Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
44. Permintaan Diandra


__ADS_3

Tatapan mata dari Dewa itu kemudian berubah menghangat secara berlahan. Dewa bisa melihat wajah Diandra yang ketakutan melihat wajahnya.


"Dee, sudah aku katakan aku tidak bisa marah padamu. Aku hanya kesal dengan diriku sendiri" Perkataan Dewa itu mambu membuat Diandra mengerutkan keningnya.


"Kamu sudah tau kan Dee kalau aku takut dengan laut?? Aku tadi sebenarnya tidak mau mengijinkan mu untuk bermain air, karena aku takut, aku khawatir kalau seandainya terjadi apa-apa sama kamu aku tidak bisa menolong mu Dee. Dan melihatmu seperti ini, aku kesal dengan diriku sendiri karena tidak bisa menjagamu. Aku, aku..."


"Mas!!" Diandra ingin menggenggam tangan Dewa namun posisinya yang berbaring lemah membuatnya tidak bisa meraihnya. Diandra hanya mengulurkan tangannya saja.


Namun Dewa yang melihat tangan Diandra terulur itu langsung menyambutnya.


"Mas, itu bukan salah kamu. Aku sendiri yang ceroboh aku yang kurang hati-hati. Maafkan aku sudah membuat mu khawatir" Ucap Diandra dengan tangannya yang masih dalam genggaman Dewa.


"Kamu mau kan memaafkan aku lagi??" Suara Diandra juga ikut melemah karena masih merasakan pusing di kepalanya.


"Tentu saja Dee, aku akan selalu memaafkan kamu" Senyum tipis terukir di bibir yang jarang sekali tersenyum itu. Membuat pemiliknya semakin bertambah kadar ketampanannya.


"Mas, sekarang kandunganku sudah hampir memasuki usia 7 bulan. Berarti tinggal sebentar lagi pernikahan kita akab berakhir" Ucapan Diandra itu langsung meredupkan kembali senyuman Dewa yang baru saja terbit.


Kenapa Diandra harus membahas itu di saat Dewa merasakan secuil kebahagiaan. Seakan Diandra memberi peringatan kepada Dewa jika kebahagiaannya bersama Diandra hanyalah semu belaka.


"Me-memangnya kenapa??" Tanya Dewa sudah mulai gusar.


"Apa boleh aku meminta sesuatu padamu??"


"Apa itu??" Ada rasa takut di hati Dewa dengan apa yang akan Diandra minta kepadanya itu.


"Di sisa waktu pernikahan kita yang hanya tinggal beberapa bulan ini, ijinkan aku untuk menjadi istri yang sesungguhnya buat kamu" Ucap Diandra dengan satu tarikan nafasnya.


Dewa sempat terpaku karena ragu dengan kebenaran yang ia dengar itu.


"Apa yang kamu katakan Dee?" Sepertinya benar jika pendengaran Dewa mulai berkurang.


"Mas, kamu selama ini sudah merubah sikapku kepadaku. Kamu benar-benar berubah hanya karena tidak ingin kehilangan aku dan anak kita" Betapa hangatnya hati Dewa saat Diandra menyebut anak kita pada janinnya.


"Sementara itu, aku justru terus menyusahkan mu. Aku tidak pernah mengerti kamu sama sekali. Jadi ijinkan aku untuk menebus semua itu selama sisa pernikahan kita. Kita jadikan pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya meski hanya beberapa saat. Kamu mau kan??" Diandra menatap mata Dewa yang tampak mulai berkaca-kaca.


"Kamu yakin dengan permintaanmu ini Dee?? Kamu tidak takut jika dengan kita melakukan itu maka akan mengubah keputusanku?? Kamu tidak takut jika aku kembali egois dan tidak akan pernah melepaskan kamu??"


Diandra menggeleng lemah dengan senyuman tipisnya.

__ADS_1


"Tidak sama sekali. Aku percaya sama kamu, kamu tidak akan pernah mengingkari janjimu"


"Kenapa bisa seyakin itu?? Aku bisa saja berubah sewaktu-waktu" Balas Dewa dengan senyuman remehnya.


"Aku tidak takut" Tantang Diandra.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau aku tidak akan melepaskan kamu saat itu" Tanya Dewa dengan memicingkan matanya.


"Itu masalah gampang, aku akan memotong nadiku lagi seperti waktu itu" Jawab Diandra dengan enteng sama sekali tidak menunjukkan ketakutan sama sekali saat melakukan itu.


"Jangan g*la kamu Dee!! Kamu tidak tau kan apa yang aku rasakan saat itu?? Aku seperti kehilangan separuh nyawaku, sampai akhirnya aku membuat perjanjian. Mungkin lebih baik melihatmu pergi dengan pria lain daripada melihatmu pergi dari dunia ini"


Diandra ikut merasakan sakit saat Dewa mengungkapkan perasannya pada waktu itu.


"Enggak Mas, aku hanya bercanda. Aku tetap percaya sama kamu"


"Jadi kamu tetap akan melakukan ini Dee??" Dewa masih sedikit ragu.


"Aku yakin Mas" Senyuman cantik Diandra berikan pada Dewa.


Dewa menciumi tangan Diandra yang sejak tadi dalam genggamannya.


"Kok nangis sih, masa wajah serem kaya begini nangis" Diandra mengusap lembut tangan Dewa.


"Makanya jangan kasih tau orang lain. Kalau ada yang tau aku nangis kaya gini gara-gara wanita, bisa malu aku" Ucap Dewa masih berusaha mengeringkan air mata yang membasahi pipinya.


"Enggak akan, kamu cuma boleh menangis di depan aku. Yang lain cukup tau kamu pria yang tegas dan menyeramkan. Kalau lagi menggemaskan kaya gini biar aku aja yang tau"


"Kamu ngeledek aku??" Dewa menatap Diandra dengan tajam.


"Enggak siapa bilang" Elak Diandra memilih memejamkan matanya menghindari tuduhan Dewa.


"Kalau aja kamu nggak lagi sakit kaya gini, udah aku kelitikin kamu sampai minta ampun" Ancam Dewa yang gemas melihat Diandra pura-pura memejamkan matanya.


"Iya-iya maaf Mas" Diandra memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Mas, nanti aku akan bicara sama Bryan. Memintanya untuk segera kembali ke kota. Aku janji selama kita menjalani permintaan ku tadi, aku tidak akan berhubungan dengan Bryan sampai perjanjian kita selesai" Ucap Diandra kembali serius.


"Kamu tidak perlu melakukan itu Dee, tetap lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Aku tidak mau mengekang mu"

__ADS_1


Sebenarnya Dewa sangat senang ketika Diandra mengambil keputusan untuk tidak berhubungan dengan Bryan untuk sementara waktu.


"Itu keputusanku sendiri Mas, sama sekali tidak ada paksaan darimu" Diandra meyakinkan Dewa.


"Baiklah kalau itu keinginanmu sendiri. Aku tidak bisa melarangnya" Jawab Dewa pasrah.


"Kamu mau makan makan siang dulu??" Tanya Dewa setelah sadar jika hari sudah siang dan mereka belum makan siang.


"Tidak Mas, aku belum lapar. Kepalaku pusing dan kakiku mulai terasa perih dan nyeri. Sepertinya biusnya sudah mulai hilang. Aku mau tidur dulu, baru setelah itu makan siang"


Dari tadi kepala Diandra memang sudah terasa sangat pusing. Rasanya ingin segera terlelap apalagi ada reaksi obat yang membuatnya mengantuk. Tapi perbincangannya dengan Dewa itu membuat Diandra terpaksa menahannya.


"Ya sudah istirahatlah dulu. Nanti aku bawakan makan siangnya ke sini kalau kamu sudah bangun"


Dewa melepaskan tangan Diandra kemudian bangkit dan merapihkan selimut Diandra.


"Kamu mau kemana??" Tanya Diandra.


"Memangnya kenapa??" Diandra tidak mendapatkan jawaban melainkan pertanyaan.


"Jangan pergi, temani aku tidur disini!!" Diandra menepuk ranjang sebelahnya.


"Baiklah, tapi aku mandi dulu ya. Badanku bau matahari" Ucap Dewa sambil menciumi bajunya sendiri.


"Kata siapa, kamu wangi kok Mas. Aku tadi udah buktikan sendiri"


Dewa teringat saat tadi menggendong Diandra beberapa kali. Pantas saja Diandra berkata seperti itu.


"Ya udah aku ganti baju aja" Dewa sudah berbalik ingin meninggalkan Diandra.


"Nggak usah!! Aku suka wangi kamu seperti itu!!" Kali ini Diandra sedikit kesal karena meninggikan suaranya.


"Iya, iya kamu galak banget sih" Gerutu Dewa membuat Diandra terkikik geli.


Dewa seperti anak kucing yang menurut dengan induknya. Dia memutari ranjang dan merebahkan dirinya di samping Diandra.


Mereka berdua tertidur lelap dengan saling berdampingan tanpa tau jika di luar sama masih ada Manda dan Bryan yang menunggu Dewa keluar dari kamarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2