
"Apa yang kau lakukan Tara??"
Amarah Diandra hampir meledak karena emosinya sedang tidak stabil tapi Tara justru datang dengan kasi anarkisnya itu.
"Justru aku yang harusnya bertanya!! Apa yang sebenarnya kamu lakukan Diandra?? Aku kira kamu benar-benar mempertimbangkan perkataan ku waktu itu. Tapi ternyata aku salah!! Kamu benar-benar wanita tak punya hati!!"
Diandra sudah mulai tersulut emosi Tara tiba-tiba datang lalu marah-marah tanpa Diandra tau penyebabnya.
"Apa maksudmu sebenarnya??" Sengit Diandra.
"Kenapa kamu masih tetap pada pendirian mu untuk berpisah dengan Kak Dewa??"
Tadi Tara sempat datang ke rumah Dewa karena di utus Mamanya untuk mengantar makanan untuk Mama Bella. Namun ketika tiba di sana Tara melihat Mama Bella sedang menangis memikirkan nasib anak laki-lakinya.
"Itu bukan urusanmu!!" Ketus Diandra membuang mukanya.
"Memang!! Itu memang bukan urusanku!! Tapi aku tidak bisa tinggal diam saat keputusanmu itu telah menyakiti banyak orang"
Diandra kembali melihat ke arah Tara yang sedang berapi-api.
"Kenapa?? Kamu merasa paling tersakiti begitu??" Tara melihat raut wajah Diandra yang menunjukkan bahwa dia tidak setuju dengan perkataan Tara itu.
"Ingat Diandra!! Kak Dewa memang memaksamu untuk menikah. Tapi itu tidak dilakukannya secara cuma-cuma. Dia membantu Ayahmu, membantu perusahaan mu hingga bisa berkembang lagi seperti sekarang!!"
Diandra meredupkan kilatan pada matanya. Kali ini dia membenarkan apa kata Tara.
"Lalu menurutmu, Kak Dewa membuat perjanjian konyol untuk menceraikan mu setelah anak kalian lahir itu ikhlas?? Tidak Diandra!!"
Diandra membiarkan Tara berceramah di depan pintu kamarnya tanpa menyuruhnya untuk duduk sekalipun.
"Kak Dewa hanya mencoba ikhlas demi kebahagiaanmu meski di dalam hatinya tak ada kata rela sekalipun. Apa kamu pernah bertanya padanya, apa dia benar-benar ingin melepas mu??"
__ADS_1
"Ingat Diandra, sekarang ini seharusnya kamu tidak hanya memikirkan tentang kebahagiaan mu saja. Pikirkan juga anak kalian. Oke anggap saja kamu tidak bisa menerima Kak Dewa. Tapi apa kamu tega sama anak kamu?? Apa kamu tidak ingin memberikan kesempatan kepadanya untuk tumbuh di antara kedua orang tua kandungnya?? Jangan egois Diandra!!"
"Cukup Tara!!" Wanita itu sudah terlalu banyak bicara membuat Diandra muak.
Diandra sedang kacau saat ini, tidak seharusnya Tara datang dengan segala ucapannya itu. Semuanya itu justru membuat Diandra semakin kacau.
"Biar ini menjadi urusanku sendiri. Kamu tidak perlu ikut campur!!"
"Memangnya apa yang ingin kamu urus sendiri hah?? Nyatanya hari ini saja Kak Dewa sudah mengirimkan surat gugatan untukmu. Berarti tidak ada tindakan apapun darimu kan?? Sekarang aku tanya padamu"
Tara mulai mendekati Diandra ke ranjangnya. Tatapan mata mereka saling beradu tak mau kalah satupun. Tara semakin dekat hingga tepat berada di samping Diandra.
"Apa didalam hatimu sama sekali tidak ada rasa cinta untuk Kak Dewa?? Melihat sikapnya yang lembut dan perhatian hanya kepadamu, apa tidak bisa menggoyahkan hatimu sedikitpun??" Tara merendahkan suaranya dan begitu mengintimidasi hingga Diandra tak kuasa untuk menatap wanita itu.
"A-aku tidak tau" Jawab Diandra mengelak.
Tara tersenyum kecut lalu menjauh dari Diandra lagi. Membelakangi Diandra dan memilih melihat keluar melalui jendela yang ada di kamar itu.
"Tidak usah sok tau mengenai perasaan orang lain!!" Diandra masih keras kepala dengan keyakinannya yang sebenarnya sudah rapuh entah sejak kapan.
