Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
105. Tak ada kabar


__ADS_3

Diandra terjaga dari tidurnya ketika matahari sudah menembus tirai berwarna putih kamar hotel mewah itu.


"Astaga, kenapa aku bisa ketiduran??" Diandra langsung terduduk melihat ke sampingnya.


Suaminya itu masih tertidur pulas dengan posisi tengkurap dan wajahnya menghadap pada Diandra.


"Mas"Diandra menyentuh punggung Dewa dengan pelan.


" Hemmm" Suara berat khas bangun tidur menyapa Diandra.


Dewa membalikkan badannya dan merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Rasa lelah akibat pesta semalam juga masih tersisa.


Diandra memandang suaminya itu penuh rasa bersalah. Semalam badan dan pikirannya tidak bisa di ajak kompromi.


"Mas, maafin aku ya. Semalam aku ketiduran, aku sama sekali nggak bermaksud buat ninggalin kamu tidur duluan" Diandra mengajak bicara Dewa yang bahkan belum membuka matanya.


"Tidak papa sayang, Mas tau kamu pasti lelah" Dewa memang belum membuka matanya tapi tangannya meraih tangan Diandra dan menariknya hingga Diandra berbaring di pelukan Dewa.


Diandra hanya diam menerima perlakuan suaminya itu. Diam hanya mulutnya tapi jantungnya tak bisa diam sama sekali. Apalagi Dewa terus menggesekkan hidungnya di bahu Diandra yang tak tertutup kain.


"Sayang, Mas tadi malam baru dapat kabar dari Niko, kalau nanti sore Mas harus pergi ke kota B untuk menangani proyek di sana" Tangan Dewa yang berada di pinggang Diandra terus mempererat pelukannya.


"Nanti sore Mas?? Kamu nggak cuti dulu??" Diandra kecewa bukan karena Dewa yang tidak meluangkan waktunya pada Diandra. Tapi Diandra kecewa karena nanti malam tak bisa mengganti malam tadi yang sudah terlewatkan karena dia tertidur.


"Maaf sayang, ini sangat darurat"


"Berapa lama kamu di sana Mas??"


"Mas belum tau, tapi kalau bisa secepatnya Mas akan pulang" Diandra tak bertanya lagi. Dia hanya memegang tangan Dewa yang berada di perutnya dan menikmati momen kebersamaan mereka saat ini.


-


-


"Kamu yakin nggak mau pulang dulu lihat akhtar Mas??" Diandra melihat Dewa yang sedang memakai sepatu.


"Waktunya mepet banget sayang, nanti kalau Mas sudah sampai Mas Video call kamu saja ya. Kamu langsung pulang kan setelah ini??"


"Iya"


Tadi Dewa niatnya akan pulang mengantar Diandra lebih dulu sebelum ke bandara bersama Niko. Tapi niatnya itu tak terlaksana karena mereka berdua kembali terlelap karena aksi pelukan mereka yang begitu menghangatkan.

__ADS_1


"Ya udah Mas berangkat dulu ya. Telepon Mas kalau ada sesuatu. Nanti kamu pulangnya di jemput sama Mas Jono. Hati-hati ya" Diandra suka sekali perhatian dari Dewa seperti itu.


"Iya Mas, kamu juga hati-hati ya. Jaga diri baik-baik" Diandra membetulkan kerah kemeja Dewa yang sedikit terlipat.


"Iya sayang"


Diandra meraih tangan Dewa lalu menciumnya dengan begitu santun.


Dewa ingin membalasnya dengan sebuah kecupan di bibir Diandra. Mungkin saja itu akan sedikit mengobati rasa kecewanya tadi malam.


Tapi saat Dewa ingin mendaratkan bibirnya pada bibir Diandra. Tiba-tiba Diandra menutup hidungnya lalu..


"Hatchiii..." Wajah Dewa langsung berubah mendung seketika.


"Maaf Mas"


"Tidak papa, Mas pergi dulu" Dewa mengusap kepala Diandra dengan lembut tak lupa senyuman tipisnya untuk Diandra.


Diandra hanya mengantar Dewa sampai ke depan pintu kamar mereka saja. Karena setelah ini Diandra akan segera berkemas untuk pulang. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Akhtar walau baru sehari tak bertemu.


🌻🌻🌻


Diandra juga sudah mencoba menghubungi Dewa, namun ponselnya tidak bisa di hubungi sama sekali.


Diandra menepuk kepalanya, Dia mengambil ponselnya kembali, lalu menelepon seseorang yang selalu bersama Dewa.


"Halo Niko??" Panggilan Diandra kali ini langsung tersambung dengan pemiliknya.


"Iya Nyonya. Ada yang bisa saya bantu??"


"Apa Mas Dewa bersamamu?? Kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi?? Dia baik-baik saja kan Nik??"


Diandra merutuk dirinya karena begitu bodoh tak ingat orang yang satu ini.


"Tuan sudah beristirahat Nyonya. Mungkin baterai ponselnya habis jadi tidak bisa menghubungi Nyonya. Dan Tuan juga baik-baik saja"


"Ya sudah Nik terimakasih. Titip Mas Dewa ya, jangan sampai dia telat makan. Jangan lupa sampaikan pada Mas Dewa kalau aku menunggu teleponnya" Diandra lega sekali mendengar suaminya dalan kondisi baik-baik saja.


"Baik Nyonya"


Setelah telepon itu berakhir Diandra merasa lebih tenang. Wanita yang aura kecantikannya semakin bertambah itu mencium putranya sebelum kembali ke kamar.

__ADS_1


Tapi Diandra berbalik lagi memposisikan ponselnya di atas anaknya yang sudah tidur terlelap. Membidiknya dengan kamera ponselnya, lalu mengambil foto bayi lucunya.


Diandra tersenyum puas melihat hasil fotonya. Kemudian Diandra membuka sebuah aplikasi yang sudah cukup lama tidak dia gunakan. Padahal dulu aplikasi itu sudah seperti sahabat baginya.


Untuk pertama kakinya setelah beberapa bulan vakum. Diandra memposting wajah bayinya didalam akun yang memiliki lebih dari 5 juta pengikut itu.


Tak sampai satu menit, puluhan notifikasi masuk dalam ponsel Diandra. Tapi Diandra tidak membaca satu komentar pun di dalam akunnya itu. Karena dia tau sekejam apa mulut netizen yang tidak suka dengannya. Walau yang Diandra posting adalah foto bayinya, tapi pasti ada yang dengan tak punya hati menghakimi anaknya.


Diandra kembali kedalam kamarnya dengan perasaanya yang sedikit lega. Meski tak dapat di pungkiri jika dia merindukan Dewa.


"Apa-apaan aku ini, bali di tinggal beberapa jam saja rasanya sudah sangat rindu" Diandra terkekeh menertawakan dirinya sendiri.


"Hatchii.. Hatchiii..."


Hidung Diandra yang sejak tadi gatal kini mulai tersumbat. Pusing di kepalanya yang sejak tadi di abaikannya kini mulai begitu terasa.


"Mungkin aku kelelahan, lebih baik aku istirahat dulu"


Diandra membaringkan tubuhnya di kadur yang empuk dan luas milik Dewa. Rasanya nyaman meski sama sekali tak mengurangi rasa sakit di kepalanya.


Niat hati ingin tidur dan beristirahat. Tapi nyatanya Diandra sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Pusing di kepalanya juga hidungnya yang tersumbat membuatnya tidak bisa tidur.


Diandra bahkan harus bolak-balik ke kamar mandi karena rasa mual di perutnya.


Diandra baru saja ingin terlelap saat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi tapi perutnya yang kembali bergejolak terpaksa membuatnya harus menghampiri kamar mandinya.


"Nyonya, Den Akhtar sudah waktunya mandi. Mau saya yang mandikan atau Nyonya saja??" Mbak sari mengetuk kamar Diandra namun tak ada jawaban.


Biasanya jam 7 pagi Diandra sudah menyambangi kamar Akhtar. Tapi sampai jam 8 Diandra belum juga terlihat. Padahal sudah waktunya Akhtar mandi. Mbak sari terpaksa harus mengetuk kamar Diandra karena biasanya Diandra sendiri yang akan memandikan anaknya itu.


"Nyonya??" Tak ada jawaban apapun dari dalam.


"Nyonya tidak papa kan. Saya masuk ya Nya??"


Mbak Sari berharap pintu kamar majikannya itu tidak terkunci. Dengan sedikit ragu Mbak Sari akhirnya mendorong gagang pintu yang kokoh itu ke dalam.


Pandangan Mbak Sari langsung tertuju pada Diandra yang membuatnya langsung berteriak dengan keras.


"NYONYA!!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2