Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
63. Putra Tuan Yoon


__ADS_3

"Kamu baik-baik ya di rumah. Nanti sebelum gelap aku usahakan sudah sampai rumah" Diandra sedang membantu Dewa menyimpulkan dasinya.


Hal ini bukan pertama kalinya Diandra lakukan pada Dewa tapi jika di suguhi wajah tampan paripurna seperti itu tentu saja membuat Diandra tak bisa bernafas dengan benar.


"Iya Mas"


Setelah puas dengan hasil simpul dasinya. Diandra meriah jas yang sudah disiapkan Diandra untuk Dewa. Dengan telaten Diandra membantu Dewa untuk memakai setelan mahalnya itu. Semua yang di pakai pria itu tampak pas mulai dari kemeja, dasi, jas dan celana bahannya yang begitu rapih dengan garis di tengah-tengahnya. Jangan lupa sepatu mahal yang menyempurnakan penampilannya setiap Dewa akan berangkat bekerja.


"Kamu juga hati-hati ya. Nanti siang jangan telat makan, kalau nggak sibuk hubungi aku kalau sudah sampai ya??"


Diandra menepuk dada Dewa pelan setelah melihat penampilan suaminya itu sudah sempurna.


"Iya sayang" Jawaban lembut dari Dewa membuat Diandra meleleh saat itu juga jika dia satu cup es krim.


"Kenapa mukanya merah??" Refleks Diandra memegang kedua pipinya.


"Enggak" Diandra membalikkan badannya, meraih tas Dewa yang ada di atas ranjang untuk menghindari pertanyaan Dewa itu.


"Kamu tersipu karena aku memanggilmu sayang??"


"Biasa aja tuh" Diandra masih memunggungi Dewa.


"Masa sih, sayang??" Diandra menjauhkan kepalanya saat merasakan hembusan nafas Dewa di telinganya.


"Mas!! Jangan aneh-aneh ya!!" Diandra tidak bisa menghindar karena Dewa memeluknya dari belakang.


"Memangnya kenapa?? Sayang??" Dewa mengucapkan kata terakhirnya begitu dekat dengan telinga Diandra sehingga membuat pemiliknya meremang seketika.


"Mas kamu bisa telat kalau nggak berangkat sekarang!!"


"Lain kali aku tidak akan melepaskan kamu sayang" Bisik Dewa lagi setelah dia melihat jam di pergelangan tangannya.


Dengan rasa tak rela, Dewa melepaskan tangannya dari pinggang Diandra. Dia benar-benar harus berangkat saat ini juga.


"Aku berangkat dulu ya?? Ingat!! Jangan keluar dari rumah ini. Jangan percaya sama siapa pun yang mengatasnamakan aku. Kamu ngerti kan??"


"Iya Mas"


Diandra semakin penasaran kenapa Dewa begitu menjaga ketat dirinya di rumah ini. Kenapa Dewa tidak memberi tahu Diandra alasannya, tapi Dewa justru sering menekankan pada Diandra untuk tidak keluar rumah tanpa dirinya.


Siapapun pasti akan setuju dengan Diandra kalau berpikir Dewa mempunyai rahasia yang di sembunyikan dari Diandra.


Dewa mengusap pipi Diandra dengan lembut sebelum dia memasuki mobilnya.

__ADS_1


Tidak tau kenapa perasaan Dewa sangat tidak tenang. Rasanya berat meninggalkan Diandra hari ini. Padahal nanti sore juga Dewa sudah kembali seperti biasanya. Tapi untuk kali ini rasanya ada yang mengganjal di hatinya.


Dewa melambaikan tangannya pada Diandra yang masih setia berdiri di teras. Senyuman cantik mengantar kepergian Dewa pagi itu. Dewa bahkan tidak berhenti menatap Diandra sampai mobilnya melewati gerbang rumahnya itu.


"Kenapa Tuan??"


Niko melihat Tuanya di belakang terlihat sangat tidak tenang.


"Entah Nik, rasanya berat sekali meninggalkan Diandra"


"Tuan tenang saja, jika ada sesuatu yang mencurigakan mereka pasti akan langsung menghubungi saya"


Niko sudah memerintahkan anak buah Dewa untuk memperketat penjagaan selama Dewa pergi untuk bertemu dengan seseorang.


"Menurutmu apa yang membuatnya ingin bertemu dengan ku Nik??"


Dewa mencoba menghilangkan kekhawatirannya pada Diandra. Yang lebih penting sekarang Dewa segera menyelesaikan urusannya setelah itu segera pulang untuk berkumpul lagi dengan wanitanya.


"Mungkin dia sudah menyerah dengan pelajaran yang kita berikan Tuan. Perusahaan mereka seharusnya sudah tergoncang dengan rencana kita waktu itu. Dan saat ini dia pasti memohon kepada Tuan untuk kembali menstabilkan perusahaan mereka"


Nyatanya Dewa berbohong pada Diandra. Jika Dewa mengatakan pada Diandra untuk membahas suatu proyek dengan kliennya. Tapi Dewa justru bertemu dengan seseorang yang pernah membakar gudangnya waktu itu.