"Oh ya?? Apa cinta yang kamu banggakan itu masih utuh untuk Bryan?? Kalau aku boleh menebak, kamu tetap ingin kembali kepada Bryan hanya karena menepati janjimu saja bukan??"
Tara kembali berbalik mendekati Diandra, ingin sekali melihat ekspresi wanita itu lebih dekat. Bagaimana reaksinya ketika Tara benar-benar bisa menebak isi hati Diandra.
Diandra diam seribu bahasa dengan kedua tangannya yang saling meremas. Matanya memerah mengisyaratkan sesuatu yang dipendamnya.
"Kamu sudah terlanjur meminta Bryan untuk menunggu sampai Dewa menceraikan mu. Jadi kamu tidak ingin mengkhianatinya kan?? Tapi itu justru salah besar Diandra!!"
Tara kembali mendekatkan wajahnya pada Diandra. Kedua pasang mata itu saling beradu dengan sengit.
"Apa kamu pikir Bryan akan bahagia setelah tau kalau wanita yang dia tunggu selama ini telah berpindah ke lain hati?? Apa kamu pikir Bryan mampu hidup berdua denganmu namun kamu sendiri masih berada di dalam bayang-bayang pria lain?? Apa kamu ingin menjadikan Bryan sebagai Kak Dewa yang ke dua?? Hidup bersama wanita yang tidak mencintainya??"
__ADS_1
"Cukup Tara, cukup!!" Diandra menutup kedua telinga dengan tangannya yang masih terpasang jarum infus.
Tangisan Diandra akhirnya pecah juga di depan Tara. Air mata yang tadi sudah sangat banyak keluar saat Niko menyerahkan surat itu. Kini ternyata belum habis juga. Nyatanya air mata itu masih keluar begitu deras.
Melihat Diandra tersiksa seperti itu, tidak juga membuat Tara berhenti. Dia justru semakin gencar menyerang Diandra dengan kata-katanya. Akhirnya peran Tara dalam novel ini ada gunanya juga.
"Untuk apa air matamu itu Diandra?? Apa untuk Bryan?? Atau untuk suamimu yang saat ini terpuruk dan anakmu yang masih di dalam kotak kaca menyedihkan itu?? Aku sampai heran kenapa ada wanita berhati batu sepertimu!! Setelah Kak Dewa sudah merelakan mu untuk pria lain. Kamu justru ngelunjak meminta Kak Dewa untuk tidak memisahkan mu dengan anakmu"
"Tara!! Cukup aku bilang!! Kamu tidak tau apa-apa!! Apa yang kamu pikirkan itu salah!!" Bantah Diandra frustasi.
"Apa yang salah?? Katakan Diandra, agar aku tak salah menilai mu!!" Tantang Tara tak mau kalah.
Diandra mengusap air matanya dengan kasar. Menatap nyalang kepada Tara.
"Kamu tidak tau tentang aku sedikitpun Tara!! Apa kamu pikir aku tega menyakiti hati suami dan anakku?? Tidak semua yang kamu lihat itu sebuah kebenaran Tara!! Iya aku akui aku salah, aku menggantungkan dau hati sekaligus. Tapi cobalah posisikan dirimu menjadi aku Tara"
Sia-sia Diandra mengusap air matanya, nyatanya pipinya saat ini kembali basah.
"Coba bayangkan, tiba-tiba saja kamu terikat dengan seseorang yang tidak kamu kenal di saat kamu mempunyai pria yang sangat kamu cintai. Dikurung dan disiksa fisik dan psikis kamu. Melawan tidak bisa, mencoba lari pun tak bisa. Aku frustasi saat itu Tara, hanya kepada Bryan aku berharap bisa melepaskan aku dari Mas Dewa. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk bunuh diri"
Tara baru ingat jika Diandra juga sempat memotong urat nadinya.
"Dan setelah itu Mas Dewa mulai berubah. Mas Dewa bukan sosok yang menyeramkan lagi. Dia lembut dia perhatian dan begitu mencintaiku. Apa yang akan kamu lakukan saat itu, ketika hatimu terus saja di suguhi cinta yang begitu besar di hadapanmu tapi ada cinta yang lain menunggu mu di luar sana?? Katakan Tara, apa kamu bisa mengubah keputusanmu secepat itu meski hatimu sudah mengetahui jawabannya??"
Tara terperangah pada Diandra yang begitu sendu menatapnya.
"Ja-jadi??" Tara sampai terbata saat menyakinkan apa yang dia tangkap dari penjelasan Diandra itu.
Diandra mengangguk tersenyum meski bibirnya sedikit bergetar.
Bersambung...
__ADS_1