
Malam semakin larut, angin yang berhembus dari pantai juga terdengar bergemuruh meniup pohon-pohon di luar sana.
Walau udara di luar sana terasa dingin, tapi rasanya di kamar Diandra masih terasa begitu panas meski AC juga sudah dinyalakan. Hal itu membuat Diandra merasa tak nyaman dan sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
Diandra melihat Dewa di sampingnya. Pria tampan itu seperti tak merasakan hawa panas seperti yang Diandra rasakan saat ini. Bahkan Dewa tertidur lelap dengan dengkuran halusnya.
Susah beberapa kali Diandra mengubah posisi tidurnya. Menurutnya tak ada posisi yang nyaman sama sekali.
Dug..
Dug..
"Kamu juga nggak bisa bobok ya?? Sama mama juga. Tapi lihatlah Papa kamu itu. Bisa-bisanya tertidur nyenyak seperti itu padahal panas sekali rasanya" Diandra mengusap perutnya yang terus bergerak itu.
Sudah beberapa menit berlalu tapi anaknya seperti tak mau berhenti bergerak. Padahal Diandra terus mengusapnya lembut, berharap anak dalam kandungannya itu tenang dan bisa membuatnya segera memejamkan matanya.
"Kamu kok nggak bobok lagi sih?? Kalau mau mainan besok aja ya?? Sekarang sudah malam, mama ngantuk" Diandra berbicara dengan suara yang lembut. Memang sekarang sudah sedalam itu Diandra menyayangi anaknya.
"Awww"
Diandra meringis merasakan pergerakan yang begitu terasa di perutnya. Bukan tendangan tapi lebih seperti bayinya itu merubah posisinya di dalam sana.
"Kamu kenapa sayang?? Kamu mau apa?? Mama udah ngantuk loh, bobok yuk??" Lagi-lagi Diandra mengajak anaknya itu untuk bicara.
Rasa kantuk memang sudah menyerangnya dari tadi tapi Diandra tetap saja tidak bisa tidur hanya matanya saja yang terasa berat tapi tak kunjung terlelap.
Diandra sudah berkaca-kaca, rasanya ingin menangis sekeras-kerasnya. Diandra menyadari akhir-akhir ini dirinya memang mudah sekali menangis. Hatinya mudah terenyuh dengan berbagai hal sensitif. Bahkan melihat Dewa yang sering terlihat sendu akibat ulahnya saja bisa membuat Diandra menangis.
Diandra mencoba membangunkan Dewa dengan menyentuh wajahnya. Pria itu tertidur tengkurap dengan wajahnya yang menghadap pada Diandra.
"Mas"
Panggil Diandra pelan, sembari mengusap wajah Dewa dengan lembut.
Diandra melihat alis Dewa sedikit berkerut, tapi tak lama kembali seperti semula lagi.
"Mas, Mas Dewa bangun dong" Wajah Diandra mendekat ke telinga Dewa.
Tangan Diandra terus mengusap pipi Diandra untuk membangunkannya.
__ADS_1
"Mas!!"
Diandra mulai kesal karena Dewa tak kunjung membuka matanya.
"Hiks.. Hiks.."
Benar saja, mata Diandra yang sejak tadi sudah berkaca-kaca kini akhirnya tumpah juga. Isakan kecil mulai terdengar dari bibir Diandra.
"Kenapa sih susah banget di bangunin??" Diandra membalikkan tubuhnya membelakangi Dewa karena rasa kesalnya.
Tapi suara tangisan Diandra di tengah malam seperti itu mampu membuat tidur Dewa terusik. Berlahan mata yang terpejam itu mulai terbuka.
Semakin jelas di telinganya isakan itu. Dewa melihat punggung Diandra yang bergetar juga menambah keyakinannya jika istrinya itu memang sedang menangis.
"Dee??" Dewa menyentuh lengan Diandra.
"Dee, kenapa nangis?? Ada yang sakit??" Dewa menarik lengan Diandra dengan pelan agar dia bisa melihat wajah Diandra.
"Hay, kenapa??"
Wajah Diandra yang penuh dengan air mata itu membuat kantuk Dewa hilang seketika. Tangannya terulur membersihkan air mata Diandra.
"Maaf, aku nggak dengar. Memangnya kenapa??Apa ada yang sakit??" Dewa langsung terduduk karena tiba-tiba panik. Meski sebenarnya susah terlambat untuk panik saat itu.
Diandra menggeleng dengan sesekali mengusap air matanya yang masih saja keluar.
"Lalu kenapa?? Bilang sama aku" Dewa masih terlihat cemas.
"Aku nggak bisa tidur sama sekali Mas. Rasanya gerah padahal pendinginnya sudah dinyalakan. Nggak nemu posisi tidur yang enak sama sekali. Sekarang malah anak kita gerak terus di dalam, aku udah ngantuk banget padahal" Diandra mengadu dengan bibirnya yang bergetar karena menangis.
Dewa tersenyum mendengarkan keluhan istrinya itu. Ada rasa hangat di dalam hatinya ketika dia benar-benar merasakan hubungan suami istri sesungguhnya seperti ini.
Melihat Diandra yang manja padanya, Diandra yang merengek mengadu kepadanya seperti itu. Itu membuat Dewa merasa sangat bahagia.
Dewa kembali berbaring, dan itu membuat Diandra kembali merasakan kecewa. Karena dia merasa bahwa Dewa tidak mempedulikannya sama sekali. Bahkan aduannya barusan tidak mendapatkan tanggapan sama sekali.
"Sini" Dewa menepuk kanannya.
Diandra tak mengerti apa yang Dewa maksud. Dia hanya menatap Dewa dengan bingung.
__ADS_1
Karena Diandra masih diam saja dan tak mengerti maksudnya. Akhirnya Dewa menggeser tubuhnya lebih dekat pada Diandra.
Kemudian menyusupkan tangannya ke tengkuk Diandra. Menarik pelan Diandra agar lebih menempel kepadanya. Menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk kepala Diandra.
"M-mas" Diandra tidak bisa menyembunyikan kegugupannya saat ini.
"Siapa tau begini lebih nyaman" Dewa membuat Diandra membelakanginya. Sehingga punggung Diandra menempel pada dadanya.
Posisi mereka saat ini adalah Dewa yang memeluk Diandra dari belakang dengan lengan Dewa sebagai bantal untuk Diandra.
Tangan Dewa yang satunya berada di perut tempat anaknya bersembunyi. Sementara wajah Dewa berada tepat di bahu Diandra. Bahkan Diandra harus menahan geli karena hembusan nafas Dewa yang menerpa kulitnya.
Berlahan Dewa menggerakkan tangannya, mengusap lembut perut Diandra.
"Kan sudah aku katakan dari tadi kalau aku kegerahan. Kenapa juga Mas Dewa mengambil posisi seperti ini. Justru ini akan membuatku semakin kegerahan"
"Jagoan papa bobok ya?? Kasihan Mama sudah ngantuk. Papa janji besok kita main lagi, sekarang kamu tenang ya di dalam??"
Dewa memang mengatakan itu hanya dengan bergumam. Tidak keras bahkan jaraknya jauh dari perut Diandra. Tapi berlahan anak mereka mulai tenang, dari gerakan tadi yang tiba-tiba begitu keras sampai membuat Diandra meringis. Sekarang hanya tendangan-tendangan lembut. Dan lama-lama semakin melambat dan benar-benar tenang.
Sepertinya ucapan Dewa itu benar-benar di dengar oleh anaknya di dalam sana.
"Sudah tidur lagi dia Dee" Tangan Dewa masih bertengger di atas perut buncit itu.
"Iya Mas benar. Sepertinya dia memang merindukanmu" Diandra mengatakan itu dengan matanya yang setengah terpejam. Sepertinya dia benar-benar akan tertidur setelah ini.
"Ya sudah, sekarang kamu tidur. Ini sudah dini hari dan kamu belum tidur sama sekali" Dewa menarik tangannya menjauh dari perut Diandra.
"Tidak Mas!! Biarkan begini saja, terus usap perutku sampai aku tidur. Rasanya nyaman sekali seperti ini" Diandra menahan tangan Dewa.
"Kamu bisa tidur dengan posisi seperti ini??"
"Nggak tau, tapi mataku rasanya sudah hampir terpejam" Suara Diandra sudah mulai hilang timbul.
"Baiklah dengan senang hati kalau begitu" Ucap dewa dengan semangat.
Dia mempererat pelukannya pada Diandra. Kembali mulai mengusap perut Diandra dengan lembut. Dewa tidak peduli jika besok pagi lengannya akan terasa kebas. Yang jelas saat ini adalah momen yang sangat indah baginya.
Sementara itu Diandra yang mulai mendapatkan kenyamanan, berlahan bisa tertidur dengan nyenyak. Yang katanya akan kegerahan jika Dewa memeluknya seperti itu, nyatanya Diandra justru semakin mencari kehangatan di sana.
__ADS_1
Bersambung..