanya yang memanggil dari kejauhan.
"Iya Ma??"
"Besok kalian pulang ke rumah utama saja ya?? Disini bahaya, terutama untuk Diandra. Lagipula kehamilan Diandra juga sudah besar, jadi Mama bisa jagain Diandra kalau kamu kerja"
Dewa tak langsung menjawab, dia melihat Diandra dulu. Meminta pendapatnya tentang permintaan Mama Bella itu.
"Aku ikut Mas aja enaknya gimana" Jawab Diandra dengan lembut.
"Ma, Mantu Mama mau katanya" Ucapan Dewa membuat Diandra sedikit malu.
"Bagus kalau gitu. Besok biar Papa kirimkan mobil yang nyaman untuk Diandra. Biar nggak capek kalau perjalanan jauh. Ya Pa??" Mama Bella persetujuan dari Papa Elang.
"Iya Ma, apapun untuk anak dan cucu kita"
Betapa bersyukurnya Diandra karena mendapatkan suami dan mertua yang begitu menyayanginya. Tapi seakan di sadarkan oleh kenyataan. Semua yang dirasakannya saat ini hanyalah sementara. Sebentar lagi semuanya akan berakhir. Dan yah.. Diandra harus kembali pada kehidupannya yang dulu. Kembali kepada Bryan.
"Sebaiknya Papa sama Mama istirahat saja dulu. Di dekat sini pasti ada hotel kan??"
"Kamu ngusir Mama??" Mama Bella langsung protes dengan niat baik Dewa itu.
"Astaga Mama, kurang-kurangin dong sensinya. Niat Dewa baik kok, biar Mama sama Papa nggak capek. Besok pagi bisa kok datang kesini lagi sekalian kita pulang ke rumah" Jelas Dewa tak ingin Mama kesayangannya salah paham.
"Tau ni Mama kamu. Padahal dulu bawaannya tenang dan nggak mudah marah" Papa Elang justru membenarkan apa yang Dewa katakan.
"Ya itu kan dulu. Mama kaya gini juga karena kalian selalu bikin darah Mama mendidih" Diandra menahan tawanya melihat ketiga orang itu berdebat.
"Ya sudah ayo kita keluar saja. Nggak usah marah-marah, biarkan mereka berduaan. Mama kaya nggak pernah muda aja" Papa Elang langsung mengambil jalam tengahnya, menggenggam tangan Mama Bella untuk membawanya mencari penginapan.
"Mama pergi ya, jaga istrimu baik-baik!!" Pesan Mama Bella walau sudah di tarik suaminya keluar.
"Baik Nyonya" Jawaban Dewa mendapat tepukan keras pada bahunya oleh Diandra.
__ADS_1
"Nggak sopan tauk!!" Omel Diandra.
"Nggak papa sayang, udah biasa"
"Mas, aku mau tanya deh. Kenapa kamu sama Mama pingin banget punya anak perempuan??" Diandra memiringkan tubuhnya untuk mendengarkan sang suami yang mulai bercerita.
"Kalau aku kamu sudah tau alasannya kan?? Tapi kalau Mama, ah ceritanya panjang"
Dewa memupuskan Diandra yang sudah siap jadi pendengar yang baik.
"Sepanjang apa emangnya. Ayo dong Mas, cerita tentang Mama, lagian aku bosen tiduran di rumah sakit kaya gini" Diandra merengek seperti anak kecil.
"Iya aku cerita, tapi jangan bosen ya??" Diandra tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Dari cerita Papa, dulu mereka itu menikah karena sebuah insiden yang sampai saat ini aku juga belum tau apa yang terjadi sebenarnya. Sampai akhirnya Papa tau kalau Mama menyimpan cinta yang besar untuk Papa....." (Kalau mau tau kisah Papa dan Mama Dewa baca dulu, GADIS MUNAFIK MILIK ELANG ya😂😂😂)
Diandra benar-benar mendengarkan cerita Dewa yang katanya panjang itu. Termasuk cerita tentang Mama Bella yang dilarang Papa Elang untuk hamil lagi karena takut beresiko untuk Mama Bella.
"Mereka sweet banget ya Mas??"
"Iya, sampai sekarang juga begitu. Makanya aku iri kalau lihat mereka sedang bermesraan. Kaya nggak sadar kalau anaknya ini nggak punya pasangan, mereka cuek aja, serasa dunia milik berdua" Diandra membenarkan apa kata Dewa itu. Memang sejak tadi jelas sekali kasih sayang di antara mereka terlihat dari bahasa tubuh kedua mertuanya itu.
"Kamu emangnya nggak pingin seperti mereka??"
Diamnya Diandra membuat Dewa menyadari jika ada yang salah dalam ucapannya.
"Dee, aku minta maaf. Aku nggak berma..."
Suara ketukan pintu membuat Dewa menghentikan ucapannya.
Niko masuk dengan beberapa paper bag yang Dewa yakini adalah baju ganti untuk dirinya dan Diandra.
"Maaf mengganggu Tuan. Saya mau mengantarkan baju pesanan Tuan dan juga ada hal yang harus saya sampaikan"
"Tidak Niko, kau justru menyelamatkan aku dari kecanggungan ini" Hati Dewa menjawab terlebih dahulu.
"Apa itu??"
Niko meletakkan paper bagnya terlebih dahulu sebelum menyerahkan ponselnya pada Dewa.
"Silahkan Tuan" Hanya melihat sebuah foto yang diperlihatkan Niko itu, Dewa sudah paham apa yang Niko lakukan di tanpa perintah darinya.
"Dimana kau menyembunyikannya??" Dewa mengembalikan ponsel milik Niko itu.
__ADS_1
Diandra tak mau ikut campur urusan yang sama sekali bukan bagiannya. Melihat wajah Dewa yang tampak berubah serius dan menyeramkan sudah cukup membuat Diandra memilih diam.
"Di tempat biasa Tuan. Saya tidak akan menyentuhnya sebelum Tuan sendiri yang memerintahkan kepada saya"
Diandra tampak begitu kagum dengan kesetiaan dan kepatuhan Niko kepada Dewa. Walau tidak tau sama sekali tapi Diandra bisa melihat ketulusan Niko pada Dewa. Besok Diandra akan menanyakan asal usul Niko menjadi asistennya.
"Begini saja sudah bagus Niko. Terus awasi dia jangan sampai dia bisa meloloskan diri. Aku sendiri yang akan memberinya pelajaran setelah aku keluar dari sini" Tukas Dewa.
"Saya mengerti Tuan"
Diandra mengernyitkan keningnya, Dewa membahas seseorang didalam obrolannya dengan Niko.
"Memberinya pelajaran?? Siapa yang mereka tangkap sebenarnya?? Kenapa harus menyembunyikannya?? Apa Mas Dewa juga sering berbuat seperti apa yang kita alami kemarin??" Ingin sekali Diandra mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi melihat betapa seriusnya mereka, Diandra mengurungkan niatnya.
"Kau boleh pergi" Niko membungkukkan badannya lalu meninggalkan kamar pasangan suami istri itu.
Dewa menyadari jika sedari tadi Diandra memperhatikannya dengan penuh tanya.
"Kenapa dahi mu berkerut seperti itu Dee?? Ada yang ingin kamu tanyakan??"
"Siapa orang yang kalian bicarakan itu?? Kalau kamu keberatan, kamu tidak perlu menjawabnya Mas"
"Daniel"
Satu nama yang membuat Diandra terbayang betapa kejamnya pria itu.
"Kenapa kamu menyembunyikannya Mas?? Kenapa tidak di serahkan ke kantor polisi saja??" Diandra tampaknya belum paham betul dunia yang Dewa jalani.
"Polisi tidak akan membuat orang seperti Daniel jera sayang. Jadi aku akan tetap menahannya sampai aku benar-benar sudah memikirkan apa pelajaran yang pantas diterima orang yang telah membuat istriku jadi seperti ini" Dewa mengecup tangan kiri Diandra.
Rasa hangat kembali menjalar ke seluruh tubuh saat bibir Dewa menyapa kulit Diandra.
"Berhati-hatilah saat kamu melakukan sesuatu Mas" Pesan yang tulus dari Diandra untuk suaminya.
"Itu sudah pasti sayang" Diandra selalu tersipu saat Dewa memanggilnya seperti itu.
Suasana hangat itu harus terhenti karena dering telepon Dewa yang terlah di bawa Niko tadi siang.
Diraihnya ponsel mahal di atas nakas itu. Dewa melirik Diandra saat membaca nama si penelepon.
Meski tampak ragu, Dewa tetap mengangkat panggilan yang baru pertama kali dilakukan orang itu kepadanya.
"Halo??"
__ADS_1
Bersambung...