"Jika benar begitu, menurutmu apa yang akan kita lalukan setelah itu Nik??"


"Kita lihat dulu saja Tuan, tawaran apa yang akan dia berikan"


"Baiklah, kali ini aku mengikuti saran mu"


Niko kembali fokus pada jalanan didepannya. Meski di dalam mobil itu hanya berdua, tapi beberapa anak buah Dewa berada di mobil tersendiri yang mengikuti di belakang dan berjalan lebih dulu di depan.


"Nik, apa menurutmu Tuan Yoon tau apa yang dilakukan putra sulungnya itu??"


Niko kembali melirik Tuannya di belakang. Benar sekali, mereka memang ingin menemui anak dari Tuan Yoon. Seseorang yang berani mengusik ketenangan Dewa terlebih dahulu.


"Saya rasa Tidak tuan. Karena Tuan Yoon sangat menghormati anda. Lagipula masalah ini baru pertama kali terjadi setelah perusahaan itu berganti kepemimpinan"


"Benar juga katamu"


Setelah itu Dewa kembali diam, dia memilih memeriksa beberapa pekerjaannya melalui tablet. Hingga tak terasa setelah lumayan lama menempuh perjalanan Dewa sampai di tempat yang di janjikan putra dari Tuan Yoon itu.


"Mari Tuan" Niko membukakan pintu untuk Tuannya.


Bak di sebuah film Dewa turun dari mobil dengan memperlihatkan sepatu mahalnya terlebih dahulu. Lalu Dewa keluar dengan kaca mata hitamnya. Tangannya bergerak memasang dua kancing jasnya. Sungguh auranya seperti mafia-mafia yang tampan dan berkuasa di dalam sebuah novel.

__ADS_1


Niko berjalan lebih dulu memasuki sebuah privat room di ikuti Dewa dan anak buahnya di belakang.


Di dalam sana sudah menunggu pria muda dengan penampilan tak jauh berbeda dengan Dewa. Dia juga tak sendiri, di sisinya juga ada beberapa pria yang perawakannya hampir sama dengan anak buah Dewa.


"Selamat datang Tuan Dewa" Putra Tuan Yoon itu berdiri menyambut kedatangan Dewa.


"Salam kenal Tuan...?"


"Daniel!!" Dewa sudah tau siapa pria muda di depannya itu. Tapi Dewa sengaja ingin melihat reaksi pria itu dengan berbagai ekspresi.


"Ya Tuan Daniel, maaf saya terlambat"


"Tidak maslaah Tuan Dewa, saya juga baru tiba. Silahkan duduk"


Dewa berlahan mendudukkan bokongnya dengan Niko yang tatap berdiri di sisinya.


"Jadi ada hal penting apa yang membuat anda mengajak saya bertemu di tempat ini Tuan??" Dewa tak melepaskan pandangannya pada pria yang terlihat umurnya dua tahun lebih muda darinya itu


"Anda tidak suka basa basi rupanya Tuan" Daniel tampak begitu santai tanpa menunjukkan gelagat mencurigakan sama sekali.


"Saya memang tidak menyukai sesuatu yang tidak begitu penting" Kali ini Daniel menarik bibir sisi kirinya ke atas. Namun sangat tipis sampai Dewa tidak menyadarinya.


"Kalau begitu kita bicara yang penting saja Tuan. Maksud saya mengundang anda adalah untuk mengajukan kerja sama kembali dengan perusahaan Tuan. Tapi Tuan Dewa tenang saja, saya sudah merevisi seluruh proposal yang akan saja ajukan. Saya jamin Tuan tidak akan bisa menolak kali ini"


Dewa melirik Niko lalu tersenyum dengan sinis.


"Baiklah, mana proposal yang kau banggakan itu. Biarkan aku membacanya??"


Memang dalam proposal itu sidah di rombak penuh. Tidak ada lagi kecurangan yang dilakukan mereka. Tapi karena tujuan Dewa hanya untuk memberi pelajaran pada Daniel, Dewa tak langsung menandatangani pengajuan itu.


"Baiklah, aku akan membawanya untuk pengkajian lebih dalam lagi. Aku tidak bisa langsung menandatanganinya sekarang" Dewa menutup kembali proposal yang cukup tebal itu.


"Baiklah Tuan, tapi saya harap hasilnya tidak akan mengecewakan"


"Kita lihat saja nanti!!" Dewa menyerahkan proposal itu pada Niko.


"Kalau begitu saya akan pesankan makan siang dulu Tuan"


"Tidak perlu, saya rasa urusan kita sudah selesai jadi cukup di sini saja. Saya permisi" Dewa langsung pergi meninggalkan Daniel yang baru saja ingin berdiri mengiringi kepergian Dewa.


"Hati-hati Tuan, semoga hari anda menyenangkan" Ucap Daniel sedikit keras karena Dewa sudah mulai melangkah keluar.


"Kita lihat Tuan Dewa yang sombong. Apa yang bisa kau lakukan untuk sesuatu yang kau anggap sangat penting di hidupmu itu"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